Wednesday, September 10, 2008

Kuras-Kuras Kreatif

Kemarin, saya mencomot buku Kuras-Kuras Kreatif yang ditulis sastrawan Azizi Haji Abdullah (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2007). Sebuah catatan perjalanan kepenulisan sebagai pengarang produktif dalam bidang sastra di tanah Melayu. Meskipun tidak mempunyai pengetahuan teori sastra, beliau menulis sebagai pemenuhan rasa. Sesuatu yang kemudian melahirkan sejumlah cerita pendek dan novel.

Ternyata, kegigihan penerima anugerah S.E.A Write Award ini memantik rasa penasaran saya karena putera kelahiran Kedah ini memanggul beban yang amat berat jika tidak bisa menakwilkan peristiwa menjadi sebuah tulisan. Lalu, dengan serta merta, dia pergi dari rumah meninggalkan isteri untuk satu atau dua hari tinggal di hotel menyelesaikan kehendak mengubah kenyataan menjadi fiksi. Malah, dia blusukan tempat pelacuran karena terpengaruh Chairil Anwar bahwa seorang sastrawan mesti bohemian dan menabrak kelaziman. Secara tersirat juga, ada banyak perempuan dalam proses kreatif kepengarangannya sehingga mereka seperti pendorong kuat untuk terus menulis.

Di dalam buku ini juga, penulis novel Senja Belum Berakhir membela diri bahwa karyanya ini bukan jiplakan dari karangan Toha Muchtar, sastrawan Indonesia, berjudul Pulang. Diakui bahwa novel ini memang telah dibaca dan memberikan ilham dalam mengarang novel di atas. Selain itu, dengan penuh takzim, bekas guru sekolah agama ini mengakui bahwa Shahnon Ahmad, sastrawan terkemuka Malaysia, telah menjadi guru yang baik dalam bidang penulisan. Tambahan lagi, dia juga banyak membaca karya-karya Pramodya Ananta Toer.

Tuesday, September 09, 2008

Membaca Karya Orang Lain


Mungkin membaca buku adalah hal biasa, tetapi membaca karya berjudul Political Islam, World Politics and Europe, menimbulkan kekaguman yang berbeda. Ia ditulis oleh Bassam Tibi, ahli Hubungan Internasional Jerman, dengan tangan, karena seperti diucapkan sendiri dalam pengantar as an old scholar of a different age of writing, I acknowledge that I am fully computer illiterate. Buku berjumlah 311 halaman ini tentu memerlukan ketekunan karena dikerjakan dengan tangan, yang kemudian diketik ulang oleh sekretarisnya, Elizabeth Luft.

Selain itu, buku ini dimulai ditulis ketika sarjana kelahirkan Damaskus, Syiria, ini mengajar di Universitas Islam Negeri Jakarta. Namun kemudian, ia diselesaikan dalam perjalanannya mengajar di pelbagai negara dunia, seperti Eropa, Amerika dan Singapura.

Berbicara politik Islam, penulis prolifik ini menegaskan bahwa Islam bisa mengakomodasi demokrasi berdasarkan reformasi keagamaan yang memerlukan tidak sekedar sebuah penafsiran ulang terhadap kitab suci. Islamisme, sebaliknya, tidak bisa mencapai tugas ini. Islam di sini dimaksudkan sebagai iman dan etik, yang dia yakini dan Islamisme adalah ideologi totalitarian politik yang ditunjukan sebuah gerakan yang didasarkan pada agama transnasional. Dan yang terakhir inilah yang menjadi tema (subject matter) dari buku ini.

Sebagai seorang Muslim, penulis buku ini meyakini pemahaman reformasi Islam sejalan dengan demokrasi hak asasi manusia, oleh karena itu buku berusaha untuk mencari jalan keluar (exit strategy) di dalam sebuah cara resolusi konflik damai.

Dengan demikian ada dua tantangan bagi masyarakat peradaban Islam, pertama usaha untuk mewujudkan ummah dalam menyusun ulang tatanan dunia, baik dengan jihad global atau Islamisme institusional. Kedua, tantangan Muslim terhadap keperluan untuk memahami demokrasi dan pluralismenya di dunia internasional dalam hubungannya dengan masyarakat yang berbeda. Bagaimanapun, tegas Tibi, demokrasi sekuler boleh dianut oleh Muslim dan diakomodasi dalam peradaban Islam. Tetapi, di dalam konteks kembali pada yang Suci (the return of the sacred), Islam tidak hanya ditegakkan sebagai sebuah agama tetapi juga sebagai sebuah sistem kehidupan di dalam sebuah bentuk politik, dan inilah batu sandungan.

