Saturday, July 02, 2022

Menjadi Muslim Sejati

Resensi buku di Jawa Pos hari ini adalah ulasan yang diringkas dari makalah bedah buku di UIN KHAS Jember dan dimuat di sini: https://pesantren.id/membaca-fenomena-berislam-genealogi.../. Tentu, saya menekankan apa sebenarnya pesan kitab suci tentang menjadi muslim sejati dan sumbangan dari karya Pak Aksin yang utama, yang tidak ada dalam makalah.
Lebih jauh, buku ini sangat relevan dengan tantangan masa kini di tengah semakin kuatnya klaim kebenaran kelompok, politik identitas, dan tuduhan kafir pada liyan. Tetapi, kita tidak bisa menyangkal bahwa perbedaan itu mungkin bersemai dalam satu kumpulan, semisal seorang tradisionalis yang memilih konsep etis Mu'tazilah, bukan bukan Maturidiyah.

Dengan semakin luasnya akses khalayak pada pengetahuan, semestinya sikap masyarakatnya akan terbuka pada perbedaan dan tepa selira. Kitab suci hadir tidak hanya terkait what it means (makna), tetapi what it means for me (signifikansi) dalam Hirschean. Di sinilah, subyektivisme pemahaman pada teks dan pengalaman kental. Tetapi, obyektivisme bisa diraih karena setiap individu akan menumpukan perhatian pada pokok persoalan.

Friday, July 01, 2022

Orientasi Santri Baru

Setelah mengambil foto ini, saya mengikuti acara dengan khidmat. Betapa "bhunga", bahasa Madura untuk gembira, melihat pelajar bersemangat memulai hari bergiat di pondok.
Lima pembawa cara menggunakan bahasa Indonesia, Mandarin, Jepang, Arab dan Inggris sebagai pelaziman agar santri baru untuk sementara tidak menggunakan bahasa ibu. Berlatih dgn bahasa tersebut adalah cara memahami dunia lebih luas.
Akhirnya, bahasa itu sekadar alat untuk meraih makna bersama. Bila saya terpejam menggali kedalaman lagu pujian Muhibbus Shalawat, maka kita bersama sedang merayakan nilai profetik yang otentik, yakni ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman.Untuk menuju yang universal (umum), kita berpijak pada yang partikular (khusus).

 

Thursday, June 30, 2022

Filsafat Kebosanan dan Mahasiswa


Svendsen lebih memilih tipologi kebosanannya Martin Doehlemann daripada Milan Kundera (hlm. 41). Tetapi, mencermati kebosanan aktif Kundera yang berupa kesenangan seorang pada hobi tertentu layak untuk ditimbang.
Ada empat tipe kejemuan: 1. Kebosanan situasional, seperti seseorang yang sedang menunggu orang lain, mendengar kuliah atau naik kereta api (lebih jauh lihat dalam buku "A Philosophy of Boredom").
Kalau hanya ngoceh, saya akan membuat mahasiswa jenuh. Itulah mengapa kaidah diskusi bersama jauh lebih "menantang", lagipula mereka telah "mendengar" sejak Taman Kanak-Kanak. Oleh karena itu, pada pertemuan-pertemuan akhir, kami akan mengulik sebuah teks tentang kata, simbol, dan makna dengan menerjemahkan dari bahasa asal ke bahasa sasaran, lalu mengulasnya sebagai wacana. Masing-masing harus melakukannya dan nanti akan mengikuti kelas lanjutan yang didasarkan pilihan secara sukarela.

Wednesday, June 29, 2022

Jalan Buku

Seorang pembeli membreri tahu di grup WA bahwa buku telah sampai ke alamat. Lalu, ada anggota lain juga memesan karya ini. Alamak! Ia berasal dari Yogyakarta, tempat naskah ini diterbitkan. Malah berkat promosi di Facebook, seorang teman juga meminta untuk dikirimkan ke alamatnya di Sulawesi, meskipun yang bersangkutan masih berada di Turkiye. 

Dua buku terakhir yang akan diposkan akan membuat Zumi senang karena ia akan membayangkan dapat upah membeli kudapan ringan di Basmalah. Semoga Biyya juga masih mau untuk diajak ke kantor ekspedisi JNE. Hitung-hitung, keduanya mengisi waktu liburan panjang. 

