Tahun yang lalu, mahasiswa dan staf konsulat berbuka puasa dengan duduk di kursi, tetapi sekarang mereka lesehan, duduk di atas tikar plastik. Seperti tampak dalam gambar, bapak yang berbaju putih adalah Mr Moenir Ari Soenanda, konsul jenderal, yang didampingi beberapa mahasiswa, Noval, Hamimu, Yatno, Heri, Syukri dan Rizal. Sementara di depannya, Isyam, Pak Wahyu, Pak Kasim, Wahyu dan Faisal, saya tak tahu pasti sebelum Pak Wahyu, berkopiah hitam. Sambil menunggu bedug, tepat azan Magrib, kami bertukar cerita. Sementara di ujung sana, beberapa mahasiswa juga melakukan hal yang sama.
Ditingkahi rinai hujan, kami akhirnya berbuka dengan menu yang beranekaragam, seperti kue, kurma, kolak dan aneka jenis minuman. Rizal, mahasiswa Teknologi Industri asal Palembang, melantukan azan. Saya pun mengambi kue dan kurma tiga biji dan air jeruk kotak. Tak lama kemudian, kami pun bersiap-siap berjemaah magrib. Dr Ali Jamhuri, doktor Manajemen asal Malang, menjadi imam Maghrib. Kira-kira 10 menit, sembahyan bersama usai. Lalu, tuan rumah, Pak Moenir, mengundang jemaah untuk merayakan ulang tahun yang ke-54 dengan memotong kue coklat, yang sebelumnya didahului doa oleh Dr Ahmad. Di sela-sela pemotongan kue, para jamaah secara spontan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Meriah! Blitz kamera berpendaran. Tanpa menunggu lebih lama lagi, orang nomor satu di perwakilan Indonesia Pulau Pinang ini meminta jamaah untuk menyantap hidangan, berupa gule kambing, opor ayam, sayur, ikan, dan beragam jenis menu yang lain.
Di sela-sela berbuka, kami pun berbincang banyak hal, politik, ekonomi, pariwisata dan tentu lelucon yang dimulai oleh Pak Moenir dengan cerita pihak Imigrasi yang melarang turis Madura memasuki Perancis, khawatir Menara Eiffel Perancis tumbang. Sebelumnya, beliau bercerita tentang kesukaan masyarakat Pulau Garam ini terhadap besi. Lalu, Syukri, yang katanya bisa berbahasa Jawa, Batak dan Aceh, menimpali dengan cerita lucu lain. Mereka bersahut-sahutan dengan banyak cerita. Namun, Kumandang Isya membubarkan acara santap malam itu. Jamaah bersiap-siap menunaikan shalat Isya dan tarawih, yang dipimpin oleh Nuhung, mahasiswa PhD bidang Sejarah Islam asal Sulawesi. Akhirnya, malam penuh berkah itu diakhiri siraman rohani, istilah yang digunakan oleh Pak Purnomo, staf konsulat, untuk ceramah agama oleh Dr Ahmad, Postdoctoral Research Fellow Universitas Sains Malaysia dengan Tema Empat Asas Menjadi Muslim yang Baik.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Ruang Terbuka Hijau
Lalaport adalah salah satu mal terbesar di Bukit Bintang City Centre. Di sini, kita bisa menemukan banyak kedai makan dari pelbagai rasa dan...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ke negeri Temasek, kami menikmati nasi padang. Kala itu, tidak ada poster produk Minang asli. Pertama saya mengudap menu negeri Pagaruyung ...
No comments:
Post a Comment