Wednesday, October 21, 2026

Menjaga Bumi

Memenuhi undangan Mas Zuhri Humaidi, saya berbagi etika lingkungan dengan mahasiswi dan mahasiswa Ma'had Aly Darullughah Wal Karomah, Kraksaan. Dalam kuliah umum bersama mahasantri konsentrasi Fikih Lingkungan, satu-satunya di negeri ini, kami memandang penting fiqhul bi'ah. Tanpa hifzhul bi'ah, misalnya pembakaran hutan dan lahan, kita tidak bisa merawat keturunan (al-nasl). Ratusan ribu bayi mengidap ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) akibat terpapar asap.

Hebatnya, ada banyak pertanyaan kritis dari peserta yang menjadi PR kita, di antaranya apa jaminan dari penguasa untuk memastikan tata kelola lingkungan baik, tidak tunduk pada segelintir pemodal? Sial.

Hari ini, saya merasa terwakili dengan penggiat Greenpeace Indonesia yang mengibarkan spanduk di bundaran HI berbunyi Bencana Semakin Parah, Hidup semakin Susah, Apa Kerja Pemerintah. Justru, pesan ini perlu didengar karena wakil rakyat di Senayan tidak lagi garang. 

Monday, October 19, 2026

Menunggu

Dengan berangkat awal ke sekolah, saya punya waktu lebih lama untuk menunggu di warung kopi Senja. Saya senang karena hanya sendirian. Kehadiran orang lain sebelumnya mencetuskan suasana pengap, karena mereka merokok. 

Saya pun memesan cappuccino sachetan dingin. Buku ini menunjukkan bahwa banyak kejadian intoleransi agama dipicu oleh politikus oportunis untuk memobilisasi para pendukung dan meminggirkan lawan-lawannya. Dengan mengambil objek tiga negara, Amerika, Indonesia, dan India, Cherian George bisa membandingkan politisasi Kristen, Islam dan Hindu dalam dalam kehidupan politik warga. 

Mendekati angka 4, saya pun berdiri karena melihat Biyya sudah keluar dari pintu gerbang sekolah. Saya pun menghampirinya untuk pulang bersama. 

Monday, October 12, 2026

Catur dan Makna

Pemilik buah catur hitam adalah Zumi. Untuk permainan kedua, adik Biyya ini memenangkannya. Dengan demikian, ia akan bermain lagi karena pernah meraih kemenangan. 

Selain itu, kami berdua bisa bercakap-cakap, meskipun seringkali mengernyitkan dahi untuk mengatur langkah. 

Syukur, di sekolah, ada kawannya yang juga suka bermain sejenis. Selain sepak bola, anak-anak memiliki banyak arena, yang memungkinkan setiap anak untuk tidak senantiasa terpapar pada layar gawai. 
 

Saturday, October 10, 2026

Kondangan

Kami datang sebelum acara bermula. Pak Yuli mengundang warga untuk mensyukuri perkawinan anak lelakinya. Pak Sofi mengantarkan undangan pada warga dua hari sebelumnya. 

Di sini, kami mendengar nasihat Kiai Imam, membaca selawat, yang dipimpin oleh Ustaz Abdullah, dan mengaminkan doa. Setelah penutup, kami menikmati rawon. Ada lima hal yang melebihi isi dunia, di antaranya makanan lezat dan istri salehah. 

Menariknya, lezat itu terkait selera. Lebih-lebih lagi, seseorang sedang lapar kala menyantap makanan, kata kiai. Tentu, setiap orang mengenal jam tubuhnya.

Thursday, October 08, 2026

Ecordis


Saya menghubungi Kafe Rooster, apa kedai gunting rambut, sebutan jiran untuk barbershop, buka? Tutup. Saya pun mencari tempat lain. Setelah menemukannya, Geos, saya dan Zumi masuk dan duduk di sofa. Ternyata, tidak ada penjaganya. Kami pun pergi. 

Setelah itu, kami pun melaju ke Ecordis, tempat Zumi merapikan rambutnya. Di sini, ia hanya menghabiskan waktu tak lebih 10 menit. Rp 35 ribu saya serahkan kepada kasir. Ternyata, di sekitar tempat kami, ongkosnya beragama, dari 10 ribu, 25 ribu hingga 35 ribu. Tinggal kita pilih! 

