Sunday, March 01, 2026

Teh

Apa yang membuat kita lega? Minuman yang diteguk ketika haus. Teh Pucuk ini dijual di minimarket 7 Eleven Pudu seharga RM 2.90. Betapa mahal kala minuman ini dijual di negeri jiran. Bagi sebagian warga kita yang bekerja di sini, minum teh ini bisa mengobati kerinduan. 

Saya sendiri merasa nyaman dengan rasa teh Kotak. Kami sering membawa sangu ini dalam perjalanan. Menariknya, saya juga sangat menikmati tek tarik, tanpa tahu merek apa yang digunakan. Apalagi, minuman khas ini menjadi penghilang dahaga kala makan roti canai. 

Jadi, apa pun merek teh dan makanannya, kita sedang menghadirkan suasana kapan dan bagaimana ia dinikmati. 
 

Tuesday, February 24, 2026

Hari Keenam

Nabbiyya membagikan kuesioner pada murid-murid kelas 4A SD Namira. Mereka diminta untuk menjawab pertanyaan untuk memastikan pengaruh media sosial pada literasi. 

Ia tentu mengenang kembali masa belajar di sini dulu. Tak hanya itu, Biyya belajar cara melakukan penelitian sejak awal sebelum melanjutkan pendidikannya di pergurua tinggi. 

Dari sini, saya juga belajar banyak hal, tentang orang yang tulus membantu untuk penyelesaian tugas ini. Kala hendak memastikan jumlah pertanyaan, ada 3 kekurangan eksemplar. Pak Aziz, penjaga sekolah, mengantar saya untuk foto kopi di toko ATK, yang berjarak cukup jauh dari sekolah. 

Monday, February 23, 2026

Hari Kelima

Hari pertama di bulan Ramadan, Zumi dan kawan-kawan mengikuti pelajaran secara daring. Komputer, bahasa Indonesia, dan Al-Qur'an adalah mapel yang harus diikuti di sesi pagi. Saya lihat mereka bisa menjalaninya dengan baik. 

Generasi Alpha akrab dgn gawai. Kita berharap pembelajaran secara daring akan bermanfaat untuk penguatan akal budi dan budi pekerti mereka. Dunia mereka adalah meniru dari teman dan lingkungannya. 

Guru memiliki peran penting karena ia dianggap sebagai pemegang otoritas. Kala Zumi menunjukkan arah dengan ibu jari, ternyata ia menyerapnya dari kelas. Saya pun merasakan sendiri kala mereka menaruh hormat pada orang tua teman-temannya dengan mengucapkan salam dan bersalaman. 

 

Sunday, February 22, 2026

Hari Keempat

 

Alhamdulillah, seusai berbuka, Zumi bilang bahwa puasa itu mudah. Sore ini kami berbuka di meja yang sama dan berborak ke sana ke mari. 

Hujan turun lagi seperti kemarin. Air meluap. Untungnya, ia tidak berlangsung lama. Di beberapa titik, seperti Kraksaan, banjir. Sebuah pondok di Rangkang juga mengalami kenaikan air yang membuat santri bermain di halaman dengan wajah riang. 

Kami menunggunakan foto di sebelah untuk menggambarkan bahwa dalam keadaan apa pun, setiap anggota keluarga diberi ruang untuk meluapkan perasaan dan pikirannya. 

Saturday, February 21, 2026

Hari Ketiga

Sebelum berangkat ke kampus, istri minta dibelikan air kelapa untuk minuman berbuka. Saya pun membelinya di warung Saiful, Tanjung, yang kini sudah berganti pemilik. Sebelumnya, saya mengisi pengajian kitab al-Jawahir al-Kalamiyah di pondok Al-Quds. 

Hari ini, menu kami adalah rawon yang dipesan di warung Paiton. Alhamdulillah, momen ini selalu mendatangkan kebersamaan karena sambil menikmati makanan kami berbagi cerita di meja makan. 

Setelah beberapa menit kemudian, kami pun berjemaah magrib. Oh ya, buku di sebelah saya ingin temukan di toko Book Excess Kuala Lumpur kala menemani Biyya mencari bacaan kesukaannya, novel. 


 

Friday, February 20, 2026

Hari Kedua

Kami pergi ke masjid untuk menunaikan tarawaih. Begitu banyak orang yang hadir. Sebelum beranjak, maminya memfoto kami berdua. Ia berharap Kiki dan Akmal juga hadir seperti pada malam pertama. 

Pak Fauzan memimpin salat. Hafiz dan Roy berada di barisan pertama. Anak-anak begitu bersemangat untuk mengikuti salat tanpa lupa menyiapkan Jurnal Ramadan yang nanti diisi tanda tangan. 

Bagi kami, inilah peluang untuk berhenti sejenak memelototi gawai. 

Thursday, February 19, 2026

Puasa Pertama

Kami memulakan Ramadan dengan salat tarawih di masjid Ali bin Abi Talib. Sebelum isya, Kiki mengajak Zumi untuk pergi. Di sini, ternyata banyak anak yang juga sedang menunggu sembahyang. Betapa ramai malam pertama puasa. 

Tidak hanya itu, anak-anak juga membawa jurnal Ramadan dari sekolah masing-masing. Roy, anak Pak Furqon, yang duduk di sebelah saya juga membawa buku laporan. Saya tidak membawa bolpoin. Saya pun menukas, nggak apa-apa, nanti pinjam teman-teman lain. 

Zumi memilih salat tarawih di barisan belakang bersama Akmal dan Kiki. Saya pun membiarkannya agar ia merasa nyaman dengan salat malam ini. Maklum, ia sebelumnya sempat berpikir untuk melakukannya di rumah. Ia pun kini mudah bangun untuk makan sahur. 

Teh

Apa yang membuat kita lega? Minuman yang diteguk ketika haus. Teh Pucuk ini dijual di minimarket 7 Eleven Pudu seharga RM 2.90. Betapa mahal...