Friday, February 16, 2007

Buku terjemahan Filsafat Mudah Retak

Dalam sebuah bedah bukunya di UIN Sunan Kalijaga, F Budi Hardiman ditanya oleh peserta tentang kegelisahannya mengenai derasnya minat mahasiswa untuk belajar filsafat yang nota bene adalah pengalaman Barat. Sepertinya, kita dipaksa untuk belajar dan memecahkan persoalan bangsa lain dengan mengabaikan persoalan pemikiran Indonesia. Belum lagi jika kita lihat pengalaman riil Indonesia yang berbeda dengan Barat. Sementara yang terakhir telah memasuki kritik terhadap modernitas –dengan mengajukan posmodernisme sebagai alternatif lain dari kebuntuan klaim modernitas akan kebenaran dan runtuhnya narasi tunggal. Secara tegas, dia menyatakan pentingnya belajar pengalaman kegagalan Barat dengan proyek modernitasnya. Dengan mempelajarinya, kita lebih antisipatif dalam menghitung dampak cara berpikir dan pragmatisme absolut tanpa memikirkan kontribusi pemikiran kesatuan.

Memang terasa aneh, bahwa secara keseluruhan perjalanan pemikiran bangsa Indonesia mengadopsi klenik, progresif dan rasional. Menggambarkan perjalanan sejarah bangsa ini tidak semudah Barat yang relatif tunggal dalam mewujudkan progress, meskipun akhirnya dikritik sebagai produk pencerahan yang mengecewakan. Namun hal ini seharusnya tidak menghalangi untuk mengambil “nilai-nilai” mereka dan menjadikan instrumen untuk membaca pengalaman kita sendiri.

Ilustrasi di atas membantu untuk kembali melihat filsafat dalam sudut pandang kita sendiri. Kesulitan untuk memposisikan problem kedisinian telah membuat kita gamang untuk memberikan perhatian secara lugas pada cara berpikir logis dan koheren tentang masalah yang dihadapi bangsa ini. Penerjemahan buku-buku filsafat ke dalam bahasa Indonesia baik yang populer maupun serius telah mengajak kita untuk menggunakan pemikiran kritis memetakan persoalan yang berserakan di negeri ini.

Walaupun penerjemahan adalah tindakan bunuh diri tetapi ia perlu dilihat sebagai transformasi pengetahuan dan pengalaman yang lain pada masa tertentu dan lokalitas tertentu (perlu dipertimbangkan relasi pengetahuan-kuasa Foucault). Dengan demikian, secara umum pengalaman manusia itu, betapapun khasnya, tetap mencerminkan respon terhadap fenomena sosial dan alam.

Sesuatu yang mudah Retak
Rintisan penerjemahan yang dilakukan oleh Yayasan Obor telah menemukan kelimpahannya pada awal tahun 90-an. Banyak penerbit telah menerjemahkan banyak buku filsafat ke dalam bahasa Indonesia sehingga pikiran-pikiran cerdas ini mampu membuka kembali kritisisme. Dari Filsafat awal hingga posmodernisme, kita dihadapkan dengan banyak alternatif pemikiran yang akhirnya mengantarkan kita untuk mengkritik masalah yang bersifat lokal dan khas.

Haruskah penerjemahan diributkan hanya karena dilihat banyak kesalahan? Jawabannya jelas ya, tetapi harus ada kritik yang telah dilakukan beberapa teman dalam rubrik Di Balik Buku belakangan ini. Di luar kesulitan yang membelit penerbitan berkaitan dengan kualitas penerjemahan, harus diperbincangkan jarak antara teks asli dan reproduksinya.

Di sini pemikiran Georg-Hans Gadamer (1975: 346) membantu kita untuk melihatnya sebagai problem pengetahuan itu sendiri. Tidak diragukan bahwa terjemahan sebuah teks, betapapun banyak penerjemah merasakan dirinya ke dalam penulisnya, tidak bisa benar-benar memunculkan kembali peristiwa orisinal di dalam pikiran penulis, karena penerjemah tidak hanya melakukan reproduksi tetapi juga penafsiran. Sebuah penjelasan baru terhadap teks bahasa lain dan untuk pembacanya. Di dalam bukunya Truth and Method, dia menegaskan beberapa kali bahwa penerjemah adalah penafsir.

