Thursday, October 08, 2009
Grafiti di Kuala Lumpur
Monday, September 28, 2009
Masjid Terapung
Dengan jendela dan pintu di sana-sini, angin laut berhembus. Setelah salat, saya sempat berdiri di pagar melihat anak-anak bermain bola volley (di sana disebut tampar) di depan rumah susun. Mereka tampak riang. Malah ketika bolanya terbang jauh, jatuh ke laut, serta merta salah seorang dari mereka berlari untuk mengambilnya, tanpa memerhatikan onggokan batu yang dijadikan pagar penahan ombak. Namanya juga anak kecil. Tampak perahu ditambat oleh nelayan, tenang, karena ombak tak menghempas.
Di beberapa sudut masjid, tampak semacam gazebo, yang dilengkapi dengan kursi beton. Mungkin, inilah tempat yang mengasyikkan untuk menjaring ilham atau iseng menghabiskan waktu sore, sambil menunggu matahari yang akan tenggelam dan menyemburatkan warna jingga. Tak lama, saya pun beranjak untuk pulang, seraya membawa sepotong riang. Lagi-lagi, sepanjang jalan keriangan itu tak ilang-ilang, karena lagu-lagu lembut itu membelai ubun-ubun.
Tuesday, September 22, 2009
Ceramah Idul Fitri yang Menghibur
Monday, September 21, 2009
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Kami mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Mungkin, Tuhan memaafkan kekhilafan kami, namun di tangan Anda, kesalahan itu luruh, tak berbekas. Gambar di atas adalah peristiwa biasa, tapi bagi kami istimewa. Inilah untuk pertama kalinya, kami merayakan hari kemenangan. Si kecil masih berusia 6 bulanan. Seperti warga Indonesia yang lain di Negeri Jiran, kami pun bergambar bersama setelah sebelumnya bersalaman, saling memaafkan. Para pegawai konsulat, pekerja migran, mahasiswa menyatu, menikmati kebersamaan. Berbeda dengan tahun yang lalu, hari itu langit cerah, meski agak mendung sebelum shalat Id ditunaikan. Pas jam 8.39, matahari menyembul, melimpahkan sinar ke bumi.
Acara sembahyang idul fitri dimulai dengan sambutan Pak Karnadi Kasan Sarji, yang diikuti Pak Moenir Ari Soenanda, Konsul Jenderal. Kemudian, Pak Arbi, melantunkan ajakan shalat. Tiba-tiba, suasana senyap. Ratusan orang sepertinya terkunci. Hanya takbir sang imam memecah kesunyian. Setelah usai, imam yang juga bertindak sebagai khotib, berdiri memulai khotbah. Ustaz Maulana Siregar membuka dengan takbir. Jamaah tampak larut dalam setiap kata yang dilontarkan, selain tampak lugas juga diselipkan banyolan. Tak jarang, tawa kami berderai ketika dengan dialek Batak, khotib yang sengaja diundang dari Jakarta ini menceritakan kisah Ibrahim dan Ismail, sebagai latar dari asal-muasal laungan takbir, tahlil, dan tahmid.
Di sela-sela ceramah, sang ustaz juga menyentil jasa para pekerja. Mereka adalah duta bangsa, yang akan merawat nama harum negara. Sebelumnya, Pak Moenir menyajikan data bahwa pulangan (remittance) TKI berjumlah 15 triliun, sebuah angka yang cukup besar untuk mendongkrak nadi perekonomian kampung mereka. Ya, pekerja migran merupakan jamaah terbesar pada masa itu. Meski mereka telah menyumbangkan devisa, tambah ustaz, nasibnya tetap sengsara, sebuah ungkapan yang memantik tawa.
