Mengapa saya mengikuti pengajian kitab kuning di musala pondok di pagi hari? Mengasah bahasa adalah menajamkan pikiran melihat hidup. Apa yang ada di benak kita dari kutipan dari kitab Mau'izhah al-Mu'minin ini: فعافية القلب اعلى من عافية البدن ?
Di bawah ini, saya melukiskan pengalaman mengikuti pengajian kitab selanjutnya, Syarh al-Hikam.
Mengurus Hati
Dalam pengajian Syarh al-Hikam, kami mengikuti bacaan Kiai untuk memahami pengertian kata, kalimat, dan meraih makna. Di halaman 30, kitab anggitan Muhammad bin Ibrahim ini mengulas soal hati. Inilah pusat yang menjadi penerang hidup manusia. Jika rusak, maka seluruh tubuh dan amal perbuatannya pun turut gelap. Uraian di bawah ini adalah pemahaman saya terhadap gagasan yang diterakan dalam kitab.
Kerusakan akibat kegelapan di sini disebabkan oleh banyak sifat-sifat tercela, yang setidaknya ada banyak prilaku yang menjadikan hati manusia keras, seperti sombong (ٱلْكِبْرُ), bangga diri (ٱلْعُجْبُ), dan pamer (ٱلرِّيَاءُ). Sifat terakhir ini ke belakangan sering muncul di media sosial dan televisi melalui pelbagai acara. Flexing, kata populer asal Inggris, sering didengar terkait kegemaran pesohor memamerkan hobi, rumah, dan mobil. Istilah yang lebih khusus untuk sifat ini dalam kitab tersebut adalah ٱلْمُبَاهَاةُ, pameran kemegahan.
Tentu, di era teknologi informasi, warga terpapar pada banyak godaan, baik material maupun hiburan melalui pelbaga sumber, seperti gawai dan televisi. Kini, ketenangan manusia tampak terlihat dari kegemarannya berselancar di lini masa untuk bertukar kabar dan menonton konten di TikTok, Youtube, dan Snack Video. Mereka memelototi layar selama berjam-jam tanpa tahu apa yang seharusnya dinikmati. Kegemaran ini bisa menyebabkan sifat buruk lain, yakni ٱلْغَفْلَةُ عَنِ ٱللَّهِ, lalai dari Allah. Betapa banyak orang memilih tetap memelototi telepon pintar kala azan berkumandang. Padahal ini adalah panggilan Tuhan.
Selanjutnya, pemenuhan kewajiban itu tidak menjadi satu-satunya tindakan yang dilakukan sebagai cara merawat hati, justru keimanan itu ditunjukkan dengan peduli pada orang lain. Meremehkan orang fakir (ٱسْتِحْقَارُ ٱلْفُقَرَاءِ) termasuk budi pekerti yang buruk. Tak pelak, nabi berdoa agar hidup dalam keadaan miskin, wafat dalam keadaan miskin dan berkumpul di hari kiamat bersama orang miskin.
Sementara, terkait dengan keadaan diri, sifat yang perlu dielakkan adalah cepat marah atau temperamental (ٱلْحِدَّةُ). Ini bertentangan dengan konsep emotional quotient (EQ), yang menekankan kecerdasann emosional. Untuk itu, di tengah tantangan kehidupan yang semakin kompleks, manajemen marah (anger management) mendesak untuk diajarkan pada generasi milenial, malah alpha. Anak-anak kini mudah meluapkah amarah hanya karena koneksi gawainya lambat atau tidak bisa mengakses internet.
Keadaan ini juga terkait dengan sifat lain, tergesa-gesa (ٱلْعُجْلَةُ), yang menyebakan generasi baru enggan melalui jalan panjang untuk meraih tujuan. Pelayanan serba instan, baik jasa maupun produk, turut menyumbang pada keinginan manusia untuk segera memenuhi hasrat dalam waktu yang relatif cepat, yang justru menjadikan hati ini keras (ٱلْقَسْوَةُ). Tentu, keadaan tersebut juga menimpa generasi tua yang juga tergelincir pada pemenuhan tujuan serba kilat.
Dari sekian sifat buruk itu, individu menghalangi dirinya untuk sampai ke maqam ‘ubudiyyah hingga ia membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela di atas. Alangkah absurd, kala ia melakukan ibadah salat, puasa, dan naik haji, tetapi masih menyimpan keburukan dalam batinnya. Betapa sia-sia!
Thursday, November 05, 2026
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Mengurus Hati
Mengapa saya mengikuti pengajian kitab kuning di musala pondok di pagi hari? Mengasah bahasa adalah menajamkan pikiran melihat hidup. Apa ya...
-
Pemilik buah catur hitam adalah Zumi. Untuk permainan kedua, adik Biyya ini memenangkannya. Dengan demikian, ia akan bermain lagi karena per...
-
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Biyya minta mampir ke pasar mini untuk membeli roti. Saya pun menunggu di warkop yang menyediakan empa...
-
Kami datang sebelum acara bermula. Pak Yuli mengundang warga untuk mensyukuri perkawinan anak lelakinya. Pak Sofi mengantarkan undangan pada...
No comments:
Post a Comment