Thursday, April 22, 2010

Mengenal Petromaks


Lampu petromaks ini diambil dari dari Pameran Warisan Peranakan Tionghoa Asia Tenggara di perpustakaan Hamzah Sendut 1. Sebenarnya di pojok lain juga diperlihatkan pelbagai peralatan rumah tangga, namun gambar yang satu ini menyengat perhatian saya. Dalam peluncuran koleksi ini, ada banyak peninggalan Peranakan Tionghoa, seperti Sam-Sam, Jawi, Cetti dipamerkan. Meski mereka 'orang lain', tetapi percampuran dengan kebudayaan lain mengandaikan pertemuan dua pandangan hidup.

Mengenai lampu di atas, saya menemukan tulisan pada tutup berwarna putih made in Germany, sedangkan di tabung tempat minyak tanah tertera made in Sweden. Berbeda dengan petromaks di kampung saya, kebanyakan buatan China. Pada tahun 1980-an, ia boleh dikatakan termasuk barang mewah. Selain memerlukan biaya mahal, seperti kaos lampu, seingat saya bermerek kupu-kupu, dan boros minyak tanah, dibandingkan pelita kecil yang tahan hingga pagi. Sementara, petromak itu hanya dinyakan hingga jam 9-10 malam. Kehadirannya mengundang decak kagum banyak orang. Ia menggantikan sinar rembulan ketika sang bulan itu tak muncul.

Karena banyak pengguna, salah seorang di kampung membuka bengkel untuk petromaks. Selain pintar memperbaiki lampu ini, ia juga berperan sebagai imam masjid, yang selalu memimpin sembahyang dan membacakan tarhim di dua pertiga malam, menjelang subuh. Keahlian yang terakhir ini sekarang diturunkan pada anaknya, yang sekaligus guru madrasah saya. Setelah petromaks menghilang, hanya bacaan tarhim itulah yang menyeret saya ke masa silam ketika menikmati liburan di kampung. Masjid yang dulu berdiri tegak telah berubah total, tak secuilpun menyisakan aura lama. Menara, tempat beduk ditabuh, yang menjadi pintu masuk juga dibongkar. Pendek kata, ingatan tentang masjid kuno sama sekali tak berbekas, sebagaimana lampu listrik menggantikan petromaks.

Monday, April 19, 2010

Lontara dan Jawi


Dua bahasa bersanding, lontara dan jawi, yang menceritakan tentang Syekh Yusuf al-Makassari. Keduanya mempunyai daya magis masing-masing. Namun, teraan itu tak bermakna jika kandungannya tak diurai. Di tangan sarjana, makam itu tak sebatas tempat bersemayam sang tokoh, tetapi juga menyimpan banyak cerita. Ia tak melulu tentang alam sana, tetapi juga di sini. Jelas, keberadaannya mengandaikan dua wajah manusia, jiwa dan raga.

Lontara itu seperti huruf paku Mesir kuno. Saya tak juga ingin mencari tahu bagaimana mengungkap cerita dari deretan huruf yang membuat kepala berdenyut. Bahkan, tulisan Jawi yang saya akrab pun memaksa kening berkerut karena standar penulisan yang tidak sama. Lagi pula, teraan di batu pualam itu hanya berisi kronologi sang tokoh, bukan ajarannya, jadi tak perlu memaksa diri untuk membaca berkali-kali. Tahun-tahun itu hanya penanda bahwa ada proses panjang sehingga Syekh Yusuf akhirnya berpulang ke alam baqa.

Samar-samar tebersit di benak, adakah perjalanan saya akan diperlakukan serupa? Kehendak untuk dirayakan mungkin bukan keinginan Syekh Yusuf. Menantu Sultan Ageng Tirtayasa ini sepenuh hati berbuat kebaikan tanpa pamrih, oleh karena itu sejarah mencatatnya dengan jernih bahwa sumbangannya pada kemanusiaan patut dirayakan.

Thursday, April 15, 2010

Makam Keramat


TV 3 menyiarkan bentrokan antara masyarakat dan satuan polisi pamong praja, di sana disebut penguat kuasa, karena masing-masing kelompok berebut makam Mbak Priok, yang satu mempertahankan dan yang lain ingin membongkar untuk penataan lahan. Hari ini, hampir semua koran lokal di Malaysia juga menurunkan berita yang sama. Peristiwa tragis yang memalukan. Lalu, apa sebenarnya yang ingin diperebutkan? Kesalehan atau keteraturan?

