Saturday, September 26, 2026

Yasinan

Seusai doa yang dipanjatkan oleh Pak Fauzan, saya dan Pak Budi berfoto bersama. Jiran kami ini mengikuti kegiatan rutin malam Jumat secara istikamah. Pak Qomar tadi membacakan surah Yasin yang diikuti oleh jemaah. 

Kami pun beranjak dan duduk di teras untuk menikmati kue yang dibawa oleh Pak Mus dan Pak Budi. Tadi sebelum magrib, Fairuz, anak Pak Tir, juga membawa kue untuk jemaah perempuan. 

Betapa senang melihat anak-anak juga membaca kitab suci di masjid Ali bin Abi Thalib. Di sini, mereka tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga tarbiyah (pendidikan), di mana saya pernah melihat Ahnaf dan Ilman membuang sampah pada tempat yang telah disediakan khusus untuk bekas minuman dan tong. 
 

Monday, September 21, 2026

Bahasa Jawa


Ia mengerjakan soal Bahasa Jawa di kelas daring. Jiwa itu berada dalam wicara dan wacana. Tentu, hal serupa juga dilakukan oleh teman sekelasnya setelah kelas daring di hari Jumat. Sebelumnya teman-teman sekelasnya bersama guru melakukan kegiatan di luar kelas, di Malang, untuk membuka cakrawala murid. 

Temanya tentang Tugu Pahlawan dan Museum 10 November yang diresmikan oleh KH Abdurrahman Wahid. Sebenarnya ia memahami sebagian dari kosa kata Jawa, tetapi tidak mudah mengerti pertanyaan karena penguasaan lema terbatas. 

Apa pun, ia telah memasukan alam pikiran ibunya yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa waktu kecil. Di sini, Zumi bisa belajar lebih mudah karena ia mewarisi pengalaman orang tuanya. Semoga. 

Senja Coffee

Setelah  punch-out di mesin peresensi elektronik, saya bertolak ke sekolah anak. Dalam perjalanan saya mampir ke kedai telepon Mandiri untuk meminta teknisi memperbaiki gawai saya yang macet (hang).

Seusai mengecek telepon genggam, saya mampir ke Senja Coffee, warung di depan sekolah. pada pukul 3.10, untuk pertama kalinya mengingat bubaran sekolah sekitar pukul 4. Dengan memesan es cappucino, saya menyesap minuman ini dengan perlahan sambil membuka buku Engineers of Jihad: The Curious Connection Between Violent Extremism and Education oleh Diego Gambetta and Steffen Hertog.

Tak lama kemudian, ada seorang pengunjung yang memesan kopi tanpa gula dan telur mentah. Ia membuka percakapan pertama dengan menyapa dan bertanya asal. Dari sini, kami pun berbagi cerita tentang Kota Anyar, rumah lelaki itu, dan harga tembakau yang mencecah Rp60ribu-Rp65ribu. Ia pun bercerita sering mengikuti istighatsah setiap Selasa dan Malam Jum’at di perumahan Detar. Menariknya, ia tak merokok.

Lalu, ada tiga orang pengunjung yang memesan minuman, es teh dan kopi panas, yang masing-masing membuka bungkus rokok, Hummer dan Wismilak 234 hitam. Katanya, rokok pertama ini diproduksi oleh PT Bawang Mas, milik H Her. Untung, dari kejauhan saya melihat Biyya yang sedang melangkahkan kaki dari gerbang sehingga segera beranjak dari kursi karena tak tahan dengan bau asap rokok.

Selain buku di atas, saya juga meminjam buku Zaprulkhan berjudul Tasawuf Moderat: Pembaharuan Tasawuf Hamka dan Said Nursi. Keduanya akan dijadikan bacaan tambahan, selain utama dan pendukung untuk mata kuliah Akhlak Tasawuf semester 3 Pendidikan Agama Islam. Tentu, rujukan materi ini didasarkan pada tradisi intelektual Muslim, seperti Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh. Selain ini, karangan Ahmad Amin juga menjadi bahan pustaka, yang  mengingatkan saya pada mata kuliah ini ketika belajar di Akidah Filsafat IAIN dulu di bawah asuhan Pak Kusmin Busyairi.

