Judul
di atas bisa dipahami secara harfiah dan kiasan. Keduanya sama-sama
mendatangkan kenyamanan. Kala dingin, air yang dipanas dan dicampur dengan air
dari bawah tanah menjadikan mandi menyenangkan. Ketika bertemu seseorang yang
membawakan dirinya riang dan perhatian, kita mendapatkan kehangatan, baik dari
sentuhan fisik, perhatian, atau ucapan.
Salah
seorang teman yang hangat itu adalah Sulthon Firdaus. Ia adalah dosen bahasa
Arab yang meraih gelar doktornya di Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim. Setiap kali bertemu, wajahnya bersinar terang dan berkata-kata dengan
penuh keriangan. Teman lain adalah Hilmy Muhammad, yang kini menjadi angfota Dewan
Perwakilan Daerah dari Yogyakarta. Sapaan dreh (bindharah, santri
dalam bahasa Madura) diucapkan dengan ketulusan. Kawan dari jiran yang
menghadirkan perasaan itu adalah Zainal Abidin Sanusi dan Mohamed Imram Mohamed
Taib.
Sebagaimana resolusi 2026, saya ingin merawat
keseharian dengan lebih sungguh-sungguh. Meskipun membaca Martin Buber, I
and Thou (1937) saya melihatnya dari kegiatan yang biasa dijalani
sehari-hari, seperti menyediakan air panas untuk Zumi agar dapat mandi pagi dengan
penuh semangat dan merasakan kedekatan dengan tetangga di banyak kegiatan,
seperti Sarwaan, Yasinan, dan gotong royong. Tidak hanya itu, Di dalam keluarga
ia bisa ditunjukkan kala saya mencuci piring di dapur untuk mengajari Biyya
tentang kesetaraan yang menjadi salah satu pencetus kehangatan.
Dulu, saya juga merasakan kehadiran dosen Yahudi di
UIN Sunan Kalijaga, Natalie Polzer. Pengajar asal Canada ini mengajar Kajian
Yahudi dan Kristen dengan penuh semangat dan khidmat. Sebagai penganut agama
yang salehah, ia menjelaskan tata cara ritual agama serumpun ini. Namun,
perbedaan itu tidak menghalangi untuk membaca teks agama secara kritis dan
relasi antarindividu berpijak pada humanisme, kami sama-sama manusia.
Dari
pengalaman, di sini ada relasi I-It dan I Thou seperti diandaikan oleh Buber.
Hubungan manusia yang bertumpu pada I-It di mana liyan dipandang sebagai itu
(It, benda), akan berhenti pada sekadar pemanfaatan dan pengalaman sebagaimana
di era modern yang serba teknokratis dan mekanis, bukan lebih jauh pada I-Thou.
Idealnya, satu sama lain saling menyangga untuk menemukan autentisitas, bukan
kepalsuan yang acapkali menyandera manusia pada sifat pamer, angkuh, dan
nirempati.
Jadi,
kebebasan tidak dipahami sebagai pemenuhan kehendak seseorang. Sebagaimana
ditegaskan oleh Buber bahwa The free man is he who wills without arbitrary
self-will. He believes in reality, that is, he believes in the real solidarity
of the real twofold entity I and Thou (hlm. 59). Kebebasan bukanlah untuk
melakukan apa pun yang kita inginkan secara egois dan semena-mena. Justru ia adalah
kehendak yang terarah pada hubungan, bukan pada pemuasan diri sendiri
secara sempit. Pendek kata, orang merdeka mengarahkan kehendaknya dalam
kerangka tanggung jawab dan pengakuan terhadap keberadaan orang lain/dunia di
luar dirinya.
Wujud
dari gagasan di atas adalah keterlibatan kita dengan banyak aktivitas
organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Namun, hubungan ketetanggaan melalui
kegiataan sukarela seperti gotong royong juga layak mendapatkan perhatian.
Sesudah menggelar Yasinan dan Tahlilan di acara Sarwaan, Pak RT 23 mengusulkan
pengembangan kelompok masyarakat yang akan mengelola sampah organik dan nonorganik.
Bermula dari kumpulan kecil, yakni 9 rumah tangga, ide untuk mengurangi sampah
buangan ini bisa realisasikan secara lebih luas dan berdampak
Di
sini, kehangatan lahir dari kesetaraan dan kesalingmengertian untuk memupuk
kebajikan. Tentu, satu sama lain memiliki cara sendiri dalam membawakan diri. Akhirnya,
pertemuan rutin akan menyuburkan hubungan Aku-Kamu yang lebih bermakna seraya
menyeimbangkan kebutuhan rohani dan jasmani. Setidaknya, dengan ritual bersama
ini, setiap individu berhenti sejenak dari telepon genggam dan satu sama lain
saling bercakap dengan hangat setelah bermunajat melalui doa dan bacaan. Itulah
mengapa saya tidak membawa Samsung ke tempat pengajian ini.