Tuesday, May 30, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [3]

Hingga hari ketiga, selain menikmati kurma, kami mengudap buah mangga. Heran, tak bosan-bosan. Mungkin, saya tak bisa sepenuhnya menjadi penjemu hanya karena mengulang hal yang sama, seperti dalam film Cafe (2010).

Tapi, makan hanya memenuhi beberapa menit dalam 24 jam keseharian kita. Aneh, jika kebiasaan ini tidak betul-betul dijaga untuk menyangga tubuh. Sejauh ini, kelezatan terkait dengan rasa yang yang dibiasakan dalam pola makan sehari-hari. Hingga ke hari ini, saya belum bisa menikmati mayoinnase sesedap sambal, baik petis, kacang, dll.

Asupan lain adalah bermain dan berhibur. Itupun ada batas. Beruntung, di tengah kesenangan membaca teks filsafat dan disiplin lain, saya juga bisa menikmati dalam versi dokumenter, seperti yang dihasilkan oleh The School of Life. Ini hiburan lain yang bisa dinikmati dari fasilitas internet yang disediakan tak terbatas oleh universitas. Dalam persembahan dengar-pandang (audio-visual), tokoh-tokoh pemikir seakan hidup kembali. Ternyata, mereka seperti kita, tidur, makan, dan berpesta, seperti pada seri Immanuel Kant. Betapa pun penulis Critique of Pure Reason membesar dalam keluarga yang taat beragama, ia hendak menggantikan otoritas agama dengan akal budi.    

Monday, May 29, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [2]

Beruntung di pagi pertama Ramadhan, hujan mengguyur Bukit Kachi. Saya membayangkan pohon-pohon berpendaran karena tetesan air ditimpa oleh matahari. Tak seperti malam pertama, saya menunaikan salat Tarawih di dalam masjid, tidak di teras, karena tak panas. Di tengah menunggu sembahyang, saya sempat memerhatikan aneka pakaian mahasiswa, seperti kaos, baju Melayu, celana, dan tentu merek sarung. Alamak, ada jenama Raja Unta!

Saya bangun lebih awal satu jam dari biasa, jam 4. Melihat tumpukan baju yang telah dicuci, saya tak membangunkan ibu Biyya karena ia perlu istirahat dan mengambil alih tugas di dapur: mencuci penanak nasi dan memasak beras. Tebersit, betapa mudah hidup hari ini karena banyak pekerjaan yang dulu dilakukan dalam waktu lama, sekarang hanya dalam waktu singkat selesai. Jadi, apa yang sering kita lakukan pada waktu luang?

Pada hari kedua, kami berbuka dengan soto. Sebelumnya, dua butir kurma hingga di mulut untuk memulai ritual yang selalu mendatangkan keriangan, disusul es buah laici. Buah tamar ini adalah oleh-oleh dari kampus tempat saya mengajar. Sejauh ini, puasa memang mendatangkan rasa lapar, namun tak menyiksa karena sudah terbiasa. Mungkin puasa dari "benda" adalah tantangan yang acapkali menggelayuti pikiran, seperti keasyikan bermain telepon pintar. Padahal, saya sudah khatam mendaras How is the Internet Changing the Way You Think. Agar distraksi ini tak mendatangkan segunung rasa bersalah, saya menjadikan percakapan di grup WhatsApp sebagai sarana bertukar pikiran yang bermanfaat. Eh!

Sunday, May 28, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [1]

Saya hanya membawa kunci rumah ke masjid asrama. Beruntung, Kai, mahasiswa dari Sabah, membawa telepon genggam. Saya meminta seorang pegiat tersebut mengambil foto ketika para mahasiswa hendak menunaikan salat Isya'. Sementara mahasiswi berbaris di belakang dengan pemisah.

Di malam pertama, masjid ini dipenuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang juga hendak menunaikan sembahyang tarawih. Encik Shahidan Abdullah, seorang hafiz, memimpin ibadah malam. Setelah lebih dari satu jam, kami mengakhiri salat malam ini dengan tiga rakaat witir. Suasana tak seperti biasa. Ada aura magis yang menyelimuti bukit yang berbatasan dengan negeri Gajah Putih itu.

