Thursday, April 29, 2010

Pengajian Mahasiswa dan Pekerja

Sabtu pagi adalah acara rutin pengajian mahasiswa dan keluarga Indonesia di masjid Kampus. Ia tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga bertemu sesama warga. Tak perlu mengerutkan dahi, hal ihwal agama hanya perlu dicerna di hati. Lagipula, mereka hanya perlu mendengar, sambil sesekali berbisik antar teman. Jika penceramah melucu, mereka pun tertawa. Kadang konsentrasi buyar, anak kecil berlarian atau berceloteh. Belum lagi, seorang ibu harus keluar untuk menyuapi anaknya yang merengek karena lapar.

Merawat jamaah agar terus mengunjungi rumah ibadah ini memerlukan kesabaran dan keteguhan. Mereka telah berjasa menautkan banyak orang. Setiap individu telah membantu kegiatan ini, ada yang menyiapkan LCD dan komputer, memastikan penceramah dan tentu mengabarkan lewat media sosial atau email. Itupun tak semua datang. Sebagian sibuk, sebagian yang lain tak ada kabar. Atau, diam-diam pengajian itu tak menarik minat mereka untuk hadir.

Apa perlu sekali-kali panitia mengundang pendakwah beken, seperti Aa Gym, Ustaz Jefri, atau Bang Haji? Mungkin. Pasti, yang hadir membludak. Sayangnya, biaya untuk kegiatan semacam ini begitu besar. Rasanya kegiatan itu tetap seperti sedia kala. Segelintir yang datang, namun senantiasa wujud. Toh, sebelum dan sesudah pengajian, mereka akan bertemu banyak orang. Nah, semangat pengajian itulah yang akan memancar, bahwa hidup itu akan terasa nyaman dengan tegur sapa, kebaikan, dan kebersamaan.

Kehadiran pekerja Indonesia tentu menambah poin dari kegiatan mahasiswa ini. Sayangnya, hanya pekerja perempuan, sementara lelaki belum tampak batang hidungnya. Selagi napas kegiatan ini berdenyut, ikhtiar untuk mengasup pelajaran membuncah. Setiap orang tentu mengail hikmah yang berbeda. Malah, akibat lain bisa hadir, seperti tukar menukar informasi, menemukan teman baru, dan menambah data baru tentang perubahan kecenderungan keberagamaan. Pendek kata, tatap muka itu membuka banyak kemungkinan, yang tak ditemukan persuaan di telepon genggam atau sejenisnya.

Wednesday, April 28, 2010

Membaca

Anak kecil ini belum bisa berbicara, hanya suara samar yang belum berupa kata. Sepintas, ia sedang membuka buku. Namun, tak lama kemudian, anak berusia setahun ini mencopoti pelekat sebagai petanda bahwa halaman itu penting atau menarik. Lebih lama lagi, tangannya akan menyobek, sebagaimana telah dilakukan pada surat kabar yang 'dibacanya'. Mungkin, belum waktunya ia membaca, sehingga ikhtiar orang tuanya memberinya bacaan berakhir sia-sia.

Jika kalimat di atas tak diterakan, pelihat mungkin menerka sekecil itu bisa membaca. Malah jika diberikan penerang (caption), seorang anak sedang membaca novel Maryamah Karpov Andrea Hirata, siapa pun bisa memercayainya. Pendek kata, gambar-gambar yang berseliweran di sekitar kita menyimpan banyak kemungkinan pemaknaan. Ada banyak kehendak dalam gambar yang kadang tak sempat dinyatakan, malah ada sebagian yang disembunyikan. Namun apapun, membaca itu sejatinya keperluan yang tidak bisa ditunda.

Kegagalan membaca dengan baik telah membuat keadaan centang perenang. Pada waktu yang sama, membaca itu dibuka dengan sebuah keyakinan terhadap produksi makna yang riskan berbeda satu sama lain. Jika ini yang menjadi kepercayaan, kita pun senang, tak perlu merengut hanya karena orang lain memberikan tafsir yang tak sama. Kekusutan itu pun bisa diurai. Perbedaan itu pun tak menjadi penghalang.

