Sunday, February 05, 2023

Sentuhan

Bagaimana filsuf memahami soal ini secara keliru? Mungkin Aristoteles memiliki agenda berdasar kelas sosial. Menurut pandangannya, budak dan orang lain yang tangannya kasar karena kerja keras tak sehalus filsuf, bangsawan, dan petinggi berkulit lembut (hlm. 35).
Akal sehat saja mengajar kita bahwa kemewahan mereka berdiri di atas jerih kaum buruh. Alangkah naif, kelas borjuis duduk manis seraya merasa duduk di atas. Kata kaum Stoa, manusia itu setara.

Tentu, kita ingin melihat konteks pada waktu itu, di mana kelas tuan dan budak masih menjadi praktik sehari-hari. Lalu, apa mungkin mobilitas sosial pada waktu itu? Budak dan tuan dan sebaliknya?

 

Saturday, February 04, 2023

Falsafah Jawa

 

Saya bolak balik membaca buku ini. Beruntung sebelumnya nunut Biyya, saya mendaras Serat Centhini.

Sebagai bahan utama kolom Falsafah Harian Kabar Madura, karya ini betul-betul menguras pikiran dan perasaan. Saya membahas bersama istri, Tetty Noor 'Aini, sambil makan sore tentang bagaimana menjadi orang Jawa. 

Apakah Biyya dan Zumi adalah orang Jawa? Keduanya masih belajar berbahasa Jawa di sekolah. Di Malang, dua anak yang lahir di Penang dan Kedah ini membeli tokoh wayang yang terbuat dari kertas. Dari lagu Lir-Ilir keduanya akan belajar falsafah Kejawen. Apa cukup?

Putri Reformasi

Dulu, Arief Budiman mengkritik keras manajemen kekuasaan Gus Dur di depan orangnya di Universitas Gadjah Mada. Saya melihat raut muka GD datar karena sindiran itu tulus. Guru Bangsa itu menjawab dengan lugas soal pengurusan media presiden dalam menghadapi banyak kritik publik.
Saya hendak menyampaikan hal serupa pada Pak Anwar Ibrahim tentang pelantikan Putri Reformasi Kak Nurul Izzah Anwar. Teguran ini ikhlas, sebagaimana Anwar beredia menerima kritik dari khalayak.
Kini, bola ada di tangah tokoh Reformasi jiran itu. Apa mungkin "patah balik" bagi Putri Reformasi? Perannya tetap ditagih karena ia adalah pihak yang kalah di daerah pemilihan Permatang Pauh. Namun, ini hanya sebagian kecil dari tugas yang diemban. Sebagai orang dekat Anwar, Nurul Izzah bisa memberikan masukan tanpa harus menjadi bagian dari kekuasaan.

Friday, February 03, 2023

Menemukan Masa Lalu

Dengan membaca kisah Nusantaria (Bukan Nusantara), kita tahu bahwa kebiasaan kita dianggit dari banyak sumber dan rujukan.
Batas-batas itu hanya pijakan untuk melihat. Dulu, daerah ini kaya dan maju, kini tidak. Pergiliran berlaku. Tetapi, apa kriteria tidak mundur? Tepekur.

Kini, kita bisa meraup banyak kisah tentang masa lalu untuk cermin masa kini. Mozaik yang kita susun tetap berpijak pada pandangan dunia.
 

Putri Reformasi

Nurul Izzah melihat dengan mata kepala sendiri sang ayah ditangkap oleh polisi di Damansara. Hari kelabu bagi keluarga.

Ia teruji. Dengan menyelesaikan kuliah dalam keadaan tekanan yang kuat, ibu dari tiga anak ini menapak jalan terjal untuk bertarung di pentas politik.
Kini, justru ia dapat cobaan lain, dilantik sebagai penasehat PM. Secara deontologis, niat baik Anwar bisa kita terima. Tetapi, dalam teleologi, akibat lain muncul, "kronisme" jadi preseden untuk bawahan.
Saya sendiri tidak meragukan pengetahuan dan pengalamam anak perempuan YB Wan Azizah tersebut. Artikulasi lisan dan tulisan jempolan. Tetapi, persepsi khalayak perlu ditimbang. Patah balik itu juga pilihan. Ini teguran ikhlas.

Wednesday, February 01, 2023

Sentuhan

Apakah kehangatan fisik terkait dengan kehangatan kiasan? (hlm. 11) Pertanyaan ini seringkali memposisikan kita pada dua sisi yang berseberangan. Padahal pandangan diametral tak bisa dijadikan jaminan melaihat persoalan secara utuh.

Orang yang memegang secawan kopi panas berpembawaan lebih "ramah" dibanding dengan pemesan kopi es. Apakah temuan ini mutlak? Tidak. Itu observasi pada sebagian orang. 

Saya suka yang pertama di pagi hari dan yang kedua di sore hari. Itulah mengapa sisa kopi panas saya tahu di kulkas agar nanti bisa mereguknya dalam keadaan dingin. 
 

Fatih


Alhamdulillah, dulu Fatih masih kelas dua SMP di Pondok Assalam, Solo, tatkala berkunjung ke rumah Bukit Kachi UUM kedah pada 2018. Ia sudah membaca Laut Bercerita oleh Leila S Chudori kala itu dan Biografi Gus Dur oleh Greg Barton di ruang baca, eh televisi, kami.

Semalam kami ngobrol kuliahnya di Kajian Rusia UI Depok dan kegiatannya di organisasi kemahasiswaan. Hidup terus berjalan. Saya bilang saya mengikuti akun Twitter Kedubes Rusia di Jakarta jauh sebelum perang pecah.

Apa damai itu bisa hadir tanpa perang? Itulah mengapa saya menulis kolom "Kedamaian" di Falsafah Harian koran Kabar Madura agar perang tidak melulu dilihat sebagai dua kubu yang sedang berbaku bunuh. Setiap individu sejatinya menghadapi perangnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti kecemasan, stres, dan kesakitan. 
 

Sentuhan

Bagaimana filsuf memahami soal ini secara keliru? Mungkin Aristoteles memiliki agenda berdasar kelas sosial. Menurut pandangannya, budak dan...