Saturday, October 10, 2026

Kondangan

Kami datang sebelum acara bermula. Pak Yuli mengundang warga untuk mensyukuri perkawinan anak lelakinya. 

Di sini, kami mendengar nasihat Kiai Imam, membaca selawat, yang dipimpin oleh Ust Abdullah, dan mengaminkan doa. Setelah penutup, kami menikmati rawon. Ada lima hal yang melebihi isi dunia, di antaranya makanan lezat dan istri salehah. 

Menariknya, lezat itu terkait selera. Lebih-lebih lagi, seseorang sedang lapar kala menyantap makanan, kata kiai. Tentu, setiap orang mengenal jam tubuhnya.


 

Thursday, October 08, 2026

Ecordis


Saya menghubungi Kafe Rooster, apa kedai gunting rambut, sebutan jiran untuk barbershop, buka? Tutup. Saya pun mencari tempat lain. Setelah menemukannya, Geos, saya dan Zumi masuk dan duduk di sofa. Ternyata, tidak ada penjaganya. Kami pun pergi. 

Setelah itu, kami pun melaju ke Ecordis, tempat Zumi merapikan rambutnya. Di sini, ia hanya menghabiskan waktu tak lebih 10 menit. Rp 35 ribu saya serahkan kepada kasir. Ternyata, di sekitar tempat kami, ongkosnya beragama, dari 10 ribu, 25 ribu hingga 35 ribu. Tinggal kita pilih! 

Dulu, saya sering diantar ibu ke Pak Ahmadun, yang membuka lapak dekat bengkel tak jauh dari pasar. Kini, generasi alpha melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. 

Sunday, October 04, 2026

Do We Have Free Will?

Di dapur, saya membaca kembali isu lama tentang kehendak bebas. Sambil menikmati pisang goreng dan kopi, saya mengingat kembali apa yang didendangkan Rhoma Irama tadi pagi dari soundsystem jiran yang sedang gelar hajatan, "Bebas". 

Kehendak bebas adalah kapasitas khas agen untuk membuat pilihan atas tindakan, yang erat kaitannya dengan baik dan buruk dan isu-isu etika, tanggung jawab moral dan akuntabilitas perilaku. 

Jadi, bebas  itu sendiri berhubungan dengan aturan karena setiap individu hidup bersama dengan orang dan masyarakatnya. Lalu, lawannya determinisme menyela bahwa setiap perbuatan merupakan akibat dari faktor lain sebelumnya. Pendek kata, "takdir" bekerja. 

Warung Kopi

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Biyya minta mampir ke pasar mini untuk membeli roti. Saya pun menunggu di warkop yang menyediakan empat kursi. Di bandingkan di luar yang lebih luas dan banyak tempat duduk, saya merasakan dingin AC lebih enak untuk menikmati sore di dalam ruangan. 

Mengingat telepon genggam tidak mengaktifkan data internet, saya memilih membuka buku kecil yang dibawa, sebagaimana juga dilakukan di depan sekolah anak sambil menunggu bubaran. 

Menilik kembali buku lama, yang dibeli di toko Borders Queens Bay, 22 Januari 2017, saya bisa mendaras ulang filsafat yang ditulis secara populer. Alan Stephen, seorang guru dan penulis lepas, menyuguhkan filsafat dalam bentuk sederhana (in a nutshel). 

Menariknya, dia memulai buku ini dengan cerita di usia enam tahun ketika berada di rumah orang tuanya. Di sini ada mainan kereta yang memiliki sebuah terowongan yang menembus dua gunung dan dua stasiun. Kereta ini sering mengalami kerusakan, tetapi ketika berfungsi, dia sangat menikmatinya. Dari pengalaman tersebut, ia berpikir bagaimana sesuatu bisa bekerja atau tidak bekerja, pada waktu-waktu tertentu tetapi tidak pada waktu lain. 

Tanpa menyebutnya sebagai momen eureka, tiba-tiba dia menyadari bahwa dia melakukan percakapan dengan diri sendiri dengan mengajukan pertanyaan, menganalisis, mempertimbangkan pelbagai kemungkinan, dan merasa kebingungan. Nah, dari kisah ini anak-anak sesungguhnya telah mulai berpikir sejak kecil dan ini perlu ruang untuk menyuburkan rasa ingin tahu itu. 

