Tadi siang, saya memaksa diri untuk bangun dari tidur siang. Kelelahan yang mendera membuat saya mengurungkan hasrat bertandang ke ruangan komputer kampus. Saya melewati kampus setelah mengantarkan kawan karib, Fauzi Hussein, ke jalan besar. Lalu, saya menyusuri jalan menuju kamar teman karib lain yang menitipkan kunci. Di sana, saya merebahkan diri sebelum akhirnya lelap. Mungkin karena kecil, ruangan itu tak nyaman.
Jam 11.30-an, Mas Ayi menelepon menanyakan makan di mana? Lalu, saya menjawabanya di Pecel Lele, sebutan warung Jawa yang menjual aneka makanan Indonesia. Dengan mata masih redup, saya pun melanjutkan tidur. Jam 12.13 saya bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Duh, air itu mampu hilangkan wajah lelah karena pagi tadi nonton bola piala Eropa.
Di bawah pohon tempat parkir, saya berhenti sejenak untuk mengirimkan sms ke Mas Ayi bahwa saya akan segera berangkat ke lokasi. Dia pun membalas sebentar lagi berangkat. Angin sepoi siang terik itu seakan membelai wajah dan merasakan belaiannya yang menentramkan. Dengan langkah masih terseok, saya menghidupan motor dan membelah siang dengan deru mesinnya yang mulai 'kasar', maklum motor tua. Di sana, saya malah berjumpa dengan Faris dan Jerry yang juga menunggu makan siang.
Selalu saja, makan bareng di sana mendatangkan keriangan, karena Mas Ayi bersama Wulan menambah marak suasana. Di tengah obrolan kami, Iyan mengirim sms ke Mas Ayi untuk memberi tahu saya bahwa dia memerlukan sebuah tulisan tentang budaya kekerasan untuk tabloidnya. Ya, saya tahu, dia mempunyai nomor telepon lama saya, Digi, dan sekarang sekarang pindah ke Maxis. Saya pun mengiyakan. Seketika, saya membayangkan ingin membaca Akar Kekerasan oleh Erich Fromm yang diterbitkan Pustaka Pelajar Yogyakarta. Sayangnya, buku ini saya tidak bawa, tetapi untung edisi bahasa Inggerisnya ada di perpustakaan kampus.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menunggu
Dengan berangkat awal ke sekolah, saya punya waktu lebih lama untuk menunggu di warung kopi Senja. Saya senang karena hanya sendirian. Kehad...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Pemilik buah catur hitam adalah Zumi. Untuk permainan kedua, adik Biyya ini memenangkannya. Dengan demikian, ia akan bermain lagi karena per...
-
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Biyya minta mampir ke pasar mini untuk membeli roti. Saya pun menunggu di warkop yang menyediakan empa...
No comments:
Post a Comment