Mengingat telepon genggam tidak mengaktifkan data internet, saya memilih membuka buku kecil yang dibawa, sebagaimana juga dilakukan di depan sekolah anak sambil menunggu bubaran.
Menilik kembali buku lama, yang dibeli di toko Borders Queens Bay, 22 Januari 2017, saya bisa mendaras ulang filsafat yang ditulis secara populer. Alan Stephen, seorang guru dan penulis lepas, menyuguhkan filsafat dalam bentuk sederhana (in a nutshel).
Menariknya, dia memulai buku ini dengan cerita di usia enam tahun ketika berada di rumah orang tuanya. Di sini ada mainan kereta yang memiliki sebuah terowongan yang menembus dua gunung dan dua stasiun. Kereta ini sering mengalami kerusakan, tetapi ketika berfungsi, dia sangat menikmatinya. Dari pengalaman tersebut, ia berpikir bagaimana sesuatu bisa bekerja atau tidak bekerja, pada waktu-waktu tertentu tetapi tidak pada waktu lain.
Tanpa menyebutnya sebagai momen eureka, tiba-tiba dia menyadari bahwa dia melakukan percakapan dengan diri sendiri dengan mengajukan pertanyaan, menganalisis, mempertimbangkan pelbagai kemungkinan, dan merasa kebingungan. Nah, dari kisah ini anak-anak sesungguhnya telah mulai berpikir sejak kecil dan ini perlu ruang untuk menyuburkan rasa ingin tahu itu.
Apa mungkin percakapan kita sehari-hari mendorong anak-anak menyemai pikirannya seperti dialami oleh Stephen? Sambil mencari jawaban, saya mendengar radio Suara Muslim FM Surabaya melaulu pengarusan (streaming), yang sedang menyiarkan cerita tentang keseharian anak-anak oleh Kak Fifi. Melalui rekaman Whatsapp, kisah Zio yang bangun pagi dan salat subuh dan mengaji bersama serta berjalan-jalan dengan sepeda untuk menyambut matahari pagi. Temanya terkait dengan tidak terburu-buru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

No comments:
Post a Comment