Thursday, November 05, 2026

Bakso Pandawa

Setelah merekam data di Mal Pelayanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kota Probolinggo, kami menikmati bakso Pandawa. Keren pelayanan publiknya. Cepat, tepat, ramah, dan akurat. Tabik, Pak Walkot. 

Lalu, setelah ini Biyya mau menonton film Laut Bercerita di CGV Wijaya Kusuma, Bu Leila S. Chudori. Kami telah mengecek jadwal pemutaran melalui laman sesawang. 

Sambil menunggu jam tayang, kami menghabiskan minuman dan pentol bakso urat dan keju. Saya tanya apa enaknya Biyya rasa yang terahir? Dia hanya tertawa. Inilah momen ayah dan putrinya menghabiskan waktu di akhir pekan. 


 

Lagu dan Cerita

Sepulang dari kota, saya dan Biyya mampir ke Warteg Wiwik. Gila, lagu 1001 Macam Rhoma Irama terdengar mantap dari pelantang warung. Sesampai di rumah, kala membuka telepon, Akhirnya Ku Menemukanmu dari Naff diputar oleh Classy NetRadio Indonesia dan baru menyalakan laptop, radio ini memainkan Estranged Guns N' Roses.

Sama seperti Anda, saya diadun dari dari banyak selera. Masing-masing memiliki cerita dan latar. Sebagaimana tadi, Biyya memilih vanilla latte, saya menyebut Hazelnut untuk kopi yang dipesan. Selain itu, si sulung membeli roti untuk diri, ibu, dan adiknya. What is yours? The cheapest one. Dia pun tertawa.

Apa pun, jelang akhir pekan itu suasana menyenangkan. Kamis adalah milik kami dan orang lain Jumat. Mengapa kita beda? 

 

Mengurus Hati

Mengapa saya mengikuti pengajian kitab kuning di musala pondok di pagi hari? Mengasah bahasa adalah menajamkan pikiran melihat hidup. Apa yang ada di benak kita dari kutipan dari kitab Mau'izhah al-Mu'minin ini: فعافية القلب اعلى من عافية البدن ?

Di bawah ini, saya melukiskan pengalaman mengikuti pengajian kitab selanjutnya, Syarh al-Hikam.

Mengurus Hati

Dalam pengajian Syarh al-Hikam, kami mengikuti bacaan Kiai untuk memahami pengertian kata, kalimat, dan meraih makna. Di halaman 30, kitab anggitan Muhammad bin Ibrahim ini mengulas soal hati. Inilah pusat yang menjadi penerang hidup manusia. Jika rusak, maka seluruh tubuh dan amal perbuatannya pun turut gelap. Uraian di bawah ini adalah pemahaman saya terhadap gagasan yang diterakan dalam kitab.

Kerusakan akibat kegelapan di sini disebabkan oleh banyak sifat-sifat tercela, yang setidaknya ada banyak prilaku yang menjadikan hati manusia keras, seperti sombong (ٱلْكِبْرُ), bangga diri (ٱلْعُجْبُ), dan pamer (ٱلرِّيَاءُ). Sifat terakhir ini ke belakangan sering muncul di media sosial dan televisi melalui pelbagai acara. Flexing, kata populer asal Inggris, sering didengar terkait kegemaran pesohor memamerkan hobi, rumah, dan mobil. Istilah yang lebih khusus untuk sifat ini dalam kitab tersebut adalah ٱلْمُبَاهَاةُ, pameran kemegahan.

Tentu, di era teknologi informasi, warga terpapar pada banyak godaan, baik material maupun hiburan melalui pelbaga sumber, seperti gawai dan televisi. Kini, ketenangan manusia tampak terlihat dari kegemarannya berselancar di lini masa untuk bertukar kabar dan menonton konten di TikTok, Youtube, dan Snack Video. Mereka memelototi layar selama berjam-jam tanpa tahu apa yang seharusnya dinikmati. Kegemaran ini bisa menyebabkan sifat buruk lain, yakni ٱلْغَفْلَةُ عَنِ ٱللَّهِ, lalai dari Allah. Betapa banyak orang memilih tetap memelototi telepon pintar kala azan berkumandang. Padahal ini adalah panggilan Tuhan.

Selanjutnya, pemenuhan kewajiban itu tidak menjadi satu-satunya tindakan yang dilakukan sebagai cara merawat hati, justru keimanan itu ditunjukkan dengan peduli pada orang lain. Meremehkan orang fakir (ٱسْتِحْقَارُ ٱلْفُقَرَاءِ) termasuk budi pekerti yang buruk. Tak pelak, nabi berdoa agar hidup dalam keadaan miskin, wafat dalam keadaan miskin dan berkumpul di hari kiamat bersama orang miskin.

