Thursday, February 19, 2026

Puasa Pertama

Kami memulakan Ramadan dengan salat tarawih di masjid Ali bin Abi Talib. Sebelum isya, Kiki mengajak Zumi untuk pergi. Di sini, ternyata banyak anak yang juga sedang menunggu sembahyang. Betapa ramai malam pertama puasa. 

Tidak hanya itu, anak-anak juga membawa jurnal Ramadan dari sekolah masing-masing. Roy, anak Pak Furqon, yang duduk di sebelah saya juga membawa buku laporan. Saya tidak membawa bolpoin. Saya pun menukas, nggak apa-apa, nanti pinjam teman-teman lain. 

Zumi memilih salat tarawih di barisan belakang bersama Akmal dan Kiki. Saya pun membiarkannya agar ia merasa nyaman dengan salat malam ini. Maklum, ia sebelumnya sempat berpikir untuk melakukannya di rumah. Ia pun kini mudah bangun untuk makan sahur. 

Tuesday, February 17, 2026

Ruang Terbuka Hijau

Lalaport adalah salah satu mal terbesar di Bukit Bintang City Centre. Di sini, kita bisa menemukan banyak kedai makan dari pelbagai rasa dan negara. Selain itu, ada pusat hiburan, seperti bioskop dan pagelaran jazz. Dulu, saya dan teman menikmati pop lokal di warung makan yang menggelar musik live.

Di sini, ada taman yang bisa dijadikan tempat untuk menghentikan langkah sejenak bila kita berjalan kaki dari satu titik ke titik lain. Nama Hang Tuah terpatri kuat sebagai penanda tempat. 

Lalu, kami pun melanjutkan perjalanan sebab ingin segera sampai di tujuan. Ternyata, setelah sampai, kami pun meninggalkan untuk pulang ke tempat kami menginap. Jadi apa itu pencarian (quest)? 

KK Mart dan Novel

Sepulang dari Bukit Bintang, kami pun mampir ke warung kelontong. Inilah kedai yang paling dekat dengan penginapan dan kira-kira 10 meter dari Seven7. Sambil menunggu kami mencari barang, Biyya melanjutkan bacaannya, novel fantasi, Champion of Fate.

Lagi-lagi, ini tidak disengaja. Setelah makan di kedai Mamak Hamza, kami menyusuri mal Fahreinheit. Ternyata, di lantai dua, kami menemukan toko buku Book Excess. Kami pun masuk dengan riang. Betapa menyenangkan suasana di sini. Ada meja dan kursi yang menjadikannya tempat duduk yang nyaman seperti di rumah. 

Di sini, Biyya membeli The Champion of Fate yang dianggit oleh Kendare Blake. Tokoh utama, Reed, adalah seorang perempuan yang disumpah untuk menjadi anggota sebuah ordo untuk menyiapkan seorang pahlawan. Di sini, aroma mitologi Yunani kental, karena Aristene sebagai ordo diilhamkan dari Amazon dan dunia yang dibangun bernuansa Yunani kuno dengan para dewa, monster, dan gagasan tentang takdir dan kehormatan. 
  
 

Thursday, February 12, 2026

Warung Hamza

Sebelum mampir ke sini, kami menetapkan hari ketiga di Kuala Lumpur untuk berjalan-jalan di Bukit Bintang. Setelah beranjak dari penginapan, kami berjalan ke stasiun LRT Plaza Rakyat. Di sini, kami disarankan untuk turun di stasiun Hang Tuah. 

Alih-ali berpindah stesen untuk menuju ke BB, malah kami memilih berjalan kaki dengan menyusuri Lalaport, IMBI, dan akhirnya sampai di tujuan. Di sini, kami pun berfoto bersama. 

Setelah cukup lama, kami pun mencari warung. Tanpa peta, kami menemukan kedai Mamak ini, tak jauh dari mal Pavilion, untuk menikmati makan siang. Zumi malah memilih roti canai, yang biasanya kami nikmati untuk sarapan. Lidah tak bertulang, tetapi ia menikmati apa yang bikin kita riang. Sebagaimana mbaknya, si bungsu membesar dengan makanan ini. 
 

Wednesday, February 11, 2026

Kinokuniya Kuala Lumpur

Setelah berfoto di depan menara kembar Petronas, kami pun pergi ke toko buku Kinokuniya yang berada di lantai 4. Tak jauh dari tempat ini, ada Pusat Sains Negara yang dulu Biyya dan Zumi pernah mengunjunginya. 

