Tuesday, February 03, 2026

Nisfu Sya'ban

Pak As'adi mengumumkan bahwa perayaan Nisfu Sya'ban akan digelar pada malam Selasa, 2 Februari 2026. Kami pun hadir salat magrib dan membaca Yasin sebanyak tiga kali. Sebelumnya Pak Fauzan memohon doa yang diaminkan oleh para warga, yang tediri dari orang dewasa dan anak-anak. 

Setelah selesai, Pak As'adi memimpin doa penutup dan mengumumkan bahwa kami memiliki waktu untuk menikmati kudapan dan minuman yang disediakan oleh warga sebelum azan isya. 

Betapa menyenangkan kami mengunyah makanan tradisional, seperti kratok (Kata Pak Umar) atau lanun (Kata Pak Sururi), makanan yang terbuat tepung kanji. Tentu ini adalah momen warga untuk bertukar cerita. Setidaknya dengan mendaras kitab suci dan melakukan silaturahmi, mereka merawat hati dan hubungan baik dengan tetangga. 

 

Monday, February 02, 2026

Semenanjung

Anak ini lahir di Pulau Pinang. Ari-arinya ditanam di halaman asrama Tasik Harapan, nama yang indah. Apa ada kaitannya dengan Tasikmalaya, tempat kelahiran Rhoma Irama? Tak jauh dari tempat ini, ada danau tempat kami sering menghabiskan sore dengan memberi makan remah roti ikan-ikan. Ia tumbuh dengan nalar yang ditempa oleh sekolahnya, sejak pra-sekolah, SD, SMP, hingga SMA.
Bacaannya menuntutnya untuk bertanya banyak hal, tentang identitas, bias, dan politik. Dulu kami berdua menjaganya dengan utuh dan menyeluruh. Seperti tulisan di kaus yang viral: saya akan melakukan apa yang saya ingin, di mana empat kata terakhir dicoret dan diganti dengan apa yang anak perempuan mau. Kemarin, saya sudah menunggu giliran untuk memotong rambut setelah tiga orang berlalu, tiba-tiba ada pesan bahwa Biyya ingin dijemput segera dan saya pun beranjak dari kedai Wijaya. Hehe
Dulu, pada 1921 Tan Malaka pernah bertemu dengan banyak pegiat Semenanjung untuk merumuskan bagaimana mengisi hidupnya sendiri, merdeka dari penjajah. Sayangnya, kedua negara, Indonesia dan Malaysia, berjalan dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, ikatan emosi itu tetap terjaga hari ini, setidaknya sebagaimana anak ini tumbuh dengan kebaikan kakek-nenek angkatnya di Pulau Pinang, kami memiliki banyak keluarga di sini.
Betapa 15 tahun tinggal di tanah Melayu ini meninggalkan bekas yang kuat. Ayah angkat kami yang Cina mualaf justru mengenalkan kami pada tradisi Abah Anom. Surat Yasin yang ditinggalkan oleh guru spiritual ini masih dibaca oleh istri. Ya, fikih itu memang perlu dipelihara, dan tasawuf yang akan menyatukan kita secara utuh.
Hidup di sini juga berkelindan dengan pandangan dunia Melayu. Seorang pedagang di kantin meminta saya untuk memberikan doa agar dagangannya terjaga dari hal buruk. Saya hanya berdoa untuk keselamatan. Lalu, ia bertanya, apa perlu pengeras? Tidak. Saya melakukannya sebagai insan biasa, tak perlu syarat, apalagi ayam hitam.
Sekali waktu, Bob pekerja kantin mengajak saya untuk pergi ke karaoke. Lalu di sana ia membawakan lagu-lagu Amy Search, yang malah menyeret saya ke pertigaan kampung, kala lagu Isabella mengalun pas saya berangkat sekolah ke MTs Annuqayah. Tak pasti, adakah radio itu milik Suparto? Ia adalah jiran kami yang menempel poster KISS di tembok rumahnya.
Sejalan dengan perjalanan semua ini, pengalaman yang mengubah saya melihat banyak hal adalah kunjungan ke rumah Tuan Guru Nik Aziz Nik Mat. Dengan melihat kediaman dan masjidnya di pulau Melaka, saya menemukan kedamaian dalam kesederhanaan. Aura dan suaranya lahir dari kedalaman batin dan ketulusan hati.

 

Sunday, February 01, 2026

Ngopi

Sepulang dari merayakan ulang tahun Fani temannya yang ketujuhbelas, Biyya minta berhenti di sini untuk membeli Macchiato. Saya pun senang alang kepalang karena bisa menemaninya sambil membaca Reason: Why Liberals Will Win the Battle for America oleh Robert B. Reich yagn diterbitkan pada 2004. 

Buku di atas ditulis untuk pembelaan terhadap liberalisme dan kritik yang apa yand diistilah oleh Reich dengan "Radcons" (Radical Conservatives). Sebagai mantan sekretaris buruh AS, ia yakin bahwa sebagian besar warga Amerika meyakini nilai-nilai liberal, seperti hak untuk memilih jenis kelamin, agama, dan aborsi. Biyya sendiri membawa buku Tafsir Feminis Asghar Ali Engineer. 

