Friday, September 11, 2009

Sebuah Jalan Keluar dari Kesalahpahaman


Kontan, 11 September 2009

Ahmad Sahidah

Alumnus Program Doktor Falsafah Universitas Sains Malaysia

Peristiwa sweeping orang Malaysia di Jalan Diponegoro memantik respons Menteri Kebudayaan Malaysia Dr Rais Yatim. Beliau yang berdarah Minangkabau menegaskan bahwa negeri serumpun itu tidak akan melakukan hal yang sama. Untuk kesekian kalinya petinggi negara tetangga berusaha untuk menghindari konflik yang lebih besar. Sebelumnya, para pemimpin elit yang lain, Najib dan Muhyidin, perdana menteri dan wakilnya, juga berharap agar hubungan Indonesia dan Malaysia tidak memburuk akibat ulah segelintir pendemo di depan kedutaan besar Malaysia di jalan Rasuna Said yang membakar bendera Jalur Gemilang dan melempar telur busuk.

Berita menggeparkan di atas dilansir oleh Bernama, Kantor Berita Malaysia, yang dimuat di surat kabar lokal, Utusan, Sinar Harian dan portal Berita Malaysia Kini beserta gambar segelintir warga yang tampak menegakkan spanduk dan yang lain memegang bambu runcing (di sana disebut buluh runcing). Tak lama, berita ini telah memantik respons di facebook. Di jejaring sosial ini, berita protes Indonesia terhadap negara Malaysia menyerbu masuk tanpa disaring sebagaimana kebanyakan Media Malaysia. Namun, koran Kosmo! (9/9/09) yang mengutip kembali berita Bernama memberi judul yang agak lain, Samseng Indonesia Ancam Warga Malaysia dengan Buluh Runcing. Samseng adalah kata Malaysia untuk preman atau gangster. Sebuah pilihan kata yang memberi pesan tersirat pada pembaca di sana.

Sweeping Berulang

Ulah segelintir orang di atas mengingatkan tindakan yang sama oleh Aksi sweeping Laskar Islam Surakarta yang terdiri dari Brigade Hizbullah dan Laskar Jundullah ke sejumlah hotel berbintang di Solo untuk mencari wisatawan mancanegara (Wisman) asal Amerika Serikat (AS) buntut protes mereka terhadap kepongahan negara Paman Sam itu. Serta merta pihak kepolisian memberikan peringatan keras bahwa tindakan semacam dianggap bertindak main hakim sendiri. Namun perlakuan yang sama tidak berlaku untuk pelaku yang menamakan diri Benteng Demokrasi Rakyat (BENDERA).

Sebagaimana dimuat dalam situs Bernama, BENDERA bertindak liar dengan mengancam warga Malaysia di jalan Diponegoro. Tampak, pemilihan diksi telah menggambarkan dengan gamblang psikologi pelaku. Meskipun tindak acaman ini dilakukan hanya segelintir orang, namun berita ini telah menyebar di seantero Malaysia. Ketika kebanyakan media di negara serumpun itu telah menganggap selesai kasus Tari Pendet dan harapan dari pemimpin tertinggi Malaysia sendiri yang tidak ingin kasus ini menyeret kedua negara kepada pertikaian yang lebih besar, tiba-tiba aksi sweeping kelompok yang menggelar dirinya BENDERA telah menyulut kembali perseteruan.

Herannya, ulah mereka tampak dibiarkan. Pihak keamanan yang sepatutnya bisa mengambil tindakan cepat tampak kelu. Demikian pula, petinggi Republik yang tidak bersuara keras mengutuk aksi provokatif warganya, berbeda dengan hal yang sama ketika dilakukan terhadap warga Amerika Serikat yang akan dikasari oleh sebuah kelompok Islam. Tentu, masih segar dalam ingatan para petinggi militer kadang bersuara lantang menempalak Malaysia, namun diam seribu bahasa jika berhadapan dengan Amerika.

