Monday, February 09, 2026

Kenangan

Setelah sampai di penginapan di sekitar Puduraya, saya mengajak Zumi untuk mengingat awal-awal saya ke Kuala Lumpur pada tahun 2005-an. Setelah memilih bus di terminal KOMTAR, saya menghabiskan waktu 7 jam ke Puduraya. Dari sini, saya membeli air mineral sebelum berjalan kaki ke masjid Jamek untuk sejenak berehat dan di pagi hari naik LRT ke KL Sentral. Saya sering berjalan kaki di tengah malam dari Pudu Raya ke Masjid Jamek yang berjarak 755 meter dan memakan waktu 10-15 menit. 

Minimarket ini berada di seberang terminal bus Puduraya, tempat saya mencari tumpangan dari KL ke Pulau Pinang atau sebaliknya. Sementara, warung kopi, yang terpisah dua toko dari Seven7, yang pernah saya singgahi bersama Sidqi, mahasiswa S2 UNUJA, pada Oktober 2024 kini bertukar dengan kedai mie. 

Apa yang berubah dan kekal dalam hidup? Manusia bisa kehilangan jejak fisik, karena bangunan dirobohkan atau bertukar peruntukan, tetapi tidak kenangan. Saya tidak tahu, adakah Seven7 ini akan bertahan kala Zumi berada di sini pada tahun 2050? Mungkin tidak, tetapi ia tetap memerlukan air minum. Oh ya, harga Teh Pucuk (350ml) di sini RM 2.90, berkisar Rp 13.050 sesuai dengan kadar tukar uang di Juanda kemarin. Mengapa mahal? Karena nilai ringgit naik dan rupiah turun. 

Naik dan turun bisa terjadi kapan saja dan di mana saja serta untuk apa saja. Kita punya kendali diri bila jalan menurun dan menaik. Keduanya sama-sama mensyaratkan tahu diri. Klise, tetapi ini lah yang sejak dulu telah dipikirkan oleh banyak orang bijak. Mau apa lagi? Mungkin, kontemplasi itu perlu hadir kala kita berada di sebuah titik seraya merenung, ternyata kita tidak pernah pergi ke mana-mana karena kita tinggal di kepala dan hati kita.  

No comments:

Bermain

Zumi dan kedua teman baiknya, Akmal dan Kiki, menunggu layangan putus. Meskipun mereka bisa membelinya, tetapi mendapatkan mainan secara ber...