Minimarket ini berada di seberang terminal bus Puduraya, tempat saya mencari tumpangan dari KL ke Pulau Pinang atau sebaliknya. Sementara, warung kopi, yang terpisah dua toko dari Seven7, yang pernah saya singgahi bersama Sidqi, mahasiswa S2 UNUJA, pada Oktober 2024 kini bertukar dengan kedai mie.
Apa yang berubah dan kekal dalam hidup? Manusia bisa kehilangan jejak fisik, karena bangunan dirobohkan atau bertukar peruntukan, tetapi tidak kenangan. Saya tidak tahu, adakah Seven7 ini akan bertahan kala Zumi berada di sini pada tahun 2050? Mungkin tidak, tetapi ia tetap memerlukan air minum. Oh ya, harga Teh Pucuk (350ml) di sini RM 2.90, berkisar Rp 13.050 sesuai dengan kadar tukar uang di Juanda kemarin. Mengapa mahal? Karena nilai ringgit naik dan rupiah turun.
Naik dan turun bisa terjadi kapan saja dan di mana saja serta untuk apa saja. Kita punya kendali diri bila jalan menurun dan menaik. Keduanya sama-sama mensyaratkan tahu diri. Klise, tetapi ini lah yang sejak dulu telah dipikirkan oleh banyak orang bijak. Mau apa lagi? Mungkin, kontemplasi itu perlu hadir kala kita berada di sebuah titik seraya merenung, ternyata kita tidak pernah pergi ke mana-mana karena kita tinggal di kepala dan hati kita.

No comments:
Post a Comment