Jalan Baru

Inisiatif Rais Yatim mengundang wartawan cetak dan televisi dari Indonesia ke Kuala Lumpur dalam sebuah acara buka puasa bersama tentu langkah bijak mengatasi konflik seperti ini. Dengan tegas menteri yang pernah menjalani masa kecilnya di Sawahlunto itu menyatakan bahwa Malaysia akan bekerjasama sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur dalam bidang kebudayaan. Pada masa yang sama secara retorik bekas Menteri Luar Negeri di Era Pak Lah, panggilan akrab Abdullah Badawi bertanya, salahkah imigran dari Bugis, Jawa, Riau, Jambi, Palembang dan daerah lain mempraktikkan budayanya di Malaysia? Sementara Cina dan India tidak pernah memprotes meski kebudayaannya dipraktikkan oleh orang Malaysia dari kedua ras tersebut?

Sekarang, kedua negara seharusnya merintis jalan baru untuk menghapus penghalang kerjasama keduanya yang sebenarnya telah berjalan baik. Bagaimanapun, konflik semacam ini akan menjadi duri jika tidak diakhiri oleh keduabelah pihak. Kerjasama kebudayaan mungkin jalan keluar yagn baik di mana masyarakat di antara kedua negara bisa mengenal akar yang sama, kebudayaan Nusantara. Lebih jauh dari itu, ikhtiar kerjasama masyarakat memerlukan keterlibatan media Indonesia agar kesalahpahaman tidak berbuah pertengkaran. Jika dulu Ir Soekarno menggelorakan slogan Amerika kita setrika dan Inggeris kita linggis, mengapa kita melakukan langkah mundur dengan selalu mengajak perang tetangganya sendiri?

Thursday, September 10, 2009

Malam Kebudayaan Indonesia


Sparkling Indonesia akan digelar untuk kedua kalinya pada 2-3 Oktober 2009. Acara malam kebudayaan Persatuan Pelajar Indonesia ini merupakan kegiatan rutin tahunan untuk memperkenalkan wajah Indonesia di kampus. Sebelumnya, acara serupa, Inaweeks turut melakukan hal yang sama. Namun, panitia juga memasukkan acara musik lokal dengan mengundang Bunkface sebagai wujud silaturahmi. Pada Sparkling 1 mereka menampilkan The Times, band lokal yang juga gape bermain musik.

Tentu, perhelatan ini sangat penting di tengah perseteruan kedua negara, Indonesia-Malaysia, memuncak. Kabar terakhir, Khairi Jamaluddin, Ketua Pemuda UMNO, partai terbesar di negeri jiran, berucap, "Don't test our patience" (The Star, 10/9/09). Nada kemarahan ini muncul karena rakyat Indonesia tidak memahami bahwa Orang Malaysia juga sensitif dan marah jika negaranya dicerca. Apatah lagi, bendera kebangsaannya dibakar. Berbeda dengan pemimpin lain, seperti Rais Yatim, yang cenderung tampil kalem dengan mengusulkan kerjasama kebudayaan antara kedua negara.

Mungkin, panitia acara Sparkling juga bekerja lebih keras untuk melibatkan sebanyak mungkin organisasi lokal untuk menjalin silaturahmi pada acara tersebut. Ia tidak semata-mata promosi kebudayaan yang mempunyai sifat narsis, tetapi lebih jauh menyemai nilai-nilai kemanusiaan hakiki, persaudaraan. Hakikatnya, kehadiran Bunkface sebagai band lokal telah menunjukkan ikhtiar merajut kembali hubungan yang hampir retak karena ulah segelintir orang.

Sunday, September 06, 2009

Buka Bersama Mahasiswa

Acara bertajuk Majlis Berbuka Puasa Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Sains Malaysia digelar di DUP A dan B. Mereka yang duduk di kursi adalah Zulheri, Ahmad, Hilal, Yatno, Andre dan Toni. Sementara yang berdiri di belakang adalah Ismed asal Padang dan Herpandi, Palembang. Dalam acara ini, mahasiswa S1, S2, dan S3 tumplek blek. Kesempatan seperti ini kembali menautkan hubungan kekeluargaan yang telah direnggut oleh rutinitas. Dengan hanya sumbangan RM 5 (Rp 15 ribuan), acara sederhana ini diwujudkan, sebagai mimpi merekatkan kebersamaan.

