Thursday, December 15, 2011

Mahasiswa dan Pergerakan

Bagi saya, prestasi mahasiswa tidak saja dipandang dari perolehan nilai A+ dalam ujian (peperiksaan), tetapi juga kegiatan yang ditekuni dalam masa perkuliahan. Asraf, misalnya, sebagai pelajar yang mengambil subjek Falsafah dan Etika, lelaki asal Kedah ini telah berhasil mewujudkan keterkaitan antara teori dan praktik, tanpa harus membolak-balik buku tebal filsafat secara keseluruhan. Tentu, ia perlu mendatangi perpustakaan untuk melihat kembali buku-buku filsafat yang begitu banyak di rak, namun pada waktu yang sama, ia akan ditakdirkan untuk memilih pemikiran yang dirasa nyaman dalam hidupnya.

Saya pun juga turu mendengar pelajar lain, Mohd Aizat, atau nama facebooknya Jat Jenin, yang merupakan pegiat mahasiswa, bersama teman karibnya Syauqi. Sekali waktu, saya pernah berbincang ringan dan santai di kantin seraya mereguk segelas minuman tentang isu-isu baru, misalnya pandangan orang ramai tentang kelompok terpinggir, seperti orang-orang yang mengalami masalah disorientasi seksual. Sebelumnya, lajang dari Pulau Pinang bercerita bahwa ia pernah bergiat dalam lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pembelaan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Tak dielakkan, pengalaman inilah yang mendorongnya untuk mengirim pertanyaan di twitter saya, apa pandangan saya tentang LGBTI?

Lalu, saya juga pernah berbual (baca dalam bahasa Malaysia) ringan dengan Sumayyah dan dua orang teman dekatnya. Karena berasal dari Johor, mereka bercerita bahwa di tanah berdekatan dengan Batam itu, warga Malaysia bisa menikmati acara televisi SCTV. Tak pelak, mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Meskipun ketiganya merupakan kawan akrab, tetapi dalam beberapa segi, masing-masing mengusung pandangan yang berbeda tentang dunia fashion. Ternyata, kedekatan itu tak mensyaratkan kesamaan, tetapi pengertian (bukan pengartian, padahal kata dasarnya arti, bukan erti). Apa pun, mahasiswa itu ada karena mereka bergerak, tak diam di bilik seraya berharap bila masa kuliah yang menyebalkan ini usai.

Wednesday, December 14, 2011

Makanan Lokal dan Perlawanan

Kudapan di atas adalah makanan yang dibuat dari beras. Jipang, jajanan yang berwarna putih, masih disukai ibu saya hingga hari ini. Tapi, pernahkah kita menemukan pelbagai jenis jajanan di atas di mal? Kita hanya menemukannya di pasar tradisional atau toko pusat jajanan di pinggir jalan. Mengapa ia tak layak mengisi rak kedai di sejumlah mal? Adakah namanya yang tak gagah? Rasanya tak menendang lidah? Jawabannya tentu tak tunggal.

Lagi pula, setelah mengisi ruang mewah, apakah makanan itu akan berbeda rasa? Tentu, tidak. Malah, harganya akan semakin mahal berbanding di pasar. Belum lagi, penampi yang menjadi wadah itu jelas-jelas menggambarkan kerajinan tangan lokal yang perlu dilestarikan. Adakah ia akan dijadikan wadah untuk restoran mahal? Restoran mahal tentu lebih memilih bahan yang mengandung melamin yang berbahaya. Lalu, adakah kegairahan untuk memunculkan kembali masa lalu itu adalah bentuk perlawanan atau keputusasaan? Hanya karena tidak mampu membelinya, kita pun membela secuil yang kita punya? Sebagaimana, slogan yang diterakan di kaos (t-shirt) seorang mahasiswa yang baru melek pergerakan, "kehendak melawan kapitalisme adalah wujud kebosanan terhadap kemiskinan", diam-diam perlawanan itu berkelindan dengan kecemburuan sosial.

Makanan itu hakikatnya merupakan habitus, kebiasaan yang lahir dari latarbelakangan sosial bersangkutan. Mungkin, kita tak perlu risau hal-hal etis. Bagaimanapun boleh jadi makanan di atas menjadi menu di hotel mewah. Orang-orang kaya baru dari kampung tentu akan menikmatinya karena mereka kembali menemukan masa lalunya, meskipun harus merogoh kantong lebih dalam. Pendek kata, asupan itu bukan sekadar menghilangkan lapar, tetapi juga pemenuhan cita-rasa yang berkait dengan gengsi dan prestasi. Meskipun saya tak pasti, apakah orang-orang kaya dari kampung itu akan menggunakan tangan atau garpu ketika mengudap jajanan di atas. Tak hanya itu, mereka pun mungkin meletakkan serbet di paha agar remah-remah jajanan itu tak mengotori celana yang telah disetrika rapi dan licin agar tetap tampak elok di mata khalayak. Diam-diam, di ujung kursi sana, mata orang kaya sejati bergumam, "permata bisa dibedakan dengan kaca".

