Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam pada Universitas Sains Malaysia
Alquran adalah Kitab Suci yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari penganutnya. Ia telah menuntun individu untuk selalu dekat dengan penciptanya melalui apa yang telah difirmankan. Memang kebanyakan tidak memahami kandungannya, tetapi membacanya saja telah mendatangkan pahala sehingga yang bersangkutan merasa tentram. Di kepala mereka tebersit keselamatan akan digenggam dan carut-marut hidup akan terurai.
Tetapi, tidak bagi sarjananya. Mereka bertengkar tentang isinya. Malah, sejak dulu satu generasi setelah Nabi Muhammad, bijak pandai Muslim telah memahami secara berbeda terhadap teks yang sama. Apatah lagi dalam usia ke-14 abad, perselisihan makin meruyak. Ditingkahi lagi dengan keterlibatan sarjana Barat yang makin memperbesar area konflik interpretasi. Tentu yang tidak dapat dilupakan perbedaan apakah Alquran makhluk atau tidak pada zaman Khalifah al-Ma'mun telah menentukan mati dan hidupnya seseorang.
Sementara pada masa yang sama sarjana Muslim juga terbelah perhatian terhadap Kitab Suci ini. Ada yang menonjolkan kedalaman Alquran dari sisi ilmu pengetahuan, sementara yang lain menumpukan pada makna spiritual. Mereka mengasyiki apa yang telah menjadi spesialisasinya dan mencoba mencari pembenaran keyakinannya atau malah ada yang mendapatkan ilham dari kalam Tuhan melahirkan teori baru. Tuhan telah membuka hal ihwal dunia.
Pembacaan dengan hati
Pembacaan dengan hati, mengapa? Padahal, hati sebagai terjemahan dari kata qalb sering berubah-ubah? Meski demikian, hati di sini adalah terjemahan lain dari fu'ad. Memang dalam tradisi ilmu Alquran, penafsiran dibagi ke dalam naqli (riwayat), aqli (akal budi), dan isyarat (spiritual). Mungkin hati lebih dekat dengan yang terakhir. Tentu, hati tidak kemudian dipisahkan dari dua yang pertama karena suasana batin itu juga berkaitan dengan keadaan lahir dan rasio kita.
Tartil atau membaca Alquran sesuai dengan aturan hakikatnya sebagian dari mendekati Alquran. Ia adalah cukup bagi awam, tetapi kaum terpelajar menempalak sebagai igauan. Tentu, perspektif masing-masing tidak bisa dijadikan ukuran menilai yang lain. Justru Georg Hans Gadamer menegaskan bahwa ketika seorang memahami berbeda sesuatu yang sama maka mereka telah benar-benar memahami, bisa dijadikan pijakan untuk kita tidak lagi mengusik orang lain. Malahan, masing-masing memberikan apresiasi dan dukungan sebab siapa tahu keduanya bisa bertukar tempat atau malah saling menguatkan.
Pembacaan Kitab Suci ini tidak semata-mata pelarian dari ketidakmengertian. Ia adalah ayat Tuhan yang seperti ditegaskan oleh Allah merupakan sebagian tanda-tanda kebesarannya yang ada pada diri manusia dan di cakrawala. Meringkus kekuasaan Tuhan pada Kitab Suci, kita telah sewenang-wenang mengerdilkan kemahaluasannya.
Mengatakan bahwa jalan menuju Tuhan bisa dengan akal budi, seperti diyakini filsuf Muslim, Ibn Tufayl, dalam karya cemerlangnya Hayy Ibn Yaqzan, tidak perlu dipaksakan bagi Muslim yang enggan berfilsafat. Jelas-jelas yang terakhir ini jika dilakukan adalah sebuah kepongahan.
Pembacaan Kitab Suci dengan hati tidak serta-merta menepikan logika, tetapi justru ia mengatasi ketidakmampuan akal budi meraup pesonanya serta-merta. Bukankah filsuf juga mengakui keterbatasan akal budi? Apatah lagi Kitab Suci memang juga berkaitan dengan cita rasa estetik sehingga perasaan manusia yang bisa menghampirinya.
Membaca begitu saja tentu berbeda dengan mengkaji yang kadang menuntut pelaku meragukannya. Ini saja telah menghentikan kekhusyukan. Membaca dengan hati hakikatnya ingin menghadirkan pesan utama Alquran, yaitu membebaskan manusia dari penindasan. Tentu, ia akan mengambil beberapa bentuk sebagaimana diterakan dalam Alquran.
