Monday, May 25, 2026

Pameran

Kami mengujungi stan pameran kampus. Dengan mengambil sudut ini, saya ingin memberikan apresiasi pada tim redaksi Majalah Alfikr.
 

Periplus

Kami mampir ke toko buku Periplus, Surabaya. Anak-anak melihat-lihat buku bacaan. Saya tidak membeli karya Greg McKeow. Bukankah "pursuit of less" sesuai pesan buku tersebut ? Saya menitip majalah Tempo pada ibu Biyya.

Saya memilih bermain dengan Zumi. Seronok betul! Tak seperti Pujasera, kedai buku tidak dikunjungi oleh banyak orang. Buku belum menjadi kebutuhan sebagaimana makanan.

Betapa pun kita hanya perlu memenuhi keperluan minimal, namun setiap orang memiliki selera dan keinginan masing-masing.



Sunday, May 24, 2026

Mal dan Bakso

Zumi, Farah, dan Fatih, sepupunya, kami ajak salat di musala mal Pakuwon, Yogya. Keduanya tampak senang. Sebelumnya, kami mengunjungi toko buku Gramedia. Anak-anak dibimbing oleh orang tuanya. Kami berakhir di warung bakso Cak Man setelah berkeliling untuk makan malam. Dari selera ini, kita telah membiasakan diri dengan cita rasa lokal.
 

Siapa yang Memiliki Masa Depan

Di masa kejayaannya, perusahaan kamera Kodak mempekerjakan lebih daripada 140 000 orang dan berharga 28 miliar dollar. Kodak kini bangkrut. Pengguna beralih ke Instagram, yang dibeli Facebook 1 miliar dollar pada tahun 2012. IG memiliki hanya 13 pekerja.

Teknologi telah menggantikan tenaga manusia. Ini bukan sekadar siapa yang akan memiliki masa depan, tetapi apa yang manusia ingin lakukan bila ia tidak lagi diperlukan tenaga dan pikirannya?

Warung dan Koran

Saya san istri mampir ke warung ini untuk menikmati minuman seraya menunggu Nabbiyya yang sedang belajar di prasekolah. Sinar adalah koran yang dilihat media netral dalam politik Malaysia, berbeda dengan Utusan (UMNO) dan The Star (MCA). 

Dulu, saya mendapatkan koran dengan mudah di toko kelontong dan minimarket. Tetapi, pada, bulan April 2026 ketika berkunjung ke Kuala Lumpur, saya tidak lagi melihat koran digelar di Seven Eleven seperti dulu. Malah, The Sun, yang disediakan secara gratis, tak kelihatan. 

Padahal, saya lebih suka membaca koran cetak dibandingkan digital. 
 

Cikgu Rahim.

Cikgu Rahim adalah pensiunan guru asal Kelantan. Kami pernah menginap di rumah lelaki yang periang ini. Beliau dan keluarga juga menjenguk kami di Kedah. keluarganya juga sangat baik dengan Kami.

Kami memahami dunia batin dan lahir mereka. Sang menantu adalah dokter kampus yang tahu catatan medis saya. Hubungan antara menantu dan mertua sangat akrab.

Dari keluarga inilah kami belajar tentang kehangatan.
 

Sepeda Motor

Motor ini adalah milik kawan baik dari Malaysia, Fauzi Hussin, yang saya gunakah sejak belajar dan bekerja di USM. Ketika teman saya menyelesaikan kuliahnya, ia meminjamkan motornya untuk digunakan. Betapa baik orang Melayu.

Tidak hanya untuk keperluan ke kampus, saya juga sering mengenderainya ketika bolak-balik ke rumah sakit ketika Biyya lahir. Malah, bersama ibunya, kami pergi ke klinik untuk memastikan perkembangan kesehatian si kecil.

Saya pun masih ingat kala Andrea Hirata menunjukkan kesenangannya karena di tengah terdapat keranjang tempat belanjaan. Kala itu, si penulis Laskar Pelangi ini diundang PPI USM untuk berbagi cerita.

Pameran

Kami mengujungi stan pameran kampus. Dengan mengambil sudut ini, saya ingin memberikan apresiasi pada tim redaksi Majalah Alfikr.