Sayangnya, ia memilih membawa pulang segelas kopi. Kami pun beranjak pergi untuk segera sampai di rumah. Hidup kadang berjalan bukan atas dasar keinginan, tetapi kenyataan. Toh, menyesap qahwah dan meneruskan bacaan bisa dilakukan di kediaman. 

Friday, January 30, 2026

Hari Ke-30 (Kehangatan)

Judul di atas bisa dipahami secara harfiah dan kiasan. Keduanya sama-sama mendatangkan kenyamanan. Kala dingin, air yang dipanas dan dicampur dengan air dari bawah tanah menjadikan mandi menyenangkan. Ketika bertemu seseorang yang membawakan dirinya riang dan perhatian, kita mendapatkan kehangatan, baik dari sentuhan fisik, perhatian, atau ucapan.

Salah seorang teman yang hangat itu adalah Sulthon Firdaus. Ia adalah dosen bahasa Arab yang meraih gelar doktornya di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Setiap kali bertemu, wajahnya bersinar terang dan berkata-kata dengan penuh keriangan. Teman lain adalah Hilmy Muhammad, yang kini menjadi angfota Dewan Perwakilan Daerah dari Yogyakarta. Sapaan dreh (bindharah, santri dalam bahasa Madura) diucapkan dengan ketulusan. Kawan dari jiran yang menghadirkan perasaan itu adalah Zainal Abidin Sanusi dan Mohamed Imram Mohamed Taib.

Sebagaimana resolusi 2026, saya ingin merawat keseharian dengan lebih sungguh-sungguh. Meskipun membaca Martin Buber, I and Thou (1937) saya melihatnya dari kegiatan yang biasa dijalani sehari-hari, seperti menyediakan air panas untuk Zumi agar dapat mandi pagi dengan penuh semangat dan merasakan kedekatan dengan tetangga di banyak kegiatan, seperti Sarwaan, Yasinan, dan gotong royong. Tidak hanya itu, Di dalam keluarga ia bisa ditunjukkan kala saya mencuci piring di dapur untuk mengajari Biyya tentang kesetaraan yang menjadi salah satu pencetus kehangatan.

Dulu, saya juga merasakan kehadiran dosen Yahudi di UIN Sunan Kalijaga, Natalie Polzer. Pengajar asal Canada ini mengajar Kajian Yahudi dan Kristen dengan penuh semangat dan khidmat. Sebagai penganut agama yang salehah, ia menjelaskan tata cara ritual agama serumpun ini. Namun, perbedaan itu tidak menghalangi untuk membaca teks agama secara kritis dan relasi antarindividu berpijak pada humanisme, kami sama-sama manusia.

Dari pengalaman, di sini ada relasi I-It dan I Thou seperti diandaikan oleh Buber. Hubungan manusia yang bertumpu pada I-It di mana liyan dipandang sebagai itu (It, benda), akan berhenti pada sekadar pemanfaatan dan pengalaman sebagaimana di era modern yang serba teknokratis dan mekanis, bukan lebih jauh pada I-Thou. Idealnya, satu sama lain saling menyangga untuk menemukan autentisitas, bukan kepalsuan yang acapkali menyandera manusia pada sifat pamer, angkuh, dan nirempati.

Jadi, kebebasan tidak dipahami sebagai pemenuhan kehendak seseorang. Sebagaimana ditegaskan oleh Buber bahwa The free man is he who wills without arbitrary self-will. He believes in reality, that is, he believes in the real solidarity of the real twofold entity I and Thou (hlm. 59). Kebebasan bukanlah untuk melakukan apa pun yang kita inginkan secara egois dan semena-mena. Justru ia adalah kehendak yang terarah pada hubungan, bukan pada pemuasan diri sendiri secara sempit. Pendek kata, orang merdeka mengarahkan kehendaknya dalam kerangka tanggung jawab dan pengakuan terhadap keberadaan orang lain/dunia di luar dirinya.

Wujud dari gagasan di atas adalah keterlibatan kita dengan banyak aktivitas organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Namun, hubungan ketetanggaan melalui kegiataan sukarela seperti gotong royong juga layak mendapatkan perhatian. Sesudah menggelar Yasinan dan Tahlilan di acara Sarwaan, Pak RT 23 mengusulkan pengembangan kelompok masyarakat yang akan mengelola sampah organik dan nonorganik. Bermula dari kumpulan kecil, yakni 9 rumah tangga, ide untuk mengurangi sampah buangan ini bisa realisasikan secara lebih luas dan berdampak

Di sini, kehangatan lahir dari kesetaraan dan kesalingmengertian untuk memupuk kebajikan. Tentu, satu sama lain memiliki cara sendiri dalam membawakan diri. Akhirnya, pertemuan rutin akan menyuburkan hubungan Aku-Kamu yang lebih bermakna seraya menyeimbangkan kebutuhan rohani dan jasmani. Setidaknya, dengan ritual bersama ini, setiap individu berhenti sejenak dari telepon genggam dan satu sama lain saling bercakap dengan hangat setelah bermunajat melalui doa dan bacaan. Itulah mengapa saya tidak membawa Samsung ke tempat pengajian ini.

