Saturday, May 19, 2018

Kisah Buku [4]

Ini adalah ruang musik Perpustakaan Hamzah Sendut Universitas Sains Malaysia. Saya selalu menyempatkan hadir di sini setelah berburu rujukan. Ada banyak koleksi lagu dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Tak hanya itu, banyak buku terbitan Yogyakarta yang saya temui dan minati karena terkait dengan isu kajian kebudayaan, seperti Masyarakat Konsumsi oleh Jean Baudrillard. Dengan menyebut kode CD, penjaga ruangan akan memutarkan instrumentalia Degung, musik Jawa Barat. Menikmati bacaan kritis tentang kebutuhan manusia seraya mendengar gendang dan seruling adalah keseronokan yang tiada tara.

Jadi, dalam menyelesaikan tugas penulisan disertasi, saya memanjakan diri dengan meneroka disiplin lain yang membantu melihat kenyataan dalam banyak sudut. Malah, di sela menulis bab demi bab, saya juga menghasilkan tulisan pendek, opini surat kabar, untuk merespons isu terkini terkait politik, agama, dan bahasa di media nasional, seperti Jawa Pos, Republika, KOMPAS, Suara Merdeka, dan majalah Tempo. Pendek kata, bacaan seeloknya menjelma tulisan sebagai cara untuk memahami. Kalaupun tak berbuah opini, cetusan bisa hadir di dinding media sosial. Sial!

Friday, May 18, 2018

Puasa Kachi [2]

Kemarin, saya mengikuti acara berbuka bersama dengan Persatuan Pengurusan Pendidikan (Pendidik) dan Inasis (Inapan Siswa) Yayasan al-Bukhari. Mereka menggelar kegiatan ini di surau laluan C, yang terletak antara asrama Bank Muamalat dan YAB. Mahasiswi mengambil tempat di dalam surau sementara mahasiswa berada di halaman seraya berteduh di bawah tenda. Hujan gerimis meningkahi sore itu.

Menjelang azan maghrib, salah seorang mahasiswa memimpin bacaan tahlil. Sebelumnya, saya dan Muhaimin, presiden Pendidik, bertukar cerita. Azim, mahasiswa asal Kelantan, turut meramaikan obrolan. Dalam waktu 15 menit, kami berzikir dan kemudian berdoa untuk berbuka. Seteguk jerus es dan kurma betul-betul menghilangkan dahaga dan lapar.

Pada hari kedua, saya berjamaah subuh dan mengikuti zikir hingga akhir. Setelah itu, saya pun beranjak pulang dengan berjalan kaki, sementara mahasiswa melanjutkan dengan tadarus dan salat dhuha bersama. Dari balkoni rumah, saya sempat mendengar bacaan kitab suci yang menghiasi pagi mendung. Suasana Ramadan begitu sempurna ketika matahari pagi menyibak hari dengan sinarnya yang hangat. Alhamdulillah. 

Thursday, May 17, 2018

Puasa Kachi [1]

Firdaus, mahasiswa SBM, memotret jamaah tarawih. Setelah usai witir, saya memintanya untuk mengirim ke telepon melalui WhatsApp. Malam pertama, masjid Asy-Syafi'i dipenuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi. Malah, pelajar lelaki meluber hingga ke serambi kiri bangunan utama.

Sebelum dimulai, panitia menyampaikan pengumuman bahwa salat malam ini akan dilaksanakan sebanyak 8 rakaat dan witir 3 rakaat. Pegawai Pusat Islam, Ust Shahidan Marecan dan Ust Azhar turut hadir dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memimpin.

Seusai witir, kami berzikir. Lalu, saya pun beranjak pulang. Istri, Biyya dan Zumi belum tidur. Kami pun bercengkerama. sebelum jarum jam menunggu angka 1 lebih 10 menit, kami merebahkan tubuh di kasur. Pada pukul lima, saya dan isteri bersahur bersama. Ayam pepes pedas terasa dahsyat. Maknyus! Kachi sunyi. Sebelum subuh, saya pun membuka plastik buku Tafsir Buya Hamka terbitan PTS. Begitu menggugah pengantar karya mantan ketua MUI, yaitu dipersembahkan kepada ayah, paman, dan isterinya. Mungkin karena saya sudah terbiasa, hari pertama dilalui dengan mudah. Susahnya, karya penulis Di Bawah Lindungan Ka'bah hanya didaras pada halaman awal dan tak beranjak jauh. Tadarus tak berjalan lancar.


Wednesday, May 09, 2018

Kisah Buku [5]

Saya tidak tahu apa yang saya sedang sampaikan dan tak pasti yang  moderator, Fawaid, pikirkan. Namun, perbahasan kami berkisar isu adakah mungkin komunikasi Tuhan dengan manusia?

Tentu, pilihan Izutsu terhadap ide existenz Karl Jasper didasarkan pada pemikiran spekulatif. Manusia mesti naik ke langit secara eksitensial agar setara sehingga percakapan di antara keduanya bisa terjadi.

Apapun, dasar pembenaran bahwa wahyu beradal dari Tuhan telah dinyatakan dalam kitab suci. Kita pun mendekati Alqur'an dengan hati (qalb), bukan sekadar akal budi. Di sini, kehadiran pesan Tuhan tak lagi dibingkai pendekatan linguistik struktural, tetapi spiritual. 

Wednesday, May 02, 2018

Chow Kit dan EDC [1]

Di hari libur, saya telah merancang untuk menemui Pak Agus Badrul Jamal, pegawai kedutaan Republik Indonesia, untuk menyampaikan hasrat rencana penyelenggaraan kongres Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama. Mengingat beliau menghadiri acara Tabligh Akbar Muhammadiyah di hotel Regency, saya meluncur ke sana dari KL Sentral.

