Wednesday, April 22, 2009

Menyambut Kelahiran Puteri Pertama

Penantian panjang berakhir. Puteri pertama kami telah lahir pada tanggal 16 April 2009, jam 3.12 melalui bedah caesarian. Pertama kali melihat si kecil, saya merasa kegembiraan yang luar biasa. Cemas, khawatir dan selaksa gundah bertukar riang, serta merta. Ibunya masih lemas karena pengaruh bius masih mendekam di tubuhnya. Namun, sinar matanya bersirobok dengan saya dengan berbinar, menandakan kebahagiaan.

Kami harus menunggu empat hari sejak masuk ke rumah sakit untuk menyambut Nabiyya, panggilan untuk Mutanabbiyya Wasatiyya. Proses induksi sebanyak tiga kali tidak mampu mendorong pembukaan. Akhirnya, doktor menyarankan kami untuk caesarian. Dengan harap cemas, kami menerima keputusan ini. Proses bedah tidak memerlukan waktu lama, kira-kira 1 jam. Tak lama setelah lahir, saya memberi tahu semua eyangnya yang ada di Madura, Yogyakarta dan Semarang. Mereka turut merasakan kegembiraan.

Tentu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada doktor, perawat dan seluruh staf Rumah Sakit Pulau Pinang yang telah membantu kelahirkan anak kami. Waktu selama hampir seminggu di hospital kerajaan (rumah sakit daerah) menyimpan banyak cerita. Demikian pula staf Klinik Bukit Jambul yang telah menyiapkan proses sebelum kelahiran dengan pelbagai pemeriksaan rutin sehingga anak kami lahir dalam keadaan sehat walafiat. Tak hanya itu, doa dan ucapan selamat dari teman-teman turut membesarkan hati kami untuk merawat buah hati. Lebih dari itu, kehadiran Pak Cik dan Mak Cik, orang tua angkat kami, telah memberikan perhatian yang begitu besar sehingga si kecil dan ibunya mendapatkan rumah untuk menjalani hari-harinya sebagai seorang ibu.

Friday, April 10, 2009

Memilih Wakil Rakyat


Jauh-jauh hari saya telah membulatkan niat untuk memilih pada pemilihan umum. Namun pada hari H, saya merasa cemas karena hujan turun sejak pagi. Tentu, panitia pemilu akan merasa lebih masgul karena pemilih yang telah terdaftar enggan untuk memenuhi haknya akibat terhalang oleh hujan. Coba lihat gambar di sebelah, gambar yang diambil di lokasi pencontrengan, wisma konsulat RI, tampak buram karena langit mendung dan hujan turun sejak pagi.

Kami sengaja berangkat ke lokasi agak siang agar tidak perlu antri lama. Di perjalanan, kami dihibur oleh nyanyian Opick dan selalu saja pada lagu Astaghfirullah, ingatan suasana subuh di kampung hinggap di kepala. Sesampai di wisma, saya langsung menuju meja pendaftaran dan hanya memerlukan beberapa menit selesai. Hanya saya seorang yang menunaikan hak memilih pada waktu itu. Dari tiga ratusan nama di TPS (Tempat Pemungutan Suara) 2, saya menempati nomor ke 67, padahal hari telah menjelang tengah hari. Di sana, saya sempat mendengar Pak Moenir, konsul jenderal, memberitahu seorang polisi lokal bahwa hujan telah membuat malas pemilih untuk datang. Setelah pamit, kami pun menuju ke TPS 1 (Kantor Konsulat). Di sini, suasana lebih ramai, meskipun yang mencontreng juga sedikit.

Lalu, kami pun beranjak dan menuju warung Batu Uban untuk makan siang. Nasi rawon di tengah hujan deras menghilangkan dingin yang menyelusup karena hujan tak henti-henti mengguyur bumi. Malah, tempias air menyebabkan beberapa orang yang duduk di kursi pinggir warung harus memindah mejanya. Meskipun warung ini menyajikan makanan khas Jawa, kebanyakan pengunjung yang memenuhi kedai itu adalah warga lokal.