Dengan pembacaan berulang-ulang pesan itu akan terus tertanam. Keteraturan membacanya justru makin menguatkan pembacanya untuk menjadikan pesan itu sebagai bagian dari falsafah hidupnya. Pembaca seakan-akan memahat pesan ini secara terus-menerus sehingga ia tertancap dalam di hati. Tentu, kesungguhan ini akan menggerakkan pembaca untuk mewujudkan pesan itu dalam kenyataan. Tindakan adalah akibat wajar dari sebuah keyakinan.
Pesan utama
Jadi, pembacaan apa pun tentang Kitab Suci mesti bermuara pada pesan utama itu meskipun untuk menggapainya dengan pelbagai pendekatan. Muaranya akhirnya juga ke hati. Saya sendiri tidak menampik tradisi luar untuk mengupas kedalamannya sebab ternyata Toshihiko Izutsu, sarjana Kajian Islam Jepang, berhasil mengungkap maknanya melalui pendekatan semantik Barat. Malah, hasil kajiannya menunjukkan kesamaan kesimpulan dengan para penafsir Muslim ortodoks mengenai hubungan Tuhan dan manusia (lihat dalam God and Man in the Koran: Semantics of the Koranic Weltanschauung).
Sekali lagi, setelah kita menimang-nimang Kitab Suci dengan perlbagai cara, akhirnya hati kita yang akan menuntunnya, ke mana perintah Tuhan itu dimaksudkan. Hati telah menjadi penentu motif, kehendak, dan kepentingan membaca Alquran. Semua ragam itu justru membenarkan kenyataan manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dengan perbedaan latar belakang. Penghormatan terhadap keragaman justru mengukuhkan pesan Nabi sendiri bahwa Alquran mempunyai empat makna, yaitu harfiah (zahir), metaforis (batin), moral (had), dan analogis (muttala').
Mungkin cerita ini adalah penutup dari tulisan dan sekaligus mengantarkan kita pada sebuah pilihan. Teman tetangga kamar saya, Ilyas, dari Aljazair, bercerita bahwa dulu ia menyukai musik, tetapi sekarang dia meninggalkannya karena musik yang terindah adalah Alquran. Berbeda dengan kawan karib lain saya, Pak Sugeng, yang selalu memutar bacaan Alquran bersamaan dengan mesin mobilnya dihidupkan.
Dalam sepanjang jalan, saya dengan sendirinya mendengar alunan Kitab Suci. Saya perhatikan dari kedua teman tersebut, perilakunya yang tenang dan tindak tanduknya yang menenteramkan. Mungkin mereka berdua menyodorkan hatinya ketika menikmati Kitab Suci, sementara saya sendiri masih bergulat dengan teks dan berharap cemas ke mana akhirnya pencarian makna itu berakhir. Lalu, Anda berada di kelompok mana?
Friday, December 12, 2008
Membaca Kitab Suci dengan Hati
Koran Republika, edisi Jumat, 12 Desember 2008
Thursday, December 11, 2008
Mengenal Kampus Lebih Dekat

Jika sebelumnya saya sering mengikuti seri sejarah lisan yang diadakan oleh penerbit USM untuk mengenal lebih dekat kampus, karena menghadirkan kesaksian para pegawai, dari bekas orang nomor satu hingga satuan pengaman (di sana sering disebut guard). Untuk itu, saya meminta tolong teman yang bekerja di penerbit untuk memberitahu jika seri sejarah lisan akan digelar lagi. Malah, beberapa hari yang lalu, Encik Khairul Rahim mememberi tahu bahwa acara ini akan dihelat kembali pada tanggal 19 Desember 2008. Maka, sekarang, saya terlibat langsung dalam mengenal warna lain dengan membantu Dr Suhaimi Abdul Aziz dalam penulisan biografi Naib Canselor (setingkat rektor) Universiti Sains Malaysia.