Silaturahmi di Konsulat


Ramadhan tak hanya menyemai berkah, tetapi silaturahmi melimpah. Gambar di atas adalah mahasiswa dan warga Indonesia yang sedang menanti azan Magrib, pertanda buka puasa. Tak hanya orang dewasa, anak-anak turut meramaikan acara mingguan ini. Suasana ini mengingatkan saya waktu kecil ketika berlarian bermain menunggu bedug ditabuh dimasjid. Kesempatan seperti ini adalah waktu yang baik para pelajar dan pekerja Indonesia menjalin silaturahmi.

Seperti biasa, berbuka di konsulat dimulai dengan mengasup kolak, kurma, bakwan dengan cabe rawit (cili padi), dan aneka makanan ringan yang lain. Lalu, kami bersama-sama menunaikan shalat berjamaah maghrib. Sesudah itu, kami pun menyerbu hidangan yang telah disiapkan, daging, ayam, sayur, krupuk udang, sambel dan yang menyenangkan tempe mendoan. Buah-buahan juga disediakan untuk menyudahi makan berbuka.

Shalat tarawih pun digelar setelah mereka menunaikan shalat Isya. Disusul kemudian dengan ceramah oleh Pak Mohammad Nuh, mahasiswa PhD bidang sejarah yang mengulas bagaimana menjalani puasa dengan baik. Hanya 15 m, mahasiswa asal Makasar ini menyampaikan pengajian. Tanpa menunggu lebih lama, kami pun bersalam-salaman satu sama lain yang dilakukan dengan berjalan melingkar. Praktis, setiap jamaah bisa berjabat tangan satu sama lain sambil melantunkan shalawat.

Saturday, September 05, 2009

Jalan Tengah 'Membaca' Pesan Tuhan

Dr Ahmad Sahidah

(Pengajar Peradaban Islam dan Asia, KDU College)

Salah satu keistimewaan Ramadhan adalah hari ke-17, peristiwa Nuzul Quran, turunnya kitab suci yang ditujukan bagi kemaslahatan manusia. Peringatan demi peringatan hadir untuk menyucikan kehadiran buku pedoman Muslim tersebut. Khotbah demi khotbah diperdengarkan untuk menyanjungnya sebagai kitab segala zaman. Tak ada seorang Muslim pun yang meragukan hal tersebut. Namun, para sarjana liberal menyoal kemutlakan tafsir terhadap teks (baca: nash) yang diterakan. Sementara pada waktu yang sama, para pembela 'makna' harfiah menggelorakan permusuhan pada pemahaman kontekstual, dengan menyebut gagasan mereka sebagai sesat, bidah, dan tak jarang divonis halal darahnya.

Perseteruan di atas bukan sesuatu yang baru. Para sahabat sendiri kadang berselisih paham tentang makna sebuah ayat. Padahal, mereka merupakan komunitas yang paling dekat dengan kehidupan Nabi dan bahu-membahu dalam mewujudkan sebuah masyarakat kenabian (prophetic society). Bisa dibayangkan, generasi selanjutnya akan semakin dihadapkan dengan kemungkinan perbedaan pembacaan karena mereka mengalami penjarakan yang cukup jauh. Lebih-lebih, yang terakhir ini tidak mengalami konteks ayat yang dipahami sehingga teks (baca: ayat Alquran) menjadi barisan huruf yang polisemi.

Petunjuk manusia
Telah diketahui umum bahwa Alquran diturunkan untuk menjadi petunjuk (hudan) bagi manusia. Namun, sebagaimana ditegaskan dalam surat Albaqarah (ayat 2-5), pedoman itu diperuntukkan bagi orang yang bertakwa (lilmuttaqin), yaitu orang yang beriman pada yang gaib, bersembahyang, dan mengeluarkan derma. Selain itu, mereka juga mempercayai kitab yang telah diturunkan pada nabi-nabi sebelumnya, Zabur, Taurat, dan Injil, serta meyakini adanya hari akhir (akhirat). Dengan petunjuk ini, manusia akan mendapatkan keberuntungan. Sekilas, susunan kalimat yang padat ini tampak terang benderang, namun hakikatnya ia mengandaikan sebuah uraian yang tidak ringkas.