Thursday, April 09, 2009

Oposisi Malaysia Kian Tak Terbendung


Saya menyambut gembira pernyataan Najib Tun Razak bahwa media harus memberitakan secara adil dan bertanggungjawab hal ihwal masyarakat. Sebelumnya perdana menteri ke-6 tersebut telah membuat kejutan dengan melepaskan tahanan ISA (Internal Security Act) dan menarik pembredelan dua koran oposisi, Harakah dan Suara Keadilan.

Namun langkah Najib belum menggoyahkan hati rakyat untuk mendukung pemerintahan baru. Tulisan di Jawa Pos (9 April 2009) berjudul "Oposisi Malaysia Kian Tak Terbendung" mencoba membaca mengapa perubahan itu tidak mendatangkan sambutan khalayak. Mungkin keterbukaan yang sedang dicanangkan pihak berkuasa belum diwujudkan secara nyata, sehingga itu dianggap janji yang belum ditunaikan.

Di tengah kerisauan terhadap pemerintah dan oposisi yang belum berubah, saya menemukan kegembiraan lain dengan hadirnya koran baru Sinar Harian yang telah mempraktikkan etika jurnalisme yang selama ini diabaikan oleh kebanyakan media. Meskipun saya tidak meninggalkan koran-koran yang dimiliki arus utama dan alternatif, saya lebih menikmati membaca koran yang dikelola oleh kelompok Karangkraf ini untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat secara objektif. Sebagai koran yang menyodorkan jargon media untuk komunitas, surat kabar ini telah menjangkau 1 juta pembaca di seluruh negeri, sebuah prestasi yang luar biasa. Dengan harga RM 1, ia telah menempatkan dirinya sebagai media yang bisa dibaca oleh segala lapisan masyarakat.




Tuesday, April 07, 2009

Belajar Politik dari Negara Tetangga


Tulisan ini (Kontan, 6 April 2009) mencoba untuk menengok bagaimana andaian sistem dua partai di Malaysia berhasil menempatkan pemerintah dan oposisi memperjuangkan ideologi dan programnya di tengah khalayak. Di Indonesia, gagasan seperti muncul tenggelam dan lalu hilang. Yang acapkali terdengar, mereka akan membentuk koalisi setelah pemilihan legislatif. Hiruk-pikuk elit partai bertandang hanya menimbulkan kelucuan.

Adalah tidak aneh, jika masing-masing partai mengklaim keberhasilan pembangunan, seperti swasembada beras. Andaikan mereka bergabung sejak awal dan berusaha untuk merumuskan kesefahaman (bahasa Malaysia untuk understanding), maka kerjasama itu mungkin bisa dirintis jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga ada kejelasan peran.

Jika keadaan seperti terus berlangsung, kita sebenarnya sedang menunggu pemerintahan yang gamang menjalankan amanahnya karena sang tuan lebih banyak menghabiskan waktu membagi kue untuk memperoleh mufakat dan oposisi kadang tak tahu harus berbuat apa karena ia kadang bersekongkol dengan partai pendukung pemerintah berkuasa. Teriakan keras sebagai protes kadang tak lebih dari dagelan.

Merawat Bumi dengan Hati

Ini adalah poster yang ditempel di gedung pertemuan terbesar kampus, DTSP (Dewan Tuanku Syed Putera). Sebuah petanda untuk mengajak warga memenuhi ajakan WWF (World Wildlife Fund) untuk memadamkan lampu selama satu jam, terhitung dari 9-10 malam, 28 Maret 2009. Poster ini juga dipasang di beberapa tempat untuk merayakan malam 'kegelapan'.

Pada malam itu, kami turut mematikan lampu. Dalam keadaan gelap dan cenderung hening, kami justeru lebih banyak menghabiskan waktu bercakap-cakap tanpa diganggu bunyi lain, seperti televisi, radio atau komputer. Pintu depan rumah dibiarkan terbuka agar kami bisa berbagi dan ternyata tetangga baik kami juga turut memadamkan lampu. Tanpa benda-benda elektronik itu, kehidupan berjalan seperti biasa. Tak ada yang kurang.