Hari ini, seperti hari yang lain, saya bekerja untuk melacak bahan-bahan, seperti gambar, karya, dan kesaksian sejawat, berkaitan dengan orang nomor satu di kampus tempat saya belajar. Pencarian ini juga mengantarkan saya pada beberapa tempat yang harus disinggahi. Misalnya, pada hari ini, saya mengunjungi kantor rektor menemui penolong pendaftar, pegawai alumni dan PTPM (Pusat Teknologi dan Pengajaran Multimedia). Saya sengaja berjalan kaki untuk merasakan lorong, jalan, dan suasana kampus. Inilah perjalanan yang membuat saya merasakan kehadiran kampus secara lebih utuh.
Lebih dari itu, kadang saya tidak mendapatkan bahan dari tempat yang saya kunjungi, namun dari pegawainya saya memeroleh informasi yang penting dalam memburu bahan. Pengalaman semacam ini tentu di luar kebiasaan saya dalam menekuri bacaan. Ternyata, komunikasi dengan manusia dan alam mendatangkan sensasi tersendiri.
Wednesday, December 10, 2008
Belajar dari Liyan
Semalam, saya dan Pak Sugeng memenuhi undangan Pak Karnadi, staf KJRI Pulau Pinang, untuk menyambut rombongan Diklatpim pegawai eselon 3 Sumatera Utara. Sebelum memasuki ruang pertemuan, kami bertemu dengan teman-teman mahasiswa lain, Pak Supri, Pak Hamimu dan Mas Didi. Kami pun berangkat bersama melalui pintu belakang agar tidak mengganggu jalannya acara. Di sana, kami duduk di belakang dan mengikuti ceramah konsul jenderal tentang potensi hubungan dua negara, Malaysia dan Indonesia.
Saya mencoba untuk menekuri apa yang disampaikan oleh orang nomor satu KJRI ini. Keyakinan beliau bahwa Indonesia bisa maju bersama bersama tetangganya tentu merupakan pernyataan optimistik di tengah kemelesetan ekonomi. Beliau berharap bahwa Sumatera Utara akan juga menerima limpahan dari kepesatan Negeri Semenanjung Utara, Pulau Pinang. Pendek kata, keduanya harus bahu membahu untuk menyiasati keadaan ekonomi yang memburuk akibat krisis ekonomi negara raksasa, Amerika Serikat.
Lalu, setelah ceramah, para tamu dan staf KJRI bertukar cenderamata. Acara dialog tidak diadakan karena harus makan malam. Di sela kami mengasup, mahasiswa dan para pegawai yang mengikuti observasi ke Malaysia ngobrol ringan, membandingkan keadaan Medan dan Georgetown. Sebuah upaya ini makin mengukuhkan kehendak untuk menjadikan negeri khatulistiwa bertambah baik. Salah seorang peserta mengabari bahwa mereka hari ini akan mengunjungi Kantor Departemen Kesehatan Alor Setar, negara bagianKedah, untuk melakukan studi bandingan pelayanan kesehatan. Semoga berhasil, Pak!
Saya mencoba untuk menekuri apa yang disampaikan oleh orang nomor satu KJRI ini. Keyakinan beliau bahwa Indonesia bisa maju bersama bersama tetangganya tentu merupakan pernyataan optimistik di tengah kemelesetan ekonomi. Beliau berharap bahwa Sumatera Utara akan juga menerima limpahan dari kepesatan Negeri Semenanjung Utara, Pulau Pinang. Pendek kata, keduanya harus bahu membahu untuk menyiasati keadaan ekonomi yang memburuk akibat krisis ekonomi negara raksasa, Amerika Serikat.
Lalu, setelah ceramah, para tamu dan staf KJRI bertukar cenderamata. Acara dialog tidak diadakan karena harus makan malam. Di sela kami mengasup, mahasiswa dan para pegawai yang mengikuti observasi ke Malaysia ngobrol ringan, membandingkan keadaan Medan dan Georgetown. Sebuah upaya ini makin mengukuhkan kehendak untuk menjadikan negeri khatulistiwa bertambah baik. Salah seorang peserta mengabari bahwa mereka hari ini akan mengunjungi Kantor Departemen Kesehatan Alor Setar, negara bagianKedah, untuk melakukan studi bandingan pelayanan kesehatan. Semoga berhasil, Pak!
Tuesday, December 09, 2008
Bersama dalam Perbedaan

Di luar perbedaan yang menghalang kita untuk berbagi, sebenarnya ada ruang untuk bersama menikmati kehidupan. Seperti teman-teman saya di perhelatan SEAMUS, mereka memang menggagas pentingnya pencerahan dan kebebasan. Persoalannya, bagaimana kata ini ditafsirkan dan diterjemahkan di dunia nyata?
