Selain soda gembira, kami menikmati minuman kopi ini kala kos dulu. Coklat granul? Ah, saya pun tak tahu dari mana dan bagaimana ia dibuat. Itulah awal kami menyesap qahwah dengan tambahan rasa lain. Ayah saya hanya perlu bubuk dan gula untuk merasakan kehangatannya. Itu pun biji itu ditumbuk sendiri oleh ibu.
Sekali-kali. Kata yang hakikatnya hendak menghadirkan ingatan. Apalagi, rokok Djarum eceran bisa dibeli di depan warung kos Sapen, tak jauh dari asrama Putera IAIN. Kala itu, kami berpikir revolusi, kini tidak. Sebelum mati, kami akan menjalani detik demi detik sehari-hari di mana pikiran dan perasaan diuji dengann sengit. Tidak lagi langit, tetapi bumi, tempat kita bertukar cerita apa adanya.
Apa yang dipikirkan tokoh Tempo ini, seperti Bivitri Susanti, Agus Widjojo, Yanuar Nugroho, Arif Maulana, tentang rumah, keluarga, dan tetangga, dan akhirnya manusia dan alam. Saya pun mafhum bila Bivitri menyoal militerisme karena ini terkait dengan kesejahteraan dan kelestarian, bukan?
Pagi ini, saya pulang ke rumah setelah mengantarkan dua anak dan istri ke sekolah. Di kediaman, saya mendengar lagu Radiohead dari The New Radio untuk mengerti Amerika. Lalu, saya memasang telinga Sinar Radio sebab bulan depan kami akan ke Semenanjung. Tetapi, hidup itu lagi-lagi soal detik demi detik membawa diri di rumah, tempat bekerja, dan lingkungan tempat kita bermastautin.
Aha, saya menggali tanah untuk mengubur sisa makanan agar mengurangi beban TPA, mengumpulkan bekas botol air mineral, mematikan semua lampu dan mencabut kabel agar tidak menjadi beban watt, dan mencuci pinggan dan cawan secara manual. Dengan mengisi masa sesederhana ini, saya merasa telah melakukan sesuatu yang benar. Dalam falsafah, kala berbuat baik, kita akan mendapat bonus, yakni bahagia.
Alahai, Yang Tersayang dari Amelina dan Iwan mengalun. Dangdut itu mendatangkan kesenangan karena ia lahir dari tanah sendiri. Kita tak perlu membayarnya mahal untuk menikmatinya. Sebab jika seseorang menaikkan diri dengan selera tinggi yang dibeli, ia tak paham apa yang dijalani. Kepahaman melahirkan pengetahuan dan tindakan.
Alamak, Aku Hanya Serangga oleh Bumiputera Rockers. Dua kata terakhir ini menarik, karena sebenarnya tidak ada jati diri tunggal. Kala menyebut anak bumi, kita juga anggota dari bumi yang lain. Mengidentifikasi diri dengan satu kumpulan, tak berarti kita mengisolasi diri dari tanda liyan. Betapa naif keaslian dan kemurnian? Ini melayangkan saya ke lantai 10 kamar asrama Tekun USM, kala Azim membawakan lagu-lagu BPR. Bukan begitu Pak Dolok Lubis?
Mengapa lagu Rahmat Hanya Segenggam Setia menggambarkan lirik-lirik lagu kita tentang penderitaan, namun masih tegak di atas nilai. Meskipun ditinggalkan, lelaki itu tidak rela jika kekasihnya disakiti? Secara metafora, kebaikan itu tetap dilakukan, apa pun balasannya. Sebab, kebajikan tertinggi itu berpijak di atas keikhlasan. Klise, bukan?

No comments:
Post a Comment