Intan bertanya, kenapa saya selalu ingin bening dan sepertinya emoh untuk keruh. Tidak! Biarlah bening itu menjadi mimpi saya dalam percakapan, tulisan dan angan.
Padahal, dalam keseharian saya selalu digelayuti oleh ketidakjernihan. Mungkin, karena realiti berada jauh di dasar, sehingga susah untuk mengailnya. Bahkan, mengejanya saja terpatah-patah.
Lalu, apa yang membuat aku hidup? Harap, meskipun cemas.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Mengurus Hati
Mengapa saya mengikuti pengajian kitab kuning di musala pondok di pagi hari? Mengasah bahasa adalah menajamkan pikiran melihat hidup. Apa ya...
-
Pemilik buah catur hitam adalah Zumi. Untuk permainan kedua, adik Biyya ini memenangkannya. Dengan demikian, ia akan bermain lagi karena per...
-
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Biyya minta mampir ke pasar mini untuk membeli roti. Saya pun menunggu di warkop yang menyediakan empa...
-
Kami datang sebelum acara bermula. Pak Yuli mengundang warga untuk mensyukuri perkawinan anak lelakinya. Pak Sofi mengantarkan undangan pada...
No comments:
Post a Comment