Monday, November 02, 2026

Menemukan Diri

Saya membaca buku Plato’s Republic in the Islamic Context: New Perspectives on Averroes’s Commentary, yang disunting oleh Alexander Orwin sambil menikmati The New Radio 88.5 FM. Meskipun ada jejalan pelbagai ruang, waktu, dan ide, saya mencoba keluar dari zona nyaman yang selama ini selalu terbiasa dengan selera musik tertentu. Kala mendengar jenis rock blues soul alternatif alternative rock, dan american, saya juga merasakan keasingan dari Plato, Ibn Rusyd, dan banyak penulis dalam buku kompilasi di atas.
Saya tumbuh dari lingkungan sederhana dalam menjalani hidup. Pikiran sebatas apa yang wajib, sunnah, dan mubah, lalu mulai berkembang kala duduk di bangku MTs, saya mendengar ustaz Khozaini Azim, Ustaz Hafid Syukri, Ustaz almarhum Mistarum, Ustaz Waris Anwar mengajar kami tentang sesuatu di luar keseharian, semisal politik, ekonomi, biologi, dan bahasa.
Di Madrasalah Aliyah, saya menyerap sosiologi dari Pak Panji Taufiq dan kritisisme melalui pengajaran bahasa Indonesia dari Pak Muqiet Arif. Ada banyak guru-guru lain yang juga membentuk pikiran dan perasaan kami. Para kiai tidak hanya mengajar hadis dan ilmu agama lain, tetapi juga teladan tentang istikamah, sahaja, dan rendah hati.
Kejutan datang kala harus mendengar teman saya di Akidah Filsafah IAIN bertanya pada Pak Afandi, guru Ilmu Kalam kami, tentang malaikat Jibril. Apa tugasnya sudah selesai dan kini ia menikmati pensiun? Guncangan datang bertalu-talu semakin kuat dengan intensitas yang tanpa batas untuk menyoal tabu dan had.
Kini, saya menua. Membaca tidak lagi untuk menggugat kepercayaan, tetapi menemukan makna dari keyakinan. Sejauh ini, saya mengikuti apa kata Pak Basyir Soulissa, bahwa belajar filsafat bukan menyangkal salat, tetapi signifikansi sembahyang dalam keseharian. Kadang saya iseng menegaskan bahwa takrif doa Kierkegaard turut mewarnai arti ibadah agar ia tidak dipahami sebagai alat tukar.
Tentu, Prof Zailan Moris mengajar kami untuk melihat pengetahuan dengan hati terbuka dan pikiran luas. Sebagai pembimbing tugas akhir, almarhumah menunjukkan kesaksamaan dalam mendaras karya. Ketika mengikuti bimbingan saya tak hanya mendengar apa yang diucapkan, tetapi apa yang ditunjukkan dari gambar di bilik tempat murid Seyyed Hossein Nasr berkhidmat. Ada foto negeri Parsi yang terpampang di dinding.
Ahmad, tahukah kamu tempat ibadah Zen itu adalah ruang kosong, tidak ada ornamen dll? Aha, bukankah ayah Izutsu bilang, hapuskan kata itu, karena ia tak mewakili apa-apa. Dalam satori, kita akan mendapatkan pencerahan masing-masing. Dalam keseharian kita akan menghadapi kata, benda, dan lambang berebut untuk menarik perhatian kita. Lalu, kita bisa memejamkan mata, seraya bergumam, kosong.

 

Warung dan Renungan

Setelah berjemaah subuh di Masjid Raudhatul Jannah, saya pun beranjak untuk bersarapan pecel di pintu keluar terminal Tawangalun. Sayangnya, kedai tutup sehingga saya beranjak untuk menikmati kopi dan gorengan di sini. 

Tentu, saya merenung di sela baca buku Nevid Reda & Yasmin Amin berjudul Islamic Intepretative Tradition and Gender Justice. Penjualnya adalah seorang perempuan, yang menjual kopinya dengan harga wajar Rp5000,00, sementara minuman serupa di Paiton Rp7000,00. 