Apa mungkin percakapan kita sehari-hari mendorong anak-anak menyemai pikirannya seperti dialami oleh Stephen? Sambil mencari jawaban, saya mendengar radio Suara Muslim FM Surabaya melalui pengarusan (streaming), yang sedang menyiarkan cerita tentang keseharian anak-anak oleh Kak Fifi. Melalui rekaman Whatsapp, kisah Zio yang bangun pagi dan salat subuh dan mengaji bersama serta berjalan-jalan dengan sepeda untuk menyambut matahari pagi tentu bisa dijalankan jalan masuk untuk berpikir bagi mereka. Temanya terkait dengan tidak terburu-buru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Buku inilah yang mengantar saya pada ide Epicurus tentang tiga hasrat manusia yang menjadi dasar penulisan opini Jawa Pos, "Kehendak Kuasa dan Kritik Filsafat" (22/1/20). Lalu, bagian yang kini mengusik dari karya lulusan S2 filsafat ini adalah "Is there life after life"? Dia menyimpulkan soal alam lain sebagai persoalan iman, bukan akal budi. 

Saturday, October 03, 2026

Té-Oté

Kemarin sore, seusai menjemput Biyya, saya berjalan kaki dari rumah ke jalan raya, tempat penjual gorengan membuka lapak. Sebelumnya, saya mampir bertanya apa bakwan, sebutan lain dari te-ote, sudah tersedia? Belum, tukas penjual. 

Saya cukup satu gorengan, karena membatasi asupan makanan berbahan tepung dan digoreng dengan minyak goreng. Istri, Biyya, dan Zumi turut menikmatinya. Kami merasakan kehangatan kudapan karena baru saja diangkat dari penggorengan. 

Dengan harga Rp1.000,00, saya menyerahkan satu lembar 5 ribuan. Di tengah jalan, Naya, anak jiran, bertanya, apa nggak capek berjalan? Tidak. Hitung-hitung olah raga. Lalu, saya bertanya, mana abangnya, Rafan? Keluar sama ayah. 


 

Tuesday, September 29, 2026

Nasi Kuning

Di pagi buta, saya telah memacu motor ke depan MAN 1, tempat seorang ibu berjualan nasi kuning dan jagung. Saya memesan tiga bungkus, yang isinya nasi, timun, mie, perkedel, tempe kering, dan sambal. 

Dengan harga Rp8.000,00, saya bisa membawa sebungkus sarapan. Saya, istri, dan Zumi suka goreng tempe kecil yang kering. Sementara, Biyya membawanya ke sekolah. Penyuka Aurora ini menikmatinya di tempat ia belajar. 

Di sepanjang jalan dalam radius 1KM, ada tiga penjual serupa, di depan perumahan dan toko telepon. Mungkin, setiap memiliki selera berbeda sehingga ketiga penjual  mendapatkan pelanggan masing-masing. Semoga emak-emak ini bisa meraih untung di tengah kenaikan harga bahan makanan. 
 

Saturday, September 26, 2026

Yasinan

Seusai doa yang dipanjatkan oleh Pak Fauzan, saya dan Pak Budi berfoto bersama. Jiran kami ini mengikuti kegiatan rutin malam Jumat secara istikamah. Pak Qomar tadi membacakan surah Yasin yang diikuti oleh jemaah. 

Kami pun beranjak dan duduk di teras untuk menikmati kue yang dibawa oleh Pak Mus dan Pak Budi. Tadi sebelum magrib, Fairuz, anak Pak Tir, juga membawa kue untuk jemaah perempuan. 

Betapa senang melihat anak-anak juga membaca kitab suci di masjid Ali bin Abi Thalib. Di sini, mereka tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga tarbiyah (pendidikan), di mana saya pernah melihat Ahnaf dan Ilman membuang sampah pada tempat yang telah disediakan khusus untuk bekas minuman dan tong. 
 

Kondangan

Kami datang sebelum acara bermula. Pak Yuli mengundang warga untuk mensyukuri perkawinan anak lelakinya.  Di sini, kami mendengar nasihat Ki...