Pengalaman saya mengunjungi makam keramat Syekh Yusuf Makassar justeru menampilkan suasana yang berbeda. Memang, ada beberapa pengunjung luar yang datang untuk berziarah dan melafazkan doa. Namun, sejumlah anak kecil menjadilan lahan petilasan sang tokoh tidak lagi 'magis' karena dijadikan tempat bermain bola. Malah jalan beraspal di depan makam tergerus oleh air, lobang di mana-mana. Bahkan di ruangan khusus sang pahlawan ditempel gambar tokoh politik lokal. Tak ada yang menyergah agar lokasi itu tak diganggu tangan-tangan yang mempunyai kepentingan duniawi.

Lalu, mengapa makam di Tanjung Priok itu begitu disucikan sehingga begitu banyak warga bertahan untuk menjaga agar tak tergusur? Kehadiran para tokoh agama, pegiat dan warga untuk membaca doa seakan-akan menegaskan betapa pentingnya situs tersebut. Malangnya, gelar al-arif untuk Hasan bin Muhammad al-Hadad tak tecermin dari prilaku warga yang membelanya. Penjarahan dan pengrusakan meruyak untuk menumpahkan kekesalan. Mungkin di alam sana, beliau tak habis pikir mengapa kekerasan meletus di rumahnya yang seharusnya hanya doa-doa dipanjatkan, bukan teriakan yang menyalak.

Tuesday, April 13, 2010

Citra Luaran

Dalam kotak di atas terdapat beberapa jajanan pasar, kue tradisional, atau apa pun namanya. Ia dibuat dari bahan lokal, seperti pisang, beras ketan, dan gula. Biasanya, kalau kita membeli jajanan seperti ini, penjual hanya membungkusnya dengan plastik, kresek. Namun, setelah memakai kotak yang bagus, nilai jualnya meninggi. Ia bisa hadir di sebuah pertemuan resmi dan tuan rumah tampak lebih percaya diri. Lagi pula, air kemasan gelas juga disertakan untuk menghemat ruang dan pekerjaan. Petugas hanya sekali singgah di depan meja. Urusan selesai.

Lalu, apa kemudian usai? Tidak. Citra yang ingin ditampilkan itu harus dibayar mahal. Selain mengeluarkan biaya untuk membeli bungkus, kita juga harus menggunakan kertas sekali pakai. Beda misalnya jika kita menggunakan piring untuk wadah kue, kita telah mengurangi penggunaan bungkus dari bubur kayu itu. Apa lacur, kita selalu bergegas, ingin mudah dan tak mau susah. Jadi, kegagalan kita merawat lingkungan hakikatnya kehendak ingin tampil keren. Apa begitu?

Sebelumnya, kami juga mendapatkan perlakuan yang sama. Pihak universitas, tempat silaturahmi berlangsung, juga menyuguhkan hidangan dan menu yang sama. Meski penyedia kue berbeda, namun bungkusnya menunjukkan citra yang sama, elegan. Tampaknya, prilaku untuk membungkus sesuatu itu merupakan tuntutan pasar. Kata ahli pemasaran, bungkus itu penting. Namun jika harus mengorbankan keseimbangan alam, apakah hal ini harus dipertahankan? Tidak.

Monday, April 12, 2010

Warna Surau

Setelah pengurus surau tak lagi menetapkan imam sembahyang, para jamaah bergantian memimpin shalat. Satu sama lain kadang saling mengelak. Namun, boleh dikatakan ada beberapa orang yang selalu mengambil posisi terdepan. Lucunya, ketika seorang penduduk lokal diminta menjadi imam, ia pun mengelak sambil berujar, “ I’m not Arab”, pada anggota jamaah yang kebetulan orang Arab, mahasiswa asal Yaman, yang juga sama-sama tinggal di flat. Diam-diam, kami ‘Melayu’ merasa orang Timur Tengah lebih layak untuk memimpin shalat.

Namun tak semua, mahasiswa Arab itu mau menjadi imam. Ada salah satu dari mereka yang rajin mengumandangkan azan dan iqamah, tanda shalat akan ditunaikan. Kehadirannya telah membuat surut kami tak roboh, meminjam judul cerita pendek terkenal AA Navis, sastrawan asal Minangkabau, Sumatera Barat. Bagaimana tidak, ia juga menghidupkan Zuhur dan Ashar, yang sebelumnya sepi, karena penghuninya pergi bekerja atau belajar. Hebatnya lagi, ia juga acapkali membawa dua anak perempuannya ke musalla, membuat suasana riuh rendah. Malah sekali waktu, teman-temanya yang lain juga mengajak putera-puterinya, sehingga surau ramai dengan celotehan mereka.

