Monday, October 17, 2011

Hak Hidup Rumput


Rumput ini baru saja bernapas lega. Ia memerlukan waktu untuk terus tumbuh dan menutupi tanah yang masih terlihat. Biarkan tanaman itu terus mekar! Hati-hati, jangan sampai kita mengakhiri hidupnya.

Thursday, October 13, 2011

Keluar dari Kemelut


Kutipan di atas diambil dari sebuah kantin. Mungkin, ia sengaja diletakkan agar pengunjung bisa berpikir jernih setelah makan dan kenyang.

Wednesday, October 12, 2011

Beretika itu Mudah

Di dalam kelas, saya bercerita pada murid bahwa belajar etika itu mudah. Kita naik saja bus etikaExpress.

Saturday, October 08, 2011

Jum'atan di Masjid Tua

Masjid Zahir mulai dibangun pada 11 Maret 1912 dan diresmikan oleh Sultan Abdul Hamid Halim Shah pada 15 Oktober 1915. Ia menjadi penanda negeri Kedah. Menunaikan shalat Jum'at di sini, saya merasa diseret ke masa lalu.

Seperti biasanya, si khotib akan mengingatkan jamaah agar tidak bercakap-cakap karena ia menghilangkan keutamaan kewajiban ini. Saya pun diam dan mengambil pena untuk menulis kata-kata kunci terkait kandungan khotbah. Di hari itu, tema yang dibahas adalah hasad dan dengki. Dengan menyuguhkan cerita Habil Qabil, dua putera Nabi Adam, dan Nabi Yusuf, penggambaran dua sifat etika buruk ini tampak hidup. Jamaah tentu tak perlu mengerutkan dahi untuk mencerna pesan moral.

Meskipun si khotib menggunakan bahasa Malaysia, namun saya memastikan ia adalah warga Indonesia. Logatnya berbeda dengan warga jiran ini. Kata-kata hairan, terbuku, hodoh, membelakangkan, dan lain-lain adalah kosa kata yang jamak digunakan, namun pengucapan sahaja dengan huruf akhir tidak diucapkan [e] menunjukkan ia memang bukan warga lokal. Suaranya pun terdengar seperti anak kecil dan mencoba untuk bergaya seperti dai sejuta umat, Zainuddin MZ. Boleh jadi, pengkhotbah itu adalah mahasiswa KUIN (Kolej Universiti Insaniah).




Sunday, October 02, 2011

Sentosa

Mereka sedang menikmati alunan salawat. Saya pun hadir dan menemukan masa lalu, ketika orang-orang kampung berdendang, merindukan sang Nabi. Saya hanya perlu melangkahkan kaki dari rumah untuk menikmati burdah, barzanji, dan ratib al-Haddad di surau yang berada di kompleks perumahan. Ketika larik Ya rabbi bil musthafa balliqh maqashidana waghfir lana ma madha ya wasi'al karami dibacakan, saya diserbu oleh angin surga. Kadang, suara sang nasyid ditingkai oleh nyanyian burung Tekukur, atau di Kedah disebut Merbok.

Jauh sebelumnya, saya telah merencanakan datang ke acara di atas. Dengan berbekal selebaran yang didapatkan dari Masjid Besar al-Muttaqin, saya mengetahui bahwa surau kami akan menghelat Program Kuliah Sehati dan Ummah Berselawat. Bersama dengan Habib Ali Zainal Abidin al-Hamid, Habib Ubaidillah al-Habsyi dan Ustaz Hafiz bin Mustaffa Lubis, acara ini akan dibuka dengan bacaan hizb, yang dipimpin oleh sang ustaz terakhir.

Dari dekat, saya memerhatikan jamaah yang datang dengan aneka pakaian, seperti serban dan jubah, baju Melayu, sarung dan kopiah putih, malah anak-anak kecil hanya memakai kaos dan celana. Di serambi surau, seorang ibu menggelar jualan jajanan. Di Jum'at pagi itu, suara kendaraan memecah keheningan rumah-rumah kami. Orang-orang berdatangan. Mereka ingin menikmati taman surga, dengan mengikuti majlis zikir dan ilmu.

Wednesday, August 17, 2011

Hiburan Menjelang Akhir Tahun

Kereta di atas adalah becak hias. Tak hanya satu, banyak model seperti di atas dengan pelbagai bentuk, seperti kereta berkuda, atau berupa singgasana kerajaan. 

Raja dan ratu yang bertahta itu adalah murid-murid taman kanak-kanak dan sekolah dasar (Madrasah Ibtidaiyah) di sebuah lembaga pesantren. 

Menjelang puasa, begitu banyak pondok menggelar pawai atau karnaval. Tak hanya kereta, mereka juga menghadirkan kumpulan drumband yang sengaja diundang dari luar. Pelbagai atraksi dan drama jalanan juga ditampilkan. Saya bersama warga kampung berduyun-duyun, berdiri di pinggir jalan, menikmati hiburan yang hanya berlangsung setahun sekali, sebagai petanda dari perayaan akhir sekolah.

Saturday, August 13, 2011

Hujan Lebat di Hari Pertama

Kemarin, halaman dan tanah di pot bunga ini kering. Hari ini, hujan deras mengguyur bumi Jitra, Kedah. Bau khas tanah menyeruak. Butiran air tumpah dari langit. Tak lama kemudian, sisa basah tampak jelas terlihat. Setelah lama tak menikmati hujan, kami menemukan kegembiraan yang luar biasa. Tak pelak, saya berkicau di akun twitter, " Kita berkuasa memberikan makna pada setiap peristiwa. Kepada hujan deras hari ini, saya anggap berkah yang tumpah di hari pertama."

Ya, kami baru pindahan ke rumah baru, sebuah perumahan khusus untuk civitas academica UUM. Dengan diantar staf kampus, Encik Tajuddin yang ramah dan baik hati, kami berangkat dari penginapan menuju Taman Siswa. Di tengah perjalanan, kami sempat berbelanja di toko peralatan rumah tangga. Semuanya tampak baru. Siapa pun tentu merasa teruja dengan kebaruan, meskipun hakikatnya semua adalah perulangan. Bagaimanapun, sudut pandang kadang mendatangkan perasaan yang lain. Jadi, rasa nyaman itu adalah mudah.

Duh, tiba-tiba cericit burung memecah sore. Saya yakin burung itu sedang bertengger di salah satu dari dua pohon yang berdiri kokoh di halaman. Suara anak-anak kecil turut meramaikan hari menjelang senja. Nabbiyya pun bergegas ke luar bersama ibunya. Malah, si kecil sempat berkenalan dengan dua anak tetangga, Muhammad dan Nuruddin. Dengan mengenal dunia baru, keduanya tak akan pernah merasa asing. Demikian pula, di tengah perubahan yang cepat, kita berkejaran dengan waktu agar tak merasa kesepian. Untuk itu, mengenal kehidupan itu adalah perlu dan ini hanya dimulai dengan sapa.

Zip Zap Pop

Saya akan membelikan zip zap pop (made in China) bila kamu mau tarawih. Zumi pun sigap. Di masjid, banyak anak seusianya juga berada di sini...