Memang, lanjut Gadamer, jurang pemisah antara semangat kata-kata asli dan reproduksinya tidak pernah bisa didekatkan secara sempurna. Ini harus diterima. Di sini, terjemahan perlu penjelasan baru, yang memang menjadi tugas penerjemah. Salah satu pokok yang harus dicermati adalah sisi batin dari sang penulis karena perbedaan sejarah dan psikologi.

Namun sebelum buku terjemahan dilempar ke publik, penerbit harus juga melibatkan para pembaca ahli untuk memberikan pengantar sekaligus memeriksa kualitasnya. Mungkin kita perlu menjenguk sejenak pengantar Frans Magnis Suseno untuk sebuah buku Filsafat, “Terjemahan in tentu tidak sempurna. Masih ada beberapa kesalahan penerjemahan. Namun, barangkali alam akademis Indonesia memang belum mampu untuk menghasilkan terjemahan-terjemahan yang betul-betul memadai. Menuntut hal itu akan berarti tidak ada terjemahan sama sekali, karena adanya segelintir orang di seluruh akademik Indonesia mampu untuk melakukannya atau untuk memperbaiki terjemahan orangl ain, dan mereka itu tentu tidak mempunyai waktu. Jadi perlu kita bersedia menerima kompromi. buku ini memenuhi standar minimal agar dipublikasikan: teks-teks dalam buku ini pada umumnya memungkinkan pembaca untuk menangkap apa yang dimaksud oleh Marx. Ia tidak akan ditipu. Apalagi, bahasa terjemahan lancar sehingga teks-teks Marx – yang dalam bahasa aslinya, bahasa Jerman, amat berat bahasanya – dapat dimengerti. Karena itu saya merekomendasikan buku ini – disertai harapan bahwa sebelum terbitan kedua beberapa salah ketik dan beberapa dari salah terjemah dapat dibetulkan”

Jadi sang profesor telah melakukan langkah nyata untuk menegaskan sebuah karya sebagai jembatan – betapapun rapuhnya – yang mengantarkan kita pada nafas sesungguhnya dari sebuah karya. Bahkan lebih jauh Dr. Mulyadi Kertanegara memberi contoh yang baik bagaimana menerjemahkan sebuah buku (The Adventure of Islamnya Marshal G. Hodgson) dengan memberikan pengantar untuk memberikan konsistensi dan koherensi sebuah penerjemahan kata sehingga memunculkan makna yang mendekati kata yang dimaksud. Contoh lain adalah pengantar Prof. Machasin (God and Man in the Qur’annya Toshihiku Izutsu) yang memberikan penilaian laiknya sebuah terjemahan dalam mengalihbahasakan yang asli pada yang reproduksi. Mari kita kritik buku terjemahan dan membelinya.

Puncak Hijau


Happiness isn't some things you can experience, it's something you remember.
Oscar Levant, pianist composer (1906-1972)

1 Januari 2007, saya menikmati puncak bukit yang ditaburi pohon teh. Sayang, saya tidak bisa merasakan angin sejuk di ketinggian karena masih lemas akibat deman dan pusing. Lebih susah lagi, saya harus menelusuri jalan kecil menuju puncak yang licin. Keinginan untuk mereguk udara bersih raib. Saya harus menjaga keseimbangan tubuh agar tidak jatuh.

Dari kejauhan, hanya kehijauan. Ini membuat mata teduh. Saya melihat orang-orang tampak riang. Di atas sana, orang-orang sedang sibuk bergambar bersama. Satu sama lain bergantian mengambil gambar. Ya, keriangan memang harus dikekalkan melalui gambar. Ia akan menjadi pengingat ketika kita berada di tempat dan waktu yang berbeda.
Seperti gambar di atas, meskipun tak ada kata-kata, tapi ia mempunyai seribu 'kata' yang bisa diungkap melalui latar, posisi tubuh, raut, dan yang pasti di dalam ingatan dari pemiliknya.

Kertas Tembok

Untuk menerjemahkan wall paper, saya mengambil jalan pintas kertas tembok. Gambar di sebelah ini, saya tempel di layar komputer.