Sementara, terkait dengan keadaan diri, sifat yang perlu dielakkan adalah cepat marah atau temperamental (ٱلْحِدَّةُ). Ini bertentangan dengan konsep emotional quotient (EQ), yang menekankan kecerdasann emosional. Untuk itu, di tengah tantangan kehidupan yang semakin kompleks, manajemen marah (anger management) mendesak untuk diajarkan pada generasi milenial, malah alpha. Anak-anak kini mudah meluapkah amarah hanya karena koneksi gawainya lambat atau tidak bisa mengakses internet.

Keadaan ini juga terkait dengan sifat lain, tergesa-gesa (ٱلْعُجْلَةُ), yang menyebakan generasi baru enggan melalui jalan panjang untuk meraih tujuan. Pelayanan serba instan, baik jasa maupun produk, turut menyumbang pada keinginan manusia untuk segera memenuhi hasrat dalam waktu yang relatif cepat, yang justru menjadikan hati ini keras (ٱلْقَسْوَةُ). Tentu, keadaan tersebut juga menimpa generasi tua yang juga tergelincir pada pemenuhan tujuan serba kilat.

Dari sekian sifat buruk itu, individu menghalangi dirinya untuk sampai ke maqam ‘ubudiyyah hingga ia membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela di atas. Alangkah absurd, kala ia melakukan ibadah salat, puasa, dan naik haji, tetapi masih menyimpan keburukan dalam batinnya. Betapa sia-sia!
 

Wednesday, November 04, 2026

Lailiyyah Syahriyyah

Paling kiri adalah Pak Ainol Yaqin. Bersama Pak Moh Jasri Ahyak beliau menghidupi kajian kitab kuning bulanan, Lailiyyah Syahriyyah di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Sebagai dosen ekonomi UNUJA, lelaki asal Gapura ini memiliki kemampuan turats yang cemerlang dan telah S3nya di UNAIR.

Dalam pengajian kitab ini, pak kiai mengajarkan kajian yang mendudukkan peserta setara dalam membahas etimologi, epistemologi, maksud (intention), logika, dan konteks dari karya ulama terdahulu. Satu sama lain bisa berbeda pandangan dalam membaca teks yang berimplikasi semantik pada makna.

Bila tidak disiarkan langsung, ini adalah ikhtiar agar adab al-bahts wa al-munazharah berlangsung terbuka, tanpa khawatir nenimbulkan kegaduhan. Kami hendak mengungkap kebenaran. الفاجر يؤيد الاسلام? Ini salah satu yang menimbulkan perbedaan kala itu. Saya pernah menulis opini Jawa Pos "Menimbang Politik Pesantren" berdasarkan amatan terhadap pengajian di atas.

Kiai Zuhri senantiasa mengedepankan etika berbahas. Beliau tak pernah menaikkan suara dalam berpendapat, karena dengan menyodorkan logika, gagasan jauh lebih bisa dicerna. Khalas.
 

Tuesday, November 03, 2026

Hujan

Setelah mengantongi Istana Merahnya June Hur dan Samannya Ayu Utami pesanan Biyya dari Gramedia, Jalan Kartini Jember, saya mampir ke warung kopi untuk duduk sejenak.

Kopi kuat lokal dan gula aren membikin mata menyala. Tak lama setelah membelek buku, saya membaca koran KOMPAS. Sekali-kali saya mengajak bercakap pelanggan sebelah, mahasiswa Hadis Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Asy-Syafi'i. Sungguh batas runtuh.

Wah, setelah sejam bersiduduk, hujan turun dengan sangat deras. Ini berkah. Saya merindukan hujan. Seharian ini saya melihat begitu banyak berkat dan kebaikan. Apa pun, ayah harus segera pulang
 

