Saya belajar dari Falsafah Harian I ini. Ada kritik dari teman bahwa setiap tulisan tidak berada dalam perenungan yang sama, ada yang sambil lalu, serius, dan relijius. Bukankah filsafat itu nalar, bukan wahyu? Mengapa bawa-bawa ayat? Ya, saya akan menimbang saran itu.Saya sedang menganggit "Kelupaan". Sekali waktu, saya bertanya pada istri, mana kacamata ayah? Hah, kan dipakai? Tukasnya sambil tertawa. Eh, ternyata lupa itu membawa gembira. Kami pun tergelak. Tetapi, mengapa kita harus melawan lupa?
Apa ini gambaran Kitab Lupa dan Gelak Tawa Milan Kundera? Tidak. Tetapi ada irisan tentang apa itu lupa dan tawa dalam keseharian kita. Bila lupa itu mendatangkan kesenangan, mengapa kita harus lawan?
Langkah ke kampus pun menjadi lebih ringan. Tentu, lupa tidak bisa dibuat-buat.
Thursday, December 11, 2025
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lari Sore
Setelah lari sore bersama Zumi di kawasan Paiton Energy POMI, saya melewati KDMP ini. Tak jauh dari lokasi koperasi tergambar, ada toko Vev...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...

No comments:
Post a Comment