Monday, September 08, 2008

Sesederhana Makan Sayur Oseng

kemarin saya memasak sayur oseng, yang merupakan jenis sayur paling mudah dan sering saya hidangkan karena isteri beristirahat dari kegiatan dapur. Bahannya tidak rumit, hanya irisan bawang putih, bawang merah, garam, gula dan potongan kecil kacang panjang. Ditambah goreng tempe dan telor serta krupuk, berbuka puasa kemarin menyisakan kepuasaan tiada tara. Malah, keenakannya mengalahkan pengalaman makan steak di restoran The Ship yang mahal itu.

Jika urusan perut sesederhana ini, apalagi yang dicari dalam hidup? Saya tidak memerlukan wisata kuliner untuk memanjakan lidah, sebab pemenuhan kebutuhan gizi dengan pola makan seperti ini sudah genap. Apalagi, saya menambahkan dengan bubur kacang ijo dan buah semangka sebagi penutup. Dengan demikian, mungkin asupan batin yang masih belum disempurnakan sehingga ada gelisah yang selalul menyeruak?

Puasa kali ini tentu seperti dulu, keberhasilan menahan makan dan minum, yang bisa diukur dengan pasti. Lalu, bagaimana dengan kemenangan mengatasi nafsu? Rasa malas dan sifat buruk lain mungkin penghalang yang paling besar dalam mewujudkan ketenangan batin. Jika, saya telah mengenal rintangan menuju ketentraman, makan sudah waktunya diri ini melatih untuk tidak bosan menebar kehangatan terhadap hidup.

Bagi saya, tinggal di sebuah flat dengan ragam latar belakang budaya membuat kami terasa 'asing', namun hanya senyum dan sapa hangat yang akan meluruhkan. Kehendak untuk berbuat kebaikan tidak menuntut banyak dari kita, hanya keikhlasan untuk tidak memanjakan prasangka. Lalu, masing-masing sibuk dengan hidupnya sendiri.

Sunday, September 07, 2008

Buka Bersama

Kawan baik saya, Abdul Halim Dinaa, mahasiswa PhD Kajian Islam asal Thailand, mengirim pesan pendek undangan mengikuti buka puasa bersama di rumah dalam kampus. Saya pun membalas dengan ucapan terima kasih. Sayang, sebelum bedug berbunyi, hujan turun. Kami pun terpaksa menggagalkan rencana untuk menghadiri acara ini. Namun, beberapa menit sebelum magrib, Ismae Katih, menelepon apakah saya akan datang. "Kalau hujan reda, saya datang" jawab saya.

Syukur hujan tak deras, hanya rinai kecil. Kami pun memutuskan untuk menghadir undangan ini. Ups, ternyata di depan rumah Halim telah banyak undangan lain yang siap-siap berbuka. Kami pun bergabung dan tak lama kemudian azan terdengar. Bubur kacang menjadi pembuka buka puasa dan diselingi dengan kurma. Tanpa menunggu lagi, kami pun bersantap makan nasi dengan gule kambing dan sayur. Mereka yang hadir terdiri dari Melayu, Arab, Afrika dan tentu mahasiswa Thailand.

Meskipun hidangan di atas menerbitkan selera, saya tentu membatasi diri karena perut ini tidak mampu menampung begitu banyak makanan. Pesta Pasti Berakhir, judul dari lagu Rhoma Irama, adakah kata yang pas untuk menandai berakhirnya acara ini. Kesenangan mengasup makanan tentu melahirkan kesenangan (pleasure), yang menjadi kata kunci dalam meraup kebahagiaan. Makna dari kebersamaan inilah yang mungkin melengkapi arti kebahagiaan yang sesungguhnya, karena kita tidak dibekap kesepian.

Friday, September 05, 2008

Hujan itu bukan Halangan

Pagi yang cerah membuat langkah kaki terasa ringan. Matahagi pagi menyemburatkan sinar di dedaunan yang hijau segar setelah diterpa hujan semalam. Inilah suasana yang membuat saya merasakan surga hadir di bumi. Namun, ini tidak lama. Setelah saya melangkahkan kaki ke perpustakaan, hujan turun agak deras. Muram dan basah. Tapi, ini adalah keriangan yang lain karena saya akan merasakan bau tanah yang khas karena basah.

Setelah meminjam empat buku untuk bahan bacaan akhir minggu, saya keluar dan duduk sejenak menanti hujan reda di bangku panjang depan perpustakaan. Namun, saya urung untuk berlama-lama menanti hujan reda dengan membaca, karena hari ini saya harus mengantarkan surat pelantikan sebagai asisten peneliti ke RCMO rektorat kampus. Dengan berlari kecil, saya menembus hujan. Sesampai di ruangan komputer, saya mengambil payung untuk pergi ke rektorat. Meskipun tidak besar, penahan hujan ini mampu menghalangi tetesan itu membasahi kepala.

