Tuesday, April 07, 2009

Belajar Politik dari Negara Tetangga


Tulisan ini (Kontan, 6 April 2009) mencoba untuk menengok bagaimana andaian sistem dua partai di Malaysia berhasil menempatkan pemerintah dan oposisi memperjuangkan ideologi dan programnya di tengah khalayak. Di Indonesia, gagasan seperti muncul tenggelam dan lalu hilang. Yang acapkali terdengar, mereka akan membentuk koalisi setelah pemilihan legislatif. Hiruk-pikuk elit partai bertandang hanya menimbulkan kelucuan.

Adalah tidak aneh, jika masing-masing partai mengklaim keberhasilan pembangunan, seperti swasembada beras. Andaikan mereka bergabung sejak awal dan berusaha untuk merumuskan kesefahaman (bahasa Malaysia untuk understanding), maka kerjasama itu mungkin bisa dirintis jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga ada kejelasan peran.

Jika keadaan seperti terus berlangsung, kita sebenarnya sedang menunggu pemerintahan yang gamang menjalankan amanahnya karena sang tuan lebih banyak menghabiskan waktu membagi kue untuk memperoleh mufakat dan oposisi kadang tak tahu harus berbuat apa karena ia kadang bersekongkol dengan partai pendukung pemerintah berkuasa. Teriakan keras sebagai protes kadang tak lebih dari dagelan.

Merawat Bumi dengan Hati

Ini adalah poster yang ditempel di gedung pertemuan terbesar kampus, DTSP (Dewan Tuanku Syed Putera). Sebuah petanda untuk mengajak warga memenuhi ajakan WWF (World Wildlife Fund) untuk memadamkan lampu selama satu jam, terhitung dari 9-10 malam, 28 Maret 2009. Poster ini juga dipasang di beberapa tempat untuk merayakan malam 'kegelapan'.

Pada malam itu, kami turut mematikan lampu. Dalam keadaan gelap dan cenderung hening, kami justeru lebih banyak menghabiskan waktu bercakap-cakap tanpa diganggu bunyi lain, seperti televisi, radio atau komputer. Pintu depan rumah dibiarkan terbuka agar kami bisa berbagi dan ternyata tetangga baik kami juga turut memadamkan lampu. Tanpa benda-benda elektronik itu, kehidupan berjalan seperti biasa. Tak ada yang kurang.

Tentu keprihatinan ini tidak hanya berhenti mengurangi penggunaan listrik, tetapi juga kemampuan mengelola air, sampah dan plastik. Kesadaran untuk menjaga bumi yang telah berusia lanjut ini tentu menguras perhatian, namun di sini kita akan menuai kegembiraan. Apatah lagi, kemurahan pemerintah tidak mengenakan bayaran untuk listrik dan air tidak berarti kesempatan untuk menghamburkan, memuaskan kerakusan. Mungkin, tak jarang kita menemukan lampu di kampus atau di tempat umum yang masih terang menyala, meskipun di waktu siang. Seyogyanya kita mematikannya agar cahaya itu tak menjadi bencana.

Saturday, April 04, 2009

Menemukan Riang di Danau Kampus


Gambar ini diambil sekitar jam 10 pagi, ketika sisa basah hujan semalaman masih terasa. Malah sebelum menjejaki tepian danau dalam kampus itu, saya akan menuai senang sebab airnya naik setelah diguyur air dari langit. Hanya berbekal remahan roti, kami bercanda dengan ikan-ikan. Mereka berlompatan merebut remahan roti.

Warna hitam di tepi kiri bawah, segerombolan ikan yang sedang menanti lemparan roti memancing gairah untuk berlama-lama menghabiskan waktu di hari minggu. Saya juga heran mengapa danau ini tak pernah membuat bosan. Mungkin, di sana kami juga acapkali menemukan orang lain melakukan hal yang sama. Belum lagi, tak jarang satu keluarga mengayuh kebersamaan dengan memberi makan ikan. Di sana wajah-wajah selalu hadir dalam keadaan tak bermuram durja.

Bagi kami, danau kampus itu oase dari kepenatan. Dulu, saya sering melewati lorong di pinggirnya agar bisa meraup angin semilir dan nyanyian burung. Perjalanan dari perpustakaan ke asrama tak lagi menjadi beban. Tapi, setelah ada motor butut itu, saya tak lagi menikmati tingkah biawak dalam perjalanan pulang. Kerinduan itu tertunai dengan mengunjunginya untuk berbagi kesenangan dengan penghuninya, ikan.

