Wednesday, June 17, 2009

Menikmati Pagi


Kemarin saya duduk di kursi terbuat dari besi yang terletak di pinggir jalan sepanjang halaman Fakultas Seni. Inilah salah satu tempat saya mengambil napas segar karena pepohonan memagari dengan teduh kawasan ini. Dengan teh Pokka dingin, saya mencoba mengasup sarapan udara pagi. Tak hanya itu, saya bisa naik tangga menengok pameran karya seni yang digelar oleh fakultas paling ramai dengan aktivitas kesenian di kampus ini. Pada waktu itu, saya menikmati karya lukisan vedic yang menghadirkan ragam simbol.

Di depan tempat saya duduk, Gedung Dewan Budaya berdiri megah dan di depannya ditumbuhi pohon besar sehingga hampir menimpati atap depan pintu masuk. Melihat pohon yang begitu besar, saya menemukan rasa tentram. Memang, kehadirannya mengganggu lanskap dan membuat halamannya selalu rimbun dengan dedaunan, tetapi ini resiko jika bangunan itu tidak tampak gersang dan penghuninya selalu merasa kepanasan jika melalui jalan di depannya. Di gedung ini juga, saya meraup banyak pengetahuan dan hiburan.

Karena masih liburan, sepagi itu suasana lengang. Hanya satu dua orang berlalu. Saya menikmati tetes teh kalang dan sebungkus roti. Betul-betul pagi yang menyenangkan, udara bersih, kicau burung, dan dingin teh. Dalam keadaan sebegini saya tak memerlukan lagu untuk meraih riang, karena dalam diam dan ditingkahi burung, kegembiraan datang bertubi-tubi.

Sunday, June 14, 2009

Kebersihan itu Sebagian Iman


Judul di atas sangat kuat tertanam di benak karena telah diasup sejak kecil. Tak hanya itu, pada waktu itu, saya sering bersirobok dengan kata ini karena sering ditempel di tembok sekolah, tepat di sebelah jadual piket kebersihan kelas. Hal yang sama juga sering ditemukan di kamar mandi masjid atau surau. Nada yang sama juga sering dijumpai di ruang publik, seperti terminal, pasar dan perkantoran, Jagalah Kebersihan! Malah, kata yang terakhir sering diterakan juga di bungkus makanan dalam bentuk ikon, gambar orang yang sedang membuang sampah ke keranjang.

Jika dulu, sampah dibersihkan dengan sapu, sekarang banyak alat yang membantu meringankan manusia untuk menghilangkan kotoran. Gambar di atas menunjukkan dua alat itu tampak akrab. Sapu lidi tetap diperlukan karena alat sapu 'mesin' tak mungkin menyelusup di antara akar belukar pohon yang besar. Ia hanya bisa bertingkah di tanah yang datar. Saya sering menyaksikan kedua alat ini bekerjasama mengenyahkan dedaunan yang rontok karena aus dimakan waktu. Sempat tebersit di benak, bisa nggak pohon itu direkayasa agar daunnya rontok sebulan sekali?

Memang susah untuk menjaga kebersihan ruang umum di kampus karena begitu banyak pohon berdiri menaungi siapa saja yang ada di bawahnya. Lebih-lebih sekarang, musim kemarau mempercepat dedaunan itu berguguran, mengotori jalan, selokan, beranda dan setiap sudut kampus. Dengan ruang seluas itu, agak susah kita menemukan jalanan bersih dari dedaunan. Namun kita susah berterima jika jalan itu dikotori oleh sampah buangan penghuninya.

Friday, June 12, 2009

Di sini, Saya Mereguk Udara


Gambar lapangan bola di atas diambil setelah saya mewawancarai kepala unit olahraga kampus. Sudah beberapa bulan, saya tak berlari menyusuri track berwarna merah terbuat dari karet lembut ini. Lebih lama lagi, saya tak mengocek bola bersama teman-teman dari Thailand. Biasanya saya memilih waktu pagi, setelah Subuh agar bisa mendengar kokok ayam dari perumahan sebelah stadion. Lamat-lamat suara binatang berkaki dua hilang dan matahari menyembul di kaki langit, saya pun mengakhiri jogging. Selalu begitu.

Pada hari minggu, saya kadang bersama keluarga berjalan mengelilingi lapangan dan kemudian ke warung terdekat menyeruput minuman panas dan membaca koran, Utusan. Ruangan sastera selala memantik saya untuk mengenal lebih dekat dunia kata. Tentu informasi kesehatan yang menjadi rubrik khusus hari Minggu tak luput dari perhatian. Sekarang, kebiasaan ini tak lagi dilakukan karena si kecil belum bisa diajak serta. Tentu, setelah agak besar, kami akan membawanya mengelilingi track agar ia tak selalu bermalas-malasan menikmati tidur.

