Saturday, September 05, 2026

Mengaji Syarh al-Hikam

ربما اطلعك على غيب ملكوته وحجب عنك الاشتغراف على اسرار العباد

Pagi ini, pukul 6, kami mengikuti pengajian kitab anggitan Imam Athoillah Al-Sakandari di musala Riyadhushshalihin. Kiai Zuhri memulai dengan teks di atas dan menjelaskan bahwa Allah memberikan anugerah pada manusia dengan membuka mata pada "alam", tetapi menutup penglihatan dari aib orang lain. 

Tadi, uraiannya dikaitkan dengan kesaktian yang menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat. Berdasarkan pernyataan ini, jelas manusia terhalang untuk menembus hati manusia, sehingga penyingkapan itu bisa salah atau ilusi. 

Setelah menyimak penjelasan kitab, saya pun ngobrol dengan Nugi asal Bondowoso dan Noval asal Probolinggo. Keduanya adalah pengurus LPBA pondok yang sedang menyelesaikan studi S1 dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab. Obrolan seputar pilihan pekerjaan seusai rampung kuliah, yakni pekerja, pengusaha, dan sarjana (ustaz, guru, peneliti, dll). 

Thursday, September 03, 2026

Apel

 

Saya memilih jalan dari  kampus pondok. Di tengah jalan, kami bersua. Saya sempat menyapa Noval, mahasiswa FT, yang sedang menjaga portal dan bertanya buku apa yagn sedang dibaca? 

Sambil melangkahkan tungkai, saya tanya tentang kurikulum pada Pak Sugiono, lulusan Universitas Deakin, ini. Dengan mengabadikan gambar berdua di depan POMAS (Pondok Mahasiswa), kami berharap agar pengetahuan lokal bisa dipikirkan kembali untuk memenuhi tujuan pendidikan, yakni karakter dan keterampilan. 

Kami pun berdua mengikuti apel di awal bulan September seusai libur Malid. KH Luthfi berpesan agar pengurus mendampingi santri dengan sabar dan telaten. Acara ditutup dengan doa oleh Haji Thohiruddin, sekretaris pesantren. 

Tuesday, September 01, 2026

Kondangan dan Ingatan

Foto ini kami ambil di rumah almarhum Pak Faizin. Kala itu, kami menghadiri pesta perkahwinan puteranya. Di sini kami bertemu banyak orang dan saling bercerita. 

Salah satu tamu datang terlambat karena ban mobilnya pecah di tengah jalan. 

Kami memiliki ingatan yang baik tentang rekan pondok dan kampus ini.

Sunday, August 30, 2026

Poli Anak

Kami berfoto bersama sebelum mendaftarkan Zumi untuk periksa ke dokter Ayu. Perawat menyambut ramah dengan memastikan suhu, berat badan dan tinggi anak. Sebelumnya, kami telah mangambil nomor antrian secara daring. 

Karena ada kegiatan imunisasi, kami menunggu di kantin Rumah Sakit Rizani untuk menikmati soto Lapangan Tembak. Sambil menunggu istri membeli bakwan, tahu dan molen. Di pagar kantin ada poster yang mengumumkan larangan merokok di seluruh area dengan denda Rp100.000,00. 

Dengan segelas es jeruk, kami menghabiskan makanan sambil bercakap ke sana ke mari. Lalu, kami kembali ke ruang tunggu. Setelah dipanggil, kami pun ke ruangan dokter. dr Ayu menyarankan Zumi untuk tidak telat makan dan menghindari makanan pedas dan minuman kopi. Seusai mengantongi obat, kami pun pulang. 
 

Bola Voli


"Pi', nama panggilan Hafiz, mau layangan"? Tanya saya setelah menemukan mainan ini di belakang rumah. Anak kelas 1 SD ini menjawab lugas. Tidak, Pak De. Saya sudah punya di rumah. Ia pun bermain bola voli dengan Kiki, sepupunya, dan Zumi saling menampar bola di sebelahnya. Betapa seru anak-anak bermain!

Lalu, mereka pindah ke halaman rumah dan menjadikan tiang jemuran sebagai net. Mereka silih berganti menepis  bola dengan iringan suara kegembiraan. 

