Tuesday, July 05, 2022

Siasat yang gagal


Akhir-akhir ini, Biyya tidak lagi membawa buku ke mana-mana. Ia malas membaca. Tadi, saya bilang ke maminya, bahwa buku ini punya ayah terlupa tidak dibawa. Siapa tahu penyuka Aurora ini mau menguliknya. Eh, nggak mempan. Apalagi ia tidak enak badan.

Kami pun sedang berusaha mencari cara lain. Ada saran? Alhamdulillah, banyak teman di Facebook yang memberikan saran, semisal Pak Gautama bahwa fase remaja perlu media lain untuk mengekspresikan diri. Dari Ibu Wiwied, kindle mungkin bisa menjadikan pengalaman membaca berbeda. 

Setidaknya, urusan anak-anak menjadi perhatian bersama sebagai orang tua. Toh, setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Dengan mengetahui apa yang menjadi kesenangannya, orang tua hanya memberi jalan agar hidup mereka menggembirakan. 



Komunalisme dan Fanatisme

Bentrok di Babarsari Yogyakarata dilatari oleh sentimen kelompok. Lalu, apakah "kesukuan" itu harus dihapus? Tidak karena ini "alami". Kemudian, bagaimana bila kerusuhan itu dipicu oleh oleh emosi keagamaan? Apakah kita bisa mengatakan bahwa fanatisme itu satu-satunya menjadi penyebab pertikaian?
Mungkin, Akar Kekerasan Erich Fromm bisa disodorkan bahwa ada banyak peubah dari pertengkaran. Tanpa apologetis, agama kadang ditempelkan untuk menarik dukungan, termasuk kasus terakhir ACT, yang menggunakan kesadaran religius untuk menangguk sokongan.
Bagi saya, agama itu pribadi. Etikanya merembesinya pada seluruh sisi kehidupan. Itulah mengapa motor saya tidak ditempeli stiker ayat-ayat dan simbol-simbol. Kalaupun kini saya adalah anggota PPP, itu karena Rhoma Irama yang dulu. Hehe

 

Monday, July 04, 2022

Kajian KItab

Kajian kitab al-Da'wah al-Tammah wa al-Tadzkirah al-'Ammah memperlihatkan ruang publik pesantren yang menarik.
Perbedaan terhadap pembacaan semantik dan pemahaman terhadap teks tidak membuat peserta harus menaikkan suara, tetapi logika. Keadaban mengemuka. Contoh, "khatir" dalam bagian ketiga itu diterjemahkan yang terhormat atau bikin khawatir, yang secara kebahasaan akan mempengaruhi pengertian.
Andai gelar wicara di televisi dan debat di parlemen didasarkan pada pencarian kebenaran dan keadilan, saya pikir setiap individu akan menimbang sesuatu dengan jernih, seperti ditunjukkan para masyayikh, ustaz, dan santri.
Dalam sesi tasaul, misalnya, pesertai tidak hanya bertanya tetapi juga menyisipkan pandangan. Demikian juga jawaban menunjukkan sikap, seperti khilafah itu adalah kepempinan yang didasarkan pada integritas, kualitas pribadi.
Apakah kita harus berdiam diri (sukut) terhadap konflik para sahabat nabi? Tidak, kata Gus Fayyadl dalam tanggapannya. Ia harus direspons sebagai peristiwa historis. Sebagai penutup, Kiai Zuhri menegaskan bahwa tugas mengingatkan kekuasaan adalah dilakukan melalui pendidikan dan dakwah. Sebab wajah dari penguasa adalah wajah masyarakatnya. Jadi kalau pemimpinnya buruk, itu adalah watak dari warganya.
Secara pribadi, saya menyoroti isu "syura" dan demokrasi yang sempat mengemuka dalam forum, yang dipandang atas dasar semangat yang sama, yakni permufakatan. Masalahnya adakah "deliberatif" betul-betul telah dipraktikkan ketika keputusan itu disandera oleh segelintir, seperti UU Cilaka, dll itu?

 

Sunday, July 03, 2022

Kolega Itu Pak Sugiono

Selain Pak Nurhamid, Pak Sugiono adalah rekan sekerja di Kantor Rektorat. Intensitas pertemuan memungkinkan kami untuk berbagi banyak hal, tidak hanya urusan pekerjaan, tetapi juga kehidupan. 

