Sunday, August 30, 2026

Poli Anak

Kami berfoto bersama sebelum mendaftarkan Zumi untuk periksa ke dokter Ayu. Perawat menyambut ramah dengan memastikan suhu, berat badan dan tinggi anak. Sebelumnya, kami telah mangambil nomor antrian secara daring. 

Karena ada kegiatan imunisasi, kami menunggu di kantin Rumah Sakit Rizani untuk menikmati soto Lapangan Tembak. Sambil menunggu istri membeli bakwan, tahu dan molen. Di pagar kantin ada poster yang mengumumkan larangan merokok di seluruh area dengan denda Rp100.000,00. 

Dengan segelas es jeruk, kami menghabiskan makanan sambil bercakap ke sana ke mari. Lalu, kami kembali ke ruang tunggu. Setelah dipanggil, kami pun ke ruangan dokter. dr Ayu menyarankan Zumi untuk tidak telat makan dan menghindari makanan pedas dan minuman kopi. Seusai mengantongi obat, kami pun pulang. 
 

Bola Voli


"Pi', nama panggilan Hafiz, mau layangan"? Tanya saya setelah menemukan mainan ini di belakang rumah. Anak kelas 1 SD ini menjawab lugas. Tidak, Pak De. Saya sudah punya di rumah. Ia pun bermain bola voli dengan Kiki, sepupunya, dan Zumi saling menampar bola di sebelahnya. Betapa seru anak-anak bermain!

Lalu, mereka pindah ke halaman rumah dan menjadikan tiang jemuran sebagai net. Mereka silih berganti menepis  bola dengan iringan suara kegembiraan. 

Anak-anak memiliki imajinasi sendiri dalam memanfaatkan ruang dan benda. Bola itu dibuat dengan menggulung banyak kertas dan diikat dengan lakban (tape). Menjelang magrib, mereka bubar dan siap-siap ke masjid. Sepulang berjemaah, Akmal berkata bahwa besok bermain lagi, yang disahuti Zumi dengan ya. 

Friday, August 28, 2026

Yasinan dan Gibran


Apa yang membuat saya senang dari kegiatan di atas? Begitu banyak anak-anak yang masih belajar di sekolah dasar turut hadir. Kebanyakan mereka duduk di teras. Sementara, ada dua anak yang duduk di ruang utama, yakni Fikri dan Gibran. Anak terakhir ini memakai kaus hitam bertuliskan Khalid bin Walid, sahabat Nabi. "Wah, kausnya bagus. Beli di mana?" Dengan lugas ia menjawab, "Kakek saya yang dari Pasuruan memberi pada saya".

Lalu, kami pun beranjak setelah doa dipanjatkan oleh Haji Fauzan, di mana beliau menyelipkan permohonan agar Muktamar NU ke-35 di Jombang berjalan lancar. Di teras, kami menikmati buah semangka dan kue yang dibawa oleh Pak Mushthafa. Isu yang dibahas adalah demo di Jakarta, yang saya lihat para jemaah tidak memiliki satu pandangan. AMDK Nurja Water pun diteguk untuk melegakan tenggorokan.
Bagi Simone Weil, salah satu kebutuhan terdalam jiwa manusia adalah berakar, yakni terhubung secara nyata dengan masa lalu, tanah, dan warisan spiritual. Ketika Gibran memakai kaus bergambar Khalid bin Walid pemberian kakek dari Pasuruan, Weil akan melihat ini bukan sekadar gaya, melainkan transmisi iman yang autentik.
"Nurja Water" (air kemasan) jelas saya sebut secara sengaja sebagai jeda komersial. Tetapi dalam momen ini, air tersebut berfungsi sebagai sakramen sekuler. Meneguk air untuk melegakan tenggorokan setelah berbicara politik adalah pengakuan bahwa manusia adalah makhluk rapuh (fana). Kerapuhan fisik ini sebagai satu-satunya pintu menuju realitas sejati. Mengapa? Karena dalam kelemahan itulah kita menyadari bahwa kita bukan Tuhan.
Di saat demo di Jakarta menyuarakan kekuatan dan kekuasaan, di teras itu kami justru menikmati keheningan, anak-anak, air minum, dan perbedaan pendapat yang tidak dipaksakan. Lagi-lagi, kekuatan komunitas itu berdiri di atas kemandirian dan kebedaan dengan elegan karena di sini ada pengosongan ego. Kegiatan ini menjadi kanal dari kehidupan sehari-hari yang banal.

Thursday, August 27, 2026

Obrolan Pagi

Seusai mengantar anak ke sekolah, saya berangkat ke klinik Azzainiyyah untuk mengikuti senam dan taklimat dokter dalam kegiatan rutin Prolanis warga Nurul Jadid. Seraya menunggu cek tensi, saya mengajak Noval, mahasiswa Teknologi Informasi UNUJA, ngobrol

Meskipun belajar teknologi, lelaki asal Karanganyar ini menyukai sejarah. Di sela menjaga portal, mahasiswa semester 1 ini menekuri buku bacaan. Sebenarnya, ia berminat dengan pelajaran bahasa Indonesia. Sungguh, pribadi yang unik. 