Oh ya, Minggu besok mungkin saya akan menyentuh tanah lapangan bola itu lagi. Rasanya berat badan saya mulai bertambah. Lingkar perut mengembang sehingga sabuk seakan-akan mengikat erat, membuat tidak nyaman. Apatah lagi, rumput baru saja dipotong. Lapangan bola itu selaksa karpet raksasa yang digelar dan nyaman di mata. Ia tetes yang membuat mata menjadi lebih nyaman dan sehat.

Tuesday, June 09, 2009

Menikmati Gambar di Ketinggian


Saya tidak melewatkan pameran lukisan yang digelar di Suria KLCC, Kuala Lumpur. Suatu kebetulan, sesungguhnya. Ketika berjalan menuju toko buku terbesar di ibu kota Malaysia, Kinokuniya, saya melewati Galeri Petronas. Sebagaimana diterakan dalam brosur pameran yang dipersembahkan seniman Malaysia, Eng Tay, yang kini menetap di New York akan membawa pengunjung mengembara ke dalam ruang hati nurani manusia, menyentuh bibit-bibit manis cinta, semangat silaturahmi dan keakraban. Sayang, pengunjung dilarang mengambil 'lukisan' yang menjelaskan tema-teman ini. Namun, membayangkan bunyinya kita tentu sudah merasa tentram.

Tak hanya lukisan, ada goresan kata yang ditempelkan di samping gambar, seperti tentang waktu: Time, to some, may be a scene of events strung up as if a clothesline, stretching back through history. Lebih jauh, dia berujar: I perceive time as a continuum, movements enwound from a spool memory into new sensations. I strive to create images that are the shape of ideas, just as the image of a letter symbolizes a spesific sound. Atau tentang tempat: The place that one belongs to is very important. What is inside you can't change where you are, you are (always) from that place.

Tak hanya lukisan, sang seniman juga menampilkan seni patung dan keramik. Saya hanya mencoba untuk memahami sejauh karya itu berkait dengan pengalaman hidup saya. Meski tersengal karena harus berlari kencang, saya masih belum sampai pada makna yang mungkin ingin diterakan, sebab karya itu mengandaikan pengalaman di luar hidup saya. Atau tafsir itu tak perlu andaian objektivitas, sehingga subjek bisa merayakan makna secara leluasa? Semoga begitu.

Monday, June 08, 2009

Pasaraya atawa Pasar Malam


Sebelumnya kami sering mengunjungi pasar malam untuk membeli kebutuhan sehari-hari, seperti sayur, ikan, tepung, minyak goreng, bawang, tempe, ayam, dan makanan ringan, seperti jagung rebus. Biasanya kami berangkat sore agar bisa lebih awal mendapatkan barang-barang yang segar. Kebanyakan pedagang adalah orang lokal dan tentu dengan omzet yang tak cukup besar. Kadang, kami berangkat sesudah maghrib untuk menemukan suasana yang berbeda. Ya, malam dengan pendaran lampu neon di keramaian mendatangkan sensasi tersendiri. Tiba-tiba ingatan melenting ke masa kecil ketika mengunjungi pasar malam di kampung.

Namun, akhir-akhir ini kami sering ke Tesco, pasaraya terdekat dari rumah. Di sini, kami dengan mudah menemukan kebutuhan bayi, yang tak mungkin ditemukan di pasar malam, seperti popok, tisu basah dan pampers. Jika pasar malam hanya hadir pada hari-hari dan jam-jam tertentu, pasaraya ini buka jam 8 pagi hingga 11 malam. Tak hanya itu, kami bisa berbelanja kebutuhan tanpa merasa khawatir kehabisan. Meskipun pernah menunggu tisu basah isi ulang hingga tiga hari karena persediaan habis.

Lalu, persoalannya, apakah barang di Tesco lebih murah dibandingkan dengan pasar malam? Kata isteri lebih murah. Tapi, kalau tak seberapa, sebenarnya kita harus berbelanja di pasar malam. Bagaimanapun para pedagang kecil di sana memerlukan pembeli agar bisa melangsungkan daya hidup perniagaannya. Pemodal besar telah banyak merampas kesempatan mereka untuk mengais rezeki. Anda setuju?

