Saturday, October 31, 2026

Agama di Pagi Hari

Kondektur memberitahu bahwa bus PO Harapan Baru yang saya tumpangi telah sampai di depan terminal Tawangalun, Jember. Saya pun turun dan menginjak tanah yang masih basah. Tiba-tiba, saya disergap tenteram, karena sudah lama merindukan hujan. 

Dalam keadaan tak sepenuhnya awas, sisa kantuk, saya pergi ke masjid Al-Hikmah, untuk membasahi wajah. Lalu, saya pun duduk tepekur sejenak di teras, di mana ada beberapa orang tidur lelap. Salah satu dari mereka adalah seorang pengamen, yang sebuah gitar kecil berada di sampingnya. 

Tak lama kemudian, saya pergi ke Indomaret yang buka 24 Jam. Di sini, saya membeli kue Armon dan sekaleng kopi. Sambil menunggu subuh, saya membaca Islamic Interpretive Tradition and Gender Justice (2020). Di sini, saya mewarnai kutipan "Linguistic accuracy could not be the only factor at play when interpreting texts; as al-Shafi'i and his followers correctly claimed, other cultural and personal factors" (p. 73). 

Menjelang subuh saya mendengar selawat al-Khushary dari sebuah masjid. Segera saya beranjak untuk mencari sumber suara dan menemukan Masjid Rudhatul Jannah . Setelah mengambil wuduk, saya pun berjemaah. Setidaknya ada dua baris. Seusai salat, sang imam memimpin tadarus yang diikuti oleh tiga orang, termasuk Yanuar, anak SD kelas lima. 

Sebelum pergi ke UIN KHAS untuk memberikan kuliah tentang Bahasa, Makna, dan Tafsir: Eksplorasi Semantik dan Semiotik dalam Al-Qur'an, saya mampir ke warung di pintu ke luar terminal untuk sarapan pecel. Sayangnya, kedai belum buka dan mendorong saya untuk minum kopi dan gorengan di warung yang menyetel berita TV One. 
 

Wednesday, October 28, 2026

K Radio

Akhir-akhir ini saya sering mendengar K Radio yang dipancarkan dari Sumbersari Jember melalui streaming. Sebelum mengisi kegiatan diskusi Bahasa, Makna, dan Tafsir di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINKHAS, saya hendak menelusuri keadaan kawasan ini melalu siaran radio. 

Radio yang berdiri sejak 2016 adalah radio swasta yang menyasar kelas menengah atas. Tidak hanya itu, ia hendak menjadi rujukan utama untuk sarana informasi yang aktual dan akurat  bagi pendengar. Namun demikian, ia juga menjadi ruang warga untuk mendapatkan hiburan dan maklumat, sesuai dengan slogannya hits music dan hot news.

Tadi pagi membuka radio ini yang memulai siaran dengan bacaan al-Qur'an dan lalu selawatan. Pas pukul 6 pagi, lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan. Dengan cogan kata Sound of Knowledge, media ini cocok untuk warga kampus. Mengapa saya memilih radio? Karena saya bisa melakukan kegiatan membaca buku, membersihkan rumah, dan mencuci piring sambil menikmati informasi dan musik. Berbeda bila saya menyimaknya di gawai, saya tak bisa sepenuhnya kegiatan di rumah, karena distrasi menyebabkan saya terpaku ke layar. 

Saya membayangkan radio ini juga menggelar program Bedah buku, Bicara Ilmu, dan kreativitas murid, siswa, dan mahasiswa, sehingga kaum terpelajar bisa memanfaatkan siaran untuk menyuburkan pengetahuan. Itulah mengapa saya menyambut baik K Talk, yang mengangat isu karya akademik terindeks Sinta. Tentu, ada banyak isu yang bisa dibahas dari banyak perspektif. Dengan memanfaatkan Zoom, kegiatan tersebut bisa dilakukan dan direkam sebagai konten di kanal Youtubenya dan bisa diakses kapan saja oleh pendengar. 

Monday, October 26, 2026

Aqiqah Tetangga

Kami datang awal sebelum acara bermula. Pak Tir akan membawakan acara aqiqah sebelum Pak As'adi memimpin tawasul. Setelah itu, Ustaz Abdullah membaca selawat. Ketika mahallul qiyam (berdiri), ayah Azka membawa si kecil mengelilingi undangan untuk menyentuh dahinya dengan air melati sambil berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraannya. 

Sungguh upacara yang penuh khidmat. Kami mendoakan sepenuh hati. Salah satu munajat itu adalah berharap ia berilmu ('aliman) yang beramal ('amilan). Sungguh permohonan yang mulia untuk generasi baru yang akan menghadapi tantangan di masa depan. 

