Kita tak lagi bicara hal yang rutin, apakah puasa diawali pada hari yang sama oleh dua ormas keagamaan atau tidak, tetapi bulan Ramadan selalu menyuguhkan kenaikan harga barang karena harga permintaan melonjak? Bukankah inti puasa adalah menahan diri, mengapa orang cenderung menambah porsi? Mengapa ia bukan bulan peduli?
Tulisan lama ini masih relevan atau atau ada gagasan baru? Puasa menjadi jati diri dan penyeragaman sebagai wujud dari pembakuan (standardization). Dunia sosial menjadi "terbakukan" sehingga kehilangan dinamika, kejutan, dan potensi untuk yang benar-benar baru. Kenyataannya, puasa hanya jeda dari kehidupan biasa, makan di siang hari diganti ke malam, sedangkal ini. Tetapi, kita menyoal tidak lalu menolak untuk menahan makan dan minum di siang hari, bukan?
Akhir-akhir ini, pujian di masjid berkumandang agar kami mendapatkan keberkahan bulan Rajab dan Sya'ban dan menyampaikan kami ke bulan Ramadan. Bila jauh-jauh hari hendak memasuki puasa, kita telah membiasakan diri untuk meraup esensi pesannya, menahan diri.

No comments:
Post a Comment