Monday, December 12, 2011

Kelab Rekreasi, Sukan dan Kebajikan

Hari Ahad lalu, sejumlah dosen dan staf di tempat saya bekerja mendirikan organisasi yang dinamakan kelab. Meskipun bersifat sukarela, Dr Ishak Din menjadikan perkumpulan ini sebagai wadah untuk berbagi sesama rekan terkait kegiatan olahraga, rekreasi dan kebajikan bersama secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu, sebelum disahkan, semua yang hadir pada acara pada waktu itu membahas perlembagaan atau AD/ART agar kami mempunyai panduan untuk mewujudkan kehendak. Tak perlu lama, perlembagaan bisa diterima oleh semua pihak.

Sebagai wujud dari kebersamaan di atas, yang merupakan napas dari perkumpulan ini, salah seorang ustaz dari Pusat Islam UUM mengetuai pembacaan tahlil untuk rekan yang baru saja meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari tanah suci. Dalam waktu 30 menitan, zikir dan doa telah dipanjatkan. Kami tentu merasakan kehilangan karena yang bersangkutan masih muda. Namun, Tuhan telah mengambilnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah dan terus menjalani kehidupan dengan tegar.

Acara di atas diakhiri dengan acara ramah-tamah, seraya menikmati makanan dan minuman. Kami pun bertukar cerita di tempat terbuka. Tempat di atas memang sering digunakan untuk acara silaturahim antar staf. Kadang, acara-acara seperti ini menjadi pilihan yang menyenangkan setelah civitas academica disibukkan dengan kegiatan rutin resmi yang dihelat dalam gedung berpendingin udara. Meskipun kipas tetap dinyalakan, udara alamiah yang menembus leluasa di setiap sudut bangunan itu tentu lebih menyegarkan. Belum lagi, suara burung yang menyelingi dengus napas kami membuat suasana beitu menentramkan. Adakah kita memerlukan lebih dari ini untuk bergembira?

Sunday, December 11, 2011

Petani dan Padi


Setelah mengunjungi Musium Padi, tak jauh dari Gunung Keriang Kedah, saya meletakkan gambar di atas sebagai penghargaan terhadap para petani. Mereka telah bekerja keras agar manusia di dunia ini tetap bisa menarik napas. Hidup petani!

Friday, December 09, 2011

Kocor dan Masa Kecil

Untuk ketiga kalinya, saya mengambil kudapan kocor, kue berwarna coklat yang dibuat dari adonan tepung dan campuran gula Jawa atau Melaka. Pertama kali,ketika menemukannya di kantin kampus di bulan November, saya ingin melonjak karena kegirangan. Kalau tidak dilakukan, tidak berarti saya tak merasa gembira, namun tak elok berteriak di tengah orang ramai yang sedang menikmati makan. Ditemani surat kabar, saya menggigit kocor dengan nikmat.

Mengapa kocor begitu nikmat dan istimewa? Karena ia menyeret saya ke masa lalu, masa kecil di kampung halaman. Ia tak bisa dibandingkan dengan burger McDonald, karena yang terakhir ini dulu tak pernah hadir di lidah. Lagipula, kocor hanya hadir pada waktu tertentu, tidak setiap hari. Sekali waktu, ibu membawanya dari kenduri perkawinan tetangga. Di lain waktu, kami menikmatinya di perayaan Maulid Nabi. Lalu, perlukan saya menyebut bahwa kesukaan ini adalah nostalgia yang perlu dirayakan? Tak sama dengan panganan dari luar, kocor adalah wujud dari falsafah lokal, oleh karena itu ia harus diselitkan dalam bungkusan kue-muih sebagai bawaan pulang dari kenduri kawin.

Tapi, pernahkan kita mau menjadikannya setara dengan burger? Misalnya, ia disajikan di Mal yang berdinding kaca dengan gerai berjenama Kedai Tradisi. Apakah penolakan terhadap barang luar mencerminkan kecintaan pada milik sendiri ketika batas-batas keduanya luruh? Namun, saya yakin, kenyataan ini bisa diurai. Diam-diam, kita tak percaya diri bahwa milik kita sejajar dengan kegagahan makanan 'asing' dengan menyergah, sudah bukan masanya lagi kita berbicara batas. Sememangnya, siapakah yang mempunyai kuasa untuk menyatakan itu lebih baik dan sesuai denga kita?