 

 

 

Thursday, January 29, 2026

Hari ke-29 (Karya dan Makna?)

Setiap buku punya cerita. Ia lahir dari pengamatan dan pengalaman sehari-hari, yang menyesuaikan dengan momen dan peristiwa. Buku hitam bertuliskan judul keemasan itu adalah disertasi yang diselesaikan di Universitas Sains Malaysia. Dalam pengantarnya, banyak kisah yang turut mewarnai perjalanannya, seperti pencarian bahan di UIN Jakarta, NUS Singapura, dan UIAM Kuala Lumpur. 

Agama Sipil adalah lahir dari kuliah dosen yang pernah menjadi murid Robert N Bellah kala belajar di Amerika. Bernard Adeney Risakotta menyebut Bellah sebagai dosen nyentrik. Penulis Beyond Religion ini pernah menaikkan kakinya yang bersepatu ke atas meja. Berkat komunikasi dengan pihak Pustaka Cantrik, karya ini naik cetak. Kami pernah membedahnya bersama BEM Fakultas Sosial Humaniora UNUJA dengan menghadirkan teman baik, Luthfi Assyaukani dan Zainal Abidin Sanusi. 

Sementara Nietzsche dan Islam didorong untuk menjadi proyek terjemahan di kelas Membaca Teks Inggris yang digelar di kampus. Di bulan puasa, saya mengetik huruf demi huruf dari Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Saya membayangkan peserta juga akan melakukan hal serupa agar nanti menghasilkan karya terjemahan dan memiliki modal untuk memasuki belantara pengetahuan. 

Terakhir, Kehendak Berkuasa dan Kritik Filsafat adalah kumpulan opini di koran Jawa Pos. Saya berterima kasih pada Kiai A'la yang berkenan memberikan endorsement untuk buku kompilasi ini. Beliau adalah sosok yang bersedia turun ke bawah untuk bersama masyarakat, yang menjadi ilham santri untuk hidup bersahaja dengan orang kebanyakan. Tentu, orang yang sangat berjasa adalah orang yang memotret buku ini sebagai koleksinya, Imam Nawawi, kawan baik asal Situbondo yang anaknya mondok di Nurul Jadid, Paiton. 

Hari ke-28 (Menelisik Bahasa)

Mengapa orang Malaysia menyebut mubaligh Kristian dan kita, warga Indonesia mengartikan istilah yang berasal dari bahasa Arab itu dengan misionaris? Secara psikologis, bahasa rumpun Semitik ini identik dengan agama. Tak dapat dielakkan, seorang ayah akan menyebut dirinya Abu Khadijah apabila nama yang tertera di KTP bertanda nama lokal, seperti Jawa, dll. 

Isu di atas perlu diteliti lebih jauh dari banyak aspek agar bahasa bisa dilihat sebagai daya ucap dan ungkap yang memungkinkan komunikasi satu lain berlangsung baik. Lagi pula, kita tumbuh dengan banyak bahasa yang secara emosional, menurut Nelson Mandela, bahasa ibu memiliki ikatan kuat dengan pengguna.

Betul, saya merasakan getaran yang dahsyat kala mendenar syiir, sebutan syair dalam bahasa Madura, yang dibawakan oleh Kiai Aminullah. Apakah ini terkait temanya juga, kematian? Tidak, tema sang penyair beranekaragam.  


 

Tuesday, January 27, 2026

Hari ke-27 (Menyambut Puasa)

Kita tak lagi bicara hal yang rutin, apakah puasa diawali pada hari yang sama oleh dua ormas keagamaan atau tidak, tetapi bulan Ramadan selalu menyuguhkan kenaikan harga barang karena harga permintaan melonjak? Bukankah inti puasa adalah menahan diri, mengapa orang cenderung menambah porsi? Mengapa ia bukan bulan peduli?
Tulisan lama ini masih relevan atau atau ada gagasan baru? Puasa menjadi jati diri dan penyeragaman sebagai wujud dari pembakuan (standardization). Dunia sosial menjadi "terbakukan" sehingga kehilangan dinamika, kejutan, dan potensi untuk yang benar-benar baru. Kenyataannya, puasa hanya jeda dari kehidupan biasa, makan di siang hari diganti ke malam, sedangkal ini. Tetapi, kita menyoal tidak lalu menolak untuk menahan makan dan minum di siang hari, bukan?

 Akhir-akhir ini, pujian di masjid berkumandang agar kami mendapatkan keberkahan bulan Rajab dan Sya'ban dan menyampaikan kami ke bulan Ramadan. Bila jauh-jauh hari hendak memasuki puasa, kita telah membiasakan diri untuk meraup esensi pesannya, menahan diri. 

Nisfu Sya'ban

Pak As'adi mengumumkan bahwa perayaan Nisfu Sya'ban akan digelar pada malam Selasa, 2 Februari 2026. Kami pun hadir salat magrib dan...