Saya sangat suka dengan gambar ini. Selain dikelilingi bunga, kami berdua tersenyum renyah. Padahal untuk sempai ke lokasi ini (toko bunga di Cameron Highland), kami bersama Bunda, Ayi dan Woelan harus mengelilingi bukit selama hampir 1,5 jam. Belum lagi, saya muntah-muntah di tengah perjalanan.

Sebelum berangkat, saya telah merasa pusing. Namun, karena kami udah berjanji untuk ikut ke Cameron Highland, saya memaksakan diri. Hikmah dari ini semua adalah bahwa kita akan sanggup menanggung hidup ini jika dalam keadaan apapun kita masih menyisakan senyum.


Mungkin lebih dari tiga kali saya muntah-muntah karena jalan yang melingkar dan guncangan mobil. Memang, saya merasa lebih ringan, tapi rasa tidak enak hati pada teman baik kami karena perjalanan ini terganggu.

Demam Panas


Kemarin Malam, saya merasa tak enak badan. Tapi, saya tetap memaksakan diri untuk memeriksa disertasi. Akibatnya, saya harus membayar mahal. Sore kemarin saya terkapar karena panas menyerang. Sepertinya, tubuh ini dipanggang. Kasur tempat saya tidur sepertinya dialiri api.

Tadi malam, saya turun ke bawah untuk menemui dr. Akbar Ali (panel USM). Untuk kesekian kalinya, saya berobat ke klinik Penawar ini. Terus terang, wajah ramah sang dokter membuat panas berkurang. Seperti biasa, saya diberikan obat 'panadol', antibiotik dan flu. Hanya sekitar 10 menit, dokter memeriksa suhu badan saya lalu menuliskan resep. Mungkin, kalau bunda ada di rumah, saya minta dikerokin agar demam hilang.

Karena tak enak makan, saya hanya memesan burger daging di Restoran Khaleel. Sambil menunggu, saya mendongakkan kepada menonton acara 999, program TV3 yang menyajikan tindak kejahatan.

Oh ya, saya punya cerita tentang sakit yang sama. Tetapi, karena teman baik saya mau mengambil gambar kami, dengan riang dan mengangkat jempol saya tersenyum. Aneh, bukan?

Mengenang Pemikir Pejuang

Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia

Profesor Syed Hussein Alatas adalah segelintir intelektual Asia Tenggara yang dikenal di dunia internasional. Kepergiannya (23/1/07) telah meninggalkan banyak kenangan bagi rakyat Malaysia, terutama kalangan intelektual. Bahkan, Tun Mahatir Mohammad, bekas Perdana Menteri, turut hadir dalam upacara pemakaman, meskipun keduanya pernah berbeda pendapat mengenai hubungan genetik dan kemunduran kaum Melayu pada tahun 1970an. Namun demikian, saya tidak melihat pemerintah memberikan penghormatan yang layak bagi seorang intelektual sekaliber beliau.

Tentu saja, kalangan pegiat dan akademisi di Indonesia seyogyanya turut merasakan kehilangan. Tidak saja karena beliau dilahirkan di Bogor Jawa Barat, tetapi juga sebuah karyanya Sosiologi Korupsi (terjemahan LP3ES, 1982) telah banyak diapresiasi dan mempengaruhi para aktivis pada tahun 1980an tentang bahaya penyalahgunaan kekuasaan. Lebih-lebih, beliau menyatakan mempunyai ikatan spiritual dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Natsir. Selain itu, jurnal Progressive Islam yang dirintis oleh Alatas di Belanda mendapat bantuan keuangan dari Natsir, yang pada masa itu menjadi Perdana Menteri.

Tambahan lagi, kedekatannya dengan sejarah nasionalisme Indonesia telah melahirkan sebuah karya Islam dan Sosialisme. Bagi beliau, terdapat kesesuaian antara ide Islam dan sosialisme, di antaranya sarana produksi penting dimiliki oleh negara, kelas pekerja dan konsumen dilindungi dari eksploitasi, negara menjamin distribusi barang, dan upaya menghapuskan ketidakadilan yang muncul dari sistem kapitalistik. Tak dapat dielakkan, beliau dicap sebagai sosialis, sebuah lebel yang dengan mudah distigmakan kiri.


