Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Saturday, October 29, 2011

Pintu Masuk

Sekarang, siapa pun tinggal mengayunkan kaki dan memilih buku apa yang akan digunakan untuk meneroka pengetahuan. Kunci dari kehendak kita adalah segera membuat pilihan, sebelum semuanya raib dihembus angin malam.

Tuesday, February 08, 2011

Berkaca dari Tulisan



Tulisan di samping ini adalah sekelumit penghargaan terhadap sastrawati Malaysia, Fatimah Busu. Ia adalah penulis yang meyakini bahwa sastra itu merupakan alat yang paling mungkin untuk menanamkan nilai-nilai. Keyakinan beliau membuncah dalam melawan apa yang dianggapnya tak adil dalam banyak hal dan kemudian menerakannya dalam novel dan cerita pendek.

Ia tak perlu mengikuti riuh-rendah kemasyhuran sastra wangi dan populer. Baginya, sastra adalah wujud dari kehendak yang paling murni, yang tak bisa diturunkan menjadi kata-kata yang tak dipikirkan, dirasakan dan direnungkan. Di luar kegiatan sastranya, saya melihat keteguhan untuk senantiasa menekuri hidup secara sederhana, dengan tidak memegang telepon genggam dan tidak memiliki alamat surat elektronik (email). Ia hanya bisa dihubungi melalui talian telepon.

Keberhasilan beliau mengambil semangat Nyanyian Angsa dari sajak Rendra sempat menimbulkan pertikaian. Ia pun membelanya dengan menulis satu buku khusus, Nyanyi Sunyi dan Sarjana Nasi Dingin.

Sunday, July 26, 2009

Mengasup Sast[e]ra Melayu Nusantara


Hari Minggu sepatutnya berlibur, namun saya malah terdampar di ruangan berudara dingin untuk mendengar para pakar sastera Melayu Nusantara menemukan jawaban tentang apakah kekuasaan itu? Kemarin saya telah mengikuti sesi pertama, yang salah satu disampaikan oleh Prof Mohammad Haji Salleh bahwa konsep kuasa itu perlu didekonstruksi dengan merujuk pada pemikiran hubungan kuasa (power) dan pengetahuan (knowledge) Michel Foucault, filsuf Perancis kesohor itu.

Paparan sastrawan negara itu menggugat konsep absolute monarchy jika hanya dipahami bahwa kekuasaan itu hanya ada pada raja. Ternyata, dalam praktiknya, kekuasaan itu juga menyebar pada pembantunya, seperti bendahara, laksamana, pengarang, guru dan lain-lain. Jadi, raja bukan satu-satunya memerankan pemilik kekuasaan. Malah, ada raja yang hanya ada di atas kertas, seperti Sultan Mahmud, yang tak sempat mengurus negeri karena terlalu asyik dengan hobbinya berburu 'perempuan'. Namun, pada masa yang sama, A Rogayah Hamid menceritakan bahwa raja tak selalu digambarkan buruk, malah dalam Hikayat Upu Daeng Menambun, penguasa itu dilukiskan secara elok. Pendek kata, ada raja adil yang disembah, dan pada waktu lain, ada lalim (zalim), raja disanggah.

Jika demikian, di manakah sebenarnya kuasa raja jika dikontekstualisasikan pada masa kini? Inilah perbincangan yang memantik minat banyak peserta karena tak jarang menimbulkan masalah legitimasi, otoritas dan perubahan sistem. Namun, apa pun uraian mereka tentang konsep kuasa, ada yang mungkin perlu diketengahkan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, vox populi, vox dei.

Wednesday, September 10, 2008

Kuras-Kuras Kreatif

Kemarin, saya mencomot buku Kuras-Kuras Kreatif yang ditulis sastrawan Azizi Haji Abdullah (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2007). Sebuah catatan perjalanan kepenulisan sebagai pengarang produktif dalam bidang sastra di tanah Melayu. Meskipun tidak mempunyai pengetahuan teori sastra, beliau menulis sebagai pemenuhan rasa. Sesuatu yang kemudian melahirkan sejumlah cerita pendek dan novel.

Ternyata, kegigihan penerima anugerah S.E.A Write Award ini memantik rasa penasaran saya karena putera kelahiran Kedah ini memanggul beban yang amat berat jika tidak bisa menakwilkan peristiwa menjadi sebuah tulisan. Lalu, dengan serta merta, dia pergi dari rumah meninggalkan isteri untuk satu atau dua hari tinggal di hotel menyelesaikan kehendak mengubah kenyataan menjadi fiksi. Malah, dia blusukan tempat pelacuran karena terpengaruh Chairil Anwar bahwa seorang sastrawan mesti bohemian dan menabrak kelaziman. Secara tersirat juga, ada banyak perempuan dalam proses kreatif kepengarangannya sehingga mereka seperti pendorong kuat untuk terus menulis.

Di dalam buku ini juga, penulis novel Senja Belum Berakhir membela diri bahwa karyanya ini bukan jiplakan dari karangan Toha Muchtar, sastrawan Indonesia, berjudul Pulang. Diakui bahwa novel ini memang telah dibaca dan memberikan ilham dalam mengarang novel di atas. Selain itu, dengan penuh takzim, bekas guru sekolah agama ini mengakui bahwa Shahnon Ahmad, sastrawan terkemuka Malaysia, telah menjadi guru yang baik dalam bidang penulisan. Tambahan lagi, dia juga banyak membaca karya-karya Pramodya Ananta Toer.

Lari Sore

 Setelah lari sore bersama Zumi di kawasan Paiton Energy POMI, saya melewati KDMP ini. Tak jauh dari lokasi koperasi tergambar, ada toko Vev...