Semalam saya berbagi kiat kepenulisan dengan santri mahasiswa semester awal. Seronok, malam-malam mereka masih bersedia berdiskusi.
Saya ingin mereka nyaman dgn suasana kelas. Seraya berdiri dan sekali waktu mendekati untuk bertanya jenis tulisan yg mereka minat, saya berharap mereka telah menabung untuk berkarya.
Setidaknya, menulis itu mengabadikan apa yang dialami, dipikirkan, dan dirasakan. Dgn kebiasaan ini mereka telah menjaga jarak dari kenyataan. Tantangan terbesar adalah menjaga ritme untuk menekuri buku catatan yang kosong agar penuh dgn coretan.
Keduanya bisa disuburkan dengan membaca. Ghufron ternyata telah mendaras buku berat. Ini modal besar untuk membuka jalan baginya untuk menjadi penulis. Setelah acara, ia membacakan puisinya.
Untuk itu, saya meminta mereka untuk menghasilkan karya dan membahas bersama saya dan dosen lain di kampus.