Mengapa Akhlak Tasawuf perlu diajarkan dengan menimbang isu-isu kontemporer, seperti kekerasan atas nama agama? Dalam buku Gambetta, kita menemukan kutipan menarik, yakni "the discipline of the degree attained in particular has the potential to contain information about personal characteristics" (hlm. ix). Karakter seseorang dipengaruhi oleh program studi yang diambil oleh mahasiswa. 

Namun, dalam konteks setempat, pertanyaan sederhana bisa diajukan apakah merokok di ruang publik itu berakhlak atau tidak? Jadi, persolannya tidak lagi berkutat soal label haram yang sedang heboh karena diusulkan oleh Muhammadiyah untuk peringatan di bungkus rokok.  

 

Monday, September 14, 2026

Menengok Dunia Luar


Biyya dan teman-temannya, Vanda, Rangga, dan Darel mengunjungi pameran pendidikan di  Surabaya. Mereka hendak melihat dari dekat tawaran lembaga universitas dunia. Tentu, ini peluang baik untuk melihat dari dekat bagaimana minat siswa dan siswi di Indonesia ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri. 

Tentu, sebagian orang tua yang turut mendampingi anak mereka telah menyiapkan biaya yang cukup tinggi dibandingkan di dalam negeri. Meskipun demikian, ada perguruan tinggi asing yang membuka cabang di Jakarta, seperti Universitas Monash. Rp 200 juta untuk semester tentu bukan SPP yang murah untuk rata-rata keluarga di negeri ini. 

Kehadiran PT dari Australia itu tentu memacu lembaga serupa dalam negeri untuk memajukan diri. Namun, pendidikan dalam pedagogi kritis tidak lagi didikte oleh kehendak kapitalisme, tetapi bagaimana pengajar dan pelajar merumuskan masalah bersama untuk diatasi. Tentu, kemajuan lembaga serupa di dunia bisa dijadikan cermin. 

Sunday, September 13, 2026

Perpustakaan

Khoiruman adalah lulusan Pendidikan Matematika Universitas Nurul Jadid. Ia bisa menghitung persentase tanpa harus memakai kalkulator ketika kami sedang melakukan monitoring dan evaluasi kinerja. 

Di sela-sela kegiatan rutin ini, kita bicara keadaan perpustakaan yang semakin baik dan enak untuk tempat membaca. Mahasiswa tidak hanya bisa meminjam buku, tetapi juga bisa membaca koran harian Jawa Pos dan majalah mingguan Tempo. 

Di sini, saya meminjam dua buku yang berada di rak persahabatan, hibah dari Tuan Haji Bohari Jaon asal Singapura. 
 

Yasinan

Aak mengikuti Yasinan di masjid kampung. Mahasiswa DKV ini rajin mengaji rutin di malam Jum'at di sela liburan. 

Malam itu, Pak Haji Fauzan memimpin doa seraya memohon agar warga diberikan kesehatan dan kesejahteraan. 

Apa yang dirasakan oleh jemaah? Selain kebersamaan, inilah jeda dari keseharian yang memberi ruang untuk memeriksa kembali tujuan hidup. 
 

Saturday, September 05, 2026

Mengaji Syarh al-Hikam

ربما اطلعك على غيب ملكوته وحجب عنك الاشتغراف على اسرار العباد

Pagi ini, pukul 6, kami mengikuti pengajian kitab anggitan Imam Athoillah Al-Sakandari di musala Riyadhushshalihin. Kiai Zuhri memulai dengan teks di atas dan menjelaskan bahwa Allah memberikan anugerah pada manusia dengan membuka mata pada "alam", tetapi menutup penglihatan dari aib orang lain. 

Tadi, uraiannya dikaitkan dengan kesaktian yang menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat. Berdasarkan pernyataan ini, jelas manusia terhalang untuk menembus hati manusia, sehingga penyingkapan itu bisa salah atau ilusi. 

Setelah menyimak penjelasan kitab, saya pun ngobrol dengan Nugi asal Bondowoso dan Noval asal Probolinggo. Keduanya adalah pengurus LPBA pondok yang sedang menyelesaikan studi S1 dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab. Obrolan seputar pilihan pekerjaan seusai rampung kuliah, yakni pekerja, pengusaha, dan sarjana (ustaz, guru, peneliti, dll). 

Yasinan

Seusai doa yang dipanjatkan oleh Pak Fauzan, saya dan Pak Budi berfoto bersama. Jiran kami ini mengikuti kegiatan rutin malam Jumat secara i...