Thursday, January 15, 2026

Hari ke-15


 Setelah mengelilingi kampung dan membuka portal, saya bersiduduk mendengar ceramah Ustaz Tile melalui radio. Dialek Betawinya mengingatkan kita pada Zainuddin MZ. 

Menua adalah mengurus jiwa. Dalam komentar ini, kita akan memulakan bacaan dengan uraian tentang taubat. Ya, puncak hasrat mengubah bertolak dari diri sebelum beranjak ke luar, termasuk orang paling dekat. 

ايها العبد، اطلب التوبة من الله في كل وقت (ص. ٥)

Saya pikir khalayak hanya perlu mendengar ceramah dan mengaji fikih melalui ustaz yang bisa dengan mudah mencerap ilmu sambil diselitkan humor. Sementara kajian fikih yang serius dipanggul oleh segelintir. 

Hukum Islam mudah, jangan dimudah-mudahkan, kata Ustaz. Mengapa harus mengganti puasa, bukan salat bagi perempuan yang berhalangan? Bayangkan mengqada sembayang 35 kali? 

Apa pun, salat mengajar warga untuk berdisiplin waktu. Itulah mengapa Allah pernah bersumpah atas nama masa (Al-'Ashr). Ehm, apa itu waktu (time)?

Wednesday, January 14, 2026

Hari ke-14

Biyya minta berhemti.di kafe Point. Saya duduk seraya melanjutkan bacaan tanpa memesan kopi. 

Pagi dan siang saya sudah menikmatinya. 

 

Hari ke-13


 

Monday, January 12, 2026

Hari ke-12 (Jazz Persia)


Saya mengenal Iran sejak Aliyah, kala berlangganan majalah Al-Quds dari Kedutaan Besarnya di Jakarta. Malah teman saya meletakkan gambar Ayatullah Ruhullah Khomeini di dinding pondok kala itu. Tulisan pertama opini saya di Jawa Pos terkait dengan pelarangan musik Barat oleh Ahmadinejad karena dianggap menjadi biang kemerosotan moral masyarakat.  

Dari catatan ini, Agama, Musik, dan Politik, saya mengingat kembali lagi rujukan yang didapat dari Perpustakaan Hamzah Sendut Universiti Sains Malaysia dan percakapan dengan rekan-rekan Iran yang juga sedang belajar di USM, seperti Namatollah Azadmanesh (Syiah) dan Muhsin (Sunni) yang berdarah Rusia. Mereka kaum terpelajar yang memiliki sikap sendiri tentang politik. 

Untuk kesekian kalinya, negeri Persia bergolak. Amerika dan Israel selalu bermain dalam huru-hara ini, yang dipicu oleh motif ekonomi dan politik. Tentu, saya bisa memahami bahwa negeri para Mullah ini tidak tunggal. Teman saya dulu mendukung kembalinya Reza Pahlavi dan malah kala pemilu digelar di USM, Ahmadinejad tumbang. Itu artinya, tidak semua rakyat negeri Syam Tabrizy mendukung kepemimpinan ulama. 

Kini, sistem politik Wilayatuh Faqih diuji untuk kesekian kalinya. Bukan semata-mata pemusataan kekuasan pada para mullah, tetapi karena tekanan kehidupan warga dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang dipicu oleh sanksi Amerika dan Eropa. Apa pun, nasib bangsa ini ditentukan oleh warganya sendiri. Mereka telah mewarisi banyak tradisi dan akan menentukan pandangan dunianya sendiri. Demokrasi tidak bisa ditegakkan dengan paksaan dari luar, karena itu tidak murni sebagai wujud dari ide kesetaraan, tetapi kehendak adikekuasaan.

Dengan menikmati jazz Persia, saya hendak merenungi tempat kembali dalam hidup. Apa autentisitas itu? Keaslian itu adalah hari ini yang dijalani sepenuh hati dan akal budi. Masa lalu telah dilewati dan masa depan dikhayalkan, sementara masa ini dilalui dengan seluruh jiwa dan raga. Sepagi ini saya menikmatinya sambil tepekur mengapa kita tidak menikmati keindahan saja? Apakah tragedi itu harus ada untuk sejati?

