Monday, April 20, 2026

Encik Syafi'i

Di sela mencari pesanan Biyya, teh tarik, saya ngobrol dengan Pak Syafi'i, pemandu tur. Beliau berasal dari Johor. 

Saya pun berucap, Encik sungguh beruntug. Jalan-jalan dapat bayaran, sementara kami mengeluarkan wang. Lelaki paruh baya ini pun tertawa riang. 

Di kedai oleh-oleh Success S9 ini, kami juga bertemu dengan banyak orang yang berasal dari rombongan turis Indonesia. Setelah itu, kami pun pergi ke Batu Caves, yang hanya berjarak sepelemparan tombak. 
 

Bukit Bintang


Di manakah puncanya derita? 'Ku sendiri tidak pasti, Sayang. Lirik ini dipopulerkan oleh Rahmat Ekamatra dalam nomor Siapa Dirimu. Saya menikmatinya secara tak sengaja kala keluar dari mal Sungei Wang. Sebelumnya saya mengecek toko buku yang ada di mal melalui Google. Ternyata Popular tercatat di sini. Toko buku Gramedianya Malaysia ini dulu sering kami kunjungi untuk mencari buku. 

Ternyata setelah berkeliling, toko ini telah tutup. Lalu saya melangkah ke luar dan belok kiri sambil melihat banyak pelancong yang hilir mudik di sepajang Jalan Bukit Bintang. Di perempatan inilah, saya menikmati lagu di atas. Sungguh menyenangkan! Ada dua bule perempuan yang tampak mengikuti rentak lagu yang dimainkan. Tak lama kemudian, ada seorang ayah dan putrinya yang juga duduk menikmati nyanyian. Ia berasal dari India. 

Karena pukul 21.00 kami harus balik ke penginapan, saya pun beranjak ke depan mal. Kata Rhoma Irama, Pesta Pasti Berakhir. Kami pun kembali ke Chow Kit, tempat kami menginap. 

Monday, April 13, 2026

Pagi

Kita bisa mereguk udara segar dan menikmati semburat jingga. Sambil merentangkan tangan, kita menarik napas dalam-dalam untuk meraup oksigen sebanyak mungkin. Seusai subuh, Pak Slamet dan Pak Warno jalan kaki menyusuri kampung. Saya bertemu di depan rumah Pak Haris kala gelap masih menggelayuti kampung.

Tadi, saya pun sempat melewati masjid sebelah kuburan yang menggelar istighatsah. Sang imam mengirim fatihah ke banyak tokoh. Ada tiga orang ibu yang duduk di teras mengikuti kegiatan ini. Setiap orang merayakan batinnya.
 

Warung Wapo

Kemarin, kami menikmati mie ayam di warung Wapo. Sambil menunggu istri dan anak perempuan, saya minta si bungsu untuk berswafoto. Tak lama kemudian, keduanya datang dan menunjukkan grup WA keluarga. Alamak, Zumi belum terdaftar karena penyuka Dinosaurus ini belum punya nomor.

Kini grup WA menjadi ruang maya kami, yang mendekatkan pikiran dan perasaan. Selain itu, ia adalah media pembelajaran bagi Biyya dan Zumi untuk mengungkapkan apa yang hendak disampaikan.
 

Kunci

Kunci tidak lagi semata-mata alat untuk membuka pintu, laci, atau brankas. Ia kini membawa gantungan, yang membawa banyak kenangan. 

Zumi memperolehnya dari teman-teman sekolah Namira. Mereka telah berbagi sejak dini untuk bertukar cerita. Dunianya adalah pengalaman yang perlu dikuak agar meraih makna. Kemarin ia juga membawa oleh-oleh yang diberikan pada kawan-kawan sekelasnya. 

Dari sini, mereka membuka jendela dunia. Kemarin Biyya juga membeli gantungan berupa Menara Kembar yang diberikan pada teman-temannya sepulang dari Kuala Lumpur. 
 

Sunday, April 12, 2026

Kebiasaan

Ternyata apa yang dulu, 26 April 2014, saya lakukan tersimpan di Twitter, sekarang X. Seringkali seusia subuh, saya pergi ke toko koran dan mampir ke kedai canai Mak Long depan perumahan Taman Siswa Jitra. 

Hal serupa juga dilakukan oleh banyak pensiunan yang baru salat berjemaah di Masjid Muttaqin tak jauh dari warung. 

Kini, pagi adalah mengantar anak ke sekolah dan menyesap kopi di rumah saja. 

 

Saturday, April 11, 2026

Menjelang Kelahiran Zumi

Inilah satu-satunya buku yang saya bawa untuk menunggu kelahiran si bungsu di Kedah Medical Center. Alhamdulillah, pelayanan di sini prima. 

Kami bertiga gembira dengan kehadiran anggota keluarga baru. 

Semoga Zumi nanti membaca detik-detik dan suasana sebelum ia lahir. 
 

Kawan-Kawan Zumi

Zumi, Muhammad, Ruzbihan dan Bayat mampir ke rumah Muhammad (kiri) seusuai salat Jum'at. Mereka teman satu sekolah. 