Thursday, April 02, 2009

Menafsirkan Kembali Fundamentalisme

Duta Masyarakat, 1 April 2009

OLEH : AHMAD SAHIDAH, Research Assistant Staff dan kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam, Universitas Sains Malaysia

Gagasan di atas diilhami oleh hermeneutika Georg-Hans Gadamer ketika merehabilitasi prasangka (vorurteil) yang dituduh oleh Pencerahan sebagai tembok besar yang menghalangi pemahaman yang terbebaskan dari dogma. Bagaimanapun, prasangka adalah keniscayaan dalam sebuah penafsiran dan namun demikian harus beranjak kepada proses selanjutnya, yaitu kemungkinan terkondisinya pemahaman yang melibatkan eksistensi penafsir dan sejarah masa lalu.

Wacana fundamentalisme, meskipun bukan baru, selalu menyeruak ke permukaan bersama semakin menguatnya organisasi keagamaan partikelir di tanah air. Mereka menuntut penegakan nilai-nilai keagamaan di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lazimnya, sebagian sarjana mengaitkan gerakan ini sebagai kepanjangan dari cita-cita pemikir keagamaan yang acapkali dilabeli fundamentalis, sebut saja Sayyid Qutb, Hasan al-Banna dan Abul A'la al-Maududi.

Boleh jadi, label ini dicomot begitu saja dari kategori yang diberikan para pakar atau peneliti, yang secara tidak langsung merupakan analogi terhadap gerakan pemurnian di kalangan agama Kristen Barat. Kaum fundamentalis adalah kelompok yang ingin membebaskan agama dari campur tangan rasionalisme dan mengedepankan pengertian harfiah dari kitab suci. Meskipun tokoh dan pengikutnya hanya segelintir, namun suara kerasnya acapkali menghentak banyak kalangan.

Di sini, saya hanya ingin mencoba menafsirkan kembali sosok Sayyid Qutb yang secara serampangan selalu dicap fundamentalis sehingga menghalangi pembaca untuk menaruh apresiasi terhadap pemikiran tokoh Mesir ini. Bagaimanapun, lebel ini selalu diidentikan dengan tidak rasional, naif, dan efifenomenal. Paling tidak, penelitian Roxanne L Euben terhadap Kritik Fundamentalis Islam terhadap Rasionalisme membantu kita menguraikan lebih jauh di mana sejatinya posisi sang martir ini di dalam peta gerakan keagamaan.

Dekonstruksi Fundamentalisme

Pembacaan Euben terhadap karya Qutb mengantarkan dia pada keyakinan bahwa sosok yang mati di tiang gantungan ini menyangkal teori kedaulatan politik modern yang bertumpu pada sekulerisme dan imperialisme. Tesis Qutb adalah jika akal dijadikan sumber kebenaran, pengetahuan dan otoritas, maka ini berakibat pada penyangkalan terhadap dasar transenden yang menyebabkan bencana kemanusiaan, yang menggerus komunitas, otoritas dan secara khusus moralitas.

Ketergesaan meringkus gagasan Qutb ke dalam pemikiran patologis dan mereduksinya sebagai bentuk frustasi, tambah Euben, menghilangkan kesempatan untuk memahami praktik politik fondasionalis. Padahal, beberapa teoretisi politik Barat mempunyai pandangan yang sama dengan Qutb tentang visi modernitas yang mengalami krisis dan pembusukan, meskipun bersikap berbeda bagaimana menyembuhkan penyakit ini.

Tentu kesamaan ini bisa dipahami karena gagasan Qutb juga menimbang ide para filsuf Barat, seperti Plato, Aristoteles, Descartes, Bertrand Russell, Comte, Marx, Hegel, Fichte dan Nietzsche. Dari sini, kita boleh menyimpulkan bahwa mata pedang kritik bisa diarahkan ke mana saja ketika ada satu 'kuasa' yang mengebiri kemajuan, peradaban dan keadilan sejati. Ia tidak dihunjamkan kepada liyan (the other) karena alasan primordialisme.

Bahkan, kebebasan yang menjadi penyangga bagi peradaban Islam, dalam pandangan Qutb, mengandaikan kebebasan yang dirumuskan oleh Isaiah Berlin, sosiolog, sebagai positif dan negatif. Yang pertama, bebas dari ketundukan pada kekuasaan tirani dan sekaligus kebebasan untuk tunduk pada Tuhan, dengan menanggalkan dominasi nafsu. Kebebasan di sini sekaligus menegaskan kesetaraan, yang ini hanya mungkin diwujudkan di bawah kedaulatan Tuhan.