Tentu keprihatinan ini tidak hanya berhenti mengurangi penggunaan listrik, tetapi juga kemampuan mengelola air, sampah dan plastik. Kesadaran untuk menjaga bumi yang telah berusia lanjut ini tentu menguras perhatian, namun di sini kita akan menuai kegembiraan. Apatah lagi, kemurahan pemerintah tidak mengenakan bayaran untuk listrik dan air tidak berarti kesempatan untuk menghamburkan, memuaskan kerakusan. Mungkin, tak jarang kita menemukan lampu di kampus atau di tempat umum yang masih terang menyala, meskipun di waktu siang. Seyogyanya kita mematikannya agar cahaya itu tak menjadi bencana.

Saturday, April 04, 2009

Menemukan Riang di Danau Kampus


Gambar ini diambil sekitar jam 10 pagi, ketika sisa basah hujan semalaman masih terasa. Malah sebelum menjejaki tepian danau dalam kampus itu, saya akan menuai senang sebab airnya naik setelah diguyur air dari langit. Hanya berbekal remahan roti, kami bercanda dengan ikan-ikan. Mereka berlompatan merebut remahan roti.

Warna hitam di tepi kiri bawah, segerombolan ikan yang sedang menanti lemparan roti memancing gairah untuk berlama-lama menghabiskan waktu di hari minggu. Saya juga heran mengapa danau ini tak pernah membuat bosan. Mungkin, di sana kami juga acapkali menemukan orang lain melakukan hal yang sama. Belum lagi, tak jarang satu keluarga mengayuh kebersamaan dengan memberi makan ikan. Di sana wajah-wajah selalu hadir dalam keadaan tak bermuram durja.

Bagi kami, danau kampus itu oase dari kepenatan. Dulu, saya sering melewati lorong di pinggirnya agar bisa meraup angin semilir dan nyanyian burung. Perjalanan dari perpustakaan ke asrama tak lagi menjadi beban. Tapi, setelah ada motor butut itu, saya tak lagi menikmati tingkah biawak dalam perjalanan pulang. Kerinduan itu tertunai dengan mengunjunginya untuk berbagi kesenangan dengan penghuninya, ikan.

Thursday, April 02, 2009

Menafsirkan Kembali Fundamentalisme

Duta Masyarakat, 1 April 2009

OLEH : AHMAD SAHIDAH, Research Assistant Staff dan kandidat Doktor Kajian Peradaban Islam, Universitas Sains Malaysia

Gagasan di atas diilhami oleh hermeneutika Georg-Hans Gadamer ketika merehabilitasi prasangka (vorurteil) yang dituduh oleh Pencerahan sebagai tembok besar yang menghalangi pemahaman yang terbebaskan dari dogma. Bagaimanapun, prasangka adalah keniscayaan dalam sebuah penafsiran dan namun demikian harus beranjak kepada proses selanjutnya, yaitu kemungkinan terkondisinya pemahaman yang melibatkan eksistensi penafsir dan sejarah masa lalu.

Wacana fundamentalisme, meskipun bukan baru, selalu menyeruak ke permukaan bersama semakin menguatnya organisasi keagamaan partikelir di tanah air. Mereka menuntut penegakan nilai-nilai keagamaan di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Lazimnya, sebagian sarjana mengaitkan gerakan ini sebagai kepanjangan dari cita-cita pemikir keagamaan yang acapkali dilabeli fundamentalis, sebut saja Sayyid Qutb, Hasan al-Banna dan Abul A'la al-Maududi.

