Dulu ayah mengajak saya ke masjid. Kini saya mengajak Zumi ke Jum'atan. Hal ini juga dilakukan oleh orang lain.
Di sini, setiap individu belajar tak melakukan apa-apa. Tak mudah, malah mengantuk. Ia pun berpindah untuk merebahkan kepala di haribaan.
Kita pun yang dewasa mencoba melewati takhalli, tahalli, dan tajalli. Kalaupun sulit, setidaknya kita tepekur, berusaha merasa cukup dgn diri sendiri. Dgn tak menempelkan aksesoris, lencana, dan benda lain untuk mengada, kita telah mengenali diri sendiri. Jika diri asli yang hadir, Tuhan juga berada di situ.
Saya sempat terlelap sekjepa. Sadar, ketika jamaah bersiap sedia untuk bersembahyang. Kelelapan ini begitu nikmat.
Ket: Foto diambil sebelum khotbah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Jendela
Dulu, rumah warga memiliki jendela yang lebar sehingga udara bisa keluar masuk dengan mudah. Kediaman menjadi ruang yang nyaman karena tidak...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...

No comments:
Post a Comment