Wednesday, February 11, 2026

Kinokuniya Kuala Lumpur

Setelah berfoto di depan menara kembar Petronas, kami pun pergi ke toko buku Kinokuniya yang berada di lantai 4. Tak jauh dari tempat ini, ada Pusat Sains Negara yang dulu Biyya dan Zumi pernah mengunjunginya. 

Saya mengajaknya ke rak buku Islam agar Zumi bisa mengenal karya-karya keagamaan dari banyak sudut pandang setelah melalui lorong buku filsafat. Sementara Biyya mengelilingi rak novel, yang selalu menjadi pusat perhatiannya. Ia sempat menunjukkan buku nonfiksi tentang hukum. 

Saya sendiri sempat mencatat buku yang perlu dikoleksi nanti, yakni Our Philosophy oleh Muhammad Baqir as-Sadr. Sebenarnya buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, yang menunjukkan apresiasi kepada pemikiran kritis mazhab Syiah. Hakikatnya, label dan kumpulan itu batasan yang dibuat untuk menetapkan sesuatu yang jauh lebih dalam, yakni cara kita melihat dunia. Setelah menua, kita telah menggeser perbedaan pada pemaknaan yang jauh lebih sublim. 

Hidup kita ini bisa dikiaskan ke suasana di toko buku ini. Betapa pelbagai pemikiran bisa diletakkan di rak. Setiap orang tak perlu berteriak, tetapi hanya perlu memilih bacaan dan akhirnya menetapkan tindakan. Kematangan ditunjukkan dengan keadaban untuk menerima perbedaan. Sebagaimana kami tak bisa memaksa Zumi membaca dengan membeli buku. 


 

Tuesday, February 10, 2026

Sarapan

Pujasera atau medan selera (Food court) ini berada di lantai 4 UTC (Pusat Transformasi Bandar) Puduraya. Bangunan ini adalah bekas terminal bus. Ada ikatan emosional yang kuat dengan tempat ini. Dulu saya sering naik bus dari terminal ini ke Pulau Pinang. 

Kami memilih Selera Utara Eda nomor dua. Pelayannya yang sudah berkeluarga dengan orang lokal ini sangat ramah. Ia berasal Bangka Belitung. Saya memilih perkedel dan terung goreng. 

Istri mengambil popia pedas dan karipap untuk mengobati selera. Dulu, kami sering menikmatinya di Pulau Pinang, buatan Makcik Sri, emak angkat dan jiran kami. Sepertinya Biyya memuaskan kangennya pada teh tarik, sementara saya mengasup air mineral untuk mengurangi gula. Lingkungannya yang bersih dan tenang membuat kami nyaman berlama-lama di sini. 

Monday, February 09, 2026

Kenangan

Setelah sampai di penginapan di sekitar Puduraya, saya mengajak Zumi untuk mengingat awal-awal saya ke Kuala Lumpur pada tahun 2005-an. Setelah memilih bus di terminal KOMTAR, saya menghabiskan waktu 7 jam ke Puduraya. Dari sini, saya membeli air mineral sebelum berjalan kaki ke masjid Jamek untuk sejenak berehat dan di pagi hari naik LRT ke KL Sentral. Saya sering berjalan kaki di tengah malam dari Pudu Raya ke Masjid Jamek yang berjarak 755 meter dan memakan waktu 10-15 menit. 

Minimarket ini berada di seberang terminal bus Puduraya, tempat saya mencari tumpangan dari KL ke Pulau Pinang atau sebaliknya. Sementara, warung kopi, yang terpisah dua toko dari Seven7, yang pernah saya singgahi bersama Sidqi, mahasiswa S2 UNUJA, pada Oktober 2024 kini bertukar dengan kedai mie. 

