Kehendak bebas adalah kapasitas khas agen untuk membuat pilihan atas tindakan, yang erat kaitannya dengan baik dan buruk dan isu-isu etika, tanggung jawab moral dan akuntabilitas perilaku.
Kejernihan adalah mula dari segala
Kehendak bebas adalah kapasitas khas agen untuk membuat pilihan atas tindakan, yang erat kaitannya dengan baik dan buruk dan isu-isu etika, tanggung jawab moral dan akuntabilitas perilaku.
Dengan harga Rp8.000,00, saya bisa membawa sebungkus sarapan. Saya, istri, dan Zumi suka goreng tempe kecil yang kering. Sementara, Biyya membawanya ke sekolah. Penyuka Aurora ini menikmatinya di tempat ia belajar.
Di sepanjang jalan dalam radius 1KM, ada tiga penjual serupa, di depan perumahan dan toko telepon. Mungkin, setiap memiliki selera berbeda sehingga ketiga penjual mendapatkan pelanggan masing-masing. Semoga emak-emak ini bisa meraih untung di tengah kenaikan harga bahan makanan.
Kami pun beranjak dan duduk di teras untuk menikmati kue yang dibawa oleh Pak Mus dan Pak Budi. Tadi sebelum magrib, Fairuz, anak Pak Tir, juga membawa kue untuk jemaah perempuan.
Betapa senang melihat anak-anak juga membaca kitab suci di masjid Ali bin Abi Thalib. Di sini, mereka tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga tarbiyah (pendidikan), di mana saya pernah melihat Ahnaf dan Ilman membuang sampah pada tempat yang telah disediakan khusus untuk bekas minuman dan tong.
Temanya tentang Tugu Pahlawan dan Museum 10 November yang diresmikan oleh KH Abdurrahman Wahid. Sebenarnya ia memahami sebagian dari kosa kata Jawa, tetapi tidak mudah mengerti pertanyaan karena penguasaan lema terbatas.
Apa pun, ia telah memasukan alam pikiran ibunya yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa waktu kecil. Di sini, Zumi bisa belajar lebih mudah karena ia mewarisi pengalaman orang tuanya. Semoga.
Setelah punch-out di mesin peresensi elektronik, saya bertolak ke sekolah anak. Dalam
perjalanan saya mampir ke kedai telepon Mandiri untuk meminta teknisi memperbaiki gawai
saya yang macet (hang).
Seusai mengecek telepon genggam, saya mampir ke Senja Coffee, warung di depan
sekolah. pada pukul 3.10, untuk pertama kalinya mengingat bubaran sekolah sekitar pukul 4. Dengan
memesan es cappucino, saya menyesap minuman ini dengan perlahan sambil membuka
buku Engineers of Jihad: The Curious Connection Between Violent Extremism
and Education oleh Diego Gambetta and Steffen Hertog.
Tak lama kemudian, ada seorang pengunjung yang memesan kopi
tanpa gula dan telur mentah. Ia membuka percakapan pertama dengan menyapa dan
bertanya asal. Dari sini, kami pun berbagi cerita tentang Kota Anyar, rumah lelaki
itu, dan harga tembakau yang mencecah Rp60ribu-Rp65ribu. Ia pun bercerita
sering mengikuti istighatsah setiap Selasa dan Malam Jum’at di perumahan Detar.
Menariknya, ia tak merokok.
Lalu, ada tiga orang pengunjung yang memesan minuman, es teh dan kopi panas, yang masing-masing membuka bungkus rokok, Hummer dan Wismilak 234
hitam. Katanya, rokok pertama ini diproduksi oleh PT Bawang Mas, milik H Her. Untung,
dari kejauhan saya melihat Biyya yang sedang melangkahkan kaki dari gerbang sehingga segera beranjak dari kursi karena tak tahan
dengan bau asap rokok.
Selain buku di atas, saya juga meminjam buku Zaprulkhan berjudul Tasawuf Moderat: Pembaharuan Tasawuf Hamka dan Said Nursi.
Keduanya akan dijadikan bacaan tambahan, selain utama dan pendukung untuk mata
kuliah Akhlak Tasawuf semester 3 Pendidikan Agama Islam. Tentu, rujukan materi
ini didasarkan pada tradisi intelektual Muslim, seperti Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh. Selain ini,
karangan Ahmad Amin juga menjadi bahan pustaka, yang mengingatkan saya pada mata kuliah ini ketika
belajar di Akidah Filsafat IAIN dulu di bawah asuhan Pak Kusmin Busyairi.
Mengapa Akhlak Tasawuf perlu diajarkan dengan menimbang isu-isu kontemporer, seperti kekerasan atas nama agama? Dalam buku Gambetta, kita menemukan kutipan menarik, yakni "the discipline of the degree attained in particular has the potential to contain information about personal characteristics" (hlm. ix). Karakter seseorang dipengaruhi oleh program studi yang diambil oleh mahasiswa.
Namun, dalam konteks setempat, pertanyaan sederhana bisa diajukan apakah merokok di ruang publik itu berakhlak atau tidak? Jadi, persolannya tidak lagi berkutat soal label haram yang sedang heboh karena diusulkan oleh Muhammadiyah untuk peringatan di bungkus rokok.
Di dapur, saya membaca kembali isu lama tentang kehendak bebas. Sambil menikmati pisang goreng dan kopi, saya mengingat kembali apa yang did...