Karya-karya penting

Dengan komitmennya yang tinggi, tulisan beliau memberikan perhatian pada persoalan agama, pembangunan, peran intelektual, pluralisme, korupsi, ideologi, kapitalisme kolonial dan teori sosial. Sebagian besar karya ini ditulis dalam bahasa Inggeris. Tak pelak lagi, kiprah intelektualnya bisa dikenal di kancah internasional. Prestasi ini tak bisa dilepaskan dari latar belakang pendidikan doktornya dalam bidang ilmu sosial dan politik di Belanda serta kegiatan organisasi keislaman di negeri Kincir Angin ini.

Sebagai salah satu perintis penyelidikan sosiologi di Asia Tenggara paling utama, beliau menulis kurang-lebih 14 buku. Mitos Pribumi Malas (The Mith of the Lazy Native, 1977) adalah sebuah kritik terhadap pandangan bias Barat terhadap Timur sebelum Edward Said menulis Orientalism: Western Conception of the Orient (1978). Bahkan dalam bukunya Culture and Imperialism (1993), Said menyebut karya Alatas sebagai ‘startingly original’ dan di dalam buku ini juga Said banyak merujuk kepada pemikirannya.

Buku tersebut di atas berusaha menganalisa asal usul dan fungsi ‘mitos pribumi malas’ dari abad ke-16 hingga ke-20 di Malaysia, Filipina dan Indonesia. Pelekatan sifat tidak beradab ini tidak bisa dilepaskan dari upaya ideologi kapitalisme Barat yang berusaha untuk mencari pembenaran dalam memajukan dan mengadabkan bangsa jajahan. Lebih parah lagi, kolonialis juga memberikan makanan buruk dan opium, dan pemisahan dari lingkungan alamiahnya agar pribumi merada rendah-diri dan tidak cukup sehat untuk menjadi manusia.

Karya lain, Religion and Modernization in Southeast Asia, adalah sebuah karangan yang berusaha mementahkan mitos pribumi malas dan sekaligus mengkritik warisan feodalisme yang menghinggapi masyarakat Melayu. Hang Tuah, pahlawan yang acapkali dijadikan rujukan, bagi Alatas, tidak lebih dari pahlawan Melayu feodal dan berani berbuat apa saja demi kesetiaan, ketaatan dan penghormatan terhadap penguasa. Ironisnya, ia membunuh kawannya sendiri secara tidak jantan karena ingin memenangkan sebuah pertarungan.

Selain buku, beliau juga menulis artikel di pelbagai jurnal internasional yang diterbitkan di Jerman, Perancis, Tokyo, dan Amerika. Sebuah bukti lain tentang kepeduliannya untuk menunjukkan bagaimana bangsa-bangsa Asia Tenggara tidak lagi hanya dijadikan sebagai objek kajian, tetapi sekaligus menempatkan metodologi Barat sebagai cara mengkritik bangsanya dan sekaligus mitos yang diciptakan ‘penjajah’. Jelas, di sini, ada upaya sintesis antara pandangan Barat dan Islam agar tidak berada pada posisi diametral. Sebab, selain menggunakan sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, beliau juga menerapkan gagasan sosiologi Ibn Chaldun, yang disebutnya sebagai Bapak Sosiologi Modern, bukan Émile Durkheim.

Satu Perkataan, Satu Perbuatan

Sebagai intelektual, Alatas memberikan pandangannya yang sejalan dengan kondisi Malaysia yang terdiri dari masyarakat multikultur. Pemihakannya terhadap pluralisme tidak hanya di atas kertas, tetapi dalam tindakan nyata. Dalam sebuah berita televisi, penulis melihat beliau menghadiri sebuah acara Hari Raya bersama, meskipun tampak terlihat lamban karena usianya yang uzur.

Keteguhan pendapatnya juga diperlihatkan ketika beliau harus berseberangan dengan saudaranya sendiri, Syed Naquib al-Attas, cendekiawan Muslim ternama, tentang islamisasi pengetahuan, termasuk islamisasi sosiologi. Justeru sikap ini diambil ketika yang terakhir didukung oleh pemerintah melalui Anwar Ibrahim. Sikap ini bisa dipahami karena, meskipun Syed Hussein pernah tertarik dengan gagasan ‘fundamentalisme’ Hassan al-Banna, beliau adalah seorang pemikir sekuler yang memisahkan peran agama dan negara dalam kehidupan masyarakat.