Dengan latar belakang pendidikan di Deakin Australia dan karir panjang dalam bidang akademik, lelaki asal Paiton ini memahami banyak hal secara utuh, seperti bagaimana kurikulum itu mesti dipahami dan diterapkan. Saya sering menyimak tatkala pakar dalam bidang keadilan sosial ini berbicara.

Tatkala BEM Universitas Nurul Jadid melaksanakan gelar wicara (talk show), ia mengundang temannya dari negeri Kangguru untuk turut berbicara soal kepempinan secara daring. Di luar ini semua, ada satu hal yang menyatukan kami, menggemari Rhoma Irama. Terlalu! 

Saturday, July 02, 2022

Menjadi Muslim Sejati

Resensi buku di Jawa Pos hari ini adalah ulasan yang diringkas dari makalah bedah buku di UIN KHAS Jember dan dimuat di sini: https://pesantren.id/membaca-fenomena-berislam-genealogi.../. Tentu, saya menekankan apa sebenarnya pesan kitab suci tentang menjadi muslim sejati dan sumbangan dari karya Pak Aksin yang utama, yang tidak ada dalam makalah.
Lebih jauh, buku ini sangat relevan dengan tantangan masa kini di tengah semakin kuatnya klaim kebenaran kelompok, politik identitas, dan tuduhan kafir pada liyan. Tetapi, kita tidak bisa menyangkal bahwa perbedaan itu mungkin bersemai dalam satu kumpulan, semisal seorang tradisionalis yang memilih konsep etis Mu'tazilah, bukan bukan Maturidiyah.

Dengan semakin luasnya akses khalayak pada pengetahuan, semestinya sikap masyarakatnya akan terbuka pada perbedaan dan tepa selira. Kitab suci hadir tidak hanya terkait what it means (makna), tetapi what it means for me (signifikansi) dalam Hirschean. Di sinilah, subyektivisme pemahaman pada teks dan pengalaman kental. Tetapi, obyektivisme bisa diraih karena setiap individu akan menumpukan perhatian pada pokok persoalan.

Friday, July 01, 2022

Orientasi Santri Baru

Setelah mengambil foto ini, saya mengikuti acara dengan khidmat. Betapa "bhunga", bahasa Madura untuk gembira, melihat pelajar bersemangat memulai hari bergiat di pondok.
Lima pembawa cara menggunakan bahasa Indonesia, Mandarin, Jepang, Arab dan Inggris sebagai pelaziman agar santri baru untuk sementara tidak menggunakan bahasa ibu. Berlatih dgn bahasa tersebut adalah cara memahami dunia lebih luas.
Akhirnya, bahasa itu sekadar alat untuk meraih makna bersama. Bila saya terpejam menggali kedalaman lagu pujian Muhibbus Shalawat, maka kita bersama sedang merayakan nilai profetik yang otentik, yakni ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman.Untuk menuju yang universal (umum), kita berpijak pada yang partikular (khusus).

 

Thursday, June 30, 2022

Filsafat Kebosanan dan Mahasiswa


Svendsen lebih memilih tipologi kebosanannya Martin Doehlemann daripada Milan Kundera (hlm. 41). Tetapi, mencermati kebosanan aktif Kundera yang berupa kesenangan seorang pada hobi tertentu layak untuk ditimbang.
Ada empat tipe kejemuan: 1. Kebosanan situasional, seperti seseorang yang sedang menunggu orang lain, mendengar kuliah atau naik kereta api (lebih jauh lihat dalam buku "A Philosophy of Boredom").
Kalau hanya ngoceh, saya akan membuat mahasiswa jenuh. Itulah mengapa kaidah diskusi bersama jauh lebih "menantang", lagipula mereka telah "mendengar" sejak Taman Kanak-Kanak. Oleh karena itu, pada pertemuan-pertemuan akhir, kami akan mengulik sebuah teks tentang kata, simbol, dan makna dengan menerjemahkan dari bahasa asal ke bahasa sasaran, lalu mengulasnya sebagai wacana. Masing-masing harus melakukannya dan nanti akan mengikuti kelas lanjutan yang didasarkan pilihan secara sukarela.

Siasat yang gagal

Akhir-akhir ini, Biyya tidak lagi membawa buku ke mana-mana. Ia malas membaca. Tadi, saya bilang ke maminya, bahwa buku ini punya ayah terlu...