Anak-anak memiliki imajinasi sendiri dalam memanfaatkan ruang dan benda. Bola itu dibuat dengan menggulung banyak kertas dan diikat dengan lakban (tape). Menjelang magrib, mereka bubar dan siap-siap ke masjid. Sepulang berjemaah, Akmal berkata bahwa besok bermain lagi, yang disahuti Zumi dengan ya. 

Friday, August 28, 2026

Yasinan dan Gibran


Apa yang membuat saya senang dari kegiatan di atas? Begitu banyak anak-anak yang masih belajar di sekolah dasar turut hadir. Kebanyakan mereka duduk di teras. Sementara, ada dua anak yang duduk di ruang utama, yakni Fikri dan Gibran. Anak terakhir ini memakai kaus hitam bertuliskan Khalid bin Walid, sahabat Nabi. "Wah, kausnya bagus. Beli di mana?" Dengan lugas ia menjawab, "Kakek saya yang dari Pasuruan memberi pada saya".

Lalu, kami pun beranjak setelah doa dipanjatkan oleh Haji Fauzan, di mana beliau menyelipkan permohonan agar Muktamar NU ke-35 di Jombang berjalan lancar. Di teras, kami menikmati buah semangka dan kue yang dibawa oleh Pak Mushthafa. Isu yang dibahas adalah demo di Jakarta, yang saya lihat para jemaah tidak memiliki satu pandangan. AMDK Nurja Water pun diteguk untuk melegakan tenggorokan.
Bagi Simone Weil, salah satu kebutuhan terdalam jiwa manusia adalah berakar, yakni terhubung secara nyata dengan masa lalu, tanah, dan warisan spiritual. Ketika Gibran memakai kaus bergambar Khalid bin Walid pemberian kakek dari Pasuruan, Weil akan melihat ini bukan sekadar gaya, melainkan transmisi iman yang autentik.
"Nurja Water" (air kemasan) jelas saya sebut secara sengaja sebagai jeda komersial. Tetapi dalam momen ini, air tersebut berfungsi sebagai sakramen sekuler. Meneguk air untuk melegakan tenggorokan setelah berbicara politik adalah pengakuan bahwa manusia adalah makhluk rapuh (fana). Kerapuhan fisik ini sebagai satu-satunya pintu menuju realitas sejati. Mengapa? Karena dalam kelemahan itulah kita menyadari bahwa kita bukan Tuhan.
Di saat demo di Jakarta menyuarakan kekuatan dan kekuasaan, di teras itu kami justru menikmati keheningan, anak-anak, air minum, dan perbedaan pendapat yang tidak dipaksakan. Lagi-lagi, kekuatan komunitas itu berdiri di atas kemandirian dan kebedaan dengan elegan karena di sini ada pengosongan ego. Kegiatan ini menjadi kanal dari kehidupan sehari-hari yang banal.

Thursday, August 27, 2026

Obrolan Pagi

Seusai mengantar anak ke sekolah, saya berangkat ke klinik Azzainiyyah untuk mengikuti senam dan taklimat dokter dalam kegiatan rutin Prolanis warga Nurul Jadid. Seraya menunggu cek tensi, saya mengajak Noval, mahasiswa Teknologi Informasi UNUJA, ngobrol

Meskipun belajar teknologi, lelaki asal Karanganyar ini menyukai sejarah. Di sela menjaga portal, mahasiswa semester 1 ini menekuri buku bacaan. Sebenarnya, ia berminat dengan pelajaran bahasa Indonesia. Sungguh, pribadi yang unik. 

Hakikatnya, hidup itu bermakna dalam setiap detik napas, karena kita lah yang melukiskan canvas. Dengan mengenal orang yang dekat dengan kehidupan kita sendiri, kita bisa memeriksa apa yang dicari kita sendiri dalam perjalanan ini. 

Mengaji Syarh al-Hikam

ربما اطلعك على غيب ملكوته وحجب عنك الاشتغراف على اسرار العباد Pagi ini, pukul 6, kami mengikuti pengajian kitab anggitan Imam Athoillah Al-S...