Bagaimanapun, pemahaman terhadap ayat di atas tidak bisa diringkas menjadi satu kesimpulan, tanpa mengaitkan dengan ayat-ayat lain di dalam Alquran sehingga ditemukan satu pemahaman, yang mengandaikan satu pandangan hidup (weltanschauung). Relasi ayat dengan ayat lain adalah salah satu cara memahami pesan secara utuh. Di sinilah, para pembaca tak lagi terpaku pada satu penjelasan, namun juga dituntut untuk menemukan pengertian kata kunci, seperti gaib, shalat, akhirat di ayat lain. Pada akhirnya, dalam analisis semantik Toshihiko Izutsu, fokus kata tertinggi adalah Allah, yang menyinari seluruh pengertian semantik kata-kata penting di dalam Alquran.

Dari pendekatan di atas, pemahaman terhadap Alquran tak lagi bersifat atomik, sepotong-sepotong, tetapi tematik (maudhu'i), bersifat menyeluruh. Pemahaman seperti ini diharapkan akan memenuhi maksud 'Tuhan', meskipun tidak mutlak, tetapi mengandaikan pengertian yang seimbang. Dengan demikian, pengertian ketakwaan tak lagi dipandang sebagai sosok yang mengasyiki ibadah di rumah Tuhan, tetapi lebih jauh mencintai Tuhan dengan mencintai manusia. Adalah aneh jika ada segelintir orang membela Tuhan, tetapi pada masa yang sama menggelorakan kekerasan pada manusia atas nama tafsir kebenaran terhadap firman-Nya.

Skala prioritas
Sebenarnya, dari ayat yang menegaskan kitab suci sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa, siapa pun secara sederhana bisa mencerap isinya. Apakah lagi, dalam keseharian tanda-tanda ketakwaan itu mudah dilihat dan diamalkan. Malangnya, betapa banyak orang yang menyatakan diri Muslim, menunaikan shalat, berderma, dan percaya pada akhirat, namun kenyataannya, di negeri ini, keberuntungan sebagai manusia tak kunjung diraih. Tidakkah ini berarti manusia itu gagal mencerap makna sebagai orang bertakwa sehingga selalu dirundung kerugian?

Oleh karena itu, pemahaman terhadap ayat shalat dalam Albaqarah, misalnya, harus dikaitkan dengan surat Al-Ma'un, yang menegaskan kesia-siaan sembahyang tanpa disertai kepedulian terhadap orang-orang terpinggirkan, anak yatim, dan fakir-miskin. Pemahaman munasabah ayat bi al-ayah (hubungan antarteks) telah lama diperkenalkan dalam ilmu-ilmu Alquran. Namun, sayangnya, kebanyakan proses pembelajaran keagamaan menekankah tanda kesalehan pada ibadah tertentu (shalat) dan mengabaikan ibadah lain (derma). Celakanya lagi, kalaupun yang terakhir ditekankan, sikap kedermawanan lebih ditegaskan sebagai bentuk keprihatinan karikatif, yaitu dorongan untuk memberi sedekah, zakat, dan infak hanya sebatas kewajiban itu sendiri.

Falsafah filantropi dalam dunia Islam belum menjadi sebuah kesadaran Muslim. Sehingga, mereka gagal memahami makna tersirat dari kewajiban menyantuni orang papa dan pada masa yang sama menyucikan harta. Tujuan dari sikap dermawan itu adalah bukan pada keutamaan tangan di atas (metafor memberi) semata-mata, tetapi bagaimana tetangga tidak 'kelaparan'. Demikian pula, menyucikan harta bukan berarti jalan pintas untuk membersihkan kekayaan yang diperoleh dari penyalahgunaan kekuasaan, misalnya. Lebih jauh, keduanya bisa dipahami bagaimana kedermawanan itu menyelesaikan masalah kemiskinan dan mendorong manusia untuk selalu menimbang cara pemerolehan harta yang baik. Oleh karena itu, gagasan zakat produktif adalah layak untuk dikembangkan.