Monday, November 02, 2026

Menemukan Diri

Saya membaca buku Plato’s Republic in the Islamic Context: New Perspectives on Averroes’s Commentary, yang disunting oleh Alexander Orwin sambil menikmati The New Radio 88.5 FM. Meskipun ada jejalan pelbagai ruang, waktu, dan ide, saya mencoba keluar dari zona nyaman yang selama ini selalu terbiasa dengan selera musik tertentu. Kala mendengar jenis rock, blues, soul alternatif, alternative rock, dan american, saya juga merasakan keasingan dari Plato, Ibn Rusyd, dan banyak penulis dalam buku kompilasi di atas.
Saya tumbuh dari lingkungan sederhana dalam menjalani hidup. Pikiran sebatas apa yang wajib, sunnah, dan mubah, lalu mulai berkembang kala duduk di bangku MTs, saya mendengar ustaz Khozaini Azim, Ustaz Hafid Syukri, Ustaz almarhum Mistarum, Ustaz Waris Anwar mengajar kami tentang sesuatu di luar keseharian, semisal politik, ekonomi, biologi, dan bahasa.
Di Madrasalah Aliyah, saya menyerap sosiologi dari Pak Panji Taufiq dan kritisisme melalui pengajaran bahasa Indonesia dari Pak Muqiet Arif. Ada banyak guru-guru lain yang juga membentuk pikiran dan perasaan kami. Para kiai tidak hanya mengajar hadis dan ilmu agama lain, tetapi juga teladan tentang istikamah, sahaja, dan rendah hati.
Kejutan datang kala harus mendengar teman saya di Akidah Filsafah IAIN bertanya pada Pak Afandi, guru Ilmu Kalam kami, tentang malaikat Jibril. Apa tugasnya sudah selesai dan kini ia menikmati pensiun? Guncangan datang bertalu-talu semakin kuat dengan intensitas yang tanpa batas untuk menyoal tabu dan had.
Kini, saya menua. Membaca tidak lagi untuk menggugat kepercayaan, tetapi menemukan makna dari keyakinan. Sejauh ini, saya mengikuti apa kata Pak Basyir Soulissa, bahwa belajar filsafat bukan menyangkal salat, tetapi signifikansi sembahyang dalam keseharian. Kadang saya iseng menegaskan bahwa takrif doa Kierkegaard turut mewarnai arti ibadah agar ia tidak dipahami sebagai alat tukar.
Tentu, Prof Zailan Moris mengajar kami untuk melihat pengetahuan dengan hati terbuka dan pikiran luas. Sebagai pembimbing tugas akhir, almarhumah menunjukkan kesaksamaan dalam mendaras karya. Ketika mengikuti bimbingan saya tak hanya mendengar apa yang diucapkan, tetapi apa yang ditunjukkan dari gambar di bilik tempat murid Seyyed Hossein Nasr berkhidmat. Ada foto negeri Parsi yang terpampang di dinding.
Ahmad, tahukah kamu tempat ibadah Zen itu adalah ruang kosong, tidak ada ornamen dll? Aha, bukankah ayah Izutsu bilang, hapuskan kata itu, karena ia tak mewakili apa-apa. Dalam satori, kita akan mendapatkan pencerahan masing-masing. Dalam keseharian kita akan menghadapi kata, benda, dan lambang berebut untuk menarik perhatian kita. Lalu, kita bisa memejamkan mata, seraya bergumam, kosong.

 

Warung dan Renungan

Setelah berjemaah subuh di Masjid Raudhatul Jannah, saya pun beranjak untuk bersarapan pecel di pintu keluar terminal Tawangalun. Sayangnya, kedai tutup sehingga saya beranjak untuk menikmati kopi dan gorengan di sini. 

Tentu, saya merenung di sela baca buku Nevid Reda & Yasmin Amin berjudul Islamic Intepretative Tradition and Gender Justice. Penjualnya adalah seorang perempuan, yang menjual kopinya dengan harga wajar Rp5000,00, sementara minuman serupa di Paiton Rp7000,00. 

Bakwan dan tahu mengganjal perut. TV One News memberitakan mutilasi yang dilakukan oleh suami terhadap istri sirinya. Tak lama kemudian, ada seorang bapak tua menanyakan saya hendak ke mana? Mungkin karena ia melihat saya pakai batik dan sepatu, sehingga menawarkan tumpangan ojek online. Sebelumnya, saya memang telah mengaktifkan fitur Gojek di gawai.  

Coba lihat apa yang dijual ibu ini! Hanya sebagian kecil yang dihasilkan oleh industri rumah tangga. Kebanyakan jualan diproduksi oleh pabrik besar. Tentu, penulisan charge dengan "cees" itu menarik sebab itu adalah bunyi. Mengapa ia tidak menulisnya cas saja yang memang baku? 

Bakso Pandawa

Setelah merekam data di Mal Pelayanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kota Probolinggo, kami menikmati bakso Pandawa.  Keren pelayanan ...