Untuk keempat kalinya, saya menemui pegawai bagian penelitian kampus. Herannya, saya masih bingung dengan jalan masuk ke rektorat. Ya, kecerdasan ruang saya memang jeblok. Atau, desain ruangan rektorat yang tidak ramah pada bentuk sehingga membuat saya selalu tak nyaman menelusuri lorong. Di lantai 6, saya menemui Pn Safa untuk menyerahkan surat dan ada item yang belum diisi. Untung, beliau degnan ramah memberitahu kekurangan ini. Saya pun segera melengkapi agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Wednesday, September 03, 2008

Bazar Ramadhan

Kemarin, kami dan keluarga Pak Stenly ngabuburit ke pasar Ramadhan dekat kampus. Jam 6 sore, kami berangkat dari rumah dengan mobil. Karena jalan kecil tempat pasar itu berada penuh sesak, kami memarkir kendaraan di jalan besar, dekat perhentian bis. Kehadiran Amel, puteri Pak Stenly, membuat kebersamaan ini hidup karena celotehannya kadang lucu.

Berjalan di sepanjang jalan yang kanan kirinya dipenuhi warung makanan membuat sore itu meriah. Belum lagi jalanan sesak karena begitu banyak orang yang ingin membeli makanan atau minuman. Asap arang dan bau ikan dan ayam dipanggang menerbitkan selera. Ketika Pak Stenly membeli air es tebu, penjual kue sempat menyapa isterinya, dari Jawa ya? Serta merta Mbak Troy menukas ya, Jawa Barat. Tiba-tiba di antara kami terasa dekat dan ngobrol meski tak lama.

Saya membeli ikan bakar dan ayam bakar untuk buka puasa. Tidak lupa, saya membeli es cendol untuk melengkapi iftar. Isteri saya membeli buah semangka untuk menghilangkan jeleh. Kami pun beranjak dari pasar itu, meski sempat terhenti di ujung jalan karena berjumpa dengan teman-teman mahasiswa yang juga ingin membeli makanan.

Tuesday, September 02, 2008

Hari Kedua Ramadhan

Hari pertama telah dilalui tanpa hambatan berarti. Menahan lapar karena berpuasa bukan perjuangan yang menyusahkan, karena saya terbiasa sejak kecil, tepatnya sewaktu masih bersekolah di tingkat dasar. Lingkungan kampung dulu telah membentuk kebiasaan ini. Tak ada yang luar biasa. Semua berjalan mengikuti kehendak sosial. Di luar kewajiban ini, saya menemukan ketentraman dengan suasana sekitar. Sore adalah waktu menghabiskan waktu di depan pasar menunggu bedug ditabuh di menara masjid.

Kadang dalam keadaan lapar, saya masih berlarian di sawah untuk merebut layangan putus. Sebuah permainan yang menggairahkan waktu itu. Hanya keriangan yang hadir, bukan kelelahan. Keringat tak menghalangi untuk terus berjibaku mendapatkan layangan, meskipun tak sebanding dengan bahaya yang mungkin menghadang, misalnya jatuh tertusuk sisa akar padi.

Pulang dalam keadaan kotor adalah hal biasa. Mandi akan menyegarkan tubuh. Kadang kami beramai-ramai ke sungai, dan tak jarang terminum air sehingga perut kembung. Namun, saya tetap berpuasa, meski kadang diledek oleh ayah apa sudah kenyang?

Mungkin karena lapar dan lelah, saya akan makan dengan lahap saat buka tiba. Suara azan Maghrib yang disiarkan radio RRI seakan lebih indah. Bahkan, hingga sekarang, suara ini selalu menyeret saya ke masa kecil. Meskipun tidak tahu, siapa yang melantunkannya. Ya, saya kadang mendengarkan azan ini masih diperdengarkan melalui Radio DJ FM Surabaya on line. Dalam keadaan kenyang, badan lemes, tapi itu tidak akan menghalangi saya pergi ke surau, bertemu dengan teman-teman lain untuk melakukan shalat tarawih. Lalu, dilanjutkan dengan tadarus bersama di ruang tengah masjid dengan pengeras suara. Uniknya, kegiatan ini melibatkan warga dari segala usia.

Té-Oté

Kemarin sore, seusai menjemput Biyya, saya berjalan kaki dari rumah ke jalan raya, tempat penjual gorengan membuka lapak. Sebelumnya, saya m...