Sunday, September 06, 2009

Silaturahmi di Konsulat


Ramadhan tak hanya menyemai berkah, tetapi silaturahmi melimpah. Gambar di atas adalah mahasiswa dan warga Indonesia yang sedang menanti azan Magrib, pertanda buka puasa. Tak hanya orang dewasa, anak-anak turut meramaikan acara mingguan ini. Suasana ini mengingatkan saya waktu kecil ketika berlarian bermain menunggu bedug ditabuh dimasjid. Kesempatan seperti ini adalah waktu yang baik para pelajar dan pekerja Indonesia menjalin silaturahmi.

Seperti biasa, berbuka di konsulat dimulai dengan mengasup kolak, kurma, bakwan dengan cabe rawit (cili padi), dan aneka makanan ringan yang lain. Lalu, kami bersama-sama menunaikan shalat berjamaah maghrib. Sesudah itu, kami pun menyerbu hidangan yang telah disiapkan, daging, ayam, sayur, krupuk udang, sambel dan yang menyenangkan tempe mendoan. Buah-buahan juga disediakan untuk menyudahi makan berbuka.

Shalat tarawih pun digelar setelah mereka menunaikan shalat Isya. Disusul kemudian dengan ceramah oleh Pak Mohammad Nuh, mahasiswa PhD bidang sejarah yang mengulas bagaimana menjalani puasa dengan baik. Hanya 15 m, mahasiswa asal Makasar ini menyampaikan pengajian. Tanpa menunggu lebih lama, kami pun bersalam-salaman satu sama lain yang dilakukan dengan berjalan melingkar. Praktis, setiap jamaah bisa berjabat tangan satu sama lain sambil melantunkan shalawat.

Saturday, September 05, 2009

Jalan Tengah 'Membaca' Pesan Tuhan

Dr Ahmad Sahidah

(Pengajar Peradaban Islam dan Asia, KDU College)

Salah satu keistimewaan Ramadhan adalah hari ke-17, peristiwa Nuzul Quran, turunnya kitab suci yang ditujukan bagi kemaslahatan manusia. Peringatan demi peringatan hadir untuk menyucikan kehadiran buku pedoman Muslim tersebut. Khotbah demi khotbah diperdengarkan untuk menyanjungnya sebagai kitab segala zaman. Tak ada seorang Muslim pun yang meragukan hal tersebut. Namun, para sarjana liberal menyoal kemutlakan tafsir terhadap teks (baca: nash) yang diterakan. Sementara pada waktu yang sama, para pembela 'makna' harfiah menggelorakan permusuhan pada pemahaman kontekstual, dengan menyebut gagasan mereka sebagai sesat, bidah, dan tak jarang divonis halal darahnya.

Perseteruan di atas bukan sesuatu yang baru. Para sahabat sendiri kadang berselisih paham tentang makna sebuah ayat. Padahal, mereka merupakan komunitas yang paling dekat dengan kehidupan Nabi dan bahu-membahu dalam mewujudkan sebuah masyarakat kenabian (prophetic society). Bisa dibayangkan, generasi selanjutnya akan semakin dihadapkan dengan kemungkinan perbedaan pembacaan karena mereka mengalami penjarakan yang cukup jauh. Lebih-lebih, yang terakhir ini tidak mengalami konteks ayat yang dipahami sehingga teks (baca: ayat Alquran) menjadi barisan huruf yang polisemi.

Petunjuk manusia
Telah diketahui umum bahwa Alquran diturunkan untuk menjadi petunjuk (hudan) bagi manusia. Namun, sebagaimana ditegaskan dalam surat Albaqarah (ayat 2-5), pedoman itu diperuntukkan bagi orang yang bertakwa (lilmuttaqin), yaitu orang yang beriman pada yang gaib, bersembahyang, dan mengeluarkan derma. Selain itu, mereka juga mempercayai kitab yang telah diturunkan pada nabi-nabi sebelumnya, Zabur, Taurat, dan Injil, serta meyakini adanya hari akhir (akhirat). Dengan petunjuk ini, manusia akan mendapatkan keberuntungan. Sekilas, susunan kalimat yang padat ini tampak terang benderang, namun hakikatnya ia mengandaikan sebuah uraian yang tidak ringkas.