Hanya pada saya, kocor itu jauh lebih menendang daripada burger di lidah. Terus terang, ketika saya menikmati burger di McDonald, saya senantiasa terbayang bacaan Fast Food Nation (Eric Schlosser, 2011) yang menyebutnya sebagai makanan sampah. Sementara kocor mengantarkan pada kenyamanan, karena ia adalah keriangan semata-mata. Selera itu tak lagi subjektif, tetapi memiliki cerita, yang kata Pierre Bordieau, sosiolog Perancis, habitus.

Monday, December 05, 2011

Bahasa Kita Tak Ringkas?

Bahasa Indonesia dan Malaysia tak terelakkan harus menyerap bahasa Inggeris, karena yang terakhir telah digunakan sebagai bahasa antarabangsa. Kadang dua bahasa menyerap begitu saja atau memindahkan konsep kata tertentu dalam bahasa sendiri, seperti kata locker di atas menjadi peti simpanan barang. Mengapa tidak peti saja agar padanan untuk locker juga ringkas? Adakah pembentukan kata dasar yang didahului awalan pe bisa mengandaikan susunan bahasa Inggeris lock+er? Mungkingkah pepeti?

Tak jarang, penggunaan bahasa Melayu dipinggirkan karena susunannya yang tak ringkas. Belum lagi, ikhtiar bahasa Indonesia dan Malaysia untuk kekal teperbaharui menyebabkan keduanya mengambil jalan mudah menyerap begitu saja atau membiarkan susunan aslinya. Kata 'fashion', misalnya, masih ditulis apa adanya dengan huruf miring 'fashion' dalam pelbagai karangan atau berita atau diserap dengan mengambil bunyi kata bersangkutan, fesyen. Sekali waktu, kita masih mendengar tata busana untuk menggantikannya.

Kehadiran sistem pesanan ringkas (short message system) dalam telepon genggam dan media sosial, seperti facebook dan twitter, telah mendorong orang ramai untuk lebih memilih bahasa Inggeris karena keringkasannya. Bayangkan, hanya untuk menyebut locker, kita perlu mengungkapkan tiga kosa kata dalam tiga tarikan napas. Lalu, mengapa bahasa Malaysia tidak menjadikan locker sebagai loker, sebagaimanna message berubah mesej? Bagaimanapun struktur kata dasar yang diakhiri dengan er dalam bahasa Inggeris menyulitkan kita untuk bersikap tegas. Sekali waktu, kita menerimanya, tetapi kita pun bisa mengandaikan struktur sendiri, yakni pe ditambah kata dasar. Tampaknya, kedua bahasa ini akan terus diuji dengan khazanah milik sendiri, meskipun orang ramai pun bisa menggugat, mengapa harus Sanskrit sebagai ukuran?

Lalu, mengapa kita tidak beranjak pada semantik? Makna itu jauh lebih penting daripada sibuk dengan urusan remeh-temeh terkait susunan bentukan kata. Kalau ahli bahasa dan orang ramai memperakui bentuk kata tertentu, bukankah tugas kita adalah bergulat dengan usaha menyepakati makna yang mungkin tersedia secara tersirat? Perlukah, kita menyoal locker, sementara para mahasiswa dan guru mereka bisa memanfaatkan tempat penyimpanan barang tanpa kebingungan dengan asal-muasal? Ehm, saya pun menghela napas, adakah cetusan ini sia-sia?

Saturday, December 03, 2011

Fasilitas Umum


Fasilitas Umum? Ya, telepon itu bisa digunakan oleh orang ramai. Namun, tak seperti dulu, banyak orang tak lagi memanfaatkannya, karena tergantikan oleh telepon genggam pribadi. Tapi, saya masih sempat sekali-kali melihat seseorang menggunakan kemudahan, kata Malaysia untuk fasilitas. Pada waktu yang sama, fasilitas awam (yang terakhir padanan dari umum) ini seringkali disebut harta awam. Dengan sendirinya, siapa pun harus menjaga dan merawatnya. Bukankah begitu, kawan?

Belajar Bahasa Derah

Di dalam perjalanan pulang dari sekolah kemarin, bunda bercerita bahwa muridnya, Yusuf, adalah senior Zumi di SD Namira dulu. Ia bilang bahw...