Selain itu, yang perlu dicermati bentuk kedaulatan yang diinginkan tidak dijelaskan secara konkrit. Beliau hanya menyatakan bahwa masalah yang muncul ke permukaan harus diselesaikan melalui musyawarah sebagaimana dianjurkan di dalam al-Qur'an (Ali 'Imran: 159). Dengan kata lain, bentuk negara dibiarkan terbuka untuk ditafsirkan. Malahan tugas utama negara yang perlu mendapatkan perhatian adalah terciptanya keadilan sosial. Komunitas yang ada di dalamnya bertanggungjawab untuk melindungi anggota masyarakatnya yang lemah. Pandangan progresif ini acapkali terlupakan oleh bahkan para pengagumnya di sini.

Memang, Qutb mengkritik keras Konspirasi Zionis dan Kristen, yang dianggap sebagai bentuk xenophobia oleh Euben, tetapi beliau menegaskan bahwa masyarakat Islam yang berkeadilan dicirikan oleh keragaman, sebuah kondisi inklusif yang dibangun atas dasar pluralitas sejarah, kebudayaan dan identitas. Semuanya ini disatukan di bawah hubungan yang setara di hadapan sang Khaliq. Secara tersirat, pernyataan ini menerima keragaman internal umat Islam, yang tentu saja menolak upaya penyeragaman yang belakangan ini ingin dipaksakan sebagian kelompok.

Islam Otentik

Robert D Lee dalam Overcoming Traidition and Modernity: The Search for Modernity menyetarakan Sayyid Qutb dengan Mohammed Arkoun yang sama-sama mencari otentisitas Islam di tengah ketidakseimbangan modernitas Barat yang diterapkan di Timur. Bagaimanapun, fundamentalisme Sayyid Qutb adalah respons terhadap modernitas dan kritik intelektual terhadap liberalisme. Secara tegas keduanya memperjuangkan al-ashalah (otentisitas).

Tetapi, mengapa banyak sarjana moderat cenderung menegaskan Arkoun dan menafikan Qutb? Bisa dikatakan ini terjadi karena otentisitas yang diperjuangkan yang pertama melibatkan elit dan yang kedua melibatkan massa. Tak terelakkan, massa mudah mengundang kerumunan yang gampang dikendalikan dan pada masa yang sama lepas kontrol. Sementara elit lebih asyik bergumul dengan wacana di ruang-ruang seminar dan diskursus ilmiah di media dan buku.

Biasanya massa menyuarakan pendapatnya dalam suasana hiruk pikuk dan kalimat-kalimat pendek serta bombaptis. Dengan sendirinya, kondisi semacam ini tampak sangat emosional dan ofensif. Hal Ini bisa dipahami karena wakilnya cenderung ingin menggelorakan dan mengaduk-aduk psikologi khalayak. Sementara, para sarjana bergulat dengan pemikiran yang memerlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam kalimat yang panjang, seimbang dan analitikal. Meskipun, tak jarang yang terakhir ini jika berada di depan massa dan berdiri di podium juga tidak bisa menahan diri untuk bersuara keras.

Oleh karena itu, penggerak massa perlu diajak turut serta dalam dialog agar tidak mudah memantik kontroversi dan berujung kontraproduktif, yang justeru menelikung tujuan kebajikan, menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang berlandaskan agama. Saya sendiri merasakan mereka yang mendaku moderat dan murni jarang mau membicarakan persoalan umat secara bersahaja dan dalam suasana kebersamaan. Keduanya sama-sama mempunyai panggung sendiri dan celakanya, satu sama lain saling menjegal di medianya masing-masing. Mungkin, upaya Metro TV dalam Dialog Today yang melibatkan kedua kelompok ketika membahas al-Qiyadah al-Islamiyyah, bisa ditradisikan dalam skala lebih luas.