Sekarang, betapa sangat erat kaitan shalat, yang mengandaikan hubungan manusia-Tuhan, dengan kepedulian sosial, yang memperlihatkan relasi harmonis antarmanusia. Kesempurnaan satu kewajiban mengandaikan pelaksanaan kewajiban lain adalah suatu pandangan yang tidak memisahkan antara hak Tuhan dan hak manusia. Lalu, apakah mungkin mewujudkan hubungan ideal ini tanpa otoritas dan kekuasaan? Di sinilah, pangkal perseteruan kelompok di atas bermula. Apakah ajaran agama itu bersifat ideal-etik atau empiris-praktik?

Betapa pun keduanya berbeda mengenai cara bagaimana mewujudkan sebuah hubungan ideal manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya, sejatinya, keduanya mengandaikan sebuah ide pembebasan. Harus diakui model keduanya sama-sama dianjurkan dalam kitab suci. Masalahnya, keduanya enggan untuk bertemu dan mencari jalan tengah. Padahal, pada masa yang sama, kitab suci mengandaikan pembacaan yang terakhir sebagai jalan keluar dari sifat ideal dan kenyataan yang selalu mengalami ketegangan.

(-)

Sumber: Republika, 5 September 2009

Menjernihkan Konflik Serumpun


Oleh: Ahmad Sahidah

Sumber: Jawa Pos, 27 Agustus 2009

DUA tulisan tentang isu pencaplokan tari pendet oleh Dewa Gde Satrya berjudul Klaim Tari Pendet oleh Malaysia (Jawa Pos, 24/8/09) dan Siti R. Susanto berjudul Konflik Klaim Kebudayaan (25/8/09) mengandaikan isu lama tentang keranjingan negara tetangga kita itu mencuri hasil kebudayaan Indonesia. Tentu, kasus tersebut menyeret tuduhan sebelumnya seperti batik, lagu Rasa Sayange, dan reog Ponorogo serta menambah keyakinan khalayak di sini untuk menista saudara serumpunnya sebagai maling.

Benarkah gambaran tersebut? Benarkah negara bekas jajahan Inggris itu mencuri karya Indonesia untuk diakui sebagai miliknya? Di antara sederet karya, yang sering dikemukakan diklaim adalah batik. Padahal, menurut Wan Hasmah, mahasiswi PhD di Universitas Teknologi Mara (UiTM), Malaysia mengakui batik itu berasal dari Indonesia sebagaimana dijelaskan dalam sejarah usul yang dipatrikan di Museum Batik Negara Malaysia.

Lebih jauh, Majapahit sebelumnya memberikan hadiah batik kepada Kerajaan Melaka. Bagaimanapun, jika ditilik dengan cermat, corak batik Malaysia berbeda dari Indonesia, baik motif maupun bahan. Masalahnya, karena banyak warga dan keturunan Indonesia di sana, batik-batik tersebut mendapatkan permintaan yang besar dan menyerbu masuk tanpa bisa dicegah, sehingga melalui celah itulah ''peniruan'' mungkin terjadi.

Persoalannya, apakah salah keturunan Jawa di Malaysia memanfaatkan karya nenek moyangnya untuk digunakan sebagai identitas, sedangkan pada waktu yang sama mereka telah mengalami naturalisasi sebagai warga Malaysia?

Mengapa kita tidak pernah mendengar gugatan orang Jawa terhadap budaya gamelan yang dimainkan orang Suriname keturunan Jawa? Salahkah orang Malaysia keturunan Bugis mengakui epik Galigo sebagai miliknya, mengingat perdana menteri yang sekarang, Najib Tun Razak, adalah keturunan Bugis yang telah menjadi warga negara di negeri serumpun tersebut?