Boleh jadi, label ini dicomot begitu saja dari kategori yang diberikan para pakar atau peneliti, yang secara tidak langsung merupakan analogi terhadap gerakan pemurnian di kalangan agama Kristen Barat. Kaum fundamentalis adalah kelompok yang ingin membebaskan agama dari campur tangan rasionalisme dan mengedepankan pengertian harfiah dari kitab suci. Meskipun tokoh dan pengikutnya hanya segelintir, namun suara kerasnya acapkali menghentak banyak kalangan.

Di sini, saya hanya ingin mencoba menafsirkan kembali sosok Sayyid Qutb yang secara serampangan selalu dicap fundamentalis sehingga menghalangi pembaca untuk menaruh apresiasi terhadap pemikiran tokoh Mesir ini. Bagaimanapun, lebel ini selalu diidentikan dengan tidak rasional, naif, dan efifenomenal. Paling tidak, penelitian Roxanne L Euben terhadap Kritik Fundamentalis Islam terhadap Rasionalisme membantu kita menguraikan lebih jauh di mana sejatinya posisi sang martir ini di dalam peta gerakan keagamaan.

Dekonstruksi Fundamentalisme

Pembacaan Euben terhadap karya Qutb mengantarkan dia pada keyakinan bahwa sosok yang mati di tiang gantungan ini menyangkal teori kedaulatan politik modern yang bertumpu pada sekulerisme dan imperialisme. Tesis Qutb adalah jika akal dijadikan sumber kebenaran, pengetahuan dan otoritas, maka ini berakibat pada penyangkalan terhadap dasar transenden yang menyebabkan bencana kemanusiaan, yang menggerus komunitas, otoritas dan secara khusus moralitas.

Ketergesaan meringkus gagasan Qutb ke dalam pemikiran patologis dan mereduksinya sebagai bentuk frustasi, tambah Euben, menghilangkan kesempatan untuk memahami praktik politik fondasionalis. Padahal, beberapa teoretisi politik Barat mempunyai pandangan yang sama dengan Qutb tentang visi modernitas yang mengalami krisis dan pembusukan, meskipun bersikap berbeda bagaimana menyembuhkan penyakit ini.

Tentu kesamaan ini bisa dipahami karena gagasan Qutb juga menimbang ide para filsuf Barat, seperti Plato, Aristoteles, Descartes, Bertrand Russell, Comte, Marx, Hegel, Fichte dan Nietzsche. Dari sini, kita boleh menyimpulkan bahwa mata pedang kritik bisa diarahkan ke mana saja ketika ada satu 'kuasa' yang mengebiri kemajuan, peradaban dan keadilan sejati. Ia tidak dihunjamkan kepada liyan (the other) karena alasan primordialisme.

Bahkan, kebebasan yang menjadi penyangga bagi peradaban Islam, dalam pandangan Qutb, mengandaikan kebebasan yang dirumuskan oleh Isaiah Berlin, sosiolog, sebagai positif dan negatif. Yang pertama, bebas dari ketundukan pada kekuasaan tirani dan sekaligus kebebasan untuk tunduk pada Tuhan, dengan menanggalkan dominasi nafsu. Kebebasan di sini sekaligus menegaskan kesetaraan, yang ini hanya mungkin diwujudkan di bawah kedaulatan Tuhan.

Selain itu, yang perlu dicermati bentuk kedaulatan yang diinginkan tidak dijelaskan secara konkrit. Beliau hanya menyatakan bahwa masalah yang muncul ke permukaan harus diselesaikan melalui musyawarah sebagaimana dianjurkan di dalam al-Qur'an (Ali 'Imran: 159). Dengan kata lain, bentuk negara dibiarkan terbuka untuk ditafsirkan. Malahan tugas utama negara yang perlu mendapatkan perhatian adalah terciptanya keadilan sosial. Komunitas yang ada di dalamnya bertanggungjawab untuk melindungi anggota masyarakatnya yang lemah. Pandangan progresif ini acapkali terlupakan oleh bahkan para pengagumnya di sini.