Dengan mengacu kepada dua model pemikiran otentik yang peduli terhadap segelintir elit atau khalayak massa, kita bisa memahami kedudukan masing-masing dalam menjalankan peran kekhalifahannya di bumi. Walau bagaimanapun, pada praktiknya, agama tidak serumit teori yang diperselisihkan para sarjananya. Dari mereka yang dianggap keras kepala, kita berusaha meraup semangatnya bagaimana membela khalayak yang justeru diabaikan, meskipun di atas panggung namanya sering disebut. Tindakan nyata dengan memerhatikan keperluan ekonomi mereka sejatinya adalah keadilan yang mereka perjuangkan, namun diabaikan karena sebagian pembelanya lebih suka berteriak di jalanan. Sudah saatnya wacana menjadi tindakan nyata. []

Monday, March 30, 2009

Rumah Masa Depan




Inilah rumah masa depan itu. Namanya Anjung Budi. Sebagai rumah alumni, ia diniatkan sebagai tempat untuk beragam kegiatan. Pemilihan nama lokal diharapkan mengukuhkan bahasa sebagai identitas, bukan nama berbau asing, seperti Eureka, nama sebuah gedung di depan masjid Kampus, Jelas Prof Madya Talhah Idrus dalam sambutannya sebagai ketua Perhubungan Alumni. Menurut dosen arsitektur tersebut, bangunan tersebut berdiri berkat bantuan dari banyak pihak, baik gagasan maupun bahan. Malah, tambahnya, orang nomor satu kampus, Prof Dzulkifli turut memberi perhatian pada pembangunannya sejak awal.

Ia tidak hadir begitu saja. Ada banyak perbedaan dalam mewujudkannya, seperti jenis pohon yang akan ditanam, desain, dan pernak pernik yang lain. Namun, semua itu tidak menghalangi untuk menggapai mimpi bersama, rumah bagi para alumni. Dengan menghadirkan aksesoris kayu berwarna coklat, nuansa tradisional menyeruak. Selain ruman induk, bangunan ini juga mempunyai halaman belakang yang bisa digunakan untuk ruang pertemuan. Malah, acara peresmian pada tanggal 25 Maret kemarin diselenggarakan di sini. Dari tempat duduk, kami bisa melepaskan pandangan ke laut yang diiringi rumput, kolam renang dan pepohonan. Angin semilir berhembus karena ia berada di ruang terbuka.

Satu hal yang ditekankan oleh Prof Talhah bahwa konsep bangunan itu mengacu pada kelestarian lingkungan (sustainable development), sebuah ide yang sedang dikembangkan secara menyeluruh di kampus yang berjuluk kampus dalam taman ini. Hampir seluruh kegiatan di kampus diikhtiarkan untuk mewujudkan sebuah lingkungan yang memberi perhatian yang dalam terhadap ramah lingkungan. Tentu, kesadaran ini pelan tapi pasti akan menjadi arus utama sehingga dengan sendirinya seluruh gerak gerik warga yang ada di dalamnya mencerminkan keyakinan bahwa alam ini perlu dirawat agar tidak musnah.

Penegasan sebagai tempat kegiatan yang tidak terbatas pada program alumni tentu menjadikan tempat ini favorit karena letaknya paling strategis dan dari sana kita bisa menikmati pemandangan. Acara peresmian yang dihadiri banyak orang itu terkesan santai dengan suguhan makanan lokal. Band musik mahasiswa tahun 70-an Tabula Rasa menjadikan suasana semarak. Tentu, ia semacam nostalgi bagi pegawai dan dosen yang hadir pada waktu itu. Saya sendiri mungkin tak bisa segera menyantelkan kenangan karena saya berada di dunia lain, namun suasana akrab tentu mengenyahkan perasaan asing.

Tuesday, March 24, 2009

Pulang Ke Jogja

Kepulangan ke rumah kedua mengingatkan kembali bau tanah yan
g telah lama tak direguk setelah hujan. Rasa kangen terobati ketika untuk pertama kalinya pesawat tiket murah Air Asia mendarat di lapangan terbang Adi Sucipto. Sebelumnya, saya duduk satu deretan kursi dengan seorang bule Amerika yang sedang melakukan travelling. Namun, saya harus menahan rasa tak nyaman karena semua penumpang harus berdesakan di depan pintu kedatangan (arrival gate), karena kami hanya disambut tiga konter imigrasi dan ruang yang tak luas. Mungkin kalau pada waktu itu hujan turun, penumpang yang antri beberapa sentimeter di belakang akan lari bertempiaran karena sebagian berada di luar pintu masuk yang tak dinaungi atap. Untungnya, hujan tak tumpah.

