Wednesday, January 10, 2018

Bekerja sama

Azli Rahman dalam buku Controled Chaos menegaskan bahwa tidak semestinya sebuah sistem pendidikan yang dianggap berhasil untuk ditiru begitu saja dengan mengabaikan latar belakang dan budaya yang menyangganya.

Finlandia yang dianggap negara terbaik dalam pengelolaan pendidikan layak untuk ditimbang sebagai contoh. Namun menerapkan kaedah yang digunakan, seperti tidak ada pekerjaan rumah, tidak akan menjadikan cara pembelajaran anak-anak di sini lebih baik. Pada hari pertama, mereka mendapatkan pekerjaan rumah.

Bagi saya, ia perlu agar anak-anak tidak hanya terpapar pada hiburan dan arena persemaian hubungan anak dan orang tua. Lagipula, hanya beberapa lembar kertas yang harus diselesaikan. Tentu, tangungjawab bapak ibu di rumah untuk mengajak anak-anak melakukan kegiatan di luar ruang, tanpa gawai, penting. Lagi-lagi, fasilitas publik perlu menjadi perhatian semua pihak agar anggota keluarga bisa meluangkan waktu bersama tanpa diganggung oleh kutukan teknologi.  

Wednesday, January 03, 2018

Resolusi Tahun Baru

Resolusi itu keinginan yang terkait dengan hasrat sehari-hari. Ia perlu dipenuhi untuk memuaskan kehendak. Setelah memeriksa pengalaman, seeloknya semakin menua kita menyesuaikan dengan kemauan sebanyak mungkin orang. Jika Lacan mengatakan bahwa keriangan (enjoyment) itu adalah sebuah kewajiban (obligation) dan memiliki sebuah objek hasrat, maka kita harus menyiasati dengan membiasakan diri dengan objek yang dipikirkan dengan sungguh-sungguh.

Bersama keluarga berbelanja di pasar adalah satu cara mendekatkan emosi antara anggota keluarga dan sesama manusia. Di sini, kami bertemu dengan banyak penjual. Malah, di hari itu, saya bertemu dengan seorang kawan UUM yang juga membeli ikan bersama isteri dan seorang puterinya. Di kampus kita membahas banyak isu-isu, di tempat umum kita mewujudkan ide-ide itu menjadi tindakan.

Keinginan sejatinya bertumpu pada kebutuhan, yang perlu dilihat secara cermat. Mengingat ia hadir bersama kebiasaan, mungkin setiap individu memikirkan kembali untuk melakukannya dengan andaian bahwa apapun yang kita lakukan semestinya mengandaikan kebutuhan sebanyak mungkin orang. Betapa menyenangkan ketika si penjuang ayam potong menyahuti celotehan Zumi yang seronok menikmati setiap sudut di pasar Changlun.


Thursday, December 28, 2017

Pasar Changlun


Kami berdua berbelanja ke pasar Changlun. Kita boleh berdebat tentang sistem eknomi yang terbaik, tapi jika meluangkan waktu membeli keperluan sehari-hari di sini, kita telah bersepakat dalam satu hal: sosialisme itu mungkin.

Status ini dimuat dalam Facebook saya. Sejatinya, kegiatan seperti di atas dilakukan oleh banyak orang. Saya sering melihat lelaki Arab, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Afrika yang belajar di UUM juga berbelanja di sini. Terutama, pada hari Rabu, pasar malam yang digelar menjadi magnet bagi orang ramai, termasuk mahasiswa dan warga lokal.

Berbeda dengan pasaraya yang tak jauh dari pasar tersebut, kami membeli kebutuhan dari banyak penjual. Ketika pasar tidak dikuasai oleh segelintir ornang, maka perdebatan tentang kapitalisme dan sosialisme melihat melihat adakah kue ekonomi dan bisa dinikmati oleh sebanyak mungkin orang? Jika tidak, siapa yang akan akan membeli barang yang diproduksi secara massal dan berteknologi tinggi itu?

Sunday, December 10, 2017

Mewarnai Kehidupan

Satu hari sebelum lomba ini digelar, kami menerima tawaran dari seorang mahasiswi yang meminta Biyya mengikuti pertandingan mewarnai. Ketika itu, kami sedang makan malam di kantin kampus.