Saya mengajaknya ke rak buku Islam agar Zumi bisa mengenal karya-karya keagamaan dari banyak sudut pandang setelah melalui lorong buku filsafat. Sementara Biyya mengelilingi rak novel, yang selalu menjadi pusat perhatiannya. Ia sempat menunjukkan buku nonfiksi tentang hukum. 

Saya sendiri sempat mencatat buku yang perlu dikoleksi nanti, yakni Our Philosophy oleh Muhammad Baqir as-Sadr. Sebenarnya buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, yang menunjukkan apresiasi kepada pemikiran kritis mazhab Syiah. Hakikatnya, label dan kumpulan itu batasan yang dibuat untuk menetapkan sesuatu yang jauh lebih dalam, yakni cara kita melihat dunia. Setelah menua, kita telah menggeser perbedaan pada pemaknaan yang jauh lebih sublim. 

Hidup kita ini bisa dikiaskan ke suasana di toko buku ini. Betapa pelbagai pemikiran bisa diletakkan di rak. Setiap orang tak perlu berteriak, tetapi hanya perlu memilih bacaan dan akhirnya menetapkan tindakan. Kematangan ditunjukkan dengan keadaban untuk menerima perbedaan. Sebagaimana kami tak bisa memaksa Zumi membaca dengan membeli buku. 


 

Tuesday, February 10, 2026

Sarapan

Pujasera atau medan selera (Food court) ini berada di lantai 4 UTC (Pusat Transformasi Bandar) Puduraya. Bangunan ini adalah bekas terminal bus. Ada ikatan emosional yang kuat dengan tempat ini. Dulu saya sering naik bus dari terminal ini ke Pulau Pinang. 

Kami memilih Selera Utara Eda nomor dua. Pelayannya yang sudah berkeluarga dengan orang lokal ini sangat ramah. Ia berasal Bangka Belitung. Saya memilih perkedel dan terung goreng. 

Istri mengambil popia pedas dan karipap untuk mengobati selera. Dulu, kami sering menikmatinya di Pulau Pinang, buatan Makcik Sri, emak angkat dan jiran kami. Sepertinya Biyya memuaskan kangennya pada teh tarik, sementara saya mengasup air mineral untuk mengurangi gula. Lingkungannya yang bersih dan tenang membuat kami nyaman berlama-lama di sini. 

Monday, February 09, 2026

Kenangan

Setelah sampai di penginapan di sekitar Puduraya, saya mengajak Zumi untuk mengingat awal-awal saya ke Kuala Lumpur pada tahun 2005-an. Setelah memilih bus di terminal KOMTAR, saya menghabiskan waktu 7 jam ke Puduraya. Dari sini, saya membeli air mineral sebelum berjalan kaki ke masjid Jamek untuk sejenak berehat dan di pagi hari naik LRT ke KL Sentral. Saya sering berjalan kaki di tengah malam dari Pudu Raya ke Masjid Jamek yang berjarak 755 meter dan memakan waktu 10-15 menit. 

Minimarket ini berada di seberang terminal bus Puduraya, tempat saya mencari tumpangan dari KL ke Pulau Pinang atau sebaliknya. Sementara, warung kopi, yang terpisah dua toko dari Seven7, yang pernah saya singgahi bersama Sidqi, mahasiswa S2 UNUJA, pada Oktober 2024 kini bertukar dengan kedai mie. 

Apa yang berubah dan kekal dalam hidup? Manusia bisa kehilangan jejak fisik, karena bangunan dirobohkan atau bertukar peruntukan, tetapi tidak kenangan. Saya tidak tahu, adakah Seven7 ini akan bertahan kala Zumi berada di sini pada tahun 2050? Mungkin tidak, tetapi ia tetap memerlukan air minum. Oh ya, harga Teh Pucuk (350ml) di sini RM 2.90, berkisar Rp 13.050 sesuai dengan kadar tukar uang di Juanda kemarin. Mengapa mahal? Karena nilai ringgit naik dan rupiah turun. 

Naik dan turun bisa terjadi kapan saja dan di mana saja serta untuk apa saja. Kita punya kendali diri bila jalan menurun dan menaik. Keduanya sama-sama mensyaratkan tahu diri. Klise, tetapi ini lah yang sejak dulu telah dipikirkan oleh banyak orang bijak. Mau apa lagi? Mungkin, kontemplasi itu perlu hadir kala kita berada di sebuah titik seraya merenung, ternyata kita tidak pernah pergi ke mana-mana karena kita tinggal di kepala dan hati kita.  

Puasa Pertama

Kami memulakan Ramadan dengan salat tarawih di masjid Ali bin Abi Talib. Sebelum isya, Kiki mengajak Zumi untuk pergi. Di sini, ternyata ban...