Bagaimanapun, pemahaman terhadap ayat di atas tidak bisa diringkas menjadi satu kesimpulan, tanpa mengaitkan dengan ayat-ayat lain di dalam Alquran sehingga ditemukan satu pemahaman, yang mengandaikan satu pandangan hidup (weltanschauung). Relasi ayat dengan ayat lain adalah salah satu cara memahami pesan secara utuh. Di sinilah, para pembaca tak lagi terpaku pada satu penjelasan, namun juga dituntut untuk menemukan pengertian kata kunci, seperti gaib, shalat, akhirat di ayat lain. Pada akhirnya, dalam analisis semantik Toshihiko Izutsu, fokus kata tertinggi adalah Allah, yang menyinari seluruh pengertian semantik kata-kata penting di dalam Alquran.

Dari pendekatan di atas, pemahaman terhadap Alquran tak lagi bersifat atomik, sepotong-sepotong, tetapi tematik (maudhu'i), bersifat menyeluruh. Pemahaman seperti ini diharapkan akan memenuhi maksud 'Tuhan', meskipun tidak mutlak, tetapi mengandaikan pengertian yang seimbang. Dengan demikian, pengertian ketakwaan tak lagi dipandang sebagai sosok yang mengasyiki ibadah di rumah Tuhan, tetapi lebih jauh mencintai Tuhan dengan mencintai manusia. Adalah aneh jika ada segelintir orang membela Tuhan, tetapi pada masa yang sama menggelorakan kekerasan pada manusia atas nama tafsir kebenaran terhadap firman-Nya.

Skala prioritas
Sebenarnya, dari ayat yang menegaskan kitab suci sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa, siapa pun secara sederhana bisa mencerap isinya. Apakah lagi, dalam keseharian tanda-tanda ketakwaan itu mudah dilihat dan diamalkan. Malangnya, betapa banyak orang yang menyatakan diri Muslim, menunaikan shalat, berderma, dan percaya pada akhirat, namun kenyataannya, di negeri ini, keberuntungan sebagai manusia tak kunjung diraih. Tidakkah ini berarti manusia itu gagal mencerap makna sebagai orang bertakwa sehingga selalu dirundung kerugian?

Oleh karena itu, pemahaman terhadap ayat shalat dalam Albaqarah, misalnya, harus dikaitkan dengan surat Al-Ma'un, yang menegaskan kesia-siaan sembahyang tanpa disertai kepedulian terhadap orang-orang terpinggirkan, anak yatim, dan fakir-miskin. Pemahaman munasabah ayat bi al-ayah (hubungan antarteks) telah lama diperkenalkan dalam ilmu-ilmu Alquran. Namun, sayangnya, kebanyakan proses pembelajaran keagamaan menekankah tanda kesalehan pada ibadah tertentu (shalat) dan mengabaikan ibadah lain (derma). Celakanya lagi, kalaupun yang terakhir ditekankan, sikap kedermawanan lebih ditegaskan sebagai bentuk keprihatinan karikatif, yaitu dorongan untuk memberi sedekah, zakat, dan infak hanya sebatas kewajiban itu sendiri.

Falsafah filantropi dalam dunia Islam belum menjadi sebuah kesadaran Muslim. Sehingga, mereka gagal memahami makna tersirat dari kewajiban menyantuni orang papa dan pada masa yang sama menyucikan harta. Tujuan dari sikap dermawan itu adalah bukan pada keutamaan tangan di atas (metafor memberi) semata-mata, tetapi bagaimana tetangga tidak 'kelaparan'. Demikian pula, menyucikan harta bukan berarti jalan pintas untuk membersihkan kekayaan yang diperoleh dari penyalahgunaan kekuasaan, misalnya. Lebih jauh, keduanya bisa dipahami bagaimana kedermawanan itu menyelesaikan masalah kemiskinan dan mendorong manusia untuk selalu menimbang cara pemerolehan harta yang baik. Oleh karena itu, gagasan zakat produktif adalah layak untuk dikembangkan.

Sekarang, betapa sangat erat kaitan shalat, yang mengandaikan hubungan manusia-Tuhan, dengan kepedulian sosial, yang memperlihatkan relasi harmonis antarmanusia. Kesempurnaan satu kewajiban mengandaikan pelaksanaan kewajiban lain adalah suatu pandangan yang tidak memisahkan antara hak Tuhan dan hak manusia. Lalu, apakah mungkin mewujudkan hubungan ideal ini tanpa otoritas dan kekuasaan? Di sinilah, pangkal perseteruan kelompok di atas bermula. Apakah ajaran agama itu bersifat ideal-etik atau empiris-praktik?