Tuesday, April 27, 2010

Jendela Surau

Siang terik, namun Ali setia mengajak orang turun untuk sembahyang berjamaah. Untuk kali ini, saya pun turun. Sehabis shalat, sambil menarik napas, saya mengambil gambar tingkap. Dari sini, suara burung menyeruak masuk. Selain itu, gemericik air terdengar dari pipa mengucur ketika jamaah mengambil wudhu'. Kadang suara celotehan anak kecil yang menunggu di luar menyela.

Jendela terbuka. Meskipun tertutup, orang luar masih bisa melihat ke dalam karena transparan. Secara semiotik, ia bisa ditafsirkan tentang kebersamaan. Tak mungkin individu menjalin sapa jika menutup diri. Kehadiran penghuni flat yang berasal dari Timur Tengah membuat rumah ibadah ini bertambah marak dan tidak pengap, karena hampir setiap waktu, azan dikumandangkan. Malah, teman-teman Arab dari blok sebelah, kira-kira 300 meter, juga turut hadir untuk meramaikan. Secara bergantian mereka mengimami sembahyang.

Tanpa dirancang, azan Subuh sering diperdengarkan oleh Encik Yusuf. Tadi pagi, sebaris saf menunaikan shalat pagi, yang sebagian besar warga flat yang berasal dari Timur Tengah, seperti Yaman dan Iraq. Jarum jam menunggu angka enam. Tentu bagi warga Indonesia bagian Barat, kewajiban ini tak berat, karena waktu sebegini alam mulai terang. Malah, sebagian lain sudah bergegas berangkat ke tempat kerja. Artinya, jam tubuh mereka telah terbiasa, sehingga berjamaah subuh di Pulau Pinang bukan sesuatu yang menyusahkan.

Bagaiamanapun, bangun pagi adalah kesempatan untuk mewujudkan pertemuan dengan orang-orang yang berusaha menemui Tuhannya. Mereka datang hanya dengan baju yang melekat di tubuhnya. Tak ada pernak pernik yang menunjukkan sebuah identitas dan kelas. Shalat Subuh pada waktunya memberi kesempatan untuk mereguk udara yang masih bersih dan nyanyian burung terdengar jernih. Tambahan pula, semakin awal menjaring matahari, semakin banyak pula persiapan untuk menjalani hari. Bayangkan kalau bangun terlambat, selain tak sempat memerinci apa yang dilakukan pada hari itu, ketergesaan telah membuka perangkap untuk terjatuh dan lupa.

Razia dan Nasib TKI

Sumber: Surya, 27 April 2010

Ahmad Sahidah PhD
Fellow Peneliti Pascadoktoral di Universitas Sains Malaysia

Pemerintah Malaysia menangguhkan razia besar-besaran terhadap pendatang asing tanpa izin (PATI). Sedianya itu akan dilakukan pertengahan Februari, namun hingga sekarang niat itu tak juga dilaksanakan.

Belajar dari penertiban beberapa tahun sebelumnya, ekses operasi ini menimbulkan ketegangan antara warga serumpun. Pasukan Rela (sukarelawan) yang dilibatkan kadang bertindak di luar kepatutan. Pihak imigrasi Malaysia juga akan melakukan tindakan keras terhadap majikan yang mempekerjakan pekerja tanpa dokumen. Keengganan majikan mempekerjakan orang lokal mendorong permintaan tenaga kerja asing hingga sekarang.

Secara sporadis, petugas imigrasi melakukan penyisiran pendatang asing tanpa dokumen. Boleh dikatakan media cetak dan elektronik tidak pernah alpa memberitakan kasus penangkapan, yang tidak hanya menimpa warga Indonesia, tetapi juga Bangladesh, Pakistan, Myanmar, India, dan China. Namun demikian, pekerja Indonesia menempati urutan teratas, mengingat jumlahnya yang paling besar.

Melalui perwakilan RI, seperti konsulat, pemerintah melakukan langkah proaktif sejak 26 Februari-14 Mei untuk mendorong warga mengurus Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Menurut Irzani Ratni, Sekretaris Pertama, Konsulat Jenderal RI Pulau Pinang, pihaknya telah memasuki kantong-kantong warga Indonesia untuk memberikan penerangan tentang razia TKI.