Dulu, saya pergi ke surau tanpa menggunakan penutup kepala. Tapi warga di sana tampak menggunakan kopiah dan sarung, saya pun melakukan hal yang sama. Kata karib saya dari Kedah, tradisi ‘kampung’ itu kadang begitu kuat memegang kebiasaan ini, sehingga ia seakan-akan telah menjadi bagian dari ibadah. Namun kehadiran banyak mahasiswa asal Timur Tengah dan Afrika menambah warna cara berpakaian, seperti jubah. Sementara dari benua hitam, baju yang menempel di tubuh mereka dihiasi dengan warna-warna mencolok. Uniknya, salah seorang mahasiswa Arab sekali waktu membuat heran kami orang lokal, karena ia hanya menggunakan celana ¾, tak jauh dari lutut. Yang lain mengejutkan lagi karena menggunakan kaos dan celana training, olahraga, namun dengan fasih melantunkan ayat al-Qu’ran ketika didapuk menjadi iman. Di lain waktu, anggota yang lain, mahasiswa psikometri asal Nigeria, sering diminta untuk menjadi imam, termasuk oleh teman-teman Arab. Suaranya emas.

Semalam, saya menjumpai lagi Marzuq dan kawan-kawannya mengikuti shalat berjamaah. Ternyata mereka sedang belajar membaca Iqra di tingkat lima pada seorang ibu. Ya, dalam dua hari ini, surau tampak ceria dengan kehadiran anak-anak kecil. Ini menyempurnakan kehadiran banyak warga Arab, yang baru saja pindah dari rumah keluarga kampus. Surau itu makin berwarna.

Thursday, April 08, 2010

Mengaji di Masjid Tertua


Pertama kali menginjak kaki di Masjid tertua di Sulawesi Selatan (1603M), saya menemukan pemandangan di atas, anak-anak belajar membaca al-Qur'an. Tiba-tiba saya merasa disergap keharuan, karena masjid yang telah renta itu menjadi hidup dengan reriuhan anak-anak kecil. Namanya juga anak-anak, sang ustazah acapkali berteriak agar mereka diam dan tertib. Kedatangan kami mencuri perhatian mereka.

Sayangnya, kami tidak bisa bersembahyang di dalam masjid, karena maghrib belum tiba. Pengurus masjid tak ada di tempat. Untuk itu, kami pun beranjak menunaikan shalat ashar di Masjid baru, Syekh Yusuf, tak jauh dari lokasi makan keturunan Raja Goa ini. Mungkin karena bukan hari libur, Kamis, tempat bersejarah ini tak dikunjungi pelancong atawa wisatawan. Hebatnya, sebagian makam keluarga raja yang berada di halaman masjid ditutup dengan bangunan berbentuk piramid. Saya tak tahu apakah ini diilhami dari kebudayaan Mesir kuno.

Mengingat keturunan raja Goa tersebat di seantero dunia, sepatutnya tempat ini dirawat dengan baik. Tapi, pihak terkait abai. Atau kesan 'tak terawat' itu dibiarkan agar wajah 'kuno'nya tidak hilang. Ya, pagar makam tampak ditumbuhi lumut dan dibiarkan menghijau.

Tuesday, April 06, 2010

Memoles Kota Makassar

Selasa, 6 April 2010 | 01:09 WITA

Keingintahuan pelancong masa kini tidak lagi sebatas artifak, tetapi juga cerita yang ada di balik peninggalan bersejarah. Misalnya, ketika kami mengunjung benteng Rotterdam, guide yang bertugas di situ menerangkan hal ihwal gedung bekas pertahanan Belanda secara terperinci. Kepiawaian bercerita petugas membuat benda-benda mati itu seakan-akan berbicara pada pengunjung

Cik Najwa, dosen di Kolej Universiti Islam Selangor, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya menemukan kembali jejak nenek moyangnya, Bugis. Dalam sesi seminar internasional Wacana Ilmiah Muslim se-ASEAN di Universitas Muhammadiyah Makasar, 29-31 Maret 2010, lajang asal negeri Semenanjung ini menyelipkan informasi bahwa Sultan Selangor, Syarafuddin Syah adalah keturunan Bugis dan termasuk dirinya.Pengakuan yang terakhir memantik tawa peserta seminar. Bahkan, ketika melakukan kunjungan ke Musium Port Rotterdam, ia tampak tepekur mendengarkan pemandu (guide) yang menjelaskan sejarah masa lalu negeri Anging Mamiri ini. Ketika rombongan menemukan rumah gaya Bugis lama, ia spontan memberi tahu rekan yang lain bahwa rumah model Bugis lama itu tak jauh beda dengan rumah yang ada di kampungnya, nun jauh di bumi Semenanjung.