Langkah kontroversi lain yang dilakukan semasa beliau menjadi ‘rektor’ Universitas Malaya adalah kebijakan bahwa prestasi (merit) seharusnya dijadikan ukuran dalam penentuan jabatan struktural di universitas. Hal ini ditunjukkan dengan pengangkatan dekan berkebangsaan India dan China, yang menimbulkan kemarahan orang-orang Melayu. Bahkan, beliau rela berhenti sebagai ‘orang nomor satu’ di Universitas Malaya karena tidak mau tunduk terhadap tekanan.

Tidak hanya bergulat dengan wacana ilmiah, beliau juga sekaligus pegiat praksis dunia politik. Gagasannya diwujudkan dalam sebuah partai politik Pekemas (Partai Keadilan Malaysia). Ia adalah sebuah partai oposisi pertama yang melibatkan pelbagai etnik, agama dan golongan. Bahkan, beliau juga pernah menjadi anggota parlemen mewakili partai ini. Pendek kata, beliau adalah pemikir sekaligus aktivis.

Hebatnya lagi, di usia senja beliau masih menunjukkan kepeduliannya untuk melahirkan sebuah karya tentang kaitan perpustakaan dan tradisi kesarjanaan dalam sejarah dan peradaban manusia. Sayangnya, sebagaimana diungkapkan oleh koleganya, Shaharom TM Sulaiman (Utusan, 29/1/07), beliau merasa kecewa karena tidak mendapatkan kemudahan akses dan hambatan dari perpustakaan. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di sebuah negara yang mencanangkan negara maju pada tahun 2020.

Malangnya, sebagaimana diungkapkan oleh A. B. Shamsul (2005: 31), sumbangan Alatas tidak sepenuhnya diapresiasi oleh para sarjana dari ‘dunia Melayu’ dan Asia Tenggara. Padahal pengakuan banyak intelektual Barat akan orisinalitas karyanya dan tentu saja masih banyak karya seminal beliau yang perlu dikembangkan lebih jauh untuk memantapkan posisi intelektual Asia Tenggara di jagad pemikiran dunia.

Akhirnya, Dari paparan singkat di atas, kita dapat melihat karakteristik dari seorang intelektual sejati ini, yaitu, pertama hubungan yang luas dengan pelbagai kalangan, kedua karyanya ditulis dalam bahasa Inggeris sehingga bisa dinikmati oleh dunia lebih luas, ketiga gairah kesarjanaan yang ditunjukkan dengan tetap berkarya meskipun berusia lanjut dan ‘negara’ yang tidak begitu ramah karena kekritisannya dan keempat berpendirian kokoh sekalipun dihadapkan dengan tembok kekuasaan yang congkak.

Tafsir al-Qur’an Menuju Praksis

Ahmad Sahidah
Kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam Universitas Sains Malaysia

Syafi’ie Maarif (21/11/06) telah memicu perdebatan yang memaksa pembaca untuk memberiksa kembali pemahaman terhadap Kitab Suci. Adian Husaini, Syamsul Hidayat, Fajar Riza Ul Haq, Zuhairi Misrawi, Burhanuddin Agus, Syamsuddin Arif, Almakin dan Hasibullah Satrawi telah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam menguraikan secara kritis tulisan singkat mantan ketua Muhammadiyah ini dalam kolom rutin beliau, Resonansi.

Artikel ini tidak akan menambah pemahaman baru terhadap ayat yang dipertikaikan, karena ulasan mereka bisa dianggap mewakili semua genre penafsiran yang pernah hidup dalam kajian al-Qur’an. Namun demikian, perbedaan ini perlu dibingkai dalam sebuah penalaran tafsir itu sendiri agar kita bisa memahami lebih jauh mengapa pertengkaran ini menyeruak ke permukaan dan lebih dari itu pentingnya pengungkapan hal-hal yang tak terungkap dalam perdebatan ini.

