Marcus Cicero, filsuf Romawi, menukas tentang kesempurnaan hidup dengan memiliki perpustakaan dan taman. Erich Fromm, filsuf dan psikolog, membedakan antara memiliki (have) dan mengada (being) berhubung manusia dan benda. Kalau eksistensi kita berada pada being, kita tak perlu memiliki taman untuk menikmati keindahan, cukup luangkan waktu pergi ke taman yang berjarak dari rumah kita, lalu meraup udara segar yang bertempiaran dari pucuk bunga dan pepohonan. Demikian pula dengan perpustakaan, kita akan merasa 'memiliki' dengan hanya menjadi anggota. Pendek kata, sudut pandang kadang mengubah peristiwa dan suasana seakan-akan bagian dari hidup kita yang penuh.
Si kecil pun tak bisa menyembunyikan kegembirannya, tecermin dari wajahnya yang sumringah. Ditemani ibunya, ia berdiri di tepi kolam renang, melihat beberapa anak bermain di dalam air. Sementara, saya merenung di kursi tak jauh dari mereka, betapa orang tua juga menikmati hari libur dengan membaca koran di luar, tetapi tak merampas hak anaknya untuk mereguk udara segar. Lalu, saya telah merancang bahwa pada kunjungan berikutnya saya akan membaca buku baru yang tergeletak di meja, hampir-hampir tak tersentuh. Wow, di bawah pohon dan kicau burung, saya akan menekuri huruf tentang Harapan dan Masa Depan oleh Noam Chomsky. Lalu, saya akan mengitari taman untuk membuat badan ini tak malas bergerak. Ternyata hidup ini sesederhana kita mau meluangkan waktu untuk bergerak dan membaca.
2 comments:
OM, kolam renangnya disebelah mana yaa?? we also love taman bunga garden.
Ibu, Kolam renangnya tak jauh dari tanah lapang, tempat beraktivitas pengunjung.
Ada kolom renang khusus untuk anak-anak, asyik di tengah hutan.
Post a Comment