Meskipun kedekatan emosional itu jelas adanya, namun ketika tiga profesor dari Universitas Sains Malaysia, Azizan Sabjan, Syakirah Mat Akhir, dan Jaelani menyampaikan makalah, tak ayal pertanyaan tentang nasib tenaga kerja Indonesia di negeri tetangga mencuat ke permukaan. Bahkan, salah seorang peserta seminar menyinggung kasus Manohara dalam sesi soal-jawab.


Dr Jaelani, dosen Pendidikan Jarak Jauh, menjawab pertanyaan ini sebagaimana selalu ditemukan di beberapa media di Malaysia. Kasus penganiayaan itu hanya sebagian kecil, atau dalam bahasa mereka terpencil. Demikian pula, kasus rumah tangga pangeran Kelantan dan puteri Daisy Fajarina tersebut telah dibesar-besarkan oleh media. Padahal, kasus itu tak lebih dari konflik rumah tangga, yang kata orang sana telah disensasikan.
Terlepas dari konflik ini, ternyata hubungan dua negeri ini sangat erat. Kenyataan ini bisa ditilik dari sejarah masa lalu Makasar dan Semenanjung Malaysia. Modal inilah seharusnya yang ditonjolkan untuk menjalin hubungan lebih tulus.


Apatah lagi, jalinan ini telah dipererat kembali oleh Najib Tun Razak, Perdana Menteri Malaysia, yang kebetulan keturunan Bugis, melalui kerja sama dengan pemerintah Sulawesi Selatan, seperti pengadaan bahan pangan. Bahkan, lebih jauh, ayahanda orang nomor satu negeri tetangga tersebut dijadikan nama sebuah jalan di Makasar. Namun demikian, pada waktu yang sama, hubungan antara kedua masyarakat juga perlu disemai, karena mereka mempunyai kesempatan lebih luas dan luwes untuk saling berkongsi keuntungan. Kerja sama seminar di atas adalah secuil ikhtiar untuk menyuburkan hubungan serumpun di tingkat masyarakat.

Menilik Kelebihan

Ketika Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengiklankan visit Indonesia 2009 di TV 3 Malaysia, Makasar adalah tujuan wisata yang ditawarkan selain Jakarta dan Yogyakarta. Tentu, kehadiran Maskapai Penerbangan Air Asia yang menempuh rute Kuala Lumpur-Makassar langsung akan mendorong hasrat berpelesir kedua warga itu untuk tidak hanya terpaku pada dua kota tersebut terakhir. Apatah lagi, Tun Mahathir dalam blognya yang dikunjungi jutaan pengunjung menulis dengan nada simpatik bahwa Makassar adalah tujuan pariwisata yang elok, karena banyak pantai yang bagus, makanan laut yang melimpah dan tempat penginapan yang cantik. Tak hanya itu, masyarakatnya juga ramah dan harga barang lebih murah.

Tidak hanya keistimewaan di atas, Makassar mempunyai sejarah besar yang bisa dijadikan legenda dan bahan ajar untuk menarik banyak orang datang. Seperti dijelaskan oleh Rhenald Kasali, dosen Universitas Indonesia, bahwa dunia pariwisata sekarang kembali ke asal, menjual mitos, tepatnya, cerita, yang membuat pengunjung terpegun. Keingintahuan pelancong masa kini tidak lagi sebatas artifak, tetapi juga cerita yang ada di balik peninggalan bersejarah. Misalnya, ketika kami mengunjung benteng Rotterdam, guide yang bertugas di situ menerangkan hal ihwal gedung bekas pertahanan Belanda secara terperinci. Kepiawaian bercerita petugas membuat benda-benda mati itu seakan-akan berbicara pada pengunjung.