Saya mengamati sepanjang diskusi dan obrolan ringan, mereka tidak mempunyai satu cara memahaminya. Apatah lagi peserta mempunyai latar belakang yang beragam. Gambar sebelah ini mungkin justeru sudut pandang lain di mana masing-masing tidak lagi dibekap sikap primordialnya. Ada bahasa yang mungkin menyatukan setiap kita, bahasa manusia tentang keindahan, apakah alam, musik dan kehangatan sebagai teman. Toh, akhirnya, masing-masing akan menjalani hidup dengan masyarakatnya.
Saya sendiri, di tengah menanti ujian, mencoba menjadi bagian dari masyarakat yang bermastautin di flat sederhana. Saya berusaha untuk akrab dengan tetangga kiri kanan. Malah, sebuah keluarga di depan rumah kami merupakan tempat yang saya menemukan keakraban. Pak Cik Yusuf telah menggedor banyak pikiran saya tentang hubungan ide generasi tua dan muda. Demikian pula isterinya selalu menyambut saya dan isteri dengan hangat. Anaknya yang masih kecil, Iman, menambah semangat saya karena ketekunannya mengunjungi surau. kebetulan, saya sedang berusaha agar rumah Tuhan ini menjadi nadi bagi kehidupan flat kami. Perjumpaan di sana tentu mengikis keberjarakan yang selalu menghantui penghuni flat. Inilah alasan mengapa kita harus mencari jalan keluar dari keterasingan semacam ini.
Saturday, December 06, 2008
Para Peziarah Surau
Beberapa hari yang lalu, seorang tua, yang mengunjungi surau kami, menyapa di pintu. Beliau tersenyum tulus dan menyatakan bahwa setiap hari Rabu akan datang. Tempat tinggalnya cukup jauh, Sungai Dua, dari surau yang bertempat di Bukit Gambir, namun orang tua itu ingin menyemarakkan rumah ibadah berwarna hijau muda itu.
Beberapa hari sebelumnya, serombongan jamaah Tabligh juga menginap di surau itu selama tiga hari. Mohammad Amin, kepala rombongan, sempat ngobrol dengan saya menjelang Maghrib. Malahan, ada beberapa anak kecil yang turut serta, mungkin karena liburan, orang tuanya mengajaknya turut serta berihlah. Merekah inilah yang acapkali membuat surat kami tak direnggut sepi. Riuh rendah setelah dan sebelum shalat mengusir muram.
Ya, kami berharap bahwa penghuni flat akhirnya terketuk hatinya untuk mendatangi surau, agar ia tidak roboh. Apatah lagi, sekarang keadaannya telah banyak berubah. Warnanya terang dan pintu pagar telah diperbaiki sehingga dengan kokoh menghalang binatang liar mengganggu ketentramannya. Namun, pesona itu akan pudar jika penghuni rumah susun ini tidak mau merawatnya.
Beberapa hari sebelumnya, serombongan jamaah Tabligh juga menginap di surau itu selama tiga hari. Mohammad Amin, kepala rombongan, sempat ngobrol dengan saya menjelang Maghrib. Malahan, ada beberapa anak kecil yang turut serta, mungkin karena liburan, orang tuanya mengajaknya turut serta berihlah. Merekah inilah yang acapkali membuat surat kami tak direnggut sepi. Riuh rendah setelah dan sebelum shalat mengusir muram.
Ya, kami berharap bahwa penghuni flat akhirnya terketuk hatinya untuk mendatangi surau, agar ia tidak roboh. Apatah lagi, sekarang keadaannya telah banyak berubah. Warnanya terang dan pintu pagar telah diperbaiki sehingga dengan kokoh menghalang binatang liar mengganggu ketentramannya. Namun, pesona itu akan pudar jika penghuni rumah susun ini tidak mau merawatnya.
Tuesday, December 02, 2008
Perpisahan di Long Pine

Pada tanggal 23 November kemarin, acara SEAMUS diakhiri dengan malam perpisahan di restoran Long Pine, tepi laut Batu Ferringhi. Gambar di sebelah ini tidak hadir begitu saja. Ia hadir melalui rangkaian perkenalan, diskusi, ngobrol santai dan tentu kehendak untuk menciptakan kehidupan lebih baik.