Acara ditutup dengan doa. Kami pun menikmati sate, gulai, dan krupuk udang. Setiap warga membawa bungkusan yagn berisi nasi dan kue. Ketika pertama kami menginjak halaman tuan rumah, kami bersalaman dan saya pun menolak dengan halus sebatang rokok, karena saya sudah berhenti. Begitu banyak jajanan, sehingga saya turut menikmati kue lumpur dan pastel yang didalamnya berisi telur. 
 

Saturday, October 24, 2026

Nasi Jagung

Kami memesan nasi ini pada tetangga. Dengan merogoh Rp7.000,00, kami dapat bersarapan dengan nasi jagung berlauk ikan asing, tahu, tempe, sambal, dan sayur terung. Betapa pagi yang menyelerakan! 

Dengan memesan makanan ini, kami tak perlu memasak semua itu, yang mungkin tidak dihabiskan karena tidak mungkin hanya memasak masing-masing dari lauk hanya dua. Betapa hemat! Selain itu, warga bisa membantu jiran yang juga berjualan kebutuhan lain, seperti telur. 

Saya pun mengenal anak-anaknya yang rajin berjemaah ke masjid. Pemenuhan kebutuhan berbasis komunitas dapat mengurangi jejak karbon. Iman itu adalah peduli pada tetangga. 

Friday, October 23, 2026

Memberi Jalan Pengetahuan pada Anak-Anak


Pagi ini, saya mendapatkan pesan dari kurir bahwa paket telah diserahkan pada satuan pengaman kampus di pos. Saya pun bersegera untuk mengambilnya. Sebelum membaca ulang, saya membuat kopi agar mata ini melek untuk mengulik huruf-huruf dan foto-foto di akhir halaman. 

Buku lahir dari ikhtiar lahir, batin, dan intelektual Pak Ladang, nama sebutan penulis, Nasrullah Ali Fauzi. Pengalamannya sebagai staf di Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur menjadi pijakan untuk mengenal negara tetangga. Dengan mencatat kegiatan selama bertugas sebagai koordinator Community Service Learning, ia melihat dari dekat bagaimana anak-anak dari buruh migran mendapatkan kesempatan untuk belajar.  

Pak Ladang menyadari bahwa keberhasilan berkat dukungan banyak pihak, dari pemerintah Indonesia dan Malaysia, dan tentu ini bisa dilanjutkan dengan mengintegrasikan CLC dan banyak lembaga pendidikan, termasuk pesantren, agar keberlanjutan tersebut bisa melestarikan pembelajaran.

Wednesday, October 21, 2026

Menjaga Bumi

Memenuhi undangan Mas Zuhri Humaidi, saya berbagi etika lingkungan dengan mahasiswi dan mahasiswa Ma'had Aly Darullughah Wal Karomah, Kraksaan. Dalam kuliah umum bersama mahasantri konsentrasi Fikih Lingkungan, satu-satunya di negeri ini, kami memandang penting fiqhul bi'ah. Tanpa hifzhul bi'ah, misalnya pembakaran hutan dan lahan, kita tidak bisa merawat keturunan (al-nasl). Ratusan ribu bayi mengidap ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) akibat terpapar asap.

Hebatnya, ada banyak pertanyaan kritis dari peserta yang menjadi PR kita, di antaranya apa jaminan dari penguasa untuk memastikan tata kelola lingkungan baik, tidak tunduk pada segelintir pemodal? Sial.

Hari ini, saya merasa terwakili dengan penggiat Greenpeace Indonesia yang mengibarkan spanduk di bundaran HI berbunyi Bencana Semakin Parah, Hidup semakin Susah, Apa Kerja Pemerintah. Justru, pesan ini perlu didengar karena wakil rakyat di Senayan tidak lagi garang. 

Monday, October 19, 2026

Menunggu

Dengan berangkat awal ke sekolah, saya punya waktu lebih lama untuk menunggu di warung kopi Senja. Saya senang karena hanya sendirian. Kehadiran orang lain sebelumnya mencetuskan suasana pengap, karena mereka merokok. 

Saya pun memesan cappuccino sachetan dingin. Buku ini menunjukkan bahwa banyak kejadian intoleransi agama dipicu oleh politikus oportunis untuk memobilisasi para pendukung dan meminggirkan lawan-lawannya. Dengan mengambil objek tiga negara, Amerika, Indonesia, dan India, Cherian George bisa membandingkan politisasi Kristen, Islam dan Hindu dalam dalam kehidupan politik warga. 

Mendekati angka 4, saya pun berdiri karena melihat Biyya sudah keluar dari pintu gerbang sekolah. Saya pun menghampirinya untuk pulang bersama. 

Agama di Pagi Hari

Kondektur memberitahu bahwa bus PO Harapan Baru yang saya tumpangi telah sampai di depan terminal Tawangalun, Jember. Saya pun turun dan men...