Setelah berbincang sebentar, beliau meneruskan perjalanannya ke tempat lain untuk mengikuti acara pengajian. Saya pun berjumpa dengan Mas Yuri Buchari untuk mendengarkan ceramah umum oleh Pak Suyoto, Bupati Bojonegoro. Ada banyak pesan yang bisa diserap oleh hadirin, di antaranya sejarah peran agama dalam masyarakat, yaitu sebagai anteman (bertengkar) ageman (pakaian) dan ugeman (pandangan hidup).

Usai acara di atas, saya dan Mas Buchari mencari hotel EDC, milik Universitas Utara Malaysia. Kami sempat menunggu lama di depan sebuah toko telepon genggam akibat hujan deras yang mengguyur ibu kota.

Pada waktu sore, dari hotel ini, saya memilih berjalan kaki ke PWTC untuk mengunjungi Pameran Buku Internasional Kuala Lumpur. Alhamdulillah, saya bisa bersilaturahim dengan Pak Raja Ahmad Aminullah yang menulis buku luar biasa tentang peran kaum terpelajar, Minda Tertawan: Intelektual, Rausyanfikr, dan Kuasa dan sempat berfoto bersama. Hal yang menyenangkan dari penginapan ini adalah suraunya yang luas dan bertempat di lantai tertinggi. Dari sini, saya bisa mendengar azan subuh dari masjid terdeka. Selain itu, saya bertemu dengan Nasih, staf satuan pengaman hotel asal Bangladesh, yang juga menunainan salat. 

Tuesday, April 10, 2018

Kisah Buku [3]

Apa yang saya lakukan di sela menunggu promosi doktoral saya? Salah satunya adalah mengikuti pengajian yang dilaksanakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia di masjid kampus. Sebagai pendengar, saya selalu mencatat kata-kata kunci yang disampaikan oleh penceramah agar saya bisa berinteraksi dengan teks secara mendalam.

Saya mencoba menerapkan gaya Izutsu dalam menganalisis teks penceramah dengan menghadirkan kata kunci, yang dicari makna dasar dan relasional, persamaan dan perlawanan kata, medan semantik, pandangan dunia (weltanschauung) Arab dan akhirnya pesan utama yang bisa diturunkan dari sebuah ayat. Pembacaan seperti ini sejatinya membayangkan ketekunan untuk mencatat karena satu kata dalam bahasa Arab membayangkan makna pra Alquran (Syair Arab kuno), masa Nabi dan pasca kitab suci. Mengingat pengajian agama mengandaikan sumber Al-Furqan, maka pembacaan (qira'ah) tidak hanya dibatasi pada seni, tetapi juga analisis tekstual.

Di dalam mengikuti pengajian, setiap individu tentu membawakan dirinya sebagai orang yang memilih dan bertindak sebagai makhluk sosial. Ketika membeli telepon genggam i-mobile, saya membayangkan bahwa pilihan terhadap barang bisa didekati sebagai cara pengguna untuk menyampaikan teks. Barang tidak lagi sebagai fungsi, tetapi berkomunikasi. Ketika memilih produk lokal, ia sejatinya hendak menyampaikan bahwa apapun telepon pintar (belum pintar, karena masih berfungsi untuk mengirim pesan dan menelepon) yang digunakan, di dalamnya ada komponen yang berasal dari banyak tempat dan orang. Kata Friedman, dunia itu rata. 

Tuesday, April 03, 2018

Kisah Buku [2]

Mengapa saya akan membedah buku pemikiran Izutsu di Annuqayah pada etape pertama? Karena di sini saya belajar tafsir untuk pertama kalinya. Ustaz Rais menggunakan Alqur'an terjemahan Departemen Agama sebagai buku teks. Sejak diterbitkan di Malaysia, saya pernah berbincang dengan Kiai Mushthafa terkait bedah karya tersebut beberapa tahun silam.

Selanjutnya, saya belajar tafsir Jalalain sebagai buku ajar di sekolah menengah dari Pak Johan. Pelajaran diselenggarakan di masjid Latee, karena Yayasan sedang membangun kelas baru untuk siswa. Dengan tekun, saya memaknai kata perkata dari surat Al-Kahfi dan mengikuti penjelasan dari sang guru.

Tentu, pengalaman membacakan Alqur'an setelah subuh di rumah Kiai Ahmad Basyir adalah pengalaman spiritual lain yang mendebarkan. Tidak hanya harus berjamaah subuh di belakang ke kanan kiai, saya dan teman-teman lain harus memastikan agar sajadah tidak dipindah sebab tidak digunakan sepanjang menunggu sembahyang. Sekali waktu, pintu gerbang jebol karena santri berebut, tak pelak dibuat aturan giliran berdasarkan urutan baris (shaf) berjamaah. Lalu, apa kaitannya dengan gambar karnaval? Inilah wajah Islam Madura. Alquran memang menjadi kitab utama, tetapi dalam keseharian mereka telah meramu kehidupan dengan kearifan. Tentu, ini memerlukan penulisan buku lain yang saya bayangkan, "Analisis Semiotik terhadap Penghayatan Alqur'an orang Madura: Kajian terhadap Karnaval Madrasah di Ganding".

Agama di Pagi Hari

Kondektur memberitahu bahwa bus PO Harapan Baru yang saya tumpangi telah sampai di depan terminal Tawangalun, Jember. Saya pun turun dan men...