Saya akan memulai dari sebuah pernyataan oleh Al-Imām ‘Abd al-Razzāq (2003: 30) bahwa tafsīr merupakan sebuah aspek pengetahuan yang hidup, ia mencerminkan trend intelektual, sosial, spiritual dan ilmiah dari masyarakat. Aspek ini adalah trend yang muncul pada era modern setelah umat Islam dihadapkan dengan banyak tantangan dan kritik dari luar. Inilah sebuah era yang telah makin menumbuhkan apresiasi terhadap kajian keislaman, meskipun tidak jarang pengkajian terhadap isu-isu keislaman menyerimpung dari kebenaran.

Berangkat dari asumsi di atas, tafsir terhadap ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Māidah tidak bisa dilepaskan dari suasana kehidupan di tanah air. Meskipun kalangan objektivis mencoba sekuat tenaga untuk menghadirkan kembali keaslian pesan teks, akhirnya ia akan dibaca, dilihat dan diaplikasikan pada kehidupan aktual. Belum lagi jika kajian terhadap al-Qur’an dikaitkan dengan kritik keras oleh para sarjana Barat yang telah menimbulkan trauma sejarah hingga sekarang. Namun bagaimanapun juga, semua ini telah mengkayakan khazanah pemikiran keislaman, yang di satu sisi bisa menggeser tafsir pada pemenuhan ideologi, dan pada sisi lain disalahgunakan untuk melanggengkan sebuah kepentingan.

Jika hanya berbeda pada tingkat penerimaan kebenaran yang lain tapi tidak menutup hubungan sosial maka sebenarnya perdebatan telah usai. Tapi, susahnya penganjur anti-pluralisme akan mendapat stigma buruk dan biasanya terkesan kurang akrab dengan kelompok yang lain. Meksipun tak jarang tuduhan ini ingin menggampangkan masalah dan mendesakkan sebuah kepentingan yang lain.

Dunia Teks dan Penafsir
Asma Barlas menegaskan bahwa sebagai wacana Ilahi Alqur’an tidak bisa ditiru, diubah, dipalsukan, dan digugat. Namun, keadaan ini tidak berlaku bagi pemahaman kita tentangnya (2005: 89). Petikan ini sengaja dikutip dari pemikir yang familiar dengan pendekatan modern (baca: tradisi linguistik Barat) untuk memberikan pijakan bahwa keyakinan terhadap otentisitas kitab suci juga diyakini oleh mereka yang terbaratkan. Sebagaimana juga keyakinan mereka akan keragam tafsir juga diakui oleh para ulama tafsir sendiri, baik secara tersirat maupun tersurat. Kesepakatan ini didasarkan pada makna al-Qur’an itu sendiri yang terdiri dari empat macam, yaitu harfiah (zahir), metaforis (batin), moral (had) dan analogis (muttala’). Pendek kata, al-Qur’an mempunyai karakter polisemik (banyak makna).

Upaya untuk menyatukan keempat makna di atas tidak mudah. Bahkan sebuah upaya yang mengandaikan pendekatan interdisipliner yang meliputi analisis semantik, sejarah, dan hermeneutik tetap akan menghasilkan pandangan yang bersifat khas, lokal dan kondisional. Ia tidak akan mampu meyakinkan liyan untuk menerimanya serta merta. Namun demikin, ini tidak berarti relativisme penafsiran terhadap teks, melainkan sebuah penegasan bahwa pemahaman yang benar adalah ketika kita memahami sesuatu secara berbeda terhadap sesuatu yang sama.

Selanjutnya, selain pendekatan keilmuan murni di atas, terdapat fungsi tafsīr yang ingin menyesuaikan teks dengan situasi kekinian pentafsir, dengan kata lain, kebanyakan pentafsiran tidak murni bersifat teoretis, tetapi juga mempunyai aspek praktis sehingga boleh diterapkan dalam iman dan pandangan hidup orang yang beriman ( Andrew Rippin, 1987:237). Di sinilah, terdapat hubungan yang dinamis antara teori dan praktik yang memunculkan sebuah tindakan. Realitas yang terakhir ini kadang tak terjangkau oleh teks.