Herannya lagi, tempat sempit itu tak menjulangkan langit-langit, sehingga lengkap sudah kesesakan raga dan mungkin batin penumpang. Namun, saya melihat wajah-wajah TKI tidak menunjukkan warna muram. Meskipun demikian, saya ragu apakah para turis, hanya segelintir bule dan puluhan dari negeri jiran, Malaysia, akan merasa nyaman dengan keadaan seperti itu. Salah seorang dari empat turis Malaysia berkebangsaan Tionghoa sempat menanyakan pada saya transportasi ke kota, Malioboro. Dengan serta merta, saya menyanggupi untuk membantu mereka dan tambahan lagi, si bule dari California itu ingin bergabung untuk berkongsi ongkos. Tentu, keadaan seperti ini perlu mendapatkan perhatian pihak berwenang karena pintu kedatangan adalah wajah pertama yang akan dinikmati para pelancong. Jika dibiarkan, mereka tentu telah merasa tak nyaman pertama kali menginjakkan kakinya di bumi nusantara.

Saya sendiri keluar dari areal bandara untuk membeli kartu perdana telepon agar bisa menghubungi keluarga. Tak lama kemudian, saya menyewa angkutan ke rumah dengan membayar Rp 30 ribuan. Sang supir bercerita bahwa dari pagi hingga menjelang malam, ia baru mendapatkan satu penumpang dan mengeluhkan keadaan yang tak membantunya untuk mengongkosi hidup. Malah, iseng-iseng, saya menanyakan hiruk pikuk kampanye, yang dianggapnya tak lebih dari hiburan. Hanya perlu 10 menit, saya telah sampai di halaman rumah.

Setelah hampir dua tahun, saya menginjak tanah dan membaui dedaunan yang beragam. Angin terasa lebih segar, karena di sebelah rumah terbentang sawah dan di bawahnya sungai mengalir, meski airnya tak deras. Mungkin, di hulu, hutan telah gundul. Dengan merebahkan tubuh di ranjang, saya merasakan malam itu menyenangkan karena katak bernyanyi riang. Malah, dengan penuh harap, keesokan harinya saya akan bangun dengan bahagia sebab ayam akan menyapa dengan kokoknya, selalu begitu. Saya juga heran mengapa pagi, bagi saya, adalah celotehan ayam, tidak yang lain. Tentu, azan subuh yang saling bersahutan memecah kesunyian dan mengajak orang yang terlelap untuk segera beranjak.

Thursday, March 05, 2009

Mengarusutamakan Ekonomi Syariah

[ Jawa Pos, Kamis, 05 Maret 2009 ]

Pertemuan The 5th World Islamic Economic Forum digelar di Jakarta pada 1-4 Maret 2009 (hari ini). Forum bertajuk Food and Energy Security & Stemming the Tide of the Global Financial Crisis itu seyogyanya menjadi momentum untuk mengurai benang kusut ekonomi umat di percaturan dunia internasional.

Meskipun demikian, perlu ditegaskan kembali bahwa penegasan identitas 'primordial' ini tidak menampik yang lain. Bagaimanapun, sebagaimana ditegaskan dalam forum pertama, hubungan ini juga mengandaikan dengan dunia luar.

Berbeda dengan Forum Ekonomi Dunia (FED) dan tandingannya, Forum Sosial Dunia (FSD) yang lebih gegap gempita dan meriah karena melibatkan kuasa besar, kapitalisme dan sosialisme, Forum Ekonomi Islam (FEI) tidak menimbulkan hiruk pikuk.

Namun, ia harus tetap percaya diri untuk menawarkan alternatif, tanpa merasa eksklusif. Ekonomi syariah yang telah menjadi pilihan perbankan yang sebelumnya mempraktikkan model konvensional belum menjadi pemain utama.

Namun, sistem syariah selanjutnya harus mampu mandiri untuk mewujudkan apa yang diyakini sebagai sistem yang lebih mengedepankan keadilan dan kejujuran.

Keengganan masyarakat terlibat dalam transaksi berbagi untung rugi (musyarakah), misalnya, disebabkan kebanyakan mereka tidak jujur dalam berbagi risiko. Keadaan seperti ini akan menyuburkan kebohongan dan menghalangi terciptanya masyarakat yang berkeadaban.

Bagaimanapun, masyarakat yang tepercaya (trust society) merupakan syarat mutlak -conditio qua non- bagi pengembangan ekonomi dan perdagangan yang besar. Georg Simmel dan Francis Fukuyama memandang penting unsur kepercayaan ini dalam pengembangan kemajuan masyarakat lebih luas.

