Saturday, December 24, 2011

Masjid dan Perubahan

Saya mengambil gambar tersebut dari lantai dua. Kemarin, saya menunaikan sembahyang Jum'at di Masjid Muttaqin. Sebelumnya, saya melakukannya di Masjid Al-Bukhari, 20 menit dari rumah. Tema khotbah pada waktu itu adalah peningkatan mutu aqidah umat. Pengkhotbah masih muda dan bersuara keras terkait bahaya serbuan keyakinan lain. Jamaah tampak tepekur. Manakala, anak-anak kecil tak jarang membuat gaduh. Biasanya, khotib mengingatkan agar anak-anak di tingkat dua tak bising.

Tentu, selain mencermati isi khotbah, saya memerhatikan mode pakaian jamaah. Kebanyakan jamaah memakai kopiah putih, meskipun mereka belum menunaikan ibadah haji. Selain sarung, yang di Malaysia, dikenal dengan kain pelikat, setengah mereka memakai jubah dan serban. Sementara, pekerja dari Pakistan, Bangladesh, dan India mengenakan baju 'takwa' khas mereka. Kebanyakan sarung yang dipakai oleh mereka berjenama Gadjah Duduk, selain itu Atlas, Wadimor, dan Mangga. Ada seorang warga Indonesia yang menutup tubuhnya dengan sarung bermerek BHS, meskipun sudah tampak lusuh, si pemakainya tampak senang dengan kain mahal itu.

Saya sendiri memakain baju koko yang dibeli di kedai depan madrasah ibtidaiyah, tempat saya menghabiskan masa kecil di kampung halaman dulu. Dengan sarung bercap wadimor dan kopiah bersulam benang berwarna 'emas' dan kecoklatan, saya menekuri isi khotbah. Ketiganya tampak berwarna sejalan, coklat dan warna keemasan. Dulu, waktu kecil, saya sekenanya memakai baju dan sarung, tanpa pernah memikirkan keserasian. Mengapa? Karena anak kecil itu tahu bahwa fungsi pakaian itu adalah penutup tubuh, sementara orang dewasa itu berlagak, dengan pakaian yang melekat pada tubuhnya, diharapkan kehadirannya akan menyerlah. Ironik!

Friday, December 23, 2011

Buku itu adalah Rindu


Rindu itu adalah perasaan akan sesuatu yang tidak ada di depan mata kita. Demikian pula, buku itu adalah jejeran huruf-huruf yang menerakan tentang ide yang belum diwujudkan. Oleh karena itu, seperti mendaki, untuk mencapai sesuatu, yang dalam buku Climbing: Philosophy for Everyone, mengapa orang ramai mendaki gunung-ganang (Kata majemuk ini sering digunakan di Malaysia, sebagaimana bukit-bakau, bukan bukit-bukit), apa sebenarnya yang kita cari? Jawabnya, because it's there.

Kebetulan Perpustakaan Sultanah Bahiyah UUM mempunyai beberapa lantai. Untuk menuju tempat di atas, saya harus menaiki tangga. Mungkin tak sama dengan mendaki, tetapi langkah kaki ini kadang tersendat bila ingin mengunjungi puncak gedung tersebut. Tanpa kerinduan, siapa pun tidak akan pergi ke ruangan yang berisi banyak bahan bacaan. Mungkin mahasiswa tak mengalami kesulitan untuk mencapai lantai 4, tetapi tantangan untuk menggapainya tak jauh berbeda dengan seorang pendaki yang harus mempunyi azam yang kuat untuk menuju mercu.

Oh ya, tentang rindu, mengapa kita menggunakan kata kenangan, tetapi jarang mengucapkan rinduan, tetapi kerinduan? Tentu, untuk menjawab pertanyaan ini kita bisa melayari internet dengan membuka mesin pencari google atau yahoo. Namun, kalau langkah ini sering dilakukan, kita akan menumpuk penyakit pengetahuan, berupa kesegeraan mendapatkan maklumat tanpa usul-periksa. Ini tak jauh berbeda dengan kesukaan kita terhadap makanan mie segera (instant), enak di mulut, tetapi akan menuai bencana apabila selalu dilakukan. Oleh karena itu, mari kita tutup sejenak internet, lalu mencoba membaui buku 'apak' di perpustakaan!