Hakikatnya, hidup itu bermakna dalam setiap detik napas, karena kita lah yang melukiskan canvas. Dengan mengenal orang yang dekat dengan kehidupan kita sendiri, kita bisa memeriksa apa yang dicari kita sendiri dalam perjalanan ini. 

Tuesday, August 25, 2026

Sarawak


Saya bersyukur pernah melawat Sarawak. Di sini kami pernah naik kapal menyusuri sungai. Kegiatan Forum Sejahtera telah membuka cakrawala lebih luas tentang Malaysia.

Sayangnya, saya tak meluangkan waktu berkunjung ke Sabah, yang baru saja menggelar pemilihan umum. GRS menang. DAP yang sebelumnya memiliki 8 kursi menggigit jari. PKR hanya meraih satu wakil. Untuk pertama kalinya PAS memecah telur. 

Shafie Apdal tak dapat menjadi orang nomor satu. BN pun memilih bergabung dengan Hajiji agar bisa memastikan wakilnya tak melompat. Serumit apa pun politik di sini, partai lokal kuat. 

Apa pun, selamat. Politik itu alat. Kata Anwar Ibrahim, suara rakyat itu keramat. Mandat masih di bawah kendali PM ke-10 yang akan menunaikan 40% hak Sabahan sepenuhnya. Tugas perdana menteri begitu berat di tengah konflik kepentingan dari komponen koalisinya.

Maulid di Masjid Kami


Pak As'adi memberi tahu pelaksanaan acara Maulid melalui grup WhatsApp Rukun Tetangga. Tadi malam, kami menunaikan perayaan dengan penuh khidmat. Seusai maghrib, anak-anak, para remaja, ibu-ibu, dan bapak-bapak berbondong-bondong pergi seraya membawa kotak-kotak makanan. Tidak hanya itu, sebagian warga meletakkan buah di bungkusan untuk melengkapi suguhan. 

Abah Fauzan membuka acara dengan tawasul. Lalu, Pak Halim melantunkan selawat yang dilanjutkan oleh Pak Sururi. Pak Mushthofa menutupnya dengan doa. Anak-anak mengikuti bacaan pujian dengan riang. Di sela itu, Pak Jamal mencabuti uang yang ditancapkan pada batang untuk diberikan pada anak-anak. Demikian pula, Pak Sufyan mengambil balon untuk diberikan pada balita, yang menyebabkan mereka gembira alang-kepalang. Pak Joko dan Pak Boniman juga mengagihkan makanan pada hadirin. Semua yang hadir bahagia dengan caranya masing-masing.

Kala mahallul qiyam (momentum berdiri), saya merasakan "kehadiran" nabi, seakan-akan warga menyambut sang rasul. Kalimat ya jaddal hasan, ya jaddal hussain (wahai kakek hasan dan husein), membuat saya tertegun karena tragedi yang menimpa cucu ayah Fatimah ini melahirkan duka. Ada kesedihan yang menjalar. 

Tentu, perayaan ini akan menjadi kenangan yang abadi pada anak-anak. Mereka menyambut nabi dengan pujian, bacaan, dan doa. Di sini, silaturahmi, kedermawanan, dan syiar dimakmurkan. Masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah (salat berjemaah), tetapi juga tarbiyah (pendidikan budi pekerti). 

Sepotong Sore

Setelah naik ke jok motor, Biyya tanya, "Can we go to Indomaret to buy coffee"?  "Yes, we can. Of course". Kami pun melaju dari depan gerbang sekolah. Penyuka Aurora tersebut memesan butterscotch latte. Saya tak menikmati minuman ini sore itu karena di pagi hari telah menyeduh kopi di rumah. 

Sambil menunggu, saya membeli salad dan membuka buku yang dibaca oleh Biyya bertajuk The Hundred Years' Warn on Palestine: A History of Settler Colonial Conquest and Resistance, 1917-2017. Rashid Khalidi membuka karangannya dengan kutipan "We are a nation threatened by disappearance" oleh 'Isa and Yusuf al-'Isa, Filastin, May 7, 1914.  

Dari judul dan petikan di atas, kita bisa membayangkan isi dari tulisan tersebut. Hingga hari ini, Gaza dan Tepi Barat diduduki oleh Israel. Meskipun ICJ telah menetapkan Netanyahu sebagai penjahat perang dan banyak negara mendukung negeri penyair Mahmoud Darwish, negeri bintang David itu tidak tergoyahkan. Di sela mendaras, saya berbagi salad dengan Biyya dan bercakap-cakap tentang isi buku. Karya ini hendak menyampaikan bahwa konflik ini bukan perang antara dunia negara, tetapi desain kolonialisme untuk menghapus eksistensi Palestina. 

Saya pun tak berlama-lama menekuri huruf karena harus memicingkan mata untuk membaca sebab tak membawa kacamata. Setelah mendapatkan segelas kopi, kami beranjak dari warung. Oh ya, mengapa saya membaca buku? Saya tidak bisa membuka gawai karena tidak ada jaringan wifi. 

Poli Anak

Kami berfoto bersama sebelum mendaftarkan Zumi untuk periksa ke dokter Ayu. Perawat menyambut ramah dengan memastikan suhu, berat badan dan ...