Setelah penyelenggaran Olimpiade yang sukses, Cina dipandang sebagai kekuatan besar yang patut diperhitungkan. Meskipuin citra ini sempat ternodai oleh kasus yang hingga hari ini menghantui sebagian masyarakat dunia, susu yang tercemar melamin. Tentu bukan latah, jika saya turut memberikan perhatian terhadap negara berjuluk tirai bambu ini.
Kasus terbaru masuknya batik produksi Cina (Gatra, 25 September 2008) juga memantik rasa penasaran saya mengapa negara raksasa ini mampu membuat barang yang lebih murah dari negara asalnya, Indonesia. Nah, untuk itu saya mencoba menelusuri rasa penasaran ini dengan menekuri buku yang ditulis Wang Hui berjudul China's New Order dengan harapan saya lebih mengenal Cina lebih dekat. Pemikir ini merupakan tokoh utama di dalam wacana yang sering disengketakan di Cina mengenai hubungan antara perubahan yang terjadi di Cina pasca-Mao dan kekuatan kapitalisme global.
Mungkin dari bacaan ini, ada percikan gagasan yang bisa diwujudkan pada keseharian saya dan juga merembesi lingkungan terkecil dan mungkin di ujung sana ada juga segelintir yang mau belajar dari keberhasilan Cina mendorong warganya menghasilkan barang, bukan hanya menikmati untuk keperluan konsumtif belaka.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Nalar
Semalam saya berbagi kiat kepenulisan dengan santri mahasiswa semester awal. Seronok, malam-malam mereka masih bersedia berdiskusi. Saya in...

-
Semalam, kami berlatih menyanyikan lagu daerah, Apuse Kokondao Papua dan Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan. Ibu Yunita, mahasiswa PhD Musik...
-
Saya membawa buku Philosophy for Dummies untuk coba mengenalkan anak pada filsafat. Biyya tampak bersemangat tatkala pertama kali mendapatka...
-
Rindu itu adalah perasaan akan sesuatu yang tidak ada di depan mata kita. Demikian pula, buku itu adalah jejeran huruf-huruf yang menerakan ...
No comments:
Post a Comment