Betapa pun keduanya berbeda mengenai cara bagaimana mewujudkan sebuah hubungan ideal manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya, sejatinya, keduanya mengandaikan sebuah ide pembebasan. Harus diakui model keduanya sama-sama dianjurkan dalam kitab suci. Masalahnya, keduanya enggan untuk bertemu dan mencari jalan tengah. Padahal, pada masa yang sama, kitab suci mengandaikan pembacaan yang terakhir sebagai jalan keluar dari sifat ideal dan kenyataan yang selalu mengalami ketegangan.

(-)

Sumber: Republika, 5 September 2009

Menjernihkan Konflik Serumpun


Oleh: Ahmad Sahidah

Sumber: Jawa Pos, 27 Agustus 2009

DUA tulisan tentang isu pencaplokan tari pendet oleh Dewa Gde Satrya berjudul Klaim Tari Pendet oleh Malaysia (Jawa Pos, 24/8/09) dan Siti R. Susanto berjudul Konflik Klaim Kebudayaan (25/8/09) mengandaikan isu lama tentang keranjingan negara tetangga kita itu mencuri hasil kebudayaan Indonesia. Tentu, kasus tersebut menyeret tuduhan sebelumnya seperti batik, lagu Rasa Sayange, dan reog Ponorogo serta menambah keyakinan khalayak di sini untuk menista saudara serumpunnya sebagai maling.

Benarkah gambaran tersebut? Benarkah negara bekas jajahan Inggris itu mencuri karya Indonesia untuk diakui sebagai miliknya? Di antara sederet karya, yang sering dikemukakan diklaim adalah batik. Padahal, menurut Wan Hasmah, mahasiswi PhD di Universitas Teknologi Mara (UiTM), Malaysia mengakui batik itu berasal dari Indonesia sebagaimana dijelaskan dalam sejarah usul yang dipatrikan di Museum Batik Negara Malaysia.

Lebih jauh, Majapahit sebelumnya memberikan hadiah batik kepada Kerajaan Melaka. Bagaimanapun, jika ditilik dengan cermat, corak batik Malaysia berbeda dari Indonesia, baik motif maupun bahan. Masalahnya, karena banyak warga dan keturunan Indonesia di sana, batik-batik tersebut mendapatkan permintaan yang besar dan menyerbu masuk tanpa bisa dicegah, sehingga melalui celah itulah ''peniruan'' mungkin terjadi.

Persoalannya, apakah salah keturunan Jawa di Malaysia memanfaatkan karya nenek moyangnya untuk digunakan sebagai identitas, sedangkan pada waktu yang sama mereka telah mengalami naturalisasi sebagai warga Malaysia?

Mengapa kita tidak pernah mendengar gugatan orang Jawa terhadap budaya gamelan yang dimainkan orang Suriname keturunan Jawa? Salahkah orang Malaysia keturunan Bugis mengakui epik Galigo sebagai miliknya, mengingat perdana menteri yang sekarang, Najib Tun Razak, adalah keturunan Bugis yang telah menjadi warga negara di negeri serumpun tersebut?

Jawaban pertanyaan itu tentu tidak hanya berupa ya dan tidak. Sebab, batas-batas tersebut menjadi cair setelah pengalaman hubungan kedua negara ini sering naik-turun.

Kerja Sama dan Konflik

Kalau dirunut ke belakang, sejak Kerajaan Majapahit dan Melaka, perselisihan telah meruyak. Namun, pada masa yang sama, bagian dari dua negara ini juga pernah bahu-membahu bekerja sama melawan liyan. Misalnya, Aceh membantu Kedah, negeri utara Malaysia, melawan Siam (sekarang Thailand).

Bukan hanya itu, hubungan mesra tersebut telah memungkinkan orang Aceh diberi tanah untuk dihidupkan, seperti di Pulau Pinang, jauh sebelum Francis Light, asal Inggris, pada 1786 menyulap pulau mutiara itu menjadi kota modern. Dari hubungan tersebut, banyak keturunan Aceh yang berkewarganegaraan Malaysia berhasil dalam segala bidang. Misalnya, bisnis, politik, dan akademis.