Saturday, June 06, 2009

Surga Buku di Dunia Komersial


Perjalanan ke Kuala Lumpur dari Pulau Pinang dalam rangka memenuhi tugas wawancara mengantarkan saya ke tempat paling banyak dituju oleh orang, Suria KLCC. Di sini, kita menemukan surga orang yang ingin memuaskan hasrat purba: kepuasan lahiriah. Pelbagai kebutuhan, dari makan hingga hiburan tumplek blek di sini. Segala jenis manusia berseliweran mencoba peruntungan untuk mereguk bahagia. Saya tentu tak perlu bertanya pada setiap orang apakah mereka telah menemukan yang dicari.

Dalam kepala saya berkelebat toko buku: Kinokuniya, sebuah kedai yang dimiliki oleh perusahan Jepang. Di sini saya membebel banyak buku dan hanya membeli tiga buah, Kant and Platypus: Essays on Language and Cognition (Umberto Eco), Republic (Plato) dan Politics (Aristotle). Tentu banyak buku lain yang ingin dimiliki, tapi apa daya buku-buku filsafat terbitan luar itu mahalnya minta ampun. Ternyata buku yang pertama juga dijual di toko buku besar Borders Queens Bay Mall, namun tidak ada potongan harga seperti di Kuala Lumpur.

Lalu, mengapa surga buku itu berada di tengah keramaian dan godaan yang lebih mengundang pengunjung? Atau hidup itu memang selalu seperti ini, ada asupan batin dan lahir. Keduanya tak perlu dipertentangkan. Hanya saja yang terakhir perlu diawasi agar tidak melebih batas tubuh, sementara yang pertama mungkin bisa diasup sepanjang waktu. Namun, lagi-lagi tidak mustahil kesungguhan meraih makna hidup dari buku juga bisa berujung kebingungan. Di sini, kita tak melulu merasa berada di antara dua pilihan. Pasti setiap orang bisa mengukur kemampuan dan menyadari keterbatasan. Ada jalan lain untuk menyikapi semua ini, kearifan. Lho, bukankan kebijaksanaan itu juga bersumber pada filsafat? Mungkin ya, tetapi kearifan itu juga bisa nongol dari kedalaman perenungan yang telah melewati kata, diam tak tepermanai oleh huruf. Kemudian, masihkan tokoh buku itu, Surga?

Tuesday, June 02, 2009

Kapan Jakarta Mempunyai Monorail


Kita berdebat tentang banyak hal, tetapi tak berbuat apa pun untuk mewujudkanya, termasuk monorail yang terbengkalai hingga kini. Di Kuala Lumpur, saya menggunakan angkutan publik ini dan merasa bahwa di sana penguasa tak perlu mengumbar kata untuk menawan hati warganya. Anda percaya? Silahkan datang. Di sini, kita menemukan ruang yang bersahabat bagi siapa saja yang ingin merasakan malam. Pejalan kali juga mendapatkan ruang yang cukup untuk memanjakan diri dengan jalan yang lapang, meskipun dipenuhi banyak orang.

Herannya, Jusuf Kalla, calon presiden itu, menjadikan isu monorail alat untuk menyerang Boediono, yang calon wakil presiden itu. Heran! Lalu, apa yang dia kerjakan selama menjadi wakil presiden berkaitan dengan kepentingan khalayak? Seharusnya dia bisa mengurus kepentingan publik secara bersama, bukan menunjuk jari kambing hitam. Malah, Bus way yang diharapkan untuk memberi kenyamanan, nasibnya setali tiga uang. Lama menunggu, berdesakan dan tak nyaman. SBY juga tak menunjukkan kerja yang cemerlang, hanya sering mamatut diri di cermin, sudah keren apa belum. Megawati tak menunjukkan seorang pemimpin yang bisa menjelaskan apa yang dia akan lakukan kecuali sering mengangkat tangan sambil memekik Merdeka! di hadapan pendukungnya. Lalu, Masihkan para calon presiden itu percaya diri untuk menjadi pemimpin kita? Saya sendiri meragukannya.

Busway yang tak terurus, monorail yang terbengkalai serta pedestrian yang tak cukup membuat Jakarta tak nyaman bagi warganya. Jika 'halaman' rumah pemimpin itu semrawut, maka tidak heran jika kita tidak yakin bahwa mereka bisa mengurus Indonesia yang luas. Ayo, mulai dari rumah kalian yang centang perenang itu, agar pidato yang berapi-api itu tidak berbuah omong kosong.

Do We Have Free Will?

Di dapur, saya membaca kembali isu lama tentang kehendak bebas. Sambil menikmati pisang goreng dan kopi, saya mengingat kembali apa yang did...