Sunday, January 18, 2026

Anwar dan Kawan

Sempat mengunjungi sahabat lama saya yang juga mantan Perdana Menteri Afghanistan Gulbuddin Hekmatyar yang saat ini sedang menjalani perawatan medis di Malaysia. Berdoa agar diberikan kesembuhan dan kesehatan yang berkelanjutan, disamping itu dimudahkan segala urusan medisnya. Insya-Allah, tulis Pak Anwar Ibrahim di beranda akun media sosialnya.

Sosok pejuang ini melalui hidup yang rumit, dari sekutu Amerika hingga menjadi musuh sengit, dan malah pernah terlibat dalam perang saudara sebelum akhirnya memasuki gelanggang politik resmi yang rapuh. Ia menjadi bagian dari puluhan tahun sejarah modern Afghanistan, yang kini berada di bawah kekuasaan Taliban.

Ini juga mengingatkan kawan baik saya asal Afganistan yang telah mengantongi kewarganegaraan Amerika. Dulu kami sering bareng di sela-sela mengabdi di Universitas Utara Malaysia. Orang Melayu menyewakan rumahnya untuk tempat tinggalnya di Changlun. Mengapa kawasan Asia Tengah ini bergolak? Karena kuasa besar berebut mainan. Khalas
 

Hari ke-18 (Haul Masyayikh ke-77 Nurul Jadid)

Saya datang 20 menit sebelum acara bermula pukul 8 pagi. Sambil menunggu, saya menikmati hadrah. Inilah seni yang paling akrab dengan masa kecil kami. Apa pun acara, terbang, sebutan rebana di negeri jiran, akan ditabuh. 

Mengapa indah? Ini soal penghayatan dan pengetahuan. Buyut kami, Abdurrahman dan Abdurrahim, penabuh yang legendaris. Kecepatan tangan memukul kulit bundar justru memaksa kami untuk diam, berdiri dengan penuh khidmat. Kediaman di tengah "kebisingan" adalah tantangan.

Berbeda dgn Banjari Basyirun Nabi, ala Ahmad bin Ta'lab jauh lebih sederhana dalam bunyi dan kata. Zaman berubah. Mungkin, di masa depan alat lain muncul, spt aud, gitar bunting, akan mengiringi hadrah kita. Atau, biarkan saja rebana itu hadir dgn dirinya agar keaslian tak terganggu oleh rasa tidak puas manusia yang ingin menambah suara di sana sini. Padahal, kala fana, kata dan bunyi hilang.

Saturday, January 17, 2026

Hari ke-17 (Stan Buku KKPS)

Kami memgunjungi stan Kelompok Kajian Pojok Surau KKPS di pekan harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid ke-77. Di sini, Biyya memilih bacaannya sendiri. Zumi masih belum tergerak, sebab kesukaannya tidak tersedia di sini, seperti Plants vs Zombies dan FGTeev

Penyuka lagu P Ramlee  ini membeli Polemik Sains: Sebuah Dirkursus Pemikiran. Buku yang diterbitkan Diva Press ini membuat tulisan Taufiqurrahman yang diapresiasi oleh Catatan Dahlan Iskan karena rujukannya yang berlimpah. 

Saya menikmati musik yang diputar Sandi dan kawan-kawan, pegiat KKPS. Kami berjaga 24 jam  di sini, kata santri asal Jakarta ini. Ngeri! Mereka adalah orang muda yang bisa menahan mata untuk tidak terpejam. Sekali-kali penerus generasi melawan waktu. 

 

Hari ke-17 (Gili Genting)

Kala memasang kaus kaki, saya menyapa mahasiswa di depan saya? Prodi apa? PBA (Pendidikan Bahasa Arab). Oh, bapak teman Paman Yahya? 

Setelah sebelumnya kenal dengan anaknya, yang mengambil Living Qur'an, kini keponakannya bertemu di musala kampus atas kehendak Tuhan. Alvin mondok di wilayah al-Amiri. 

Alhamdulillah, semakin banyak mahasiswa asal Gili Genting yang belajar di Universitas Nurul Jadid - UNUJA. Saya pun menukas, insyaallah, di lebaran nanti, saya dan keluarga melawat keluarga kakek Biyya dan Zumi di Pulau yang terkenal dengan pantainya yang molek, Sembilan, di hari lebaran yang akan datang. Hore!

 

Friday, January 16, 2026

Hari ke-16 (Isra Mikraj)

Guyub itu hidup. Berkah untuk kita semua. Setiap keluarga membawa makanan untuk disajikan seusai perayaan. Bersama itu bermakna karena kegiatan kerohanian (langit) tertanggungkan dengan kejasmanian. Klise, tetapi inilah yang kita jalani dalam keseharian.

Selaksa doa dan pujian dilantunkan. Kala berdiri, kami menghormati junjungan, seakan-akan baginda hadir. Nabi bersama umat tanpa dibeda-bedakan kelas, status, dan kedudukan. Kala duduk, semua duduk, ketika berdiri, setiap orang beranjak dari lantai dan meluruskan tubuh. Anak-anak berlarian ke sana kemari. Biarkan, mereka memang begitu. 

Kami bertukar makanan yang dibeli dari tetangga. Hidup bermula dari sini, sebelum pergi juah mengurus negeri. Autentisitas adalah apa yang dijalani di tempat kita tinggal dengan utuh. 


.

Thursday, January 15, 2026

Hari ke-15


 Setelah mengelilingi kampung dan membuka portal, saya bersiduduk mendengar ceramah Ustaz Tile melalui radio. Dialek Betawinya mengingatkan kita pada Zainuddin MZ. 

Menua adalah mengurus jiwa. Dalam komentar ini, kita akan memulakan bacaan dengan uraian tentang taubat. Ya, puncak hasrat mengubah bertolak dari diri sebelum beranjak ke luar, termasuk orang paling dekat. 

ايها العبد، اطلب التوبة من الله في كل وقت (ص. ٥)

Saya pikir khalayak hanya perlu mendengar ceramah dan mengaji fikih melalui ustaz yang bisa dengan mudah mencerap ilmu sambil diselitkan humor. Sementara kajian fikih yang serius dipanggul oleh segelintir. 

Hukum Islam mudah, jangan dimudah-mudahkan, kata Ustaz. Mengapa harus mengganti puasa, bukan salat bagi perempuan yang berhalangan? Bayangkan mengqada sembayang 35 kali? 

Apa pun, salat mengajar warga untuk berdisiplin waktu. Itulah mengapa Allah pernah bersumpah atas nama masa (Al-'Ashr). Ehm, apa itu waktu (time)?

Wednesday, January 14, 2026

Hari ke-14

Biyya minta berhenti di kafe Point sepulang dari sekolah. Saya duduk seraya melanjutkan bacaan tanpa memesan kopi. Pagi dan siang saya sudah menikmatinya. Menahan diri adalah wujud dari keterbatasan tubuh yang menua, yaitu awas pada gula. 

Biasanya kami mereguk minuman sejuta umat ini di Rooster tak jauh dari tempat kami duduk kala mengantar Zumi yang memotong rambut di kedai tak jauh dari R. 

Percakapan seringkali tak disangka-sangka, karena ia bisa muncul begitu saja, dari hal keseharian dan politik. Tetapi hidup tidak serumit pikiran para cerdik pandai, tetapi perbincangan ringan, yang hakikatnya puncak dari pengetahuan, yakni praktis. 

Anwar dan Kawan

Sempat mengunjungi sahabat lama saya yang juga mantan Perdana Menteri Afghanistan Gulbuddin Hekmatyar yang saat ini sedang menjalani perawat...