Thursday, September 17, 2009
Dilarang Tidur dalam Surau
Sunday, September 13, 2009
Menjual Yogya pada Negeri Jiran
| Sumber: Kedaulatan Rakyat, 27 Agustus 2009 Iklan bertajuk Jalan-jalan ke Yogyakarta hampir setiap hari mengisi celah (slot) acara berita Bulletin Utama TV 3, Malaysia. Malah, kadang juga muncul pada program lain, seperti Wanita Hari Ini. Sebelumnya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menjual Jakarta dalam rangka Visit Indonesia 2009, lalu pesona kota Budaya ini hadir dihadapkan penonton Malaysia. Malioboro, Batik Plentungan, Ambarrukmo Plaza, SPA hotel, dan Pasar Beringharjo menjadi situs yang ditawarkan. Bahkan, artis yang menjadi ikon iklan, Adibah Nor, juga turut menjual Borobudur, meski disebut sebagai situs wisata dari Jawa Tengah. Cara cerdik untuk menambah daya tarik. Tentu, dengan sudut pengambilan gambar yang baik, suasana Yogya begitu hidup, akrab dan nyaman di mata. Saya pun yang pernah lama tinggal di kota Gudeg ini takjub karena kota yang panas jika musim kemarau ini tampak elok dan mempesonakan. Objek yang dipilih, seperti Pasar Beringharjo dengan pelbagai barang jualan yang dikatakan murah tentu akan menarik pelancong (sebutan turis di sana). Dengan iringan gamelan, suasana magis juga turut hadir. Pencitraan Yogya sebagai kota tujuan wisata memang luar biasa. Belum lagi kemegahan Ambarrukmo Plaza yang menandakan pusat belanja untuk kalangan menengah-atas. Citra tradisional dan Modern sama-sama ditonjolkan. Merebut Peluang Tulisan wartawan Utusan Malaysia (15/8/09) yang ngepos di Jakarta Borhan Samah, tentang penandatanganan kerja sama Malaysia dan Indonesia di Yogyakarta pada 8 Agustus 2009, yang menyatakan persetujuan untuk mempromosikan paket wisata baru, Paket Pariwisata Warisan United Nations Educational, Scientific, Cultural Organization (UNESCO) adalah kabar menggembirakan. Tidak hanya memuat tentang soal jalan-jalan tetapi juga pengakuan kuli tinta tersebut terhadap kedudukan ekonomi Indonesia yang lebih baik karena menunjukkan pertumbuhan positif, dibandingkan dengan negara tetangganya yang minus. Malah dengan tegas, dia menerangkan bahwa Indonesia adalah pemain penting di kawasan Asia Tenggara dalam usaha keluar dari krisis. Paket wisata diatas mengambil konsep 1, 2, 3 yaitu satu tujuan, dua buah negara dan tiga tempat tujuan wisata akan mempromosikan Borobudur di Yogyakarta dan dua lokasi warisan UNESCO yaitu Pulau Pinang dan Melaka di Malaysia. Tentu dengan paket ini Yogyakarta akan menuai limpahan turis dari dua daerah wisata terkenal Malaysia. Melaka sebagai bekas ‘peradaban Portugis dan Penang sebagai situs warisan Inggris. Kebetulan pada yang terakhir saya telah mengunjungi tempat-tempat yang dimaksud dan perhatian pihak terkait cukup besar untuk merenovasi dan memperbaiki pelayanan dan fasilitas publik. Pemerintah mengucurkan dana berlimpah untuk membuat warisan itu tampak cantik dan layak dinikmati. Paket ini mendapatkan dukungan 16 agensi pariwisata dan maskapai penerbangan Air Asia Malaysia, yang dikenal sebagai peneraju tiket murah. Tentu, peluang ini perlu disambut agensi-agensi lain yang tidak terlibat dan seluruh pihak terkait yang berkait dengan pariwisata, seperti perhotelan, transportasi, pusat kerajinan, perusahaan lokal dan restoran. Mengacu pada iklan yang ditawarkan, Yogyakarta telah menempatkan dirinya sebagai kota tujuan yang unik. karena menawarkan apa yang tidak diberikan tempat lain dengan pelayanan yang prima dan memuaskan. Namun semua ini akan sia-sia jika tantangan di bawah ini tidak diperhatikan oleh stakeholders pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Menjawab Tantangan Mungkin, peluang di atas tidak akan bisa dimanfaatkan secara maksimal jika fasilitas publik yang lain tak dipikirkan. Contohnya, pembenahan fasilitas pintu masuk, bandara. Pengalaman saya menggunakan pesawat Air Asia dari Kuala Lumpur-Yogyakarta patut mendapat perhatian pengelola bandara Adisucipto. Bagaimanapun, bandara adalah pintu masuk yang bisa dijadikan awal yang manis bagi setiap pengunjung suatu daerah. Sebagaimana diketahui, maskapai Air Asia menggunakan bandara sendiri, Low Cost Carrier Terminal (LCCT) Kuala Lumpur International Airport, namun fasilitas yang ada di dalamnya cukup memuaskan. Toilet luas dan selalu bersih karena petugas kebersihan selalu siap siaga. Berbeda dengan bandara utama, KLIA Sepang, yang dibangun pemerintah dengan standar kelas dunia, LCCT lebih mengutamakan kenyamanan dengan bahan bangunan bandara yang tidak mahal. Namun, di sini para penumpang dimanjakan dengan langit-langit yang menjulang tinggi, bandingkan dengan bandara Adisucipto yang berplafon rendah. Demikian pula, ruang tunggu keberangkatan yang membuat penumpang merasa sesak karena sempit dan atap-atap langit hampir menyentuh kepala. Belum lagi, pengunjung harus berdiri ke luar bibir bangunan ketika menunggu di konter imigrasi pada waktu kedatangan. Jika hujan, tak ayal mereka akan bertempiaran. Kesan pertama seperti ini tentu akan menjadi kabar buruk bagi mereka untuk bercerita keindahan kota Pelajar tersebut. Ketika itu, empat orang turis Malaysia dan satu Amerika sepakat untuk patungan taksi. Akhirnya mereka dapat angkutan jenis Kijang yang akan mengantarkan mereka ke Malioboro, meski bukan taksi resmi. Berbeda dengan bandara negara bagian Penang, Malaysia, tempat saya tinggal, kita hanya perlu ke konter untuk membeli tiket taksi sesuai tujuan. Lalu, hanya sekian langkah kita menuju angkutan yang dimaksud tanpa harus kasak-kusuk karena terlalu banyak sopir taksi gelap. Situasi seperti ini akan mengganggu kenyamanan. Pihak terkait harus mengambil langkah tegas untuk membuat suasana di pintu depan bandara tertib dan nyaman.