Selain itu, ada perbedaan penting yang sangat mendasar mengenai syarat penafsiran dalam tradisi al-Qur’an. Sarjana muslim yang merujuk pada karya klasik menyatakan bahwa selain syarat yang bersifat akademik, prilaku sang penafsir yang bersifat pribadi juga dipertimbangkan. Hubungan keduanya dijadikan barometer untuk menilai tafsir. Sedangkan kalangan modernis dengan merujuk pada Fazlur Rahman tidak melibatkan hal yang bersifat pribadi sebagai kriteria, seperti keyakinan dan prilaku etik.

Penafsir tidak saja harus menguasai keilmuan berkaitan dengan kajian al-Qur’an, tetapi juga mempunyai keyakinan dan melakukan apa yang dikatakan, sehingga pendapatnya bisa diterima secara bulat. Adalah aneh jika pernyataan dan kenyataan tidak sejalan. Di atas kertas, ia meneriakkan pluralisme tetapi di ruang lain menyanjung pemikiran primordialisme.

Namun demikian, cara pandang yang terakhir akan mudah menuai kritik karena telah memasuki wilayah pribadi sang penafsir. Dalam tradisi ilmiah, sebuah diskursus biasanya didorong untuk tidak melakukan penyerangan pribadi (ad hominim), bukan logika dan rasionalitasnya. Pernyataan ini ada benarnya, tetapi juga meninggalkan banyak persoalan. Lalu, kecenderungan Pak Syafi’ie untuk memilih tafsir Hamka sebagai pembenaran terhadap pemahaman pluralisme, apakah sebenarnya pandangan Pak Hamka atau beliau sendiri yang termanifestasikan dalam tindak-tanduk keseharian? Mungkinkah pemilihan pemahaman itu terpisah dari pandangan pribadinya? Kedua pertanyaan ini juga berlaku pada para penulis yang lain.

Selain itu, pembacaan atas sebuah teks selalu dilakukan di dalam sebuah komunitas, tradisi atau arus pemikiran tertentu, yang kesemuanya menggambarkan praduga-praduga dan urgensi-urgensi masing-masing – tanpa menghiraukan apakah pembacaan dekat kepada quid atau tidak, yaitu sudut pandang yang mendasari penulisan teks (Josef Bleicher, 2003: 362). Jadi, tidak aneh jika kita mendapati para penanggap tentang ayat ’pluralisme’ tidak tunggal.

Hikmah Perdebatan
Kalau kita percaya bahwa sebuah penafsiran adalah pertemuan pribadi dengan sebuah teks, di mana latar belakang personal turut memengaruhi cara pandang terhadap sebuah persoalan (subject matter), maka jelaslah dengan sendirinya ia bersifat subjektif. Pemilihan tafsir Buya Hamka terhadap surah al-Baqarah 62 dan al-Maidah 69 oleh Pak Syafi’ie yang dikaitkan dengan peristiwa kerusahan bermotif agama beraroma subjektif dan sekaligus adalah sebuah cara yang strategis karena teks kitab suci dihadapkan dengan realitas kekinian. Sudah waktunya al-Qur’an menjawab persoalan aktual dan faktual dari Umat Islam.

Apatah lagi latar belakang penanggap resonansi beragam, mulai dari generasi NU, Muhammadiyah, dan DDII sehingga pemahaman terhadap ayat di atas makin kental subjektivitasnya dan justeru makin kaya, yang tentu saja mengantarkan mereka pada pra-pemahaman sebelum menelaah kajiaannya lebih jauh. Tapi, sekarang batas-batas ini menjadi lumer, karena lembaga ternyata tidak memengaruhi kemandirian para penulis ini. Di sinilah, masing-masing diuji untuk meyakinkan publik bagaimana sebuah gagasan itu diwujudkan dalam ranah konkret sebagai kelanjutan wajar dari sebuah pemikiran.

Lebih penting dari itu adalah makin terbukanya sekat psikologis yang acapkali menghalangi dialog antara sarjana dan tokoh keagamaan untuk menemukan titik temu dan kemudian mengembangkan sebuah tafsir yang lebih peduli tentang persoalan yang nyata yang justeru melupakan apa yang disebut Paul Ricoeur la chose du text, pesan utama yang sebenarnya ingin disampaikan oleh teks kepada kita.