Thursday, December 22, 2011

Uzbekistan


Saya berjumpa dengan mahasiswa Uzbekistan yang sedang menghelat pameran negeri Asia Tengah di depan perpustakaan. Tanpa harus pergi jauh, saya merasakan negeri ini secara sederhana, melalui tatapan dan perasaan, bukan tubuh kasat ini.

Tuesday, December 20, 2011

Merawat Lingkungan Kita

Hampir setiap kali membeli kue-muih di sebelah warung minuman ini, saya akan memesan secawan kopi panas di kedai yang menempelkan ajakan untuk katakan ya pada Eco-Pack. Styrofoam tentu tidak baik, karena penggunaan bahan ini dalam waktu yang lama memungkinkan pengguna terpapar penyakit kanker. Elok, kampanye seperti ini dilakukan agar masyarakat luas tidak menanggung penderitaan yang disebabkan wadah yang tak aman untuk makanan. Masalahnya, apakah kesadaran ini telah dimiliki oleh khalayak secara keseluruhan?

Apa yang harus dilakukan? Tentu, selain kampanye, pihak berkuasa, di mana pun, memastikan agar warung makanan tidak lagi menggunakan bahan di atas. Kebenaran itu tidak hanya terkait dengan proposisi, tetapi juga otoritas yang memahami kebenaran untuk mewujudkan ide menjadi tindakan. Mungkin, pemaksaan tak bisa dilakukan, karena sejatinya dalam hierarki etika Lawrence Kohlberg, kesadaran adalah wujud dari budi pekerti tertinggi, bukan karena takut pada hukuman atau undang-undang.

Kampus tentu memang peranan penting untuk menyadarkan orang ramai bahwa apa yang telah diterimajadi sebagai keumuman sebenarnya menyimpan bahaya. Untuk itu, penyadaran dan penguatkuasaan (pemberdayaan) oleh pihak berkuasa harus serta-merta digerakkan. Kita harus melihat situasi dalam hal sebegini. Jika tidak, kita akan tunduk pada pemodal yang hanya ingin mengaut keuntungan.

Monday, December 19, 2011

Made in China


Tak hanya barang di atas, begitu banyak produk yang dibuat di Negeri Tirai Bambu. Bahkan, kopiah putih saya yang dibeli di kampung halaman juga buatan negeri Mao Tse-tung. Padahal, toko penjual yang ada di pinggir jalan raya itu terletak jauh dari kota dan berada di atas bukit. Setiap kali berjamaah di surau, saya sering memakainya. Tak hanya itu, hadiah magic jar, tempat menaruh kue agar tetap hangat, yang didapatkan dari pembelian susu untuk susu si kecil pun buatan rakyat Republik China. Sebenarnya, ini bukan hal baru, karena semasa saya kecil, orang-orang kampung telah menggunakan barang(an) yang bertuliskan made in China, seperti kunci, piring, dan jarum.

Lalu, kalau keperluan kita sehari-hari telah dibuat di negeri Mao Zedong, apa yang akan kita lakukan? Menikmati hidup seraya ongkang-ongkang kaki? Tidak. Dengan kekayaan yang seluas gunung, laut, dan hutan belantara, Republik Indonesia sepatutnya makmur tak terkira. Sayangnya, kita abai. Petinggi tinggi hati, akar rumput bingung, sebab mengaku pintar dengan memilih wakil yang bisa membayar, ternyata sang wakil mengambil hak mereka jauh lebhi besar. Cerita Nazar (Nazaruddin, bekas bendahara Partai Demokrat) bagi saya adalah tak lebih kisah burung Nazar yang memakai bangkai.

Nah, selagi angin perubahan itu tak redup, kita berbenah dengan memulakan hal-hal sederhana yang bisa kita lakuan untuk kebaikan bersama. Tak perlu menunggu 2014 untuk mendapatkan pemimpin dan wakil rakyat yang berjiwa rakyat. Kita lihat dari dekat, apakah wakil Anda betul-betul memenuhi kehendak orang ramai? Jika tidak, kita akan senantiasa kebanjiran barang dari negeri luar, tanpa kita bisa mencegahnya karena kealpaan kita bersama. Betapa persekongkolan jahat antara wakil rakyat dan pengusaha telah mematikan napas alat produksi kita. Mereka bersekongkol mendatangkan barang dari luar agar mendapatkan keuntungan di atas angin. Masihkan Anda ingat kasus daging yang menimpa Partai putih itu?

