Sunday, October 04, 2026

Do We Have Free Will?

Di dapur, saya membaca kembali isu lama tentang kehendak bebas. Sambil menikmati pisang goreng dan kopi, saya mengingat kembali apa yang didendangkan Rhoma Irama tadi pagi dari soundsystem jiran yang sedang gelar hajatan, "Bebas". 

Kehendak bebas adalah kapasitas khas agen untuk membuat pilihan atas tindakan, yang erat kaitannya dengan baik dan buruk dan isu-isu etika, tanggung jawab moral dan akuntabilitas perilaku. 

 

Warung Kopi

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Biyya minta mampir ke pasar mini untuk membeli roti. Saya pun menunggu di warkop yang menyediakan empat kursi. Di bandingkan di luar yang lebih luas dan banyak tempat duduk, saya merasakan dingin AC lebih enak untuk menikmati sore di dalam ruangan. 

Mengingat telepon genggam tidak mengaktifkan data internet, saya memilih membuka buku kecil yang dibawa, sebagaimana juga dilakukan di depan sekolah anak sambil menunggu bubaran. 

Menilik kembali buku lama, yang dibeli di toko Borders Queens Bay, 22 Januari 2017, saya bisa mendaras ulang filsafat yang ditulis secara populer. Alan Stephen, seorang guru dan penulis lepas, menyuguhkan filsafat dalam bentuk sederhana (in a nutshel). 

Menariknya, dia memulai buku ini dengan cerita di usia enam tahun ketika berada di rumah orang tuanya. Di sini ada mainan kereta yang memiliki sebuah terowongan yang menembus dua gunung dan dua stasiun. Kereta ini sering mengalami kerusakan, tetapi ketika berfungsi, dia sangat menikmatinya. Dari pengalaman tersebut, ia berpikir bagaimana sesuatu bisa bekerja atau tidak bekerja, pada waktu-waktu tertentu tetapi tidak pada waktu lain. 

Tanpa menyebutnya sebagai momen eureka, tiba-tiba dia menyadari bahwa dia melakukan percakapan dengan diri sendiri dengan mengajukan pertanyaan, menganalisis, mempertimbangkan pelbagai kemungkinan, dan merasa kebingungan. Nah, dari kisah ini anak-anak sesungguhnya telah mulai berpikir sejak kecil dan ini perlu ruang untuk menyuburkan rasa ingin tahu itu. 

Apa mungkin percakapan kita sehari-hari mendorong anak-anak menyemai pikirannya seperti dialami oleh Stephen? Sambil mencari jawaban, saya mendengar radio Suara Muslim FM Surabaya melalui pengarusan (streaming), yang sedang menyiarkan cerita tentang keseharian anak-anak oleh Kak Fifi. Melalui rekaman Whatsapp, kisah Zio yang bangun pagi dan salat subuh dan mengaji bersama serta berjalan-jalan dengan sepeda untuk menyambut matahari pagi tentu bisa dijalankan jalan masuk untuk berpikir bagi mereka. Temanya terkait dengan tidak terburu-buru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Buku inilah yang mengantar saya pada ide Epicurus tentang tiga hasrat manusia yang menjadi dasar penulisan opini Jawa Pos, "Kehendak Kuasa dan Kritik Filsafat" (22/1/20). Lalu, bagian yang kini mengusik dari karya lulusan S2 filsafat ini adalah "Is there life after life"? Dia menyimpulkan soal alam lain sebagai persoalan iman, bukan akal budi. 

Saturday, October 03, 2026

Té-Oté

Kemarin sore, seusai menjemput Biyya, saya berjalan kaki dari rumah ke jalan raya, tempat penjual gorengan membuka lapak. Sebelumnya, saya mampir bertanya apa bakwan, sebutan lain dari te-ote, sudah tersedia? Belum, tukas penjual. 

Saya cukup satu gorengan, karena membatasi asupan makanan berbahan tepung dan digoreng dengan minyak goreng. Istri, Biyya, dan Zumi turut menikmatinya. Kami merasakan kehangatan kudapan karena baru saja diangkat dari penggorengan. 

Dengan harga Rp1.000,00, saya menyerahkan satu lembar 5 ribuan. Di tengah jalan, Naya, anak jiran, bertanya, apa nggak capek berjalan? Tidak. Hitung-hitung olah raga. Lalu, saya bertanya, mana abangnya, Rafan? Keluar sama ayah. 


 

Tuesday, September 29, 2026

Nasi Kuning

Di pagi buta, saya telah memacu motor ke depan MAN 1, tempat seorang ibu berjualan nasi kuning dan jagung. Saya memesan tiga bungkus, yang isinya nasi, timun, mie, perkedel, tempe kering, dan sambal. 

Dengan harga Rp8.000,00, saya bisa membawa sebungkus sarapan. Saya, istri, dan Zumi suka goreng tempe kecil yang kering. Sementara, Biyya membawanya ke sekolah. Penyuka Aurora ini menikmatinya di tempat ia belajar. 

Di sepanjang jalan dalam radius 1KM, ada tiga penjual serupa, di depan perumahan dan toko telepon. Mungkin, setiap memiliki selera berbeda sehingga ketiga penjual  mendapatkan pelanggan masing-masing. Semoga emak-emak ini bisa meraih untung di tengah kenaikan harga bahan makanan. 
 