Demikian pula, ketika saya menemani warga Malaysia mengunjungi makam Syekh Yusuf, di sana pengunjung menziarahi makam tokoh pejuang kemerdekaan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga Afrika Selatan. Dengan dipimpin oleh ustaz dari Selatan Thailand, para pelancong dari Malaysia membaca surah yasin dan tahlil di kuburan. Tentu, dengan kebesaran nama tokoh ini, calon pelancong potensial bisa diharapkan datang lebih banyak, tidak hanya dari Malaysia, bahkan seantero dunia. Bukankah tokoh tersebut juga dihormati oleh Nelson Mandera, bekas presiden negara yang akan menjadi tuan rumah Piala Sepak Bola Dunia tahun ini?


Tak hanya itu, museum yang menyimpan barang-barang kerajaan masa lalu masih terletak rapi. Para pengunjung bisa membaui masa lalu, seperti jejak keturunan raja-raja di seantero negeri.
Tak hanya itu, sejarah perjuangan rakyat Makasar melawan Belanda terekam dengan terang karena bukti-bukti artifak masih terlihat jelas. Kenyataan ini tentu membuat warga mempunyai pegangan yang kokoh dan orang luar menemukan cerita yang patut dicerna.
Malah ketika mengunjungi Musium Balla Lompoa, Gowa, kami menemukan nuansa masa lalu yang hadir begitu dekat karena bisa merasakan secara langsung dengan memegang peninggalan masa lalu dengan seluruh indera.

Memelihara Warisan

Namun cerita besar itu tak dirawat dengan baik. Ketika tuan rumah, KH Mustari Bosra, mengantar rombongan ke makam Syekh Yusuf, para pengunjung disergap rasa tak nyaman. Jalan beraspal di depan makam berlubang, sehingga kendaraan terguncang hebat.
Lalu, setelah memasuki makam, rasa tak nyaman bertambah karena pekerja kebersihan di ruangan makam hanya bercelana pendek dan tampak tidak elok berada di dalam bangunan makam yang sepatutnya mendapatkan penghormatan.

Tak hanya itu, di dalam ruangan juga terdapat foto pejabat publik, sehingga membuat makam tak lagi magis. Seharusnya, bilik seperti ini tidak dicampuri hal ihwal politik.
Belum lagi, banyak anak kecil yang bermain bola di lokasi. Tampak, rumah terakhir pejuang kemerdekaan itu tak lagi nyaman untuk dikunjungi. Malah, dua anak kecil mengejar mobil rombongan untuk meminta sedekah, yang membuat pelancong menggelengkan kepala karena dua anak tak berdosa itu bisa terjatuh.Potret yang tidak asing di sini. Tantangan yang juga harus dijawab oleh para calon bupati yang akan bertanding di Kabupatan Goa. Demikian pula, masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun tak jauh dari makam Syekh Yusuf. Sayangnya, lingkungan yang kotor dan keadaan masjid tua itu tampak renta. Tentu, pihak terkait tak perlu menggelontorkan dana besar untuk membuat tampak kinclong. Cukup tembok yang membatasi makam dan jalan raya dikapur agar lumut tak berkembang biak.
Demikian juga bangunan-bangunan lain. Padahal di lokasi terpampang papan tanda Departemen Kebudayaan yang menyatakan tempat tersebut sebagai cagar budaya.

Tak jauh dari rumah ibadah yang ditempati keturunan Raja Goa, kami pun beranjak ke museum Balla Lompoa yang juga mengalami nasib serupa. Memang, sedang dilakukan perbaikan, tetapi sampah yang berserak tidak harus dibiarkan. Nasib cagar budaya yang terabaikan seakan-akan menempelak sebuah papan tanda di benteng Port Rotterdam, yang berbunyi Melestarikan Cagar Budaya adalah Kewajiban Setiap Warga Negara.

Justeru, pelanggaran yang paling nyata ditemui di dalam gedung, di mana koleksi pelbagai jenis kayu bahan pembuatan kapal dipenuhi coretan. Padahal spanduk bertuliskan Gerakan Sayang Musium masih terpampang di atap bagian luar. Ajakan untuk menjadikan musium sebagai pilar pendidikan, pelestarian budaya dan tujuan wisata belum bergema di benak warga.
Namun, ikhtiar untuk mewujudkan mimpi telah ditunjukkan dengan kepergiaan gubernur ke Belanda untuk merawat musium yang tampak mulai uzur. Maukah pihak yang terkait juga mengubah keadaan di tempat yang lain dan menyuburkan kesadaran untuk merawat warisan?***

Sumber: Tribun Timur, 6 April 2010

Lari Sore

 Setelah lari sore bersama Zumi di kawasan Paiton Energy POMI, saya melewati KDMP ini. Tak jauh dari lokasi koperasi tergambar, ada toko Vev...