Mereka tumbuh dalam tradisi yang sama, yang akan menjadi bekal nanti melihat hidup. 

Sekolah adalah ruang berbagi dan mengerti. 
 

Thursday, April 09, 2026

Belajar Bahasa

Apa bahasa Jawa dan Madura, "I am hungry"? Tanya Biyya. Kami berdua pun menjawab.

Aku ngelleh. Sengko' lapar. Bahasa Ibu anak adalah Melayu karena ia lahir di Pulau Pinang dengan dialek yang khas. Kakek angkat adalah seorang Tionghoa Malaysia yang mengajari matematika. Batas?

Makcik adalah orang Jember yang kawin dengan orang Tionghoa Malaysia. Kepergiaannya merupakan kehilangan karena dari tangannya Biyya jgua mendapatkan kasih sayang.

Kenangan


Ketika belajar di USM, kami tinggal di rumah flat, lantai 13, Bukit Gambir. Tetangga depan adalah pakcik dan makcik yang menjadi orang tua angkat kami. Biyya tampak bahagia bisa bertemu dengan neneknya. Pulau Pinang penuh kenangan. Makcik Sri dan Pakcik Yusuf menjemput kami di rumah sakit umum daerah kala Biyya lahir. Kami merasa memiliki keluarga di tanah seberang.

Kenangan

Kami bersama Pak Adrian Budiman dan dosen-dosen tamu UUM dari Amerika dan Jepang sedang makan siang di Thailand, yang hanya berjarak hitungan menit dari kampus dalam rimba ini.

Di sebelah saya, Ken, adalah dosen yang hangat. Di samping Pak Adrian adalah Rie Nakamura yang begitu menikmati makan siang bersama.

Setiap keluarga memiliki ingatannya masing-masing. Meskipun berbeda kami bisa bersama di meja makan.

Kebiasaan


Ia lahir di Pulau Pinang. Penikmat Aurora ini pertama kali belajar Iqra' di Kedah, termasuk membaca Latin di Prasekolah Smart Reader Kid. Setelah itu, penyuka jazz ini belajar baca novel pada Ms ガレリ ヌードス di UUM IS, yang berlanjut sehingga hari ini.

Sekarang, penyuka lagu Ramlee telah membaca Qur'an besar sebagaimana teman-teman sebayanya. Di sekolah mereka juga terbiasa dengan salat berjemaah.

Kebiasaan adalah watak kita. Keseharian adalah wujud pikiran kita, bukan?


Makna Kata

Ketika membahas naiknya nabi ke langit, "sidratul muntaha", Biyya menukas "it does not make sense". Lalu, saya menimpali bahwa ia bisa bermakna simbolik, bukan literal. Ia pun paham karena teman-teman sekelas dulu di UUM IS sering melafalkan "literally" dalam sebuah percakapan.

Pelan tapi pasti, Biyya dan temannya akan berpikir pada aras kritis, di mana kata memiliki setidaknya dua arti, yakni dasar dan relasional. Dengan menghadirkan banyak pandangan, mereka akan menelusuri jalan pikirannya sendiri seraya menimbang pikiran orang lain.

Akhirnya, masing-masing menjalani apa yang dianggap benar dan praktis.
 

Tuesday, April 07, 2026

Wisuda


Pesan di WAG The Gank berbunyi, "Congratulations, Kak Biyya. You have achieved the best in your Qur'anic learning." Ada 83 siswa siswi yang mendapat syahadah yang sama. Generasi kitab suci itu revolusioner, tidak lagi melihat Al-Qur'an sebagai hiasan dan bacaan. 


Pesan Habib Anis Al-Habsyi dalam sambutan penutup menegaskan bahwa hamilul Qur'an merangkumi pengetahuan terhadap lafal, pengertian makna, dan pelaksanaan amal. Setiap tradisi, apa pun sumbernya, penalaran atau wahyu,  berujung pada tindakan dengan bahasa yang berbeda.

Dari pengalaman inilah, Biyya dan teman-teman senantiasa mempelajari kitab suci sebagai pedoman (Hudan). 

Monday, April 06, 2026

Lebaran 1447 H

Lebaran berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Seusai warga bersembahyang id, kami berdua beranjangsana ke rumah tetangga. Dengan saling mengunjungi kami saling berbagi cerita. 

Dari kebiasaan ini, kami mempunyai kata yang sama, yakni saling memaafkan lahir dan batin. Tahun ini suara mercun tak seramai tahun-tahun sebelumnya. 

Kami merasakan pagi yang hangat dengan udara yang segar. Suasana seperti ini sangat menyenangkan. Sebentar lagi, siang menjelang. Masing-masing berteduh di rumah tempat orang-orang beristirahat. 
 

Encik Syafi'i

Di sela mencari pesanan Biyya, teh tarik, saya ngobrol dengan Pak Syafi'i, pemandu tur. Beliau berasal dari Johor.  Saya pun berucap, En...