Monday, May 11, 2009

Cerita Ringan si Kecil

Can we explain a Beethoven sonata? (Ludwig Witgensteen, 1989)

Jika anak saya sebelumnya diperdengarkan Rhoma Irama, sekarang si kecil itu terdedah pada lagu yang harus didengarkan (siapa yang bilang?) musik klasik, seperti Mozart dan Beethoven. Ya, ikhtiar terakhir adalah sebentuk pengiyaan terhadap saran banyak orang dan informasi yang saya pernah sempat baca sebelumnya. Malah tak hanya itu, saya mengumpulkan beragam lagu untuk menjadi teman ‘kecuekannya’ terhadap perhatian dan keadaan sekitar. Lagu qasidah, Esri Mukaromah, bertajuk Ya Mismis diharapakan akan menjadi awal untuk mengenal neneknya yang berada di pulau Garam jauh nun di sana. Aha, Galang Rambu Anarkinya Iwan Fals seakan-akan mewakili kehendak saya untuk menciptakan lagu yang sama, di mana si kecil lahir setelah (bukan sebelum) pemilu dan harapan agar segera meninju matahari. Rasanya benar kata kawan baik saya, Pak Supriyanto, bahwa menjadi orang tua untuk pertama kalinya mendorong kuat untuk melakukan apa saja untuk kebaikan anaknya. Apakah memang begitu?

Kehadirannya telah memorakporandakan jam tubuh saya. Ia bisa ‘menangis keras’ tanpa mengenal waktu, pagi buta, tengah malam, atau siang. Jika sedan lelap, dengan langkah terhuyung saya beranjak dari tempat tidur. Ibunya praktis tak bisa bergerak lincah karena bekas jahitannya menghalangi untuk bergerak leluasa. Menariknya, saya pun menikmati suasana malam buta yang hanya ditingkai rengekan bayi. Kadang, saya harus menambah minuman susu formula, sebab si kecil masih ingin mengasup minuman. Tangisan itu mendatangkan keriangan, seakan musik lain yang menentramkan. Apatah lagi, suara itu menyebabkan paru-parunya kuat, sehingga meski nyaring terdengar tak merisaukan. Alhamdulillah, sekarang air susu ibunya lancar. Susu bubuk itu tak lagi disukai. Ya, benar-benar ASI eksklusif. Melihatnya mengasup ASI setelah dimandikan ibu atau Mak Cik, saya berbinar bahagia, sebab si kecil telah menemukan hidupnya yang sempurna.

Dalam keadaan sebegini, saya ternyata mempunyai tenaga berlebihan, karena bisa melakukan apa saja dalam rentang waktu 24 jam. Dari menggendong bayi, memberinya susu, menjemurnya di pagi hari, mencuci popok dan bajunya, saya menemukan keriangan. Lelah itu tiba-tiba raib bersama senyuman yang kadang muncul tanpa sebab. Ya, si kecil seringkali tersenyum sebagai respons meskipun saya tidak bisa memastikan ekspresi apakah yang menggerakkannya menyunggingkan sebuah senyuman. Di tengan keriangan ini, saya juga mengalami masa cemas karena perawat merekomendasikan untuk diperiksa ke klinik terdekat. Lebih gundah lagi jika saya harus membawanya ke ICU (Intensive Care Unit) karena dokter klinik angkat tangan. Untung hanya dua kali, sehingga saya tidak harus sport jantung setiap kali harus membawa si kecil ke rumah sakit.

Setelah ditelisik, hikmah saran perawat agar dirujuk ke dokter, saya bisa mengenal lebih dekat apa yang harus dilakukan terhadap si kecil. Di rumah sakit, saya bisa mengambil brosur sebanyak mungkin tentang perawatan bayi, baik secara fisik maupun psikis. Tentu, saya juga melengkapi dengan bacaan di surat kabar, yang kebetulan memuat hal ihwal bayi. Demikian pula, nasehat dari orang tua bagaimana mengurus bayi. Lebih dari itu, saya mendapatkan jawaban langsung dari sang otoritas, dokter. Haruskah terbekap ragu?

Sunday, May 10, 2009

Surau Kami setelah Pertemuan

Sudah memasuki minggu ke-3 setelah pembentukan pengurus baru (di sana disebut ahli jawatan kuasa), surau kami mengalami sedikit perubahan. Zakri, sekretaris, lebih kerap mengumandangkan azan, sehingga tak hanya terdengar di waktu Maghrib, Isya dan Subuh. Meskipun belum banyak yang hadir, namun gagasan untuk memakmurkan surau kami menggembirakan jamaah. Apatah lagi, Departemen Agama setempat bersedia untuk menggelontorkan bantuan dana untuk pengembangan fisik telah memantik pengurus baru untuk mengancang melaksanakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan yang akan datang.

Ya, sejak tahuan 2003, kepengurusan surat flat kami mandek. Perlu 6 tahun untuk hidup kembali dan ternyata pengurus masih menyisakan saldo. Bendahara lama ditunjuk kembali untuk mengisi posisi pengurus keuangan. Saya sendiri bersedia hanya sebagai anggota biasa, karena satu-satunya warga asing yang turut menjadi bagian pengurus. Musyawarah pada waktu itu berjalan lancar dan masing-masing lebih mengedepankan pertimbangan kebersamaan. Meski sebelumnya saya mendengar salah seorang warga keberatan, namun pembentukan pengurus tetap berlangsung.

Saya juga mengusulkan untuk menghidupkan surau dengan penyelenggaraan pengajian al-Qur'an untuk anak-anak. Ternyata sesepuh surau itu menyambut baik dan akan membawa usulan ini pada musyawarah ke-dua, pada tanggal 24 Juni. Tentu dengan sosialisasi lebih awal, pengurus surau akan lebih siap untuk mendata anak-anak yang akan diminta turut serta dalam kegiatan ini. Diharapkan dengan aktivitas ini, surau itu tak lagi lengang di waktu sore dan anak-anak warga flat akan menemukan dunianya yang tak lagi melulu terbekap di rumah memelototi film kartun.

Menunggu Berita, Meraih Makna


Saya merasa menemukan berita lebih berimbang pada koran ini, Sinar Harian dibandingkan koran-koran yang diterbitkan oleh pro-pemerintah atau oposisi. Prinsip etika jurnalisme paling dasar, mengetengahkan ke dua belah pihak (berseteru), dipraktikkan melalui pemuatan artikel, berita dan kutipan blog dari pelbagai sumber. Demikian pula komentar pembaca yang dikirimkan melalui pesan pendek (sms) mencerminkan berbagai kalangan. Karena itu, saya menyempatkan diri untuk selalu membeli koran yang diterbitkan oleh perusahaan berbeda Karangkraf ini agar bisa mengikuti perkembangan terbaru dunia politik, agama dan budaya Malaysia.

Tidak hanya itu, sebagai media yang menahbiskan dirinya sebagai koran komunitas, ia telah menjadi ruang bagi pelbagai masyarakat untuk menyatakan dirinya. Di sini, kita menemukan pelbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, dari olahraga hingga kebajikan sosial. Sebuah gotong royong membersihkan kampung atau masjid, misalnya, tidak terlewat untuk menjadi berita. Tentu yang paling seru, aktivitas para politisi yang menampilkan dirinya dalam kegiatan masyarakat atau sedang menyambangi konstituennya diberitakan secara adil dan diberikan ruang pada ke dua kelompok politik, Barisan Nasional dan Pakatan Rakyat.

Berbeda dengan media yang dimiliki oleh dua musuh bebuyutan di atas yang selalu menurunkan berita tendensius dan berbau propaganda tanpa henti. Akal sehat tiba-tiba berhenti. Perbincangan melulu berkait dengan bagaimana memojokkan lawan tanpa ampun. Tentu, dalam keadaan seperti ini, pendidikan politik akan macet karena sumber informasi tidak didasarkan pada etika jurnalisme, transparansi, berimbang dan bertanggungjawab. Berita diturunkan tidak secara verbatim, apa adanya, melainkan pada tataran tafsir. Kalaupun disiarkan secara langsung, namun hanya dijadikan titik mula untuk mengkritik seteru. Apatah lagi mau mengembangkan jurnalisme sastera yang mengandaikan sebuah penyajian berita investigatif dan enak dibaca. Saya tidak tahu sampai kapan media pemerintah dan oposisi yang menyuguhkan bacaan yang enak dan perlu, mengutip moto majalah Tempo, akan lahir. Menunggu Godot? Wallahu a'lam.

Thursday, May 07, 2009

Merawat Tradisi


Gambar di atas adalah sebagian upacara potong rambut. Tradisi Nabi yang telah dipelihara pelbagai generasi. Demikian pula sebelumnya, saya harus membawa sekantong plastik ari-ari yang diletakkan di bawah kotak bayi. Malam itu, saya harus membawanya ke rumah dan membersihkannya hingga tak berwarna merah, karena darah. Ternyata perlu waktu lama karena darah itu seakan-akan terus mengalir. Aha, saya kemudian meletakkan di wadah yang terbuat dari plastik berlubang, sehingga saya hanya perlu membuka kran dan air mengalir deras. Dalam benak, manusia ternyata mempunyai semacam kepompong sebelum lahir ke dunia.

Keesokan harinya, saya membawanya ke kampus. Lalu, atas jasa baik Pak Supri, teman Indonesia yang sedang mengambil ilmu komputer, ari-ari itu ditanam di belakang rumahnya, keluarga mahasiswa Asing 'Aman Damai'. Alhamdulillah, cangkul kecil itu mampu menggali cukup dalam sehingga 'bagian' dari si kecil itu bisa dikebumikan dengan baik. Lalu, saya memasukkan asam dan garam agar baunya tidak mengundang binatang malam. Kemudian, di atas gundukan tanah itu diletakkan sebongkah batu, semacam tanda, nisan, atau penghalang agar binatang liar yang acapkali berkeliaran di sana tidak menghidu bau sesuatu.

Jauh hari sebelumnya, saya telah membeli secarik kain kafan putih sebagai pemenuhan banyak petuah agar ari-ari itu diperlakukan sebagaimana layaknya manusia. Tentu saja saya tidak menerangi dengan lampu sebagaimana di kampung, karena ia ditanam di belakang rumah seorang kawan. Demikian juga, saya tidak mungkin mengebumikannya di depan rumah, seperti dulu ari-ari saya disemayamkan, karena kami tinggal di sebuah flat. Hingga hari ini, saya tak pernah menyambangi uri (sebutan jiran kami untuk ari-ari) dan saya berharap ia telah menyatu dengan bumi. Damai bersama kebaikan teman-teman yang senantiasa bertanya kabar tentang puteri kami dan sebentuk doa yang mereka berikan. Mungkin kebajikan mereka yang menggantikan cahaya lampu yang biasanya dipasang di atas sebuah tutup yang dibuat dari tanah liat dan berlubang di sana-sini agar pelita yang ditaruh di dalamnya tidak mati kekurangan udara.

Tuesday, May 05, 2009

Bermain Bola



Ini peristiwa biasa, seperti kebanyakan orang melakukannya. Namun, bagi saya, ia sesuatu yang baru. Pertandingan persahabatan antara mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Sains Malaysia. Saya didapuk sebagai pemain untuk tim pascasarjana. Beberapa hari sebelumnya, tim 'tua' ini telah bersuara di milis untuk menentukan posisi.

Pada hari pelaksanaan, saya berangkat dengan Iman, anak tetangga jiran flat. Sayangnya, meskipun semangat membaja, saya tidak bisa turun lapangan. Demam semalam masih mengendap dengan senang. Saya hanya menonton dari kejauhan. Meskipun saya bisa memaksa diri untuk bermain mengocek bola, panas sore itu tentu akan menguras tenaga dan menyengat kepala yang sebelumnya diserang pening. Agar bisa bertahan lama, saya meneguk air yang disediakan panitia. Anehnya, segar tak kunjung datang. Meski, Didi, koordianator acara ini, menelepon dari lapangan agar saya menggantikan pemain lain, saya tak kunjung beranjak.

Sebelum usai, saya dan Iman pulang. Saya tetap merasa kegembiraan. Teman-teman Indonesia yang belajar di seberang berpayah-payah datang untuk meramaikan acara itu. Tentu, teman-teman S1 tampak paling siap dengan kostim dan latihan yang rutin. Mereka juga menunjukkan kekompakan yang luar biasa. Selain tepat waktu, mereka juga turut membantu kepanitiaan kecil agar main bareng ini berjalan sukses. Foto di atas diambil oleh Mahda, mahasiswa S1 yang sekarang sedang pulang liburan dan bercerita ingin memborong bacaan di toko buku Medan.

Rumah Kami Retak

Persatuan Pelajar Indonesia di Universiti Sains Malaysia goyah. Ia menuju 'retak', menunggu terbelah. Tentu pertanda buruk bagi sebuah organisasi yang dihuni tak begitu banyak anggota. Tapi, apa boleh buat, para pejuang itu memilih untuk berumah berbeda, milis resmi dan perjuangan. Dalam sebuah pertemuan kelompok yang terakhir, pengurus PPI diminta untuk memenuhi tuntutan anggota yang tidak rela milis sebelumnya ditutup. Alasannya pemberangusan sejarah, penghilangan jaringan (networking) dan ketidakpekaan terhadap perasaan ratusan penghuni yang ada di dalamnya, baik masih berstatus mahasiswa ataupun alumni.

Gambar ini adalah momen musyawarah tahunan. Saya bertanggung jawab sebagai panitia pengarah (steerring committee). Sejak awal, saya telah menghidu bau persaingan untuk merebut orang nomor satu. Meski tidak sepanas acara mahasiswa di Indonesia, dengan melempar kursi atau beradu mengencangkan urat, namun pembahasan tata tertib berjalan alot, namun tak jarang diselingi kelucuan. Konflik bertunas. Setiap calon merapal doa dan menghitung peta dukungan suara. Akhirnya, pemenangnya adalah mahasiswa S1. Acara usai.

Tak lama setelah kepengurusan terbentuk, mahasiswa dikejutkan dengan keputusan pengurus untuk menutup milis dan digantikan dengan rumah baru. Di sini, perselisihan menyeruak. Tak hanya di dunia maya, di dunia nyata mereka beradu argumentasi untuk mempertahankan yang lama dan menyodorkan rumah baru. Saya sendiri mengelak untuk terlibat secara langsung. Sekarang, bola liar makin membesar. Keduanya telah memilih jalan berbeda. Lalu, kapankah ini berakhir? Menunggu waktu.

Saturday, May 02, 2009

Inilah Perpustakaan Kampus Itu

Inilah perpustakaan tempat saya belajar. Di dalamnya ada 1 juta lebih koleksi buku pelbagai disiplin. Tak hanya itu, ada fasilitas lain, seperti koleksi CD film, kuliah dan lain-lain. Malah, di sebelah tempat penyewaan film, ada ruang mendengarkan musik. Dulu, saya sering menyambanginya setelah penat membaca buku. Di lantai bawah, ada ruang khas untuk majalah, baik luar maupun dalam negeri. Tak hanya itu, televisi berukuran besar menyala, menyiarkan saluran pengetahuan. Di sini, pengunjung juga bisa membaca koran lokal, seperti Utusan, The Star, The Sun, Berita Harian, New Straits Time dan koran berbahasa Tionghoa dan Tamil.

Di rak bagian filsafat, saya tersentak karena koleksi bukunya bejibun. Saya belum sempat membaca semuanya. Malah, saya mendapatkan buku asli terjemahan Truth and Methodnya Gadamer yang pertama, tahun 1971, di sini. Sebelumnya, saya hanya mendapatkan buku magnum opus penggagas falsafah hermeneutik ini dalam bentuk fotokopian. Mungkin setelah selesai ujian doktor, 8 Mei, saya akan menekuri buku-buku yang terbengkalai itu. Ini terjadi disebabkan di kampus saya tidak mempunyai jurusan atau fakultas filsafat sehingga buku-buku warisan Yunani itu tidak sempat terjamah oleh mahasiswa.

Di depannya, ada kursi panjang yang menjadi tempat mengasyikkan karena di sini kita bisa bertemu banyak orang, yang bahkan tempat saya mengenal banyak mahasiswa Indonesia dan bertemu dengan teman-teman lain yang berasal dari banyak negara. Letaknya yang berada di tengah kampus membuatnya menjadi tempat lalu lalang mahasiswa. Inilah tempat yang banyak mendapat kunjungan mahasiswa, selain kantin dan masjid. Apakah ini juga petanda bahwa keperluan manusia itu adalah makan, membaca dan beribadah?

Do We Have Free Will?

Di dapur, saya membaca kembali isu lama tentang kehendak bebas. Sambil menikmati pisang goreng dan kopi, saya mengingat kembali apa yang did...