Malahan, pada zaman prakemerdekaan, 1920-an, Tan Malaka menyusuri tanah Semenanjung untuk bersama-sama pegiat kemerdekaan lokal melawan penjajah. Rustam A. Sani, sosiolog terkemuka keturunan Minangkabau, dalam buku Social Roots of the Malay Left (2008) menulis dengan terang benderang bagaimana kaum kiri Indonesia, Djamaluddin Tamin, Tan Malaka, Budiman, Sutan Djenain, Alimin, dan Mohammad Arif, menggelorakan pergerakan orang Melayu setelah revolusi Jawa dan Sumatera dipadamkan Belanda. Dari pertautan itu, lahirlah Kesatuan Melayu Muda yang dikenal sebagai pemprakarsa perlawanan terhadap kolonialisme melalui gerakan bersenjata.

Selanjutnya, tidak aneh jika konflik muncul antara dua negara ini, masyarakat terbelah. Contoh yang paling jelas adalah penolakan almarhum Hamka, novelis dan ulama, terhadap gagasan konfrontasi Presiden Soekarno karena bukan saja alasan agama, tapi juga sejarah hubungan Minangkabau dengan Negeri Sembilan yang sangat erat.

Negara yang terakhir itu layaknya salinan fotokopi dari induknya, yang kata Hamka dulu disebut Melayu, bukan Menang Kerbau, satu sebutan yang digagas Belanda. Dukungan Jawa tentu lebih total pada Ganyang Malaysia karena tak mempunyai hubungan historis seperti Minang, meski pengaruh Jawa sangat kuat karena pada masa Kesultanan Demak banyak prajurit yang dikirim ke Melaka untuk melawan Portugis.

Teori Mimesis

Teori tersebut mengandaikan bahwa seseorang merasa kehilangan sesuatu ketika barang miliknya diambil atau dipinjam orang lain. Keadaan semacam itu sering terjadi pada anak kecil.

Apakah kasus tari pendet mencerminkan teori itu? Siapa pun bisa mencocokkan atau malah mengajukan teori lain untuk menyangkalnya. Secara umum, seseorang akan meradang jika miliknya diambil orang lain.

Masalahnya, kepemilikan tersebut berkaitan dengan hasil kebudayaan yang mengandaikan sejarah penciptaan yang rumit. Misalnya, tari pendet. Bukankah unsur-unsur Hindu begitu kuat di dalamnya yang notabene merupakan warisan India kuno?

Hakikatnya, kedua negara ini mengandaikan pengalaman sejarah panjang yang berjalin kelindan, berbahasa Melayu sebagai lingua-franca dan berlatar belakang alam Nusantara sebelum akhirnya terpisah menjadi dua negara berdasar warisan batas teritorial penjajah, Belanda dan Inggris.

Dalam karya Tuhfah al-Nafis Raja Haji Ali diterangkan betapa orang-orang Bugis telah melakukan penetrasi kepada kesultanan Melaka, sehingga memberikan warna kebudayaannya. Demikian pula, Aceh pada masa kerajaannya telah menjajah negara bagian Malaysia sekarang. Karena itu, tak ayal banyak kebudayaan negeri Serambi Makkah tersebut dipraktikkan di buminya yang baru.

Dalam teori mimesis juga dijelaskan, bahkan walaupun barang yang dipinjam saudaranya itu sudah tak diperlukan, si pemilik ''boneka'' tersebut merengek karena ternyata boneka itu terasa begitu penting, itu pun setelah digunakan orang lain. Tampak, kasus klaim Malaysia terhadap karya ''Indonesia'' mengandaikan keadaan seperti itu.

Masalahnya, setelah barang tersebut dikembalikan oleh saudara yang lain, apakah si pemiliknya akan merawat atau malah menelantarkannya dan disimpan di gudang?

Jauh dari sekadar hiruk-pikuk ini, tidakkah ini bisa dilihat sebagai keberhasilan kreativitas bangsa Indonesia melakukan penetrasi kebudayaan pada negara tetangganya, sebagaimana dilakukan India dan Tiongkok terhadap Malaysia. Sederhana, bukan? (*)

*) Dr Ahmad Sahidah, dosen Peradaban Islam dan Asia, KDU College Pulau Pinang, Malaysia

Tuesday, September 01, 2009

Sekolah Usai


kwitansi (di sana disebut resit) di atas adalah jaminan pribadi (personal bond) yang dibayarkan ke universitas pertama kali saya mendaftar sebagai mahasiswa. Tak banyak, RM 500 atau sekitar Rp 1, 5 juta. Untuk mengambilnya di kantor keuangan kampus, saya harus melampirkan surat bebas pustaka, surat keterangan kampus kalau diwisuda dan tentu membubuhkan nomor rekening Bank. Ada banyak tanda di kertas yang sudah mulai menguning karena sudah berusia hampir 5 tahun, seperti BCA, USD dan lain-lain. Ia menyimpan cerita panjang.