Bakwan dan tahu mengganjal perut. TV One News memberitakan mutilasi yang dilakukan oleh suami terhadap istri sirinya. Tak lama kemudian, ada seorang bapak tua menanyakan saya hendak ke mana? Mungkin karena ia melihat saya pakai batik dan sepatu, sehingga menawarkan tumpangan ojek online. Sebelumnya, saya memang telah mengaktifkan fitur Gojek di gawai.  

Coba lihat apa yang dijual ibu ini! Hanya sebagian kecil yang dihasilkan oleh industri rumah tangga. Kebanyakan jualan diproduksi oleh pabrik besar. Tentu, penulisan charge dengan "cees" itu menarik sebab itu adalah bunyi. Mengapa ia tidak menulisnya cas saja yang memang baku? 

Saturday, October 31, 2026

Agama di Pagi Hari

Kondektur memberitahu bahwa bus PO Harapan Baru yang saya tumpangi telah sampai di depan terminal Tawangalun, Jember. Saya pun turun dan menginjak tanah yang masih basah. Tiba-tiba, saya disergap tenteram, karena sudah lama merindukan hujan. 

Dalam keadaan tak sepenuhnya awas, sisa kantuk, saya pergi ke masjid Al-Hikmah, untuk membasahi wajah. Lalu, saya pun duduk tepekur sejenak di teras, di mana ada beberapa orang tidur lelap. Salah satu dari mereka adalah seorang pengamen, yang sebuah gitar kecil berada di sampingnya. 

Tak lama kemudian, saya pergi ke Indomaret yang buka 24 Jam. Di sini, saya membeli kue Armon dan sekaleng kopi. Sambil menunggu subuh, saya membaca Islamic Interpretive Tradition and Gender Justice (2020). Di sini, saya mewarnai kutipan "Linguistic accuracy could not be the only factor at play when interpreting texts; as al-Shafi'i and his followers correctly claimed, other cultural and personal factors" (p. 73). 

Menjelang subuh saya mendengar selawat al-Khushary dari sebuah masjid. Segera saya beranjak untuk mencari sumber suara dan menemukan Masjid Rudhatul Jannah . Setelah mengambil wuduk, saya pun berjemaah. Setidaknya ada dua baris. Seusai salat, sang imam memimpin tadarus yang diikuti oleh tiga orang, termasuk Yanuar, anak SD kelas lima. 

Sebelum pergi ke UIN KHAS untuk memberikan kuliah tentang Bahasa, Makna, dan Tafsir: Eksplorasi Semantik dan Semiotik dalam Al-Qur'an, saya mampir ke warung di pintu ke luar terminal untuk sarapan pecel. Sayangnya, kedai belum buka dan mendorong saya untuk minum kopi dan gorengan di warung yang menyetel berita TV One. 
 

Wednesday, October 28, 2026

K Radio

Akhir-akhir ini saya sering mendengar K Radio yang dipancarkan dari Sumbersari Jember melalui streaming. Sebelum mengisi kegiatan diskusi Bahasa, Makna, dan Tafsir di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UINKHAS, saya hendak menelusuri keadaan kawasan ini melalu siaran radio. 

Radio yang berdiri sejak 2016 adalah radio swasta yang menyasar kelas menengah atas. Tidak hanya itu, ia hendak menjadi rujukan utama untuk sarana informasi yang aktual dan akurat  bagi pendengar. Namun demikian, ia juga menjadi ruang warga untuk mendapatkan hiburan dan maklumat, sesuai dengan slogannya hits music dan hot news.

Tadi pagi membuka radio ini yang memulai siaran dengan bacaan al-Qur'an dan lalu selawatan. Pas pukul 6 pagi, lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan. Dengan cogan kata Sound of Knowledge, media ini cocok untuk warga kampus. Mengapa saya memilih radio? Karena saya bisa melakukan kegiatan membaca buku, membersihkan rumah, dan mencuci piring sambil menikmati informasi dan musik. Berbeda bila saya menyimaknya di gawai, saya tak bisa sepenuhnya kegiatan di rumah, karena distrasi menyebabkan saya terpaku ke layar. 