Saturday, September 26, 2026

Yasinan

Seusai doa yang dipanjatkan oleh Pak Fauzan, saya dan Pak Budi berfoto bersama. Jiran kami ini mengikuti kegiatan rutin malam Jumat secara istikamah. Pak Qomar tadi membacakan surah Yasin yang diikuti oleh jemaah. 

Kami pun beranjak dan duduk di teras untuk menikmati kue yang dibawa oleh Pak Mus dan Pak Budi. Tadi sebelum magrib, Fairuz, anak Pak Tir, juga membawa kue untuk jemaah perempuan. 

Betapa senang melihat anak-anak juga membaca kitab suci di masjid Ali bin Abi Thalib. Di sini, mereka tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga tarbiyah (pendidikan), di mana saya pernah melihat Ahnaf dan Ilman membuang sampah pada tempat yang telah disediakan khusus untuk bekas minuman dan tong. 
 

Monday, September 21, 2026

Bahasa Jawa


Ia mengerjakan soal Bahasa Jawa di kelas daring. Jiwa itu berada dalam wicara dan wacana. Tentu, hal serupa juga dilakukan oleh teman sekelasnya setelah kelas daring di hari Jumat. Sebelumnya teman-teman sekelasnya bersama guru melakukan kegiatan di luar kelas, di Malang, untuk membuka cakrawala murid. 

Temanya tentang Tugu Pahlawan dan Museum 10 November yang diresmikan oleh KH Abdurrahman Wahid. Sebenarnya ia memahami sebagian dari kosa kata Jawa, tetapi tidak mudah mengerti pertanyaan karena penguasaan lema terbatas. 

Apa pun, ia telah memasukan alam pikiran ibunya yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa waktu kecil. Di sini, Zumi bisa belajar lebih mudah karena ia mewarisi pengalaman orang tuanya. Semoga. 

Senja Coffee

Setelah  punch-out di mesin peresensi elektronik, saya bertolak ke sekolah anak. Dalam perjalanan saya mampir ke kedai telepon Mandiri untuk meminta teknisi memperbaiki gawai saya yang macet (hang).

Seusai mengecek telepon genggam, saya mampir ke Senja Coffee, warung di depan sekolah. pada pukul 3.10, untuk pertama kalinya mengingat bubaran sekolah sekitar pukul 4. Dengan memesan es cappucino, saya menyesap minuman ini dengan perlahan sambil membuka buku Engineers of Jihad: The Curious Connection Between Violent Extremism and Education oleh Diego Gambetta and Steffen Hertog.

Tak lama kemudian, ada seorang pengunjung yang memesan kopi tanpa gula dan telur mentah. Ia membuka percakapan pertama dengan menyapa dan bertanya asal. Dari sini, kami pun berbagi cerita tentang Kota Anyar, rumah lelaki itu, dan harga tembakau yang mencecah Rp60ribu-Rp65ribu. Ia pun bercerita sering mengikuti istighatsah setiap Selasa dan Malam Jum’at di perumahan Detar. Menariknya, ia tak merokok.

Lalu, ada tiga orang pengunjung yang memesan minuman, es teh dan kopi panas, yang masing-masing membuka bungkus rokok, Hummer dan Wismilak 234 hitam. Katanya, rokok pertama ini diproduksi oleh PT Bawang Mas, milik H Her. Untung, dari kejauhan saya melihat Biyya yang sedang melangkahkan kaki dari gerbang sehingga segera beranjak dari kursi karena tak tahan dengan bau asap rokok.

Selain buku di atas, saya juga meminjam buku Zaprulkhan berjudul Tasawuf Moderat: Pembaharuan Tasawuf Hamka dan Said Nursi. Keduanya akan dijadikan bacaan tambahan, selain utama dan pendukung untuk mata kuliah Akhlak Tasawuf semester 3 Pendidikan Agama Islam. Tentu, rujukan materi ini didasarkan pada tradisi intelektual Muslim, seperti Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh. Selain ini, karangan Ahmad Amin juga menjadi bahan pustaka, yang  mengingatkan saya pada mata kuliah ini ketika belajar di Akidah Filsafat IAIN dulu di bawah asuhan Pak Kusmin Busyairi.

Mengapa Akhlak Tasawuf perlu diajarkan dengan menimbang isu-isu kontemporer, seperti kekerasan atas nama agama? Dalam buku Gambetta, kita menemukan kutipan menarik, yakni "the discipline of the degree attained in particular has the potential to contain information about personal characteristics" (hlm. ix). Karakter seseorang dipengaruhi oleh program studi yang diambil oleh mahasiswa. 

Namun, dalam konteks setempat, pertanyaan sederhana bisa diajukan apakah merokok di ruang publik itu berakhlak atau tidak? Jadi, persolannya tidak lagi berkutat soal label haram yang sedang heboh karena diusulkan oleh Muhammadiyah untuk peringatan di bungkus rokok.  

 

Do We Have Free Will?

Di dapur, saya membaca kembali isu lama tentang kehendak bebas. Sambil menikmati pisang goreng dan kopi, saya mengingat kembali apa yang did...