Dalam pengantar, saya membubuhkan ingatan bahwa Biyya lahir merupakan berkah karena bahan buku ini berasal dari disertasi yagn diujikan tak lama setelah penyuka Toto Chan ini melihat dunia untuk pertama kalinya. Nah, cangkir itu adalah buah tangan dari mahasiswa, yang mengingatkan saya pada kampung halaman dan warung kopi yang ada di sekitarnya dulu. 

Monday, June 27, 2022

Che Guevara

Che begitu dekat dengan kaum terpelajar. Dia dan temannya berbelanja sayur ke warung sayur di Jalan Tanjung. Di lain waktu, saya juga pernah melihat mahasiswa memakai kaus bergambar Tan Malaka di depan pasar mini Alfamart di Paiton. Mengapa mahasiswa suka orang-orang revolusioner?.

Lalu, apa makna kehadiran dua tokoh Kiri itu di Paiton, Probolinggo? Saya melihat gambar Che juga ditempel di dinding bambu warung kopi tidak jauh dari kampus. Saya pernah hadir di sini untuk menemani mahasiswa berdiskusi pemikiran Jean Paul Sastre. 

Apa pun, tokoh-tokoh itu hidup pada zaman dan tempat yang berbeda. Semangatnya mungkin perlu ditimbang, tetapi cara dan strategi jelas tidak sama untuk membebaskan warga dari belenggu. Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh mahasiswa tatkala nasi jagung bungkus naik dari Rp 5000 ke Rp 6000 dan bakpao dari Rp 2000 ke Rp 2500? 

Sunday, June 26, 2022

Filsafat Kebosanan

Saya tahu buku ini dari karya Daniel Klien yang menulis "Travels wih Epicurus". Bagi Zumi, jika ia bilang "I am bored", maka ia ingin bermain dengan teman-temannya setelah lama berada di rumah. Bagi Biyya, I do not know what I have to do. Artinya, ia perlu kegiatan, spt mencuci motor dengan upah Rp 10 ribu.
Lalu, mengapa Swendsen menulis isu di atas? Sebab teman dekatnya mati karena kejemuan. Ya, kata de Bono, perulangan membuat siapa pun tidak nyaman. Demikian juga, tidak adanya orientasi hidup bikin orang frustrasi. Umtuk itu, membaca adalah membuka jendela agar kita tidak pengap.

Tapi betulkah kerumutan kehidupan modern membuat warga justru mudah bosan? Dalam buku, Seneca dulu menyebut keletihan hidup, yang menjadi "cikal bakal" dari kebosanan hari ini.

Tolerasi dan Masyarakat 5.0

Kemarin, saya memenuhi undangan Bincang Akrab Kajian Keagamaan (Bineka) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNESA Surabaya. Pak Ketut (Hindu), Pak Anung (Kristen) dan Pak Haryanto (Buddha) menyampaikan respons agama terhadap tantangan toleransi menjelang era Masyarakat 5.0. 

Saya sendiri mewakili Islam mengusung tema kembali ke pesan etis agama awal agar seluruh pandangan kita didasarkan pada pondasi dari ajaran, yakni budi pekerti. Dengan demikian, teknologi dilihat sebagai alat, bukan tujuan, yakni kesejahteraan semua (rahmatal lil'alamin). 

Tentu, wujud dari kehendak untuk menciptakan harmoni telah digambarkan dari rangkaian acara dan personalia panitia yang terlibat dalam kegiatan ini yang mencerminkan kemajemukan. Kevin, Yusril, Elisabat, Dian, Dinda, dan Ayuni merupakan wajah keanekaragaman negeri ini. Apalagi sebelum Zoominar, rekan-rekan memutar lagi Ampar-Ampar Pisang dan Cublak-Cublak Suweng yang jelas-jelas menempatkan perbedaan sebagai keindahan. Hanya kepicikan yang menghalangi kejernihan. Selamat untuk Bu Heny, ketuju Jurusan Bahasa dan Sastra Indoesia dan rekan-rekan di UNESA yang telah menggelar kegiatan yang sangat bermanfaat. Selain itu, saya sangat menghargai kelas Pemikiran Tafsir Modern dan Kontemporer UNUJA yang hadir dalam diskusi ini. Tabik. 

Agama di Pagi Hari

Kondektur memberitahu bahwa bus PO Harapan Baru yang saya tumpangi telah sampai di depan terminal Tawangalun, Jember. Saya pun turun dan men...