Sejak kecil, saya belajar di surau, madrasah, sekolah dasar, dan kampung tempat kami tinggal. Sebenarnya saya menjalaninya apa yang diajarkan oleh ustaz dan guru tanpa harus menyoal asal-usulnya. Imajinasi saya tentang Islam itu Arab dan Barat hadir dalam poster KISS dan tentu Michael Jackson, raja pop, yang paling populer saat itu.
Kami menghapal sifat-sifat Tuhan dan menjadikannya pujian menjelang magrib dan butir-butir Pancasila, yang sumbernya adalah ideologi lokal dan Barat. Kala di pondok, saya belajar bahasa Inggris pada Rob Baedeker, sebuah pertemuan yang mengubah cara saya melihat liyan. Film TVRI Little House in the Prairie membuka horizon tentang kehidupan keluarga yang ideal dan tak mendorong untuk menolaknya sebagai strategi kebudayaan luar untuk mengguncang moralitas kami.
Di masa kuliah, kekuatan pesona Barat begitu kuat di tengah semakin kerasnya pada dogmatisme agama. Potongan filsuf dikunyah tanpa harus membacanya pikirannya hingga tuntas. Dengan menulis gagasan Ibn 'Arabi, Robert N Bellah, dan akhirnya Toshihiko Izutsu, saya pikir batas-batas pesantren dan Barat layaknya mozaik. Saya menjadikannya satu potret sebagai harmoni.
Ketika menikmati Ben Michael Jackson dan Habbaytak Fairuz, saya tidak lagi dipenjara oleh asal, tetapi melihatnya sebagai karya yang mengajak kita untuk hidup bersama dan penantian dengan kesabaran. Aha! Apa ini pengaruh Ahmad Wahib, yang kata Paman Faridl Rusydie, kita mewahib untuk menyelami gagasannya dalam keseharian.
Lalu, kami pun bicara dekolonisasi pengetahuan di program S3 Universitas Nurul Jadid, yang membuka kemungkinan cara melihat sesuatu secara berbeda tentang banyak hal. Pak Ferry Hidayat serta merta menyodorkan pemikiran lokal untuk membayangkan teori dan penerapannya dalam mencandra struktur masyarakat. Mas Kiai Fayyadl masih belum melihat sebuah mazhab Tanjung akan lahir karena belum memenuhi prasyarat untuk lahirnya pertembungan pemikiran di Paiton.
Tadi, saya dan Kiai Imdad membahas apa epistemologi Pesantren yang mungkin dihadirkan sebagai pondasi berpikir? Saya pun menimpali bahwa kala mengaji kitab Syarh al-Hikam, lulusan Universitas Ibn Khaldun ini menyebut sumber pengetahuan adalah penglihatan (bashar), pendengaran (sama') dan hati (fuad). Tentu, sebagai penjelasan singkat dalam sebuah pengajian kitab, pernyataan ini perlu uraian lebih terperinci bila hendak membangun teori pengetahuan pesantren.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Agama di Pagi Hari
Kondektur memberitahu bahwa bus PO Harapan Baru yang saya tumpangi telah sampai di depan terminal Tawangalun, Jember. Saya pun turun dan men...
-
Pemilik buah catur hitam adalah Zumi. Untuk permainan kedua, adik Biyya ini memenangkannya. Dengan demikian, ia akan bermain lagi karena per...
-
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Biyya minta mampir ke pasar mini untuk membeli roti. Saya pun menunggu di warkop yang menyediakan empa...
-
Kami datang sebelum acara bermula. Pak Yuli mengundang warga untuk mensyukuri perkawinan anak lelakinya. Pak Sofi mengantarkan undangan pada...

No comments:
Post a Comment