Dengan jendela dan pintu di sana-sini, angin laut berhembus. Setelah salat, saya sempat berdiri di pagar melihat anak-anak bermain bola volley (di sana disebut tampar) di depan rumah susun. Mereka tampak riang. Malah ketika bolanya terbang jauh, jatuh ke laut, serta merta salah seorang dari mereka berlari untuk mengambilnya, tanpa memerhatikan onggokan batu yang dijadikan pagar penahan ombak. Namanya juga anak kecil. Tampak perahu ditambat oleh nelayan, tenang, karena ombak tak menghempas.
Di beberapa sudut masjid, tampak semacam gazebo, yang dilengkapi dengan kursi beton. Mungkin, inilah tempat yang mengasyikkan untuk menjaring ilham atau iseng menghabiskan waktu sore, sambil menunggu matahari yang akan tenggelam dan menyemburatkan warna jingga. Tak lama, saya pun beranjak untuk pulang, seraya membawa sepotong riang. Lagi-lagi, sepanjang jalan keriangan itu tak ilang-ilang, karena lagu-lagu lembut itu membelai ubun-ubun.
1 comment:
Kapan kita bisa shalat di masjid itu, ya?
Salam silaturahim dari pekalongan, pak.
Post a Comment