Nomor R.E.M Supernatural dari radio 88.5 FM merupakan senarai main (play list) pagi ini. Band musik asal Athens, Georgia, mengingatkan saya masa kecil. Samar-samar, saya pernah melihat posternya di rumah Suparto.
Kala itu poster dan kaset adalah barang mewah. Di rumah, bapak dan ibu hanya memiliki album Rhoma Irama dan lagu-lagu qasidah. Dari sini saya merasa nyanyian Latief M tentang Idulfitri sangat menyentuh. Semuanya bergembira.
Kini, semuanya hadir begitu saja dalam kesadaran estetis. Saya memandangnya bunyi dan kata itu adalah cara manusia untuk memahami dunia. Setelah ditelusuri, lagu Losing My Religion tidak dapat dipahami secara harfiah tetapi percakapan khas daerah asal penyanyi yakni kehilangan kendali atau frustrasi hingga ke titik puncak.
Di komentar Youtube, saya terpaku pada kesaksian ini: This is my dad's song, he has been diagnosed with alzheimer's since 2015 and he is now nonverbal, hardly knows who I am, can't form sentences but we play this for him and he is mouthing some of the words and trying to sing, the power of music
.
Akhirnya, saya memutar Latief M dengan Lebarannya, yang sangat jelas membawa saya di jalan kampung di antara rumah Bu Umik Laila dan Pak Zainal kala lagu itu terdengar dari TOA Lo' Songai. Pertanyaannya, mengapa masa kecil itu menyenangkan? Apa kita harus menjadi kanak-kanak kembali agar hidup tertanggungkan?
Di sini, justru menjadi dewasa adalah berperan sebagai orang tua yang melayani anak-anak dan menjadi warga yang baik agar lingkungan tempat kita tinggal menjadi ruang yang menyenangkan bagi generasi alpha dan Z.

No comments:
Post a Comment