Sunday, March 24, 2013

Mengubah Masyarakat Melalui Kampus

Hampir sebulan berlalu, saya masih menyimpan dengan baik kehadiran orang nomor 1 di Sumenep ke Universitas Utara Malaysia. KH A Busyro Karim  (bersongkok hitam) diundang oleh Fakultas Hubungan Internasional UUM untuk memberikan pidato ilmiah tentang otonomi daerah.

Secara normatif, lulusan IAIN Sunan Kalijaga ini berhasil menyodorkan halangan, peluangan dan cara untuk keluar dari ketidakberdayaan daerah terhadap pusat kekuasaan yang berhak menentukan besaran kucuran dana. Lelaki kelahiran 1961 ini pun bercerita keberhasilannya menyediakan layanan gratis untuk kesehatan masyarakat, tanpa harus 'ribet' dengan kartu sehat ala Jokowi. Dengan hanya berbekalkan Kartu Tanda Penduduk, warga Songenep bisa berobat dan bahkan pelayanan cuci darah (hemodialysis) juga disediakan.

Lalu, adakah Kabupaten dengan APBD terbesar ke-5 di Indonesia ini telah berhasil menyediakan pendidikan yang baik bagi masyarakatnya? Apakah Pemerintah Daerah bisa membantu petani yang kerap masygul pada pabrik rokok karena ditelikung? Mari berhitung. Belum lagi, infrastruktur yang amburadul telah mengganggu kenyamanan masyarakat, padahal Sumenep berlimpah uang dengan adanya 10 perusahaan minyak dan gas. Masih ingatkah kita beberapa hari lalu kota dihantam banjir? Pendapatan 25 Miliar pertahun dari migas terlalu kecil. Untuk itu, bersatulah warga Songenep untuk menuntut hak royalti lebih besar dari perusahaan itu! 

Tuesday, March 19, 2013

Menanamkan Nilai Melalui Cerita

Lomba bercerita ini adalah kegiatan yang digelar oleh panitia Pesta Buku UUM. Di sebelah area panggung, beberapa tapak penerbit buku memamerkan karya-karya dari pelbagai disiplin keilmuan.

Sejenak saya duduk di kursi untuk menikmati kisah yang dibacakan oleh anak-anak Sekolah Dasar (atau di Malaysia disebut Sekolah Rendah). Cerita Sang Kancil dan Tali Pinggang Sakti adalah salah satu judul cerita yang menarik untuk disimak. Meskipun mereka hanya menghapal, namun secara tidak langsung nilai-nilai yang ada dalam fabel tersebut bisa digunakan untuk mengajarkan anak-anak tentang moralitas.

Menariknya, salah seorang murid tak bisa mengingat cerita, sehingga dengan polos ia menghentikan penceritaan dan kembali ke pangkuan ibunya. Penonton pun tak bisa menahan tawa. Saya pun sempat memerhatikan salah seorang peserta yang membawakan kisah dengan cemerlang. Tidak hanya gaya penceritaan yang enak didengar, ia juga memeragakan gerak tubuh yang sesuai dengan isi cerita. Hakikatnya, cerita itu adalah alat untuk mengurai gagasan dengan indah. Kita bisa memahami ide filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre melalui novel ciptaannya, The Age of Reason. Jadi,  karya novel dan sejenisnya tidak bisa dipandang rendah. Karya fiksi apa yang Anda pernah baca?

Tuesday, March 12, 2013

Filsafat itu Suka-Suka Kita

Di sela acara Musyawarah Tahunan Alumni ke-17 Universitas Sains Malaysia, saya mampir ke toko buku Borders. Alamak! Buku Deepak Chopra berjudul GOD tersenarai sebagai buku filsafat. Kita pun tahu, tokoh yang dikenal sebagai guru dari banyak artis Hollywood ini tidak lebih dari seorang motivator.

Adakah kesalahan ini dilakukan oleh pekerja toko atau memang karya ini layak untuk dipajang di bagian Philosophy? Mungkin, cabang filsafat Metafisika memungkinkan siapa pun untuk berbicara tentang Tuhan sebagai kegiatan pemikiran. Lagipula, kadang kita hanya perlu menerapkan kaedah Sokratik, bertanya, agar isu apa pun bisa dikategorikan sebagai perenungan filosofis.

Di luar urusan dunia ide, toko buku ini tidak lagi di bawah kepemilikan induknya, tetapi dimiliki sepenuhnya oleh Vincent Tan. Tak ayal, di sebuah sudut, warung kopi Starbucks turut hadir. Kita bisa membaca buku seraya menyesap rasa kopi Sulawesi. Sayangnya, perubahan desain interior telah menutup pemandangan pengunjung warung ke Pulau Jerejak dan laut. Boleh jadi, ini sengaja dibuat agar pengunjung tak berlama-lama untuk menghabiskan secawan kopi. Berbeda dengan warung kopi di kampung saya, pengunjung bisa duduk seharian dengan secangkir kopi yang seharga Rp 1000. Meskipun, sering terdengar bahwa pemiliki kedai kopi menggerutu karena seorang pengunjung berlama-lama dan tak membeli apa-apa selain seteguk-dua teguk minuman. 

Monday, March 04, 2013

Menikmati Sate di Rumah (Makan) Sunan Drajat

Lihat logo Rumah Makan Sunan Drajat di kiri atas! Adakah kita bisa menebak isi kepala pemiliknya? Ada tali mengikat bundaran, padi dan kapas, masjid, 9 bintang, masjid, keris dan lele. Hewan bersungut terakhir dan padi adalah penanda paling jelas dari rumah makan ini, tetapi ikon yang lain mungkin menerbitkan tanya, mengapa masjid, bintang dan kapas bisa menerobos sebuah tanda? Petanda apa yang ingin disampaikan dengan lambang ini?