Apa yang berubah dan kekal dalam hidup? Manusia bisa kehilangan jejak fisik, karena bangunan dirobohkan atau bertukar peruntukan, tetapi tidak kenangan. Saya tidak tahu, adakah Seven7 ini akan bertahan kala Zumi berada di sini pada tahun 2050? Mungkin tidak, tetapi ia tetap memerlukan air minum. Oh ya, harga Teh Pucuk (350ml) di sini RM 2.90, berkisar Rp 13.050 sesuai dengan kadar tukar uang di Juanda kemarin. Mengapa mahal? Karena nilai ringgit naik dan rupiah turun. 

Naik dan turun bisa terjadi kapan saja dan di mana saja serta untuk apa saja. Kita punya kendali diri bila jalan menurun dan menaik. Keduanya sama-sama mensyaratkan tahu diri. Klise, tetapi ini lah yang sejak dulu telah dipikirkan oleh banyak orang bijak. Mau apa lagi? Mungkin, kontemplasi itu perlu hadir kala kita berada di sebuah titik seraya merenung, ternyata kita tidak pernah pergi ke mana-mana karena kita tinggal di kepala dan hati kita.  

Terminal

Kami menunggu  di terminal sebelum jam keberangkatan ke Kuala Lumpur dengan QZ 324. Seraya menikmati sarapan di sini, kami ngobrol ke sana ke mari. 

Ada tempat sampah? Tanya Biyya. Ya, dekat televisi itu. Setelah membuang plastik ia kembali dan bercerita tentang anak kecil yang tidur begitu saja di lantai. Ia mungkin anak dari salah satu pengantar dari calon jemaah umrah. Maklum, saking banyak warga yang mengantar, kursi tunggu tak cukup. 

Terminal kini ramai. Namun lantai tetap bersih, termasuk kamar mandi. Petugas akan bergegas bila ada lantai kotor. Tindakan ini menyebabkan pengunjung juga turut menjaga kebersihan. Kita berharap kebiasaan ini bisa dilakukan di lingkungannya masing-masing, bukan?

Sunday, February 08, 2026

Wapo Tanjung

Kami menikmati mie ayam yang maknyus di sini. Anan-anak pergi ke sekolah. Seraya merangup krupuk dan sambal, kami menunggu dengan sabar dan mendengar lagu pop lama yang diputar oleh penjual.

Libur itu sama dengan lébur dalam bahasa Madura, menghibur. Prei? Apa artinya? Cuti? Apa maknanya? Apa semua bisa ditampung dalam kata?

Berlibur itu pasti menyenangkan karena kita terhibur. Kita bisa melakukannya di mana saja dan kapan saja. Malah, kini musik, film, dan konten bisa mendatangkan kesenangan tanpa batasan dengan akses internet. Tetapi, sekali-kali kita berhenti untuk terus-menerus terpapar, bukan?

Kelapangan dan Kesempitan

 العارفون إذا بسطوا اخوف منهم إذا قبضوا
Orang arif lebih takut pada kelapangan daripada kesempitan. Kalimat pendek ini diurai secara mendalam oleh Kiai Zuhri pada pengajian pagi Syarh al-Hikam.
Dengan kesuksesan, misalnya, seseorang tidak lalai dengan kebajikan, dan dengan kegagalan tidak membuatnya hilang haluan. Sepertinya, kita hanya senantiasa memiliki dua pilihan, meskipun kita lebih sering menjalani kehidupan sehari-hari yang rutin.
Kami pun tepekur, bila hidup ini senantiasa memiliki dua sisi, maka apa pun keadaannya kita berterima. Apa ini membuat kita apatis? Tidak. Kita mesti meneguhkan pilihan di mana tempat kita berpijak. Kini, pijakan itu berada di dua ruang, nyata dan maya. Lalu, apa itu kenyataan dan kemayaan?

Kenyataan adalah apa yang dijalani sehari-hari, baik pribadi maupun kemasyarakatan. Di sini, kita betul-betul mengulang apa yang telah kita pernah lalui.

Warung Hamza