Meskipun tak sepenuhnya mengikuti uraian ustaz Faizal, saya bisa membayangkan kandungan penjelasan karena asas-asas itu adalah pelajaran yang didapat di pondok pesantren Annuqayah dahulu kala. Meski sekarang, saya perlu memberikan kata-kata baru untuk istilah teknis yang diberikan oleh para ahli fiqh. Demikian pula, adalah perlu dibuat perbandingan agar komunikasi berjalan lebih mulus. Kaedah yang dimaksud mungkin bisa disejajarkan dengan axioma Immanuel Kant, filsuf Jerman. Namun, pensejajaran semacam ini riskan menimbulkan masalah karena sebagian mereka tak menyukai filsafat. Apa boleh buat.
Seperti biasa, selepas pengajian, kami pun beranjak ke warung pecel lele, Batu Uban. Selain makan siang, saya juga menyerap kabar dari si empunya. Pak Darmo seringkali bercerita tentang perkembangan politik mutakhir. Pemilik warung ini pun tahu bahwa SBY akan berkunjung ke Kuala Lumpur dalam waktu dekat. Aha, perjumpaan ini seperti buku dengan ruas. Katanya, kedua negara akan berbincang masalah tenaga kerja. Sebuah persoalan yang tak kunjung usai hingga kini. Di sana pula, kami pun berjumpa dengan Pak Zainal bersama karibnya. Hari Sabtu yang menyenangkan, tentu.
No comments:
Post a Comment