Showing posts with label Research Assistant Staff. Show all posts
Showing posts with label Research Assistant Staff. Show all posts

Friday, January 09, 2009

Teknologi dan Manusia

Ternyata, teknologi (handphone) membantu kita memendekkan jarak dan menghemat waktu. Dengan hanya duduk di kursi, saya bisa memastikan apa yang harus diselesaikan tanpa membuang waktu, seperti menanyakan kepastian pada En Fairus mengenai foto rektor (di sana dijabat oleh naib canselor). Bayangkan, kalau saya menyambangi kantor tempat dia bekerja. Apalagi, dia masih menyiapkan satu lagi gambar-gambar kegiatan salah satu rektor. Tentu, saya bisa memaklumi karena fotografer ini mempunyai jadual yang padat, sehingga tidak bisa menyelesaikan pekerjaan pengumpulan gambar tersebut dalam jangka waktu yagn telah ditetapkan. Toh, sebelumnya, dia meminta saya menelepon pada hari ini untuk memastikan selesai atau tidaknya gambar tersebut.

Lalu, jika Jacquel Ellul dalam The Technological Society menegaskan bahwa penggunaan teknologi menyebabkan terjadinya dehumanisasi, apakah hal ini terjadi pada kita karena sering memanfaatkannya dalam kegiatan sehari-hari? Mungkin tidak sesederhana kasus pada penggunaan teknologi di pabrik, seperti tekstil, konveksi, rokok, di mana manusia hanya menjadi objek dan terperangkap dalam otomatisme (bergerak secara otomatis tanpa kesadaran), sehingga manusia berjalan layaknya mesin.

Penggunaan handphone justeru membuat nyaman hubungan antara manusia, namun demikian saya tetap menghubungi yang bersangkutan untuk pertemuan pertama kalinya. Di sini, tatap muka mendatangkan kedekatan emosional. Lebih dari itu, saya juga lebih banyak mengenal begitu banyak ragam persona dan suasana. Oleh karena itu, kenapa silaturahmi dianggap memanjangkan umur, karena ia mempertemukan kita dengan ragam pengalaman. Semoga!

Wednesday, December 17, 2008

Lika Liku Pencarian

Akhirnya saya memeroleh surat pengantar dari direktur penerbit USM untuk mendapatkan rekaman ceramah bekas orang nomor satu kampus di PTPM. Sebelumnya, sekretarisnya menelepon saya untuk mengambil surat ketika saya sedang melajukan motor dari Perpustakaan Hamzah Sendut 2 menuju Fakultas Ilmu Humaniora. Dengan serta merta, saya menyanggupi untuk segera mengambilnya. Lalu, saya menuju PTPM untuk mengambil rekaman, namun karena petugas yang berkenaan sedang keluar untuk sebuah kegiatan, saya mesti menjadualkan ulang untuk kembali menemuinya.

Sementara, saya tidak bisa menyalin bahan Laporan bekas rektor karena materi tersebut berada di ruang arsip. Namun, saya mencatat nomor panggilan agar mudah merujuknya jika diperlukan, yaitu LG 396 5 A141. Tidak itu saja, saya juga mencatat nomor kutipan ceramah Tan Sri Tuan Hj Hamdan Sheikh Tahir, LA 1236 H 221). Di tengah mencari buku ini saya secara tidak sengaja menemukan buku yang ditulis Hassam Karim bertajuk With the People: The Malaysian Student Movement 1967-1974. Sebuah kesaksian yang merekam aksi turun jalan mahasiswa pada awal-awal berdirinya universitas publik Malaysia. Gambar-gambar hitam putih yang memotret unjuk rasa mahasiswa seakan menjadi saksi bisu betapa dulu mahasiswa memainkan peranan penting sebagai agen perubahan sosial.

Demikian pula, buku Machi Sato (LA 1238), Dilemmas of Public University Reform in Malaysia, membantu saya mengenal lebih dekat sejarah perkembangan universitas negeri yang sekarang telah banyak mengalami kemajuan yang pesat. Tentu, semua ini akan menjadi penanda bahwa kelahiran perguruan tinggi mengalami dinamika yang tinggi, dengan segala persoalan yang membuatnya lintang pukang menyambut tantangan.

Tuesday, December 16, 2008

Mencari Jejak

Pagi ini saya mengunjungi Penerbit USM untuk meminta surat pengantar mengambil rekaman ceramah di PTPM. Ketua bagian yang menangani urusan ini dengan ramah menyambut dan kemudian meminta saya meninggalkan nomor telepon. Ternyata, surat ini harus ditandatangani oleh direktur penerbitan. Insyaallah, sore ini saya bisa mengambilnya.

