Setiap malam jumat, saya menyempatkan hadir di masjid kampus untuk membaca surat Yasin bersama. Dipimpin seorang iman, tradisi ini menghadirkan koor melantukan ayat suci, yang sebelumnya didahului dengan memohon ampunan (istighfar), surat alfatihah, shalawat pada nabi dan ditutup dengan doa.
Di luar acara ritual ini, beberapa jemaah meletakkan botol air di depan sang Imam dengan harap mendapat berkah. Teman saya, Rosdan malam itu juga sengaja membuka tutup botol seperti yang lain untuk memudahkan aliran keajaiban masuk ke dalamnya. Saya berkata, "Entar, saya juga mau minum airnya ya?"
Meskipun agar terkantuk-kantuk karena seharian saya berkutat di depan komputer, namun saya tetap mengikuti sampai akhir. Biasanya, saya merasa telah menempuh perjalanan rohani yang masih tersisa karena 'cahaya' belum nampak. Lalu, dengan nada menghibur, biarlah proses ini dijalani hingga akhirnya sampai di puncak pengalaman spiritual.
Ada beberapa menit untuk jeda sebelum dilanjutkan shalat Isya', Pak Mustar, Rosdan dan saya menghabiskan waktu bercakap-cakap di beranda Masjid tentang apa saja. Kebersamaan inilah yang makin menipiskan jarak, tapi belum juga memasuki 'batin' mereka. Tentu saja, karena saya bergelut dengan ranah batin sendiri yang masih mencari tempat nyaman untuk bersemayam.
Friday, April 14, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menunggu
Dengan berangkat awal ke sekolah, saya punya waktu lebih lama untuk menunggu di warung kopi Senja. Saya senang karena hanya sendirian. Kehad...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Pemilik buah catur hitam adalah Zumi. Untuk permainan kedua, adik Biyya ini memenangkannya. Dengan demikian, ia akan bermain lagi karena per...
-
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Biyya minta mampir ke pasar mini untuk membeli roti. Saya pun menunggu di warkop yang menyediakan empa...
No comments:
Post a Comment