Kegiatan di atas adalah sebagian dari karnaval kewirausahaan mahasiswa BPME 2013. Dengan mantap, pelajar tersebut menjelaskan program di atas. Saya dan Ibunya tak terburu-buru menerima, mengingat Biyya pernah kecewa karena tidak mendapat juara pada acara serupa.

Padahal, dalam rekam jejaknya, ia pernah mendapat tempat dan gagal untuk yang kedua dan ketiga kalinya. Beruntung, Al-Isbah, kawannya dari Pakistan menghibur dan kami membawanya ke toko buku Popular untuk mengobati kekesalannya. Untuk kali ini, kami bersikap datar. Pada pagi hari, ia bangun dan segera bersiap untuk ke ajang lomba. Di sana, ia bertemu dengan teman adik kelas di UUM IS, yang berasal dari Timur Tengah. Tidak lama kemudian, banyak teman dari satu sekolah yang turut meramaikan program tersebut, seperti Dave asal Filipina. Malah, Zumi sempat bermain mobil-mobilan dengan Raja, anak Pak Donny. Akhirnya, kegiatan ini menjadi pertemuan banyak orang. 

Sebelum berangkat, kami mengingatkan bahwa ini sekadar hiburan dan bersenang-senang. Sayapun bergembira karena ia bisa berbagi cerita dengan temannya. Tak hanya itu, kakak Zumi ini mengikutinya dengan tenang dan tak tergesa-gesa, seperti pengalaman lomba yang ketiga dulu. Seeloknya, murid tahun keempat ini menikmati proses pewarnaan dan tak memburu kemenangan semata-mata. Pada gilirannya, ia bisa belajar setiap mata pelajaran dengan keriangan, meskipun pernah menulis membenci matematika. Menariknya, semua peserta mendapatkan hadiah. Apapun, lomba ini bukan saja mewarnai kertas, tetapi juga kehidupan. 

Sunday, November 26, 2017

Alat Belajar

Fahmi adalah salah seorang teman Nabbiyya, yang berasal dari Bangladesh. Ia sedang menggunakan komputer untuk menyelesaikan tugas, sebagaimana teman-teman lainnya yang juga memanfaatkan teknologi untuk belajar menyusun skrip. Dengan berkelompok, mereka akan berbagi dan bekerja sama untuk memahami mata pelajaran.

Jika sejak awal terbiasa mengerjakan banyak pekerjaan secara berkumpulan, maka mereka akan mudah melakukannya bersama teman sekerja nanti. Tentu, teknologi yang kadang menjadi ancaman bagi anak-anak bisa digunakan untuk alat pembelajaran. Maklum, teknologi telah menjadi hantu yang acapkali mengalihperhatian untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Dengan demikian, tidak hanya di kelas, mereka akan menjadikan teknologi sebagai alat untuk meneroka pengetahuan di luar, bukan sekadar permainan.

Selain menekuni kemahiran, mereka juga belajar nilai-nilai murni, seperti menghormati, menghargai, dan menolong orang lain. Setiap kali saya menjemput Nabbiyya di UUM IS, ia dan kawan-kawannya dengan riang menyeru kedatangan saya, sehingga Biyya segera bergegas turun ke bawah. Tak hanya itu, kedekatan mereka yang tulus dan bersahaja juga turut menyemangati kami, para orang tua, untuk juga saling menyapa dan bertukar cerita. Jika anak-anak itu bisa mengenal para ayah kawannya, maka para orang tua berusaha untuk tahu siapa mereka. Ini baru keseimbangan!






Monday, August 21, 2017

Sekolah Anak

Pihak sekolah mengundang orang tua wali untuk menghadiri pertemuan dengan guru kelas empat. Acara ini dilaksanakan di ujung Minggu pertama sebelum kami mengikuti ceramah kepala sekolah, Dr Norman, di dewan serbaguna. Ehm, sepertinya saya harus duduk di sini untuk belajar bagaimana mengurus pendidikan anak.

Miss Joane menjelaskan banyak hal terkait dengan proses pembelajaran dan pengajaran. Selain itu, cikgu yang berasal dari Filipina ini mempersilahkan orang tua untuk mengajukan pertanyaan dan usulan. Sebuah pertemuan yang bermanfaat!

Dengan pemaparan silabus selama satu semester, anak tak hanya belajar di sekolah tetapi juga