Setelah punch-out di mesin peresensi elektronik, saya bertolak ke sekolah anak. Dalam
perjalanan saya mampir ke kedai telepon Mandiri untuk meminta teknisi memperbaiki gawai
saya yang macet (hang).
Setelah itu saya mampir ke Senja Coffee warung di depan
sekolah pada pukul 3.10, untuk pertama kalinya mengingat bubaran sekolah sekitar pukul 4. Dengan
memesan es cappucino, saya menyesap minuman ini dengan perlahan sambil membuka
buku Engineers of Jihad: The Curious Connection Between Violent Extremism
and Education oleh Diego Gambetta and Steffen Hertog.
Tak lama kemudian, ada seorang pengunjung yang memesan kopi
tanpa gula dan telur mentah. Ia membuka percakapan pertama dengan menyapa dan
bertanya asal. Dari sini, kami pun berbagi cerita tentang Kota Anyar, rumah lelaki
itu, dan harga tembakau yang mencecah Rp60ribu-Rp65ribu. Ia pun bercerita
sering mengikuti istighatsah setiap Selasa dan Malam Jum’at di perumahan Detar.
Menariknya, ia tak merokok.
Lalu, ada tiga orang pengunjung yang memesan minuman, es teh dan kopi panas, yang masing-masing membuka bungkus rokok, Hummer dan Wismilak 234
hitam. Katanya, rokok pertama ini diproduksi oleh PT Bawang Mas, milik H Her. Untung,
dari kejauhan saya melihat Biyya yang sedang melangkahkan kaki dari gerbang sehingga segera beranjak dari kursi karena tak tahan
dengan bau asap rokok.
Selain buku di atas, saya juga meminjam buku Zaprulkhan berjudul Tasawuf Moderat: Pembaharuan Tasawuf Hamka dan Said Nursi.
Keduanya akan dijadikan bacaan tambahan, selain utama dan pendukung untuk mata
kuliah Akhlak Tasawuf semester 3 Pendidikan Agama Islam. Tentu, rujukan materi
ini didasarkan pada tradisi intelektual Muslim, seperti Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh. Selain ini,
karangan Ahmad Amin juga menjadi bahan pustaka, yang mengingatkan saya pada mata kuliah ini ketika
belajar di Akidah Filsafat IAIN dulu di bawah asuhan Pak Kusmin Busyairi.
Mengapa Akhlak Tasawuf perlu diajarkan dengan menimbang isu-isu kontemporer, seperti kekerasan atas nama agama? Dalam buku Gambetta, kita menemukan kutipan menarik, yakni "the discipline of the degree attained in particular has the potential to contain information about personal characteristics" (hlm. ix). Karakter seseorang dipengaruhi oleh program studi yang diambil oleh mahasiswa.
Namun, dalam konteks setempat, pertanyaan sederhana bisa diajukan apakah merokok di ruang publik itu berakhlak atau tidak? Jadi, persolannya tidak lagi berkutat soal label haram yang sedang heboh karena diusulkan oleh Muhammadiyah untuk peringatan di bungkus rokok.

No comments:
Post a Comment