Pada era Megawati, penundaan dilakukan karena permintaan resmi pemerintah RI dengan alasan penyelenggaraan pemilihan umum. Atas nama hubungan baik, Kuala Lumpur mengabulkan. Pada masa itu juga, presiden ke-5 itu membentuk gugus tugas untuk membantu pemulangan TKI yang bermasalah. Tidak hanya agar pemulangan tidak amburadul, pemerintah juga mengeluarkan uang untuk berbagi ongkos pemulangan. Sekarang, tak ada gugus tugas untuk menyambut pahlawan devisa. Untuk menyambut pahlawan devisa kali ini, departemen terkait telah siap, tanpa harus menghebohkan di media.

Antisipasi

Sebagian ada yang mengaitkan tindakan Malaysia tersebut sebagai reaksi terhadap sikap keras pemerintah Indonesia berkait dengan penghentian pengiriman tenaga kerja rumah tangga. Keputusan ini telah membuat kikuk Departemen Sumber Manusia di sana, karena M Subramaniam, menteri yang bertanggung jawab, harus menghadapi tuntutan banyak agensi tenaga kerja lokal yang menanggung kerugian.

Pihak Indonesia beralasan, selagi perlakuan terhadap pembantu Indonesia tidak membaik, maka pengiriman tenaga kerja tata laksana rumah tangga ini dihentikan sementara. Tak hanya itu, wakil Indonesia juga meminta syarat lain, seperti gaji RM 800, cuti sehari dalam seminggu dan paspor dipegang yang bersangkutan, bukan majikan.

Televisi lokal di negeri tetangga pun mengulas tuntutan itu. Respons kebanyakan masyarakat menolak. Permintaan gaji pembantu rumah tangga terlalu tinggi. Kebanyakan majikan keberatan karena gaji bersih pembantu sebenarnya cukup besar. Bagaimanapun, mereka tidak dibebani sewa rumah, rekening listrik, dan makan.

Tentang cuti dan paspor, majikan khawatir mereka akan lari. Sindikat kadang-kadang mengiming-imingi gaji lebih besar jika mereka mau bekerja di tempat lain. Di sinilah, praktik perdagangan manusia bisa terjadi.

Pihak perwakilan RI memastikan bahwa buruh migran yang bekerja sebagai pembantu dicek keberadaannya melalui agensi penerima. Ini tidak sulit karena data majikan tersimpan rapi. Apalagi, pihak Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur telah menetapkan bahwa sebelum bekerja, para buruh migran harus melaporkan diri ke kedutaan untuk mendapatkan penjelasan dan pendataan. Pertanggungjawaban ini tentu langkah maju untuk memastikan keselamatan pekerja bersangkutan. Memang tidak dinafikan bahwa hanya segelintir orang yang mendapatkan perlakuan sewenang-wenang, namun tindakan semacam ini tentu tidak bisa dibiarkan.

Kerja Sama

Dua kepentingan berbeda ini harus segera diselesaikan. Sejatinya Presiden Persatuan Agensi Pembantu Rumah Asing (PAPA) Malaysia, Zulkepley Dahalan, menegaskan dalam sebuah sarasehan bahwa UU terkait tenaga kerja Indonesia telah cukup terperinci untuk membuat buruh migran bekerja dengan nyaman. Asal aparat di lapangan setia dengan peraturan, tindakan sewenang-wenang bisa dihindari. Sarasehan yang digelar oleh Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia ini menghasilkan kesepakatan bahwa penyelesaian masalah tenaga kerja harus mengutamakan hubungan harmonis kedua negara serumpun.

Sebenarnya Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) yang didirikan khusus oleh presiden memungkinkan pengawasan menyeluruh terhadap kepentingan TKI di luar negeri. Yang perlu diperhatikan adalah ekses yang tak dinginkan dari razia besar-besaran. Seperti diketahui, ratusan ribu pendatang Indonesia tidak memiliki dokumen. Tentu ini bukan pernyataan yang berlebihan. Saya pernah bertugas melakukan pendataan warga RI untuk pemilu 2009. Ada banyak warga Indonesia yang tidak memiliki dokumen perjalanan, bahkan tidak mengantongi KTP.