Betapapun kami mempunyai komitmen yang berbeda tentang kehidupan bersama, namun tidak setiap orang mempunyai cara yang sama mengungkapkan keinginan. Namun perbedaan ini luruh bersama ketika masing-masing menepis ego. Masih banyak kesamaan yang perlu dikedepankan dan memikirkan cara untuk mewujudkan menjadi kenyataan.
Untuk itu, acara serius kadang mencair dengan makan bareng sambil ditemani band musik restoran yang membawakan lagu lembut dan tidak jarang lagu riang. Salah satunya yang saya ingat adalah Sway. Katanya, mereka, pelantun dan pemain organ itu, berasal dari Filipina. Adalah tidak aneh, jika lagu Anak dibawakan dengan sangat merdu dan mengusik rindu. Setelah acara usai, kami pun kembali ke komunitas masing-masing dan menekuri rutinitas, yang tentu dengan semangat dan keinginan baru. Selalu begitu.
Monday, December 01, 2008
Mengubah Keadaan dengan Kata
Ikhtiar Pak Karnadi, staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia, untuk mengubah keadaan dengan seminar adalah awal mendekatkan seluruh komponen warga Indonesia di Pulau Pinang. Kami, staff KJRI, mahasiswa, dosen, dan tenaga kerja Indonesia berkumpul untuk merumuskan langkah-langkah pencerahan.
Tanpa kehendak untuk mengumpulkan gagasan apa yang bisa dilakukan, maka keinginan untuk berubah tidak akan terwujud. Bersamaan dengan HUT Korpri, kami menggelar seminar bertajuk Peningakatan Kualitas Manusia untuk Kejayaan Bangsa. Ada lima makalah yang ditampilkan dalam perhelatan ini, yaitu Prof Adirukmi, Pak Supri, Pak Nuh, Pak Karnadi, Pak Sugeng dan saya sendiri. Tindak lanjut dari acara ini adalah menggagas Universitas Terbuka bagi para pekerja Indonesia agar mereka mendapatkan pengalaman baru dan sekaligus jalan keluar dari rutinitas mereka. Lebih dari itu, cara ini adalah membuka potensi menjadi pekerja yang lebih terampil.
Sebagai langkah awal, ini adalah usaha cemerlang karena kami bisa duduk bersama untuk belajar. Selain itu, tentu para pekerja mendapatkan peluang untuk menyampaikan impiannya mengubah kehidupan mereka lebih baik. Kesediaan Prof Madya Adirukmi, koordinator PERMAI untuk Pendidikan, untuk memberikan kursus yang diperlukan pada masa yang akan datang tentu memberikan kesempatan emas bagi TKI untuk tidak terkungkung dengan kebiasaan selama ini.
Tanpa kehendak untuk mengumpulkan gagasan apa yang bisa dilakukan, maka keinginan untuk berubah tidak akan terwujud. Bersamaan dengan HUT Korpri, kami menggelar seminar bertajuk Peningakatan Kualitas Manusia untuk Kejayaan Bangsa. Ada lima makalah yang ditampilkan dalam perhelatan ini, yaitu Prof Adirukmi, Pak Supri, Pak Nuh, Pak Karnadi, Pak Sugeng dan saya sendiri. Tindak lanjut dari acara ini adalah menggagas Universitas Terbuka bagi para pekerja Indonesia agar mereka mendapatkan pengalaman baru dan sekaligus jalan keluar dari rutinitas mereka. Lebih dari itu, cara ini adalah membuka potensi menjadi pekerja yang lebih terampil.
Sebagai langkah awal, ini adalah usaha cemerlang karena kami bisa duduk bersama untuk belajar. Selain itu, tentu para pekerja mendapatkan peluang untuk menyampaikan impiannya mengubah kehidupan mereka lebih baik. Kesediaan Prof Madya Adirukmi, koordinator PERMAI untuk Pendidikan, untuk memberikan kursus yang diperlukan pada masa yang akan datang tentu memberikan kesempatan emas bagi TKI untuk tidak terkungkung dengan kebiasaan selama ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Zip Zap Pop
Saya akan membelikan zip zap pop (made in China) bila kamu mau tarawih. Zumi pun sigap. Di masjid, banyak anak seusianya juga berada di sini...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...