Jawaban pertanyaan itu tentu tidak hanya berupa ya dan tidak. Sebab, batas-batas tersebut menjadi cair setelah pengalaman hubungan kedua negara ini sering naik-turun.

Kerja Sama dan Konflik

Kalau dirunut ke belakang, sejak Kerajaan Majapahit dan Melaka, perselisihan telah meruyak. Namun, pada masa yang sama, bagian dari dua negara ini juga pernah bahu-membahu bekerja sama melawan liyan. Misalnya, Aceh membantu Kedah, negeri utara Malaysia, melawan Siam (sekarang Thailand).

Bukan hanya itu, hubungan mesra tersebut telah memungkinkan orang Aceh diberi tanah untuk dihidupkan, seperti di Pulau Pinang, jauh sebelum Francis Light, asal Inggris, pada 1786 menyulap pulau mutiara itu menjadi kota modern. Dari hubungan tersebut, banyak keturunan Aceh yang berkewarganegaraan Malaysia berhasil dalam segala bidang. Misalnya, bisnis, politik, dan akademis.

Malahan, pada zaman prakemerdekaan, 1920-an, Tan Malaka menyusuri tanah Semenanjung untuk bersama-sama pegiat kemerdekaan lokal melawan penjajah. Rustam A. Sani, sosiolog terkemuka keturunan Minangkabau, dalam buku Social Roots of the Malay Left (2008) menulis dengan terang benderang bagaimana kaum kiri Indonesia, Djamaluddin Tamin, Tan Malaka, Budiman, Sutan Djenain, Alimin, dan Mohammad Arif, menggelorakan pergerakan orang Melayu setelah revolusi Jawa dan Sumatera dipadamkan Belanda. Dari pertautan itu, lahirlah Kesatuan Melayu Muda yang dikenal sebagai pemprakarsa perlawanan terhadap kolonialisme melalui gerakan bersenjata.

Selanjutnya, tidak aneh jika konflik muncul antara dua negara ini, masyarakat terbelah. Contoh yang paling jelas adalah penolakan almarhum Hamka, novelis dan ulama, terhadap gagasan konfrontasi Presiden Soekarno karena bukan saja alasan agama, tapi juga sejarah hubungan Minangkabau dengan Negeri Sembilan yang sangat erat.

Negara yang terakhir itu layaknya salinan fotokopi dari induknya, yang kata Hamka dulu disebut Melayu, bukan Menang Kerbau, satu sebutan yang digagas Belanda. Dukungan Jawa tentu lebih total pada Ganyang Malaysia karena tak mempunyai hubungan historis seperti Minang, meski pengaruh Jawa sangat kuat karena pada masa Kesultanan Demak banyak prajurit yang dikirim ke Melaka untuk melawan Portugis.

Teori Mimesis

Teori tersebut mengandaikan bahwa seseorang merasa kehilangan sesuatu ketika barang miliknya diambil atau dipinjam orang lain. Keadaan semacam itu sering terjadi pada anak kecil.

Apakah kasus tari pendet mencerminkan teori itu? Siapa pun bisa mencocokkan atau malah mengajukan teori lain untuk menyangkalnya. Secara umum, seseorang akan meradang jika miliknya diambil orang lain.

Masalahnya, kepemilikan tersebut berkaitan dengan hasil kebudayaan yang mengandaikan sejarah penciptaan yang rumit. Misalnya, tari pendet. Bukankah unsur-unsur Hindu begitu kuat di dalamnya yang notabene merupakan warisan India kuno?

Hakikatnya, kedua negara ini mengandaikan pengalaman sejarah panjang yang berjalin kelindan, berbahasa Melayu sebagai lingua-franca dan berlatar belakang alam Nusantara sebelum akhirnya terpisah menjadi dua negara berdasar warisan batas teritorial penjajah, Belanda dan Inggris.