Untuk menghindari ketegangan, sepatutnya kedua negara bersama-sama mengawal operasi ini. Meskipun pihak yang berwenang untuk melakukan operasi ini adalah Kementerian Dalam Negeri Malaysia, pihak Indonesia bisa turut memantau untuk memastikan proses itu berjalan baik. Demikian juga, media kedua negara harus dengan jeli memaparkan yang sebenarnya terjadi. Ini untuk menghindari kesalahpahaman. Bagaimanapun, hubungan keduanya harus mengandaikan kerja sama yang lebih luas.

Apatah lagi, Dai Bachtiar, Duta Besar RI di Kuala Lumpur, pernah menyatakan dalam wawancara TV 3 bahwa hubungan kedua negara adalah harga mati. Pernyataan tersebut adalah penegasan SBY yang disampaikan ketika mengunjungi rekannya, Najib Tun Razak, tak lama setelah dilantik sebagai presiden untuk kali kedua.n

Monday, April 26, 2010

Sisa Basah Hujan

Kemarin sore hujan deras. Butiran hujan yang tebal itu menandakan langit penuh, sehingga tumpah meruah. Di balik kaca, saya melihat awan gelap. Selalu saja, keadaan seperti ini menyenangkan. Esok, gumam dalam batin, semoga pagi akan cerah dan menerakan sisa basah. Ternyata benar, hari ini, ketika matahari naik sepenggalah, suasana kampus dan jalan tampak tentram, seperti nampak dalam gambar. Selalu saja saya riang melewati lorong berbatas bebatuan berwarna hitam putih dan rerumputan. Di sebelahnya, tempat pejalan kaki menelusuri taman. Ya, kampus yang didirikan tahun 1969 ini menjadikan motto Kampus dalam Taman sebagai penanda.

Kotak surat berwarna oranye itu sudah tak lagi basah. Demikian pula, warnanya masih cerah. Di tengah zaman orang beremail ria, ternyata surat manual masih berjalan. Nyatanya begitu. Kemarin, saya ke kantor pos kampus, masih banyak orang menggunakan layanan pos untuk bertukar sapa. Namun kebanyakan untuk keperluan pengiriman barang dan surat lamaran. Apatah lagi, ia tidak hanya melayani surat-menyurat, namun juga tempat pembayaran tagihan, seperti air, listerik, tv kabel (Astro), pajak kendaraan bermotor dan pengiriman uang Western Union.

Sisa basah sangat ketara pada hijau dedaunan. Jika kemarau menerma, banyak pohon meranggas, gersang. Ternyata, hujan itu mendatangkan berkah karena daun itu mendapatkan makanan. Ya, warna hijau dan putik yang segar bersemburat diterpa sinar pagi. Herannya, nyanyian burung selepas hujan terdengar lebih jernih. Mungkin mereka juga riang karena panas belakangan ini tak lagi membakar tubuhnya. Jika kenikmatan sesederhana ini, mungkin keluh kesah manusia tak perlu berhampuran di ruang udara.

Lagi-lagi, jauh dari sekadar basah. Hujan yang turun justeru memantik kaki untuk berjalan. Dengan payung di tangan, saya menggunakan sandal (bahasa Malaysia selipar, dari bahasa Inggeris slipper) menyusuri jalanan berkonblok dan beraspal. Suasana kampus bertambah sahdu karena pepohonan tak lagi pilu. Mempari dan Semarak Api itu tak bisa menyembunyikan keriangannya. Mungkin tak perlu lama, air yang tercurah dari langit itu hanya perlu membuat rumput bergeliat, naik dan dedaunan pohon tak gundul. Alahai, mendung ini membuat udara basah, mengenyah gundah.