Dulu, saya sering diantar ibu ke Pak Ahmadun, yang membuka lapak dekat bengkel tak jauh dari pasar. Kini, generasi alpha melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. 

Sunday, October 04, 2026

Do We Have Free Will?

Di dapur, saya membaca kembali isu lama tentang kehendak bebas. Sambil menikmati pisang goreng dan kopi, saya mengingat kembali apa yang didendangkan Rhoma Irama tadi pagi dari soundsystem jiran yang sedang gelar hajatan, "Bebas". 

Kehendak bebas adalah kapasitas khas agen untuk membuat pilihan atas tindakan, yang erat kaitannya dengan baik dan buruk serta isu-isu etika, tanggung jawab moral dan akuntabilitas perilaku. 

Jadi, bebas  itu sendiri berhubungan dengan aturan karena setiap individu hidup bersama dengan orang dan masyarakatnya. Lalu, lawannya determinisme menyela bahwa setiap perbuatan merupakan akibat dari faktor lain sebelumnya. Pendek kata, "takdir" bekerja. 

Warung Kopi

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Biyya minta mampir ke pasar mini untuk membeli roti. Saya pun menunggu di warkop yang menyediakan empat kursi. Di bandingkan di luar yang lebih luas dan banyak tempat duduk, saya merasakan dingin AC lebih enak untuk menikmati sore di dalam ruangan. 

Mengingat telepon genggam tidak mengaktifkan data internet, saya memilih membuka buku kecil yang dibawa, sebagaimana juga dilakukan di depan sekolah anak sambil menunggu bubaran. 

Menilik kembali buku lama, yang dibeli di toko Borders Queens Bay, 22 Januari 2017, saya bisa mendaras ulang filsafat yang ditulis secara populer. Alan Stephen, seorang guru dan penulis lepas, menyuguhkan filsafat dalam bentuk sederhana (in a nutshel). 

Menariknya, dia memulai buku ini dengan cerita di usia enam tahun ketika berada di rumah orang tuanya. Di sini ada mainan kereta yang memiliki sebuah terowongan yang menembus dua gunung dan dua stasiun. Kereta ini sering mengalami kerusakan, tetapi ketika berfungsi, dia sangat menikmatinya. Dari pengalaman tersebut, ia berpikir bagaimana sesuatu bisa bekerja atau tidak bekerja, pada waktu-waktu tertentu tetapi tidak pada waktu lain. 

Tanpa menyebutnya sebagai momen eureka, tiba-tiba dia menyadari bahwa dia melakukan percakapan dengan diri sendiri dengan mengajukan pertanyaan, menganalisis, mempertimbangkan pelbagai kemungkinan, dan merasa kebingungan. Nah, dari kisah ini anak-anak sesungguhnya telah mulai berpikir sejak kecil dan ini perlu ruang untuk menyuburkan rasa ingin tahu itu. 

Apa mungkin percakapan kita sehari-hari mendorong anak-anak menyemai pikirannya seperti dialami oleh Stephen? Sambil mencari jawaban, saya mendengar radio Suara Muslim FM Surabaya melalui pengarusan (streaming), yang sedang menyiarkan cerita tentang keseharian anak-anak oleh Kak Fifi. Melalui rekaman Whatsapp, kisah Zio yang bangun pagi dan salat subuh dan mengaji bersama serta berjalan-jalan dengan sepeda untuk menyambut matahari pagi tentu bisa dijalankan jalan masuk untuk berpikir bagi mereka. Temanya terkait dengan tidak terburu-buru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Buku inilah yang mengantar saya pada ide Epicurus tentang tiga hasrat manusia yang menjadi dasar penulisan opini Jawa Pos, "Kehendak Kuasa dan Kritik Filsafat" (22/1/20). Lalu, bagian yang kini mengusik dari karya lulusan S2 filsafat ini adalah "Is there life after life"? Dia menyimpulkan soal alam lain sebagai persoalan iman, bukan akal budi. 

Menjaga Bumi

Memenuhi undangan Mas Zuhri Humaidi , saya berbagi etika lingkungan dengan mahasiswi dan mahasiswa Ma'had Aly Darullughah Wal Karomah, K...