Saturday, December 10, 2022
Mengurangi Penggunaan Telepon
Kolom Falsafah Harian di koran Kabar Madura dibaca oleh 2000-an pembaca. Pada Selasa yang akan datang, saya akan menulis tema "Kesederhanaan".Sementara, saya belum bertanya apakah "Bahasa Agama" dalam edisi terbaru Majalah Tempo disimak oleh banyak pembaca. Meskipun mengulas ulikan lema, saya menyiratkan pijakan saya dalam beragama, berbangsa, dan berdunia.
Dengan angka ini, saya harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan suara pada 2024 karena kebisapilihan masih rendah. Masalahnya, apa betul khalayak menukar coblosan dengan selembar uang, sebagaimana mereka beribadah untuk mendapatkan poin?
Apa pun, kita hanya perlu membuat pilihan. Selebihnya, kata Epicurus, kekuasaan dan kemasyhuran itu kosong (empty) dan sia-sia (vain). Setidaknya, dengan membersihkan hotwheels, saya telah tidak menggunakan telepon pintar selama rapat.
Koya Detar
Saya membaca Freud dan Ibunya membantu Zumi mengerjakan bahan lomba ke Malang. Tidak mudah mengajak si kecil untuk belajar.
Pertandingan adalah cara kita untuk mengalahkan diri sendiri. Maklum Zumi akan merasa jengkel bila kalah dalam sebuah perlombaan. Tatkala mengikuti lomba melukis di acara Big Bad Wolf, ia tampak kesal karena tidak dipanggil ke panggung.
Saya pun bercerita pernah kalah dalam pertandaingan pingpong di pondok dulu. Namun, dengan bermain tenang, kita telah membuat lawan tertekan. Ia menang tetapi tidak tenang. Mengukur diri sendiri adalah cara kita untuk mengambil posisi dalam hidup.
Sore, Buku, dan Wedang Uwuh
Fromm berbeda dengan Freud. Tantangan utama seseorang adalah bagaimana ia berhubungan dengan orang lain dalam masyarakat, bukan dorongan instingtif.
Selain itu, hubungan manusia dan masyarakat senantiasa berubah. Sementara Freud menegaskannya sebagai statis.
Pendek kata, relasi aku-kamu-benda perlu dituntaskan agar langkah kita
mantap
. Kita perlu orientasi. Duduk di acara Yasinan memberi kita arah. Apa ini ilusi? Tidak.
Living Qur'an
Mereka menyimak paparan temannya tentang tradisi Jawa dan nilai Islam. Di sini, kitab suci dihayati bersama praktik masyarakat yang telah berakar lama sebelum ajaran baru datang.
Mahasiswa IAT tidak hanya memeriksa tata bahasa tetapi fenomenologi peristiwa. Kemampuan turats dan ilmu sosial berjalan serentak. Garis disiplin tidak lagi dibatasi.
Setelah itu, mereka berjemaah di musala kampus Universitas Nurul Jadid. Rutinitas ini tidak hanya berhenti pada banalitas. Manusia bukan mesin yang berjalan setelah tombol ditekan dan berhenti sesuai waktu yang telah ditentukan. Intensitas itu tidak bisa dibatasi oleh durasi.
Thursday, December 08, 2022
Diskusi Pagi
Biyya, kerelaan suami menjadi jalan bagi isteri untuk masuk surga. Ia menjawab, "It must be equal between husband and wife".
Equality dan equity adalah dua istilah yang berbeda dalam kebahasaan. Kesetaraan itu harus diwujudkan, tetapi kesaksamaan itu perlu ditimbang. Di rumah, istri bisa menguasai keuangan karena yang bersangkutan mengatur pengeluaran dan lebih mengetahui harga kebutuhan sehari-hari. Kekuasaan berkait erat dengan pengetahuan.
Apa pun, surga itu adalah rasa nyaman. Neraka itu kegelisahan. Secara kiasan, mengapa ada Trouble in Paradise, sebab di mana pun hidup, setan pasti hadir. Namun percayalah, kata Rhoma Irama, ia pasti kalah.
Tuesday, December 06, 2022
Kiai, Santri, dan Politik
Sebagai santri senior, saya menghormati pilihan orang lain. Saya hanya berharap tidak ada pondok pesantren yang memobilisasi santri untuk mendukung bakal calon. Betapa menyedihkan, ada santri yang bahkan belum cukup umur dikerahkan untuk menyokong seseorang pada pesta demokrasi yang akan datang. Dengan kesadaran demikian, demokrasi sehat. Politik ini urusan duniawi, meskipun dalam kegiatannya ada zikir akbar, istighatsah, dan pengajian.
Nilai-nilai kepesantrenan, seperti kesederhanaan, kerendahhatian, dan kepedulian bisa merembesi setiap orang dan institusi politik. Dengan keberpihakan pada prinsip, pondok sebagai lembaga pendidikan, pengkaderan, pemberdayaan akan semakin kokoh.
Monday, December 05, 2022
Bahasa Agama
Mengapa orang Inggris menyebut ahli kitab (dari bahasa Arab ahl al-kitab أهل الكتاب) dengan people of the book dan wahyu (dari wahy وحي) dengan revelation? Sementara kita tidak memanfaatkan kata pemilik buku dan penyingkapan untuk dua istilah tersebut?
Apa akibat penggunaan kata asal seraya mengabaikan lema sendiri dalam menghayati dan memahami konsep tersebut? Sila simak di Majalah Tempo keluaran (edisi) terbaru minggu ini (4 Desember 2022) di sini: https://majalah.tempo.co/.../bahasa-agama-dalam-bahasa....
Anda juga bisa mengikuti laporan tentang KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), yang mengulas membumikan tafsir yang memanusikan perempuan. Pendek kata, kita akan memahami banyak kenyataan melalui analisis kebahasaan. Sebermula dari kata!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Perpustakaan
Khoiruman adalah lulusan Pendidikan Matematika Universitas Nurul Jadid. Ia bisa menghitung persentase tanpa harus memakai kalkulator ketika ...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Kami berdua salat di masjid tempat orang dewasa, remaja, dan anak-anak bersembahyang. Di sini, saf pertama bisa diisi oleh jamaah dari sega...