Isu-Isu Strategis

Meskipun forum di atas diilhami forum bisnis Organisasi Konferensi Islam (OKI), ia tidak hanya membatasi diri pada isu-isu sempit berkaitan dengan ekonomi. Forum ini telah melihat persoalan yang lebih besar berkaitan dengan keterbelakangan umat Islam secara keseluruhan, meski ekonomi tetap dianggap sebagai masalah utama. Ada keinginan untuk memutus mata rantai kemiskinan secara serentak.

Sejalan dengan keterpurukan ekonomi umat, forum ini juga menangani isu perempuan dan pendidikan. Topik The Emerging Potential of Muslim Women in the 21st Century pada masa itu tentu menegaskan pembaruan yang selama ini melibatkan peran perempuan terpinggirkan.

Juga topik lain, Optimizing Intellectual and Human Capital: Competing Successfully in the Global Knowledge Economy, mengandaikan pentingnya pendidikan di negara-negara muslim yang masih tertinggal.

Ini ironi yang memedihkan karena pembelajaran itu bagian dari ajaran agama dan peradaban Islam mewariskan khazanah yang sangat bernilai berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada forum keempat (Kuwait, 2008), negara-negara Islam diharapkan menjadi pemain sejati perkembangan global dengan memfokuskan pada dunia muslim sebagai pasar yang sedang berkembang.

Selain itu, persoalan peran energi di dalam sebuah dunia yang sedang berubah, peran penanaman model dalam mengurangi kemiskinan, peran swasta dan pendidikan turut mendapatkan perhatian.

Toh, meskipun persoalan ketersediaan energi dan kecukupan makanan menjadi tema utama pada FEI Ke-5 di Jakarta, tema-tema besar sebelumnya tetap menjadi agenda penting untuk diselesaikan, mengingat belum tuntasnya rencana tersebut hingga kini. Evaluasi terhadap gagasan sebelumnya perlu diungkapkan untuk menemukan kesinambungannya dengan tema baru.

Koherensi Ide dan Tindakan

Festival Ekonomi Syariah yang dijadikan pemicu di dalam negeri tentu makin menggairahkan tindakan pengentasan kemiskinan yang memanfaatkan zakat, infak, dan sadaqah untuk menggerakan sektor riil.

Keterlibatan universitas negeri umum dan institusi swasta, selain Universitas Islam Negeri (UIN) dan IAIN (Institut Agama Islam Negeri), dalam pengembangan ekonomi syariah tentu memantik kehendak yang lebih besar, yaitu kesejahteraan umat. Sebab, sejatinya ekonomi syariah bisa dijadikan instrumen perwujudan nilai-nilai progresif Islam.

Jika dulu saya hanya belajar fiqh muamalah di pesantren, seperti dalam Taqrib dan Fathul Qarib, yang menjelaskan musyarakah dan mudarabah sebagai praktik 'ekonomi' Islam di atas kertas, sekarang saya telah menemukan bentuknya. Adalah aneh jika gagasan itu hanya dibaca dan dikaji hingga kumal, tanpa tahu kewujudannya.

Celakanya, penolakan terhadap ekonomi syariah justru tidak jarang datang dari kalangan sarjana muslim. Mungkin penyangkalan ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk keraguan mereka bahwa sistem ekonomi syariah yang dikembangkan tak ubahnya sistem lain atas nama agama.

Oleh sebab itu, ekonomi syariah harus dilihat sebagai alternatif di tengah ambruknya sistem ekonomi yang lain. Betapapun model terakhir yang acap mengalami jatuh bangun itu akan memperbaiki dirinya. Ini tidak akan bisa menggertak ekonomi syariah untuk diam, malah terus berpacu melayani umat.

Pandangan dunia yang diembannya tentu perlu diwujudkan dalam ranah konkret di tengah keengganan masyarakat muslim sendiri memanfaatkannya. Pendek kata, pekerjaan rumah itu belum selesai dan ini merupakan pemacu untuk mewujudkannya menjadi kenyataan.

*.Ahmad Sahidah , kandidat doktor Kajian Peradaban Islam pada Universitas Sains Malaysia

Yasinan

Seusai doa yang dipanjatkan oleh Pak Fauzan, saya dan Pak Budi berfoto bersama. Jiran kami ini mengikuti kegiatan rutin malam Jumat secara i...