Setelah menelusuri pelbagai titik ruang, saya bisa mengaitkan 9 bintang itu dengan angka magis dalam tradisi NU. Apatah lagi, penanggalan Pengurus NU Lamongan tertempel dengan kokoh di dapur, yang halaman depannya bergambarkan Gus Dur dan Kyai Hasyim Asy'ari. Saya pun mengabarkan cerita ini kepada Mas Kiai Afif Hasbullah, pengasuh Pesantren Darul Ulum, Lamongan, melalui Twitter.

Kami berenam menikmati malam dengan sejumlah tusuk sate dan gulai. Sambil makan, saya melempar pandangan ke seluruh ruangan. Selain asap mengepul dari dapur, saya juga melihat pengunjung yang memenuhi ruangan yang tak seberapa besar. Pak Rafiq, pelayan, menyambut kami dengan riang dan bekerja dengan cekatan. Orang 'NU' yang bekerja seperti Pak Rafiq ini bertebaran di seluruh Semenanjung. Meski jauh, mereka merawat akar dengan baik, agar pohon kehidupannya tak mudah dirampas oleh angin jahat. 

Monday, February 25, 2013

Koran dan Puncak Pengetahuan

Secara kejiwaan, tubuh ini perlu ruang untuk bisa merasa kenyamanan. Ahli desain interior membantu kita. Tentu saja, pendekatannya subjektif, meskipun didasari pandangan-pandangan 'objektif' tentang benda yang terkait dengan hidup manusia.

Surat Kabar Harian Metro ini tidak hanya memuat berita tentang kriminalitas, gosip artis, atau politik, tetapi juga rubrik dekorasi. Adakah ruang kita telah memenuhi standar minimum kenyamanan, lebih-lebih keselamatan?

Selain itu, koran terbesar di Tanah Malaya ini juga memberikan kesempatan pada insan akademik untuk berbagi pandangan, cerita atau pemikiran di rubrik Pena Kampus. Saya pun pernah turut serta  untuk  meramaikan pengetahuan khalayak tentang filsafat sehari-hari (silahkan baca di sini). Betapa pun koran hari ini dianggap bacaan ringan, seharusnya siapa pun harus memikirkan untuk menjadikannya ajang menyederhanakan pengetahuan yang rumit bisa diakses oleh orang ramai. Kata Stephen Hawking, fisikawan, puncak pengetahuan itu adalah pernyataan yang bisa dipahami oleh semua lapisan orang. 

Monday, February 18, 2013

Menjaga Alam Kita

Adakah gambar ini bercerita sesuatu pada Anda? Ya, roti dan Panadol Soluble sedang tergeletak di sebuah meja. Adakah makna lain? Kita tinggal menempelkan sejuta tafsir.

Saya membelinya di toko kampus. Ketika penjaga mau membungkusnya, saya pun berucap lirih, tak payah Kak. Kita kena menjaga alam sekitar dengan mengurangkan tas plastik. Adakah orang lain juga melakukannya, tukas si kakak? Saya berusaha untuk menyampaikan pesan ramah lingkungan ini pada mahasiswa. Mari bersama-sama menyayangi alam yang sudah tua ini.

Dengan tas di tangan, saya tak memerlukan tas plastik. Sebelum pergi, si kakak berpesan, hati-hati, roti boleh lenyek! Tak, pe! Jawab saya. Kadang langkah-langkah kecil itu mendatangkan kesenangan besar. Tak hanya itu, saya juga berusaha untuk mematikan lampu dan komputer ketika beranjak dari ruangan dosen kampus.  Apakah aksimu untuk keselamatan bumi ini? 

Wednesday, February 13, 2013

Makna Indonesia bagi Malaysia

Pendapat yang dimuat di Koran Kontan (12/2/13) ini adalah catatan dan langkah kecil. Kalau  ingin memamahami catatan besar, kita bisa memerhatikan apa yang dilakukan oleh Prof Yusril Ihza Mahendra dan Encik Karim Raslan. Keduanya tidak hanya mengerti hal-ihwal keserumpunan dan hambatan yang membelenggu dua saudara ini, tetapi juga mempunyai akses pada petinggi kedua negeri.

Kita hanya perlu menerjemahkan ide-ide mereka bagaimana kedua negara ini mengucap janji dan mewujudkan amanah dengan bukti. Pendek kata, setiap orang bisa membawakan dirinya sebagai agen yang bisa mengaut keuntungan dari hubungan keduanya, meskipun tidak melulu materi, tetapi juga hubungan yang lebih bersifat emosional-spiritual.

Akhirnya, tantangan yang paling berat dari dua tautan negeri ini adalah rakyat  yang mendiami tanah airnya masing-masing. Merawat kedaulatan pada ujung-ujung adalah memberikan kesejahteraan bagi setiap warga yang ada di dalamnya. Kepalan tangan, teriakan sumpah-serapah dan penumpahan kekesalan pada liyan acapkali tak lebih dari cara kita untuk menutupi kelemahan. Orang yang kuat adalah orang yang mau bekerja untuk mewujudkan gagasan besar tentang kemakmuran, keadilan dan kesetaraan di lingkungannya masing-masing.

Agama di Pagi Hari

Kondektur memberitahu bahwa bus PO Harapan Baru yang saya tumpangi telah sampai di depan terminal Tawangalun, Jember. Saya pun turun dan men...