Saya membayangkan radio ini juga menggelar program Bedah buku, Bicara Ilmu, dan kreativitas murid, siswa, dan mahasiswa, sehingga kaum terpelajar bisa memanfaatkan siaran untuk menyuburkan pengetahuan. Itulah mengapa saya menyambut baik K Talk, yang mengangat isu karya akademik terindeks Sinta. Tentu, ada banyak isu yang bisa dibahas dari banyak perspektif. Dengan memanfaatkan Zoom, kegiatan tersebut bisa dilakukan dan direkam sebagai konten di kanal Youtubenya dan bisa diakses kapan saja oleh pendengar. 

Monday, October 26, 2026

Aqiqah Tetangga

Kami datang awal sebelum acara bermula. Pak Tir akan membawakan acara aqiqah sebelum Pak As'adi memimpin tawasul. Setelah itu, Ustaz Abdullah membaca selawat. Ketika mahallul qiyam (berdiri), ayah Azka membawa si kecil mengelilingi undangan untuk menyentuh dahinya dengan air melati sambil berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraannya. 

Sungguh upacara yang penuh khidmat. Kami mendoakan sepenuh hati. Salah satu munajat itu adalah berharap ia berilmu ('aliman) yang beramal ('amilan). Sungguh permohonan yang mulia untuk generasi baru yang akan menghadapi tantangan di masa depan. 

Acara ditutup dengan doa. Kami pun menikmati sate, gulai, dan krupuk udang. Setiap warga membawa bungkusan yagn berisi nasi dan kue. Ketika pertama kami menginjak halaman tuan rumah, kami bersalaman dan saya pun menolak dengan halus sebatang rokok, karena saya sudah berhenti. Begitu banyak jajanan, sehingga saya turut menikmati kue lumpur dan pastel yang didalamnya berisi telur. 
 

Saturday, October 24, 2026

Nasi Jagung

Kami memesan nasi ini pada tetangga. Dengan merogoh Rp7.000,00, kami dapat bersarapan dengan nasi jagung berlauk ikan asing, tahu, tempe, sambal, dan sayur terung. Betapa pagi yang menyelerakan! 

Dengan memesan makanan ini, kami tak perlu memasak semua itu, yang mungkin tidak dihabiskan karena tidak mungkin hanya memasak masing-masing dari lauk hanya dua. Betapa hemat! Selain itu, warga bisa membantu jiran yang juga berjualan kebutuhan lain, seperti telur. 

Saya pun mengenal anak-anaknya yang rajin berjemaah ke masjid. Pemenuhan kebutuhan berbasis komunitas dapat mengurangi jejak karbon. Iman itu adalah peduli pada tetangga. 

Friday, October 23, 2026

Memberi Jalan Pengetahuan pada Anak-Anak


Pagi ini, saya mendapatkan pesan dari kurir bahwa paket telah diserahkan pada satuan pengaman kampus di pos. Saya pun bersegera untuk mengambilnya. Sebelum membaca ulang, saya membuat kopi agar mata ini melek untuk mengulik huruf-huruf dan foto-foto di akhir halaman. 

Buku lahir dari ikhtiar lahir, batin, dan intelektual Pak Ladang, nama sebutan penulis, Nasrullah Ali Fauzi. Pengalamannya sebagai staf di Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur menjadi pijakan untuk mengenal negara tetangga. Dengan mencatat kegiatan selama bertugas sebagai koordinator Community Service Learning, ia melihat dari dekat bagaimana anak-anak dari buruh migran mendapatkan kesempatan untuk belajar.  

Pak Ladang menyadari bahwa keberhasilan berkat dukungan banyak pihak, dari pemerintah Indonesia dan Malaysia, dan tentu ini bisa dilanjutkan dengan mengintegrasikan CLC dan banyak lembaga pendidikan, termasuk pesantren, agar keberlanjutan tersebut bisa melestarikan pembelajaran.

Menemukan Diri

Saya membaca buku Plato’s Republic in the Islamic Context: New Perspectives on Averroes’s Commentary , yang disunting oleh Alexander Orwin s...