Sebagai lelaki yang besar di kampung dan lama belajar di pondok, saya terbiasa dengan amalan di atas. Dulu, saya bersama teman-teman sebaya malah melanjutkan dengan tadarus al-Qur'an yang dipancarkan melalui pelantang TOA. Sekarang, saya mendaras kitab suci di rumah agar anak-anak melihat ayahnya tidak hanya asyik dengan gawai dan menambah dengan bacaan buku untuk mengisi waktu luang. Di hari pertama, saya menyelesaikan karya Chris Guillebeau, The Happiness of Pursuit, yang merupakan kisah perjalanan banyak orang. Itu pun juga belum kelar. Sebuah catatan yang perlu dibaca untuk melihat kebahagiaan bukan semata-mata tujuan (achievement), tetapi juga proses.

Buku lain yang membetot perhatian adalah A Political Economy of The Senses: Neoliberal, Reification, and Critique. Karya yang dilahirkan dari tangan Anita Chari ini menyuguhkan sebuah pembacaan tentang bagaimana teori kritik menyoal bentuk-bentuk dominasi di era neoliberal. Saya membacanya sambil menikmati acara bincang-bincang tentang Dewan Pertimbangan Daerah yang digawangi oleh Pangeran Ahmad Nurdin melalui radio streaming Sindo Trijaya FM. Apapun kegiatan kita, pemenuhan kebutuhan tubuh mesti ditimbang. Oleh karena itu, pada waktu sahur, kami mengakhirkan dan mengasup sayur pare, yang disediakan oleh Ibu Biyya. Di hari pertama, kami berjamaah Subuh di rumah. Biyya turut bersahur. Ramadhan adalah sekolah kehidupan. 

Tuesday, May 09, 2017

Lautan Fragmen

Setelah membaca pengantar dan beberapa tulisan untuk menjawab pertanyaan, "Is the internet changing the way what you think", saya memunggah coretan di dinding Facebook apa yang ditulis oleh Kevin Kelly, penulis What Technology Wants, "Saya bahagia berenang dalam lautan fragmen".

Ya, internet telah membuat penggunanya berpikir lebih aktif, kurang perenungan. Mereka acapkali melompat dari satu isu ke isu yang lain. Tidak ada kedalaman. Lihat, sampul buku ini memperlihatkan patung Rodin tidak lagi berpikir, tetapi berselancar menikmati gelora.

Tetapi, buku ini tak menjadi hakim atas internet sebagai terdakwa. Cliffort Pickover dalam "The Rise of Internet Prosthetic Brains and Soliton Personhood" mengutip kajian tentang pengaruh individu dalam jaringan sosial terhadap kesehatan dan kebahagian pengguna (hlm. 309). Jadi, internet bisa digunakan untuk secara sadar memilih sesuatu yang mendatangkan faedah.

Saya sendiri tentu perlu memeriksa kembali jam penggunaan internet agar manfaat dan mudaratnya bisa ditimbang. Mesti diakui bahwa saya mengambil untung dari data dan fitur lain yang ada dalam internet, tetapi pada waktu yang sama ia bisa memerangkap keasyikan karena bisa mengalihkan (kata distraction banyak ditemui dalam banyak tulisan) dari perhatian pada satu pekerjaan. Sejatinya, saya pun acap berpindah dari satu tulisan dari tulisan yang lain dari buku ini karena keterbatasan akses pada uraian yang dilatarbelakangi pelbagai disiplin yang mempunyai istilah teknis khusus.

Kesulitan membaca buku ini disebabkan latar belakang penulisnya yang beranekaragam, seperti psikologi, jurnalisme, fisika, sains komputer, antropologi, filsafat, artis, dan sejarah. Apapun, secara umum mereka mengakui bahwa secara sosial, kehadiran internet membuat orang mudah bersosialiasi dan pada waktu yang sama terasing. Lebih mengerikan, seperti ditulis oleh Noga Arikha, internet bisa menyebabkan kehilangan kesentosaan karena ia bisa mengasingkan kita dari banyak hal (hlm. 41). Tak pelak, salah satu yang saya sempat catat dari karya ini adalah pesan, gunakan internet dengan penuh kearifan!