Memang, Qutb mengkritik keras Konspirasi Zionis dan Kristen, yang dianggap sebagai bentuk xenophobia oleh Euben, tetapi beliau menegaskan bahwa masyarakat Islam yang berkeadilan dicirikan oleh keragaman, sebuah kondisi inklusif yang dibangun atas dasar pluralitas sejarah, kebudayaan dan identitas. Semuanya ini disatukan di bawah hubungan yang setara di hadapan sang Khaliq. Secara tersirat, pernyataan ini menerima keragaman internal umat Islam, yang tentu saja menolak upaya penyeragaman yang belakangan ini ingin dipaksakan sebagian kelompok.

Islam Otentik

Robert D Lee dalam Overcoming Traidition and Modernity: The Search for Modernity menyetarakan Sayyid Qutb dengan Mohammed Arkoun yang sama-sama mencari otentisitas Islam di tengah ketidakseimbangan modernitas Barat yang diterapkan di Timur. Bagaimanapun, fundamentalisme Sayyid Qutb adalah respons terhadap modernitas dan kritik intelektual terhadap liberalisme. Secara tegas keduanya memperjuangkan al-ashalah (otentisitas).

Tetapi, mengapa banyak sarjana moderat cenderung menegaskan Arkoun dan menafikan Qutb? Bisa dikatakan ini terjadi karena otentisitas yang diperjuangkan yang pertama melibatkan elit dan yang kedua melibatkan massa. Tak terelakkan, massa mudah mengundang kerumunan yang gampang dikendalikan dan pada masa yang sama lepas kontrol. Sementara elit lebih asyik bergumul dengan wacana di ruang-ruang seminar dan diskursus ilmiah di media dan buku.

Biasanya massa menyuarakan pendapatnya dalam suasana hiruk pikuk dan kalimat-kalimat pendek serta bombaptis. Dengan sendirinya, kondisi semacam ini tampak sangat emosional dan ofensif. Hal Ini bisa dipahami karena wakilnya cenderung ingin menggelorakan dan mengaduk-aduk psikologi khalayak. Sementara, para sarjana bergulat dengan pemikiran yang memerlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam kalimat yang panjang, seimbang dan analitikal. Meskipun, tak jarang yang terakhir ini jika berada di depan massa dan berdiri di podium juga tidak bisa menahan diri untuk bersuara keras.

Oleh karena itu, penggerak massa perlu diajak turut serta dalam dialog agar tidak mudah memantik kontroversi dan berujung kontraproduktif, yang justeru menelikung tujuan kebajikan, menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang berlandaskan agama. Saya sendiri merasakan mereka yang mendaku moderat dan murni jarang mau membicarakan persoalan umat secara bersahaja dan dalam suasana kebersamaan. Keduanya sama-sama mempunyai panggung sendiri dan celakanya, satu sama lain saling menjegal di medianya masing-masing. Mungkin, upaya Metro TV dalam Dialog Today yang melibatkan kedua kelompok ketika membahas al-Qiyadah al-Islamiyyah, bisa ditradisikan dalam skala lebih luas.

Dengan mengacu kepada dua model pemikiran otentik yang peduli terhadap segelintir elit atau khalayak massa, kita bisa memahami kedudukan masing-masing dalam menjalankan peran kekhalifahannya di bumi. Walau bagaimanapun, pada praktiknya, agama tidak serumit teori yang diperselisihkan para sarjananya. Dari mereka yang dianggap keras kepala, kita berusaha meraup semangatnya bagaimana membela khalayak yang justeru diabaikan, meskipun di atas panggung namanya sering disebut. Tindakan nyata dengan memerhatikan keperluan ekonomi mereka sejatinya adalah keadilan yang mereka perjuangkan, namun diabaikan karena sebagian pembelanya lebih suka berteriak di jalanan. Sudah saatnya wacana menjadi tindakan nyata. []

Pak Qamar dan Yasinan

  Seusai Yasinan, kami bercengkerama di teras masjid. Suguhan kopi yang dibawa oleh Pak Qamar menjadikan percakapan kami memiliki arti. Pak ...