Lalu, saya juga memeroleh jawaban melalui email dari pihak Kantor Perhubungan Alumni bahwa majalah The Leader sudah habis dan jika berminat untuk mendapatkannya bisa mengkopi di kantor tersebut. Informasi ini tentu membantu saya untuk menghemat waktu karena pencarian data ini bisa ditanyakan melalui email, tanpa harus datang ke tempat yang diinginkan. Namun demikian, untuk pertama kali, saya tentu mengunjunginya untuk mendapatkan respons dan sekaligus mengenal lebih dekat beberapa tempat yang sebelumnya tidak pernah dibaui. Ada aroma kehangatan di tempat baru.

Sekarang, saya akan menjejaki keterangan beberapa gambar yang saya peroleh dari PTPM di perpustakaan Hamzah Sendut 2. Ada banyak gambar yang tidak bisa diketahui asal-usul dan latar belakangnya, sehingga pelihat tidak bisa mengenal gambar tersebut sama sekali. Ternyata, mencari kabar masa lalu harus melalui jalan berliku. Tidak terelakkan, ada yang tertinggal, sehingga menyusun masa lalu dengan sempurna merupakan utopia. Tapi, persoalannya bukan di sini. Kita yang sedang merekonstruksi sejarah menyadari bahwa kekinian turut mewarnai tafsir terhadap peristiwa lampau. Ada hubungan timbal balik. Bukankah ini akan membuat kita merasa memiliki masa lalu?

Friday, December 12, 2008

Mencari Kabar Masa Lalu

Pencarian bahan untuk penulisan biografi berlanjut hari ini. Saya mengikuti saran pihak Ikatan Alumni USM untuk menghubungi perhubungan Alumni di lantai 5 rektorat (canselori). Di sana, saya mendapatkan majalah alumni, The Leader, edisi March, June dan September 2008. Lalu, saya menuju ke penerbit untuk mendapatkan surat pengantar mendapatkan transkripsi sejaraha lisan yang memuat ceraman bekas orang nomor satu kampus.

Namun, staf di penerbitan memberitahu bahwa orang yang bertanggung jawab untuk urusan ini sedang cuti. Namun, saya telah menggenggam nama yang bersangkutan dan hari Senin akan menemuinya untuk mendapatkan surat. Ternyata, pengalaman pencarian ini telah makin mengenalkan saya pada liku-liku kehidupan kampus, yang tidak melulu berkait dengan buku, tetapi juga hal ihwal hubungan manusia dan beragam tindak tanduknya.

Lebih penting lagi, saya tentu lebih memasuki ceruk yang menyimpan kabar masa lalu. Usaha untuk mengungkapkan perjalanan kampus menjadi sebesar sekarang, hakikatnya sebuah ikhtiar untuk lebih melahirkan manusia yang cemerlang di masa depan. Mungkin benar apa kata Paulo Freire: The Future isn't something hidden in a corner. The future is something we build in the present (diambil dari Mohammed Imran, ed. Islam, Religion and Progress: Critical Perspectives (Singapore: The Reading Group, 2006), hlm. 9.

Thursday, December 11, 2008

Mengenal Kampus Lebih Dekat


Jika sebelumnya saya sering mengikuti seri sejarah lisan yang diadakan oleh penerbit USM untuk mengenal lebih dekat kampus, karena menghadirkan kesaksian para pegawai, dari bekas orang nomor satu hingga satuan pengaman (di sana sering disebut guard). Untuk itu, saya meminta tolong teman yang bekerja di penerbit untuk memberitahu jika seri sejarah lisan akan digelar lagi. Malah, beberapa hari yang lalu, Encik Khairul Rahim mememberi tahu bahwa acara ini akan dihelat kembali pada tanggal 19 Desember 2008. Maka, sekarang, saya terlibat langsung dalam mengenal warna lain dengan membantu Dr Suhaimi Abdul Aziz dalam penulisan biografi Naib Canselor (setingkat rektor) Universiti Sains Malaysia.

Hari ini, seperti hari yang lain, saya bekerja untuk melacak bahan-bahan, seperti gambar, karya, dan kesaksian sejawat, berkaitan dengan orang nomor satu di kampus tempat saya belajar. Pencarian ini juga mengantarkan saya pada beberapa tempat yang harus disinggahi. Misalnya, pada hari ini, saya mengunjungi kantor rektor menemui penolong pendaftar, pegawai alumni dan PTPM (Pusat Teknologi dan Pengajaran Multimedia). Saya sengaja berjalan kaki untuk merasakan lorong, jalan, dan suasana kampus. Inilah perjalanan yang membuat saya merasakan kehadiran kampus secara lebih utuh.

Lebih dari itu, kadang saya tidak mendapatkan bahan dari tempat yang saya kunjungi, namun dari pegawainya saya memeroleh informasi yang penting dalam memburu bahan. Pengalaman semacam ini tentu di luar kebiasaan saya dalam menekuri bacaan. Ternyata, komunikasi dengan manusia dan alam mendatangkan sensasi tersendiri.

Lari Sore

 Setelah lari sore bersama Zumi di kawasan Paiton Energy POMI, saya melewati KDMP ini. Tak jauh dari lokasi koperasi tergambar, ada toko Vev...