Dalam karya Tuhfah al-Nafis Raja Haji Ali diterangkan betapa orang-orang Bugis telah melakukan penetrasi kepada kesultanan Melaka, sehingga memberikan warna kebudayaannya. Demikian pula, Aceh pada masa kerajaannya telah menjajah negara bagian Malaysia sekarang. Karena itu, tak ayal banyak kebudayaan negeri Serambi Makkah tersebut dipraktikkan di buminya yang baru.

Dalam teori mimesis juga dijelaskan, bahkan walaupun barang yang dipinjam saudaranya itu sudah tak diperlukan, si pemilik ''boneka'' tersebut merengek karena ternyata boneka itu terasa begitu penting, itu pun setelah digunakan orang lain. Tampak, kasus klaim Malaysia terhadap karya ''Indonesia'' mengandaikan keadaan seperti itu.

Masalahnya, setelah barang tersebut dikembalikan oleh saudara yang lain, apakah si pemiliknya akan merawat atau malah menelantarkannya dan disimpan di gudang?

Jauh dari sekadar hiruk-pikuk ini, tidakkah ini bisa dilihat sebagai keberhasilan kreativitas bangsa Indonesia melakukan penetrasi kebudayaan pada negara tetangganya, sebagaimana dilakukan India dan Tiongkok terhadap Malaysia. Sederhana, bukan? (*)

*) Dr Ahmad Sahidah, dosen Peradaban Islam dan Asia, KDU College Pulau Pinang, Malaysia

Tuesday, September 01, 2009

Sekolah Usai


kwitansi (di sana disebut resit) di atas adalah jaminan pribadi (personal bond) yang dibayarkan ke universitas pertama kali saya mendaftar sebagai mahasiswa. Tak banyak, RM 500 atau sekitar Rp 1, 5 juta. Untuk mengambilnya di kantor keuangan kampus, saya harus melampirkan surat bebas pustaka, surat keterangan kampus kalau diwisuda dan tentu membubuhkan nomor rekening Bank. Ada banyak tanda di kertas yang sudah mulai menguning karena sudah berusia hampir 5 tahun, seperti BCA, USD dan lain-lain. Ia menyimpan cerita panjang.

Sekarang, setelah ijazah di tangan, yang hanya selembar itu, sekolah kehidupan tentu lebih menantang. Ternyata sekolah belum usai. Sekarang, saya berjibaku untuk mendapatkan tanda lulus sebagai manusia. Rapor masih centang perenang. Ndilalah, saya merampungkan sekolah menjelang Ramadhan. Inilah awal untuk menjalani kelas baru, belajar menahan diri, sebuah disiplin yang kadang tak ditemukan dari angka 100 yang diterakan dalam nilai rapor dalam subjek apa pun (baca: grade).

Kelas baru bukan lagi kutipan kalimat para pemikir, ujian yang harus dilalui, atau penulis tesis yang menyita waktu sehingga membuat dahi berkerut, tetapi bagaimana mewujudkan kata-kata indah dalam buku itu menjadi wajah diri dalam hubungannya dengan manusia di sekitar, alam, dan Tuhan yang selayaknya ada pada bilik hati yang sangat rahasia. Aha, ternyata bacaan yang bejibun itu tumpul menghadapi keadaan sekitar yang menyerimpung, misalnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang tak sejalan dengan predikatnya sebagai penjaga alam. Sepatutnya saya mengambil inisiatif untuk memulai menciptakan keadaan yang mendorong mereka peduli di lingkungan saya paling kecil, flat tempat tinggal.

Mungkin langkah kecil, seperti tadi pagi, ketika saya membeli minuman dan koran, saya bilang "tak memerlukan plastik", adalah pembelajaran diri. Apa susahnya membawa sejumlah barang pulang tanpa harus menggungakan plastik? Lalu, diam-diam, saya menunjukkan kesadaran itu tanpa liyan menyadari. Oh ya, kuasa itu juga penting. Saya sedang mempertimbangkan itu untuk memaksa orang lain melakukan hal yang sama.

Agama di Pagi Hari

Kondektur memberitahu bahwa bus PO Harapan Baru yang saya tumpangi telah sampai di depan terminal Tawangalun, Jember. Saya pun turun dan men...