Sunday, April 25, 2010

Percampuran

Adakah satu masyarakat murni? Sehingga, seorang tokoh, semisal Hitler, berusaha untuk menghilangkan orang lain untuk sebuah keaslian ras Aria? Jawabannya tidak. Hanya orang yang berpikir gelap mata meyakini sebuah keunggulan satu kaum atas yang lain. Sebuah petikan dari gambar di atas menjelaskan bahwa pertemuan itu sebenarnya keindahan, sementara pengakuan kesucian itu tak lebih dari bualan. Memang, dalam usianya yang sudah tua, manusia masih dikelompokkan sesuai identitas unik, yang kadang memerangkap mereka pada perseteruan.

Sebagaimana diterakan di dalam gambar, masyarakat minoritas India yang mempraktikkan kebudayaan Melayu disebut Chetti. Secara verbal, mereka berpakaian sebagaimana kebanyakan orang Melayu, seperti kebaya, yang juga diamalkan oleh bangsa Tionghoa peranakan. Namun demikian, mereka tetap menganut kepercayaan asalnya masing-masing. Namun, dari keberterimaan inilah ruang dan pertukaran komunikasi terjalin. Ada tanda-tanda yang bisa merekatkan, ada pula yang menjarakkan. Tinggal memilih salah satunya, manusia akan memberikan makna pada perjalanan hidupnya.

Namun lebih dari sekadar tanda-tanda luar, makna tersirat dari kebudayaan sebenarnya ingin menyampaikan bahwa aksesoris yang menempel pada tubuh manusia itu bersifat sementara. Keadaan sosial budaya tempat mereka lahir mendorong masyarakatnya untuk menjadikan penanda itu sebagai identitas. Percampuran simbol itu membuat lahirnya keunikan baru. Ini bisa ditafsirkan sebagai pertemuan suasana, yang akhirnya membuat satu sama lain saling berbicara, bukan memendam lara. Haruskah umur yang sekejap ini dihabiskan untuk bertukar nestapa?

Friday, April 23, 2010

Bangunan Minimalis


Saya menyukai bentuk bangunan teranyar di kampus, selain minimalis, warna coklatnya nyaman di mata. Sebentar lagi, ia akan menjadi tempat tambahan baru bagi penggila buku. Perpustakaan lama tak lagi mampu menampung koleksi, sehingga perlu ruang baru. Dengan berbentuk persegi, bangunan ini betul-betul memaksimalkan ruang, agar tidak terbuang sia-sia. Karena berada di kemiringan, bangunan ini menyisakan ruang paling bawah yang dimanfaatkan untuk tempat santai. Coba lihat kursi dan meja yang dipasang yang berwarna biru dan putih.

Sebelumnya, tapak gedung ini adalah lahan kosong, hanya rumput dan pepohonan mengisi ruang. Saya sempat menanyakan hal ini pada rektor pada sebuah pertemuan sastera remaja di Dewan Budaya tentang kelestarian lingkungan jika gedung batu menyesaki kampus. Dengan lugas dia menjawab bahwa universitas memerlukan perpustakaan. Namun demikian, pengelola kampus akan memerhatikan keperluan penghuni kampus terhadap lingkungan asri. Malah, tambahnya, ia telah memperhitungkan berapa pohon yang diperlukan untuk jumlah mahasiswa dan warga civitas academica yang lain agar mereka bisa mereguk udara dengan nyaman.

Demikian pula, aksesoris yang yang menempel dengan pola garis-garis memperlihatkan ketegasan. Sementara di puncak terdapat atap yang membuat suasana nyaman karena ada semacam perasaan terlindungi. Bukankan penaung itu berfungsi untuk menahan terik? Sebenarnya, ada banyak sisi-sisi menarik di lain tempat, namun tak mungkin gambar dari satu sudut bisa mengungkap seluruh. Hal menarik selain hal ihwal bangunan, pekerja Indonesia yang turut bekerja untuk menyelesaikan gedung ini kadang memakai kaos partai politik, tidak hanya Demokrat, tetapi juga partai lokal. Menarik bukan?

Lari Sore

 Setelah lari sore bersama Zumi di kawasan Paiton Energy POMI, saya melewati KDMP ini. Tak jauh dari lokasi koperasi tergambar, ada toko Vev...