 


Sunday, January 11, 2026

Hari ke-11 (Kitab dan Pohon)

Bila kamu memiliki taman dan perpustakaan, maka kamu mempunyai segalanya yang kamu butuhkan (Cicero, 160-43 SM). Kata ini cermin bahwa pengetahuan dan alam adalah penting untuk memenuhi kehidupan. 

Kemarin kami duduk di musala untuk memahami kitab Syarh al-Hikam (hlm. 60). Perlahan, sinar matahari pagi menghangati tubuh. Sesekali kicauan burung menyerikakn pagi. Refleksi atas kenyataan mendatangkan ketahuan dan kepahaman.

Betapa mulia manusia sehingga dianugerahkan ملكا كبيرا (kekuasaan yang besar). Di sini, humanisme mendapatkan pijakan teologis. Dari kesadaran ini, setiap individu memanggul amanah sebagai pengurus bumi yang ditagih pertanggungjawabannya.

 

Hari ke-10 (Wali Tuhan)

Terima kasih Mas Kiai Helmi Nawali atas hadiah banyak buku, yang saya awali dengan mendaras Bhinneka: Enam Belas Karangan tentang Agama, Sastra, dan Bahasa Indonesia.
Betapa Henri Chambert-Loir membantu kita untuk memahami ziarah kubur sebagai bagian dari penguatan spiritual. Dengan demikian, sisi material dari hidup tak dominan dalam keseharian yang menjadikan hidup kita majal.

Memang tidak dielakkan, pemujaan pada wali kadang berlebihan karena pelbagai motif. Bila hanya wali yang tahu wali, maka orang kebanyakan hanya mengikuti jejak kata-kata itu. 

Seorang pekerja dari tetangga kampung begitu rajin mengikuti ziarah wali. Kala memperbaiki pompa di rumah, ia seringkali menceritakan tentang kesungguhannya untuk meraih berkah. Di tengah kesibukannya bekerja, ia selalu menyempatkan untuk datang ke makam keramat. 

Friday, January 09, 2026

Hari ke-9 (Kehangatan)

Sebagaimana resolusi 2026, saya ingin merawat keseharian dengan lebih sungguh-sungguh. Meskipun membaca Martin Buber, saya melihatnya dari kegiatan yang biasa dijalani, seperti menyediakan air panas untuk Zumi dan merasakan kehangatan jiran di banyak kegiatan, seperti Sarwaan semalam.
Kehangatan bisa dipahami secara harfiah dan kiasan. Keduanya sama-sama mendatangkan kenyamanan. Kala dingin, air yang dipanaskan dan dicampur dengan air dari bawah tanah menjadikan mandi menyenangkan. Ketika bertemu seseorang yang membawakan dirinya riang dan perhatian, kita mendapatkan kehangatan, baik dari sentuhan fisik atau ucapan.
Dengan mengacu pada relasi I-It dan I Thou dalam alam pikiran Martin Buber, di hari libur saya hendak mendaras pemikir Yahudi tersebut. Meskipun ia aktif dalam gerakan Zionisme kultural, tetapi menekankan pentingnya dialog antara Yahudi dan Arab, serta menolak pandangan Zionisme yang terlalu politis atau nasionalistik semata-mata.
Dulu, saya merasakan kehangatan dosen Yahudi di UIN Sunan Kalijaga, Natalie Polzer. Pengajar asal Canada ini mengajar Kajian Yahudi dan Kristen dengan penuh semangat dan khidmat. Sebagai penganut agama yang salehah, ia menjelaskan tata cara ritual agama serumpun ini

 

Hari ke-15

  Setelah mengelilingi kampung dan membuka portal, saya bersiduduk mendengar ceramah Ustaz Tile melalui radio. Dialek Betawinya mengingatkan...