Saturday, December 17, 2011

(H)ujung Minggu

Untuk keempat kalinya, kami menikmati tasik atau danau buatan D'Aman, yang berada tak jauh dari rumah. Gambar di atas adalah pengalaman kedua kami menyusuri lorong berkonblok. Dengan membawa roti untuk dilempar ke danau, kami berharap ikan-ikan itu berlompatan. Kegirangan tiba-tiba membuncah melihat ikan itu saling berebut dan secara bergantian melahap remahan roti. Pada pengalaman pertama, kami pernah menaiki kendaraan yang sering digunakan di lapangan golf untuk mengelilingi danau bersama keluarga Pak Bunyan.

Nah, pakaian berwarna kulit jeruk itu adalah pakaian keselamatan untuk mereka yang menaiki kayak atau perahu berbentuk binatang angsa. Untuk dua yang terakhir ini, kami belum menikmatinya. Tentu, kami masih ingin merasakan berada di tengah-tengah air sambih mengayuh dayung. Berbeda dengan kunjungan kedua di atas, pada kali keempat, pengunjung yang datang sangat ramai. Ada yang berlari, bermain layangan, duduk-duduk di tepi danau, dan sebagian yang lain memenuhi kursi kantin yang menyediakan kudapan dan minuman ringan.

Bagaimanapun, ruang publik seperti di atas merupakan katup dari pelepasan rutinitas yang membosankan, baik di tempat kerja maupun di rumah. Diharapkan, setelah berekreasi mereka akan menemukan kesegaran dan kebugaran dan kembali pada pekerjaan masing-masing. Kami sendiri pun memetik peluh karena berlarian sambil menikmati segala macam rupa pemandangan. Bayangkan, kalau kami memeram diri di rumah, hanya tembok putih, suara musik dan program televisi mengisi hari, yang tentu saja tak baik bagi hati kami. Kita hanya perlu keluar dari rumah untuk mendapatkan perasaan segar-bugar.

Friday, December 16, 2011

Nikmat itu adalah Membaca

Halim dan kelompok 3 yang membahas makalah bertajuk "Kaitan Hiburan Kapitalisme" membuka penjelasan hiburan dengan kutipan dari Mary Worley Montagu, no entertainment is so cheap as reading, nor any pleasure so lasting. Dengan lugas mahasiswa Falsafah dan Etika tersebut menjelaskan bahawa hiburan tak semestinya anggapan umum yang sebatas keseronokan, seperti musik, film, rekreasi. Dengan petikan di atas, hiburan yang murah seperti membaca layak diketengahkan.

Tapi, seperti gambar buku di atas, Climbing: Philosophy for Everyone, membaca memerlukan iltizam dan tubuh yang kuat, karena kita layaknya mendaki gunung-ganang untuk mencapai kepuasan. Oleh karena itu, kita sering melihat iklan layanan masyarakat yang mendorong khalayak untuk rajin membaca. Malangnya, iklan komersial lebih mendapatkan perhatian dan pengutamaan orang ramai. Betapa, pengguna (konsumen) tak berdaya menghadapi keperkasaan pengeluar (produsen) barang-barang, yang mungkin tak begitu diperlukan, tetapi dima(h)ukan karena pencitraan yang digambarkan terkait dengan keunggulan jenama (merek) yang ditawarkan.

Lalu, bagaimana dengan buku yang masih mahal, apakah membaca memang benar-benar kegiatan yang tak memerlukan uang? Tentu kita tak perlu membelinya apabila kita bisa mendapatkannya secara percuma dengan meminjam di perpustakaan. Bagaimanapun, kata Cicero, pemikir Romawi, kita akan meraih kehidupan yang sempurna dengan perpustakaan dan taman, tidak bererti (berarti) kita harus memiliki keduanya, karena kita bisa menikmati buku dan pepohonan di Perpustakaan Sultanah Bahiyah dan sekujur tubuh Universiti Utara.

Belajar Bahasa Derah

Di dalam perjalanan pulang dari sekolah kemarin, bunda bercerita bahwa muridnya, Yusuf, adalah senior Zumi di SD Namira dulu. Ia bilang bahw...