Sekarang, setelah ijazah di tangan, yang hanya selembar itu, sekolah kehidupan tentu lebih menantang. Ternyata sekolah belum usai. Sekarang, saya berjibaku untuk mendapatkan tanda lulus sebagai manusia. Rapor masih centang perenang. Ndilalah, saya merampungkan sekolah menjelang Ramadhan. Inilah awal untuk menjalani kelas baru, belajar menahan diri, sebuah disiplin yang kadang tak ditemukan dari angka 100 yang diterakan dalam nilai rapor dalam subjek apa pun (baca: grade).

Kelas baru bukan lagi kutipan kalimat para pemikir, ujian yang harus dilalui, atau penulis tesis yang menyita waktu sehingga membuat dahi berkerut, tetapi bagaimana mewujudkan kata-kata indah dalam buku itu menjadi wajah diri dalam hubungannya dengan manusia di sekitar, alam, dan Tuhan yang selayaknya ada pada bilik hati yang sangat rahasia. Aha, ternyata bacaan yang bejibun itu tumpul menghadapi keadaan sekitar yang menyerimpung, misalnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang tak sejalan dengan predikatnya sebagai penjaga alam. Sepatutnya saya mengambil inisiatif untuk memulai menciptakan keadaan yang mendorong mereka peduli di lingkungan saya paling kecil, flat tempat tinggal.

Mungkin langkah kecil, seperti tadi pagi, ketika saya membeli minuman dan koran, saya bilang "tak memerlukan plastik", adalah pembelajaran diri. Apa susahnya membawa sejumlah barang pulang tanpa harus menggungakan plastik? Lalu, diam-diam, saya menunjukkan kesadaran itu tanpa liyan menyadari. Oh ya, kuasa itu juga penting. Saya sedang mempertimbangkan itu untuk memaksa orang lain melakukan hal yang sama.

Sunday, August 30, 2009

Menemukan Wakil Rakyat

Secara kebetulan, saya menemukan peristiwa di atas. Seorang wakil rakyat menemui pedagang sambil memberikan t-shirt, penutup mulut dan brosur peringatan wabak flu babi. Hebatnya, pemilu telah usai dan pemilu selanjutnya masih lama, tetapi wakil dari salah satu partai di Pulau Pinang, tempat saya tinggal, turun ke bawah. Saya sempat berbincang dengan pembantunya. Malah, turut mengikuti ketika anggota legislatif keturunan India ini menugaskan stafnya untuk meluluskan permintaan seorang warga yang kebetulan ada di situ mengenai permohonannya pada salah satu departemen yang belum diluluskan.

Sore itu, saya betul-betul menemukan peristiwa yang menyenangkan, tidak hanya bertemu dengan pekerja pasar yang berasal dari satu kampung, namun melihat bagaimana fungsi keterwakilan itu benar-benar berjalan. Sosok seperti ini seharusnya menjadi anutan para anggota DPRD dan DPR di Indonesia yang baru disahkan. Di tangan mereka, masalah rakyat didengar dan dicarikan jalan keluar, seperti saya temukan pada pengalaman di atas. Meski agak cemas, saya tetap menggantungkan harapan agar calon yang terpilih betul-betul mengerti tiga fungsi pokok sebagai anggota legislatif.

Ternyata, setelah saya baca koran lokal keesokan harinya, kegiatan yang sama juga dilakukan oleh koleganya di tempat lain. Mungkin, mereka sadar bahwa masyarakat memerlukan wakil yang bisa dipercaya, wakil yang bisa menjenguk mereka bukan hanya ketika menjelang pemilihan umum. Satu hal, sebagai pemegang amanah, dia tak lagi bertanya apakah orang yang sedang mengalami masalah itu berasal dari partainya atau tidak, melainkan dia sepenuhnya wakil dari tempat dia berasal. Semoga!

Saturday, August 29, 2009

Meraup Berkah Puasa

Hari kedua puasa, kami bersama keluarga Pak Cik, tetangga flat, mengunjungi pasar Ramadhan di Pasar Tun Sardon untuk membeli panganan dan lauk-pauk matang. Hanya sekian menit, kami pun sampai di pasar rakyat, sebelumnya setiap hari Rabu juga menjadi tempat pasar malam. Di tengah melihat begitu banyak pilihan, saya dan isteri mendekati lapak penjual ayam bakar. Tak hanya membeli, kami pun beramah tamah dengan penjualnya, dua orang perempuan asal Madura dan Lamongan. Keduanya telah lima tahun bekerja sebagai pembantu pada majikan Melayu.

