Wednesday, June 14, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [18]

Puasa tahun ini merupakan tantangan tersendiri bagi Biyya. Betapapun bersarapan sebelum pergi ke sekolah, namun ia mesti menahan diri untuk tidak makan tengah hari seperti pada hari biasa di sekolah. Apalagi, pada minggu kedua kakak Zumi harus mengikuti ujian.

Mata pelajaran yang sering membuatnya mengerutkan kepala adalah matematika. Tak pelak, si ibu turun tangan untuk membantu memahami ilmu pasti ini. Tak hanya itu, biyya juga mengambil kelas tambahan seusai kelas pada gurunya. Namun, untuk ilmu sosial, ia relatif bisa memahami dengan baik. Seperti tampak pada gambar, kakak Zumi sedang membaca kembali bahan-bahan yang harus dipahami sebelum ujian.

Kami selalu menghiburnya bahwa belajar memerlukan kesabaran. Meskipun tak sepenuhnya mendapatkan nilai bagus untuk matematika, tapi ia bisa menjawab sebagian soalan. Semoga
pengalaman belajar ini ditulis oleh Biyya dalam buku hariannya. 

Tuesday, June 13, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [17]

Hingga hari ke-17, saya belum merasakan dadih (susu kedelai) yang dicampur dengan gula aren. Untuk ketiga kalinya saya mencarinya di setiap tenda penjual minuman. Di sela berjalan, saya sempat mengambil gambar seperti tampak di gambar sebelah, sate Jawa. Di sini, saya bertemu dengan Zul, mahasiswa UUM.

Hanya beberapa menit lagi, waktu berbuka akan tiba. Pengunjung bazar tak lagi ramai. Sebagian penjual mengemas jualan. Warung makan dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menunggu detik-detik azan Magrib.

Seperti biasa, Zumi harus dibelikan mainan agar bisa duduk tenang. Berbeda dengan hari kemarin, si kecil tak lahap. Malah, ia meremas-remas nasi dan telur yang telah disediakan oleh pelayan warung. Beruntung, ia selalu minta untuk mencuci tangan yang berminyak. Kebiasaan akan membentuk karakter anak. Lalu, anak berusia tiga tahun ini bermain mobil-mobilan seraya memonyongkan mulut meniru bunyi mesin. Berbeda dengan kakaknya yang menikmati makannya karena lapar. Si sulung kadang tampak gusar karena mainannya jatuh, maklum mobil-mobilannya bisa terbang. Sabar ya? Namanya juga anak kecil, saran kami. Selama menikmati berbuka, kami sama sekali tidak membuka telepon pintar.

Monday, June 12, 2017

Ramadhan di Bukit Kachi [16]

Biyya protes ketika saya mengajak Zumi ke sini pada hari Jum'at, "You are not fair", padahal sebelumnya saya berjanji untuk mengajaknya ke kantor. Akhirnya, keesokan harinya, saya memenuhi keinginannya. Di sana, ia membuka Oh My English, sinetron kesukaannya, sementara saya menyelesaikan mendaras buku Move Fast and Break Things oleh Jonanthan Taplin.

Namun ketika mencari seri Road to Jogja, si sulung tak menemukannya di You tube. Ia hanya menonton trailer dan teaser. Saya berjanji untuk mencarikannya dalam bentuk DVD nanti ketika mudik. Setidaknya, ia bisa mengisi waktu luang menunggu berbuka, meskipun tak sepenuhnya berpuasa karena jadual sahur dimulai pada pukul 7-an dan berbuka waktu Maghrib serta mengudap roti di waktu sore dalam perjalanan pulang sekolah. Dua minggu yang lalu, neneknya di Madura meminta untuk tak memaksa cucunya berpuasa penuh melalui percakapan telepon.

Nah, di sela-sela percakapan dalam perjalanan pulang dari kantor, saya bercerita tentang tujuan berlapar-lapar di bulan Ramadan, yaitu belajar menahan diri, seperti tidak mudah meluahkan amarah dan bersabar menghadapi keusilan si adik. Tentu, pada waktu yang sama, ia juga mengambil pelajaran agar kita peduli orang lain ketika pemuasa merasakan betapa susah orang yang tak makan karena tak punya bahan untuk dimasak. Nah, tentu kami sebagai orang tuanya yang mesti menunjukkan sikap kontrol diri dan prihatin pada orang ramai sebagai contoh yang paling dekat dari pesan. Tak mudah, tak kami tak menyerah. Mari saling mendoakan! 

Sunday, June 11, 2017

Ramadhan di Bukit Kachi [15]

Kami terpaksa ke pasaraya ini karena susu Zumi akan habis. Sebenarnya, supermarket terdekat, yang berlokasi di Changlun, menyediakan merek yang bisa diasup oleh si kecil, namun untuk langkah 3 kosong. Tak pelak, kami harus menempuh perjalanan 40 menit ke Jitra. Sejatinya, kami juga merencanakan untuk membelikan Biyya sepatu berwarna hitam sebagai alas ke sekolah dan piyama untuk kegiatan bermalam di sekolah.

Sambil menunggu berbuka, sementara si ibu membeli susu, saya duduk di kursi warung makan sambil mengawasi keduanya. Dengan riang, si sulung mendorong mainan itu dan si adik dengan gembira menikmatinya. Tak hanya kereta, mereka juga menghampiri semua alat permainan tanpa harus merogoh kocek untuk ditukar dengan koin agar bisa merasakan sensasi gerakan dan bunyi.