Apapun, di sela-sela menulis blog ini, saya mendengarkan radio Retjo Buntung melalui internet. Kalaupun saya menikmati gending-gending dan lagu-lagu Jawa, sejatinya saya hanya ingin menghadirkan suasana Jawa, tempat saya meneroka dunia pengetahuan dan kampung halaman isteri. Berkat internet pula, saya bisa menghadirkan masa kecil melalui penelusuran karya Rhoma Irama dalam Youtube. Bahkan melalui saluran yang terakhir pula, saya bisa menikmati dengan magis lagu Lebaran oleh Latif M yang berirama gambus. Malah, syair kematian Ustaz Aminullah Murad tak hanya mengingatkan pengalaman mendengar suara menggetarkan samar-samar dari kejauhan, tetapi juga melatih diri untuk siap menuju alam kubur. Akhirnya, betul bahwa internet itu bukan tujuan, tetapi sarana atau cara.



Thursday, April 20, 2017

Ulang Tahun

Kami berdiam diri ketika Biyya bertanya adakah hari ulang tahunnya dirayakan. Ia pun menimpali tidak ada masalah. Dalam perjalanan ke sekolah, saya bertanya bahwa kami akan mengajaknya makan sebagai tanda perayaan. Kakak Zumi ini pun hanya ingin makan bakso di warung Kak Mas, orang Sidoarjo yang bersuamikan lelaki Kedah, di Kampung Teloi Tua.

Sebelumnya, kami telah memberitahu gurunya, Miss Galilee, untuk memberikan kejutan di hari istimewa murid tahun ke-3 ini dengan membawa kue ulang tahun. Tak hanya Biyya, adiknya pun turut senang berada di tengah-tengah kawan sekelas kakaknya.

Hidup orang tua mereka telah selesai. Ibu bapaknya bekerja untuk memberikan jalan pada anak-anaknya belajar tentang bagaimana menjadi orang baik dan mempunyai keterampilan untuk bekerja. Generasi baru akan meneroka jalan yang tak sama, namun membawa modal yang tidak berbeda: etika dan kerja.

Wednesday, March 08, 2017

Belajar dalam Riang

Gambar sebelah ini diambil dari halaman Facebook guru Nabbiyya, Ms Galilee. Tak hanya itu, pengajar asal Filipina ini juga menyertakan sebuah kutipan menarik, yaitu "What we learn with pleasure, we never forget" ~ Alfred Mercier. Kata-kata ini seakan-akan membingkai sepotong gambar.

Dengan cara berbagi gambar ini, sebagai ibu bapak kami merasa turut menjadi bagian dari pembelajaran sekolah. Tanggung jawab tidak hanya berada di pundak guru, tetapi juga kedua orang tua. Media sosial menjadi ruang untuk menyampaikan pelbagai pesan, seperti belajar itu tidak hanya dalam kelas, tetapi di luar, tempat sesungguhnya kehidupan berjalan.

Kebersamaan mereka tentu lahir dari kesadaran kepentingan pendidikan inklusif, di mana sejak kecil anak-anak telah terpapar pada perbedaan sebagai sumber kegembiraan. Ketika mereka sedari awal telah belajar untuk mengelola ketidaksamaan, maka di masa dewasa, mereka tak lagi menyoal isu remeh-temeh yang masih dipercayai oleh sebagian orang.





Monday, February 13, 2017

Sekolah dan Alam

The foundation of every state is the education of its youth. ~ Diogenes Laertius (412-324 SM)

Selain mengantarkan ke sekolah setiap pagi, saya menikmati mengikuti perkembangan pelajaran Nabbiyya. Selain menandatangani buku laporan setiap hari, saya juga mencermati apa yang dilakukan kakak Zumi dengan kawan-kawannya di sekolah, yang saya kenal banyak nama dan orang tuanya.

Seperti tampak dalam gambar,  murid-murid Sekolah Internasional UUM sedang mendengarkan arahan dari gurunya, Ms Galilee, sebelum meneroka hutan yang ada dalam lingkungan kampus. Sebuah ikhtiar mulia untuk melihat dunia tidak hanya di kelas. Betapapun mereka belajar banyak bahasa, seperti Inggeris, Arab, Melayu, dan Mandarin, pada akhirnya semua itu hanya alat untuk memahami semesta.

Dengan mendekatkan mereka pada alam, anak-anak ini akan peduli apa yang sedang dan akan berlaku di lingkungannya. Dengan menemukan klorofil pada daun dari pohon yang berdiri tak jauh dari halaman sekolanya, mereka akan menggunakan sains yang dipelajari untuk mencermati kehidupan di sekitarnya. Pendek kata, mereka sejatinya mempelajari dunia yang dialami. Sebagaimana keyakinan pemilik kutipan di atas, manusia akan nyaman jika ia ramah dengan alam. 

Menengok Dunia Luar