Dengan kata lain, kota Mataram ini tidak hanya digambarkan sebagai tempat turis melepaskan hajat badani, tetapi juga rohani. Masih banyak tempat-tempat yang mengandalkan legenda, seperti Candi Prambanan yang justru tidak ditonjolkan dalam iklan, Parangtritis yang menyimpan misteri Nyi Roro Kidul. Jadi, pihak terkait harus bisa menawarkan cerita-cerita agar turis Jepang dan Tionghoa yang banyak berkunjung ke Melaka dan Penang akan menemukan sesuatu yang membekas dalam benak dan hati mereka. Semoga! q - o. (1507-2009). *) Dr Ahmad Sahidah, |
Saturday, September 12, 2009
Langkawi dan bebas Pajak
Di sela-sela sosialisasi pemilu 2009 kemarin, saya sempat mengunjungi restoranSinggah Rasa. Terletak di salah satu pusat keramaian Langkawi, ia telah menjadi tempat warga Indonesia mengasup makan. Pak Karno, pemiliknya, adalah pengusaha yang telah puluhan tahun mengumpulkan ringgit di Langkawi, Kedah. Keakraban pemilik warung asal Lamongan ini dengan pengunjung mungkin menjadi salah satu daya tarik dari warung makan ini.
Di sebelah kedai ini, berjejer puluhan toko yang menjual pelbagai barang keperluan yang murah karena bebas pajak. Saya pun membeli coklat dan beberapa barang yang lain. Namun, ternyata, tidak semua barang yang dijual lebih murah dibandingkan dengan Semenanjung. Beberapa item justeru lebih mahal. Dettol yang berukuran kecil lebih mahal sekitar RM 2-3, demikian pula sabun lifebuoy. Namun, yang patut diacungi jempol adalah pemerintah Malaysia yang berhasil menjadikan pulau kecil itu sebagai pusat pelesiran. Dengan fasilitas umum yang baik, siapa pun akan merasa nyaman berkunjung ke pulau yang sangat terkenal dengan Legenda Mahsuri ini.
Saya sempat makan siang di kantin Bandara. Dari lantai dua saya bisa melepas pandangan ke bawah yang dipenuhi restoran dengan tempat yang luas. Belum lagi langit-langit gedung yang menjulang tinggi sehingga siapa pun tak akan merasa pengap. Tampak juga beberapa turis dari negara Timur Tengah sedang duduk melepaskah lelah. Beberapa di antara memakai burqa, pakaian yang menutup hampir seluruh tubuh. Setelah makan, saya bersama teman, Noval, beranjak keluar untuk menuju lokasi pemasyarakatan pilihan presiden.
Agama di Pagi Hari
Kondektur memberitahu bahwa bus PO Harapan Baru yang saya tumpangi telah sampai di depan terminal Tawangalun, Jember. Saya pun turun dan men...
-
Pemilik buah catur hitam adalah Zumi. Untuk permainan kedua, adik Biyya ini memenangkannya. Dengan demikian, ia akan bermain lagi karena per...
-
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Biyya minta mampir ke pasar mini untuk membeli roti. Saya pun menunggu di warkop yang menyediakan empa...
-
Kami datang sebelum acara bermula. Pak Yuli mengundang warga untuk mensyukuri perkawinan anak lelakinya. Pak Sofi mengantarkan undangan pada...