Setelah puas, keduanya kembali ke meja makan. 15 menit sebelum Magrib, si ibu menyuapi Zumi nasi ayam. Alhamdulillah, dengan lahap anak yang berulang tahun 11 Juni tersebut mencerna setiap suapan dengan penuh semangat. Peristiwa yang jarang berlaku. Lalu, giliran kami menikmati hidangan berbuka, sementara Zumi menonton seri Upin Ipin melalui telepon genggam.

Apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang juga dialami oleh ramai. Tidak ada yang aneh. Hanya masalahnya, mengapa susu dan lampin hanya dapat dibeli di pasaraya? Toko-toko kecil di sekitar pasar tak menyediakan. Padahal, kedua barang ini sama seringnya dibeli oleh konsumen sebagaimana kebutuhan pokok yang lain. Pada akhirnya pasar tradisional perlu menyediakan tempat permainan anak agar mereka mau diajak ke sana. 

Saturday, June 10, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [14]

Di hari Jum'at, kami ingin tinggal di rumah saja. Tapi, saya terpaksa pergi ke kota untuk membeli obat flu dan multivitamin untuk kakak di apotik. Dengan mengajak Zumi, saya mengajaknya ke tukang cukur dan sekaligus berharap si kecil mau memotong rambutnya melalui tangan terampil pencukur. Untuk ke sekian kalinya, ia pun menolak. Hanya sekali ia bersedia untuk duduk manis di kursi yang saya duduki ini.

Tukang cukurnya berasal dari India. Di sini, saya menikmati percakapan mereka dan lagu-lagu Tamil. Kebetulan saya juga berjumpa dengan Dr Isyam, kawan sefakultas yang juga memangkas rambut. Hanya perlu 3-5 menit, rambut saya sudah tampak rapi. Lalu, saya menyodor satu lembar 10 ringgit dan menerima kembalian 3 ringgit.

Kepala terasa ringan. Dengan berambut pendek, saya tampak tidak awutan-awutan. Yang tersisa, kapan si kecil mau dirapikan rambutnya. Sang ibu melakukannya dengan gunting dengan penuh perjuangan. Kami sedang merencankan untuk membeli gunting mesin seperti yang dimiliki oleh kedai cukur ini. 

Friday, June 09, 2017

Ramadan di Bukit Kachi [13]

Anak ini belum berpuasa. Ia hanya tahu bermain dan bermain. Sekali waktu meniru apa yang dilakukan oleh orang yang terdekat. Agar ibu dan kakaknya leluasa berbelanja kebutuhan sehari-hari, saya mengajaknya ke arena permainan. Untuk ke sekian kalinya, saya tak memasukkan koin dan ia pun tak memintanya agar alat permainan ini bekerja.

Setelah puas mencoba, ia pun akan bertanya ibunya, mama, mama. Selain di sini, ia suka melihat-lihat aneka mobil-mobilan dan robot-robotan. Sebelum diajak, ia meminta untuk dibelikan. Kali ini, ia tak melakukannya. Tapi, ketika kami berada di kasir, ia minta mainan telur, yang ada coklat dan kejutan mainan.

Kami terpaksa meluluskan keinginannya karena jika tak dipenuhi, ia akan bikin ulah di warung makan. Alhamdulillah, untuk ketiga kalinya, kami berbuka di Kak Sah. Menunya hampir selalu sama. Inilah kesempatan kakak bicara, kami pun menimpali. Si sulung tak sabar untuk segera mudik. Ketika menyebut pramugari, ia berhenti sejenak lalu bertanya bahasa Inggeris untuk lema ini. Tanpa telepon genggam, acara makan berjalan jauh lebih menyenangkan. 

Thursday, June 08, 2017

Ramadhan di Bukit Kachi [12]

Buku ini dibeli untuk dibaca dalam perjalanan mudik lebaran. Meskipun Biyya pernah bilang tak sabar untuk segera membacanya, namun ia menahan diri. Ketika memegang The Little Brown Bear di toko Populer mal Aman Central, murid UUM IS sempat bertanya, "Is it expensive or not, Ayah?", saya menukas, "No, it is affordable for us."

Dengan menahan diri, ia belajar untuk mengontrol diri. Ketahanan ini penting tidak hanya untuk Biyya, tetapi juga semua anggota keluarga. Ini mengingatkan saya pada Marsmallow test, di mana Walter Mischel menguji daya tahan anak dengan percobaan memberikan manisan yang putih dan empuk. Jika bisa menahan diri pada tawaran pertama, mereka akan mendapatkan lebih banyak.

Kebetulan, di bulan puasa, kata kunci menahan diri (imsak) menempati posisi penting dalam pengertian harfiah dan istilah dari shiyam. Jika kita bisa menunda, maka kita telah belajar untuk menerima keadaan apapun yang terjadi dalam hidup. Ketahanan diri (resilience) mungkin mudah tergerus ketika kehidupan dilimpahi dengan alat instan dan pelayanan yang serba cepat. Ketergasaan membuat orang ramai makin mudah kalap, bukan?   

Perpustakaan

Khoiruman adalah lulusan Pendidikan Matematika Universitas Nurul Jadid. Ia bisa menghitung persentase tanpa harus memakai kalkulator ketika ...