Pak Syafi’ie memilih Hamka karena ia sejalan dengan pemikiran yang diusung beliau tentang pluralisme, yang diamini oleh Zuhairi Misrawi, Fajar Riza ul-Haq, Almakin dan Hasibullah Satrawi. Sementara Adian Husaini, Syamsul Hidayat, Burhanuddin Agus dan Syamsuddin Arif justeru mengabaikan keterkaitan tafsir tersebut dengan pemahaman pluralisme. Bahkan, Adian Husaini mengaitkan argumentasinya dengan kehidupan Buya Hamka yang lantang menolak Natal bersama sebagai bentuk satunya kata dan perbuatan bahwa hanya ada satu iman yang benar.

Implikasi dari penafsiran ini sebenarnya hanya berkutat pada persoalan pengakuan pada kebenaran iman yang lain. Jika penganjur pluralisme mengakui ini, kelompok anti-pluralisme (dalam pengertian yang terbatas) menolak serta merta karena dikhawatirkan mengikis akidah umat Islam, maka yang perlu mendapatkan perhatian adalah konsekuensi etik dari pemahaman ini. Jika pada hubungan sosial kedua kubu ini tidak menolak keberadaan komunitas yang lain, maka dengan sendirinya persoalan iman itu terkait dengan keyakinan yang bersifat individual.

Selanjutnya, pemahaman bergerak kepada medan semantik dari iman yang paling penting, yaitu perbuatan baik atau amal al-shalihah. Jika ayat yang dipertikaikan itu berkisar pada persoalan pada kebenaran agama lain, dengan sendirinya mereka menegaskan kebenaran iman Islam, di mana keyakinan ini tidak berhenti hanya pada pernyataan secara verbal, tetapi arti yang sesungguhnya adalah upaya mewujudkan iman dalam tindakan nyata, yaitu perbuatan baik sehingga makna iman yang sejati bisa diraih.

Akhirnya, analisis linguistik memang membantu memahami pesan ayat suci, namun Islam juga berkaitan denga fakta lain, yaitu Nabi Muhammad dan sejarah. Ketiganya memungkinkan untuk melahirkan pandangan alternatif, sehingga setiap unsur seharusnya tidak diabaikan. Hal ini dilakukan untuk tidak menjadikan teks al-Qur’an sebagai kepanjangan keinginan individual.

[ ]

Wednesday, February 14, 2007

Hari Kasih Sayang

Semalam, saya mengucapkan selamat valentine pada Bunda pas jam dua belas. Alasannya sederhana, bahwa kadang perlu momen khusus untuk mengartikulasikan sebuah ucapan. Tanpa harus terjebak pada kontroversi asal muasal hari kasih sayang ini, saya mencoba untuk memberikan 'kata', bukan 'benda'. Memang, akan terasa apologetik, tapi 'kita' lah yang menciptakan 'makna' terhadap apa yang lakukan. Jika kata dianggap memadai untuk menggantikan coklat atawa mobil terbaru, ia telah mampu membuat kita senang.

Selain itu, kasih sayang seyogianya tidak hanya diberikan pada orang yang paling dekat, tapi juga pada kemanusiaan. Lebih-lebih, dalam agama dinyatakan bahwa cinta pada Tuhan adalah segalanya. Lalu, apakah kita akan mengatakan selamat valentine pada Tuhan? Mungkin tidak secara verbal, tapi melalui 'tindakan', yang dalam bahasa agama disebut ibadah. Kita semua telah mengetahui ini. Tak ada yang baru.

Perluasan makna kasih sayang pada manusia adalah sangat sukar. Sebab secara teoretik, setiap individu hanya mampu merajut hubungan yang intense dengan tiga atau empat orang. Sisanya adalah pertemuan kebetulan. Namun demikian, agar kita mampu melipatgandakan komunikasi adalah lewat tulisan, dunia mayantara, dan organisasi.

Lalu, pada dunia mana kita akan memberikan sapa? Ini sangat subjektif. Hakikatnya, kita hanya perlu sikap empatik dan tidak lagi 'asyik' dengan kesalahan orang lain, tapi bagaimana kita belajar untuk berbuat sesuatu yang membuat liyan senang tanpa ia sadar. Semoga!

Perpustakaan

Khoiruman adalah lulusan Pendidikan Matematika Universitas Nurul Jadid. Ia bisa menghitung persentase tanpa harus memakai kalkulator ketika ...