Lalu, seusai mengelilingi pasar, kami pun beranjak pulang, menuju Bazaar Ramadhan depan kampus Asrama (lihat gambar di atas). Di sana, kami banyak berjumpa dengan mahasiswa asal Indonesia yang juga mencari menu berbuka. Malah, saya sempat ditawari kurma, yang kebetulan digelar oleh penjual dadakan, mahasiswa aktivis kampus. Karena di rumah masih ada, saya pun meminta diri dan berjanji untuk kembali. Tentu pasar dadakan ini menambah suasana sore itu hiruk pikuk jalan yang sebelumnya sepi. Beragam jualan ditawarkan, namun akhirnya setiap orang hanya akan memilih secukupnya.

Kami pun pulang ke rumah dengan perasaan lapang.

Sunday, August 23, 2009

Berbuka Puasa di Konsulat

Tahun yang lalu, mahasiswa dan staf konsulat berbuka puasa dengan duduk di kursi, tetapi sekarang mereka lesehan, duduk di atas tikar plastik. Seperti tampak dalam gambar, bapak yang berbaju putih adalah Mr Moenir Ari Soenanda, konsul jenderal, yang didampingi beberapa mahasiswa, Noval, Hamimu, Yatno, Heri, Syukri dan Rizal. Sementara di depannya, Isyam, Pak Wahyu, Pak Kasim, Wahyu dan Faisal, saya tak tahu pasti sebelum Pak Wahyu, berkopiah hitam. Sambil menunggu bedug, tepat azan Magrib, kami bertukar cerita. Sementara di ujung sana, beberapa mahasiswa juga melakukan hal yang sama.

Ditingkahi rinai hujan, kami akhirnya berbuka dengan menu yang beranekaragam, seperti kue, kurma, kolak dan aneka jenis minuman. Rizal, mahasiswa Teknologi Industri asal Palembang, melantukan azan. Saya pun mengambi kue dan kurma tiga biji dan air jeruk kotak. Tak lama kemudian, kami pun bersiap-siap berjemaah magrib. Dr Ali Jamhuri, doktor Manajemen asal Malang, menjadi imam Maghrib. Kira-kira 10 menit, sembahyan bersama usai. Lalu, tuan rumah, Pak Moenir, mengundang jemaah untuk merayakan ulang tahun yang ke-54 dengan memotong kue coklat, yang sebelumnya didahului doa oleh Dr Ahmad. Di sela-sela pemotongan kue, para jamaah secara spontan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Meriah! Blitz kamera berpendaran. Tanpa menunggu lebih lama lagi, orang nomor satu di perwakilan Indonesia Pulau Pinang ini meminta jamaah untuk menyantap hidangan, berupa gule kambing, opor ayam, sayur, ikan, dan beragam jenis menu yang lain.

Di sela-sela berbuka, kami pun berbincang banyak hal, politik, ekonomi, pariwisata dan tentu lelucon yang dimulai oleh Pak Moenir dengan cerita pihak Imigrasi yang melarang turis Madura memasuki Perancis, khawatir Menara Eiffel Perancis tumbang. Sebelumnya, beliau bercerita tentang kesukaan masyarakat Pulau Garam ini terhadap besi. Lalu, Syukri, yang katanya bisa berbahasa Jawa, Batak dan Aceh, menimpali dengan cerita lucu lain. Mereka bersahut-sahutan dengan banyak cerita. Namun, Kumandang Isya membubarkan acara santap malam itu. Jamaah bersiap-siap menunaikan shalat Isya dan tarawih, yang dipimpin oleh Nuhung, mahasiswa PhD bidang Sejarah Islam asal Sulawesi. Akhirnya, malam penuh berkah itu diakhiri siraman rohani, istilah yang digunakan oleh Pak Purnomo, staf konsulat, untuk ceramah agama oleh Dr Ahmad, Postdoctoral Research Fellow Universitas Sains Malaysia dengan Tema Empat Asas Menjadi Muslim yang Baik.

Zip Zap Pop

Saya akan membelikan zip zap pop (made in China) bila kamu mau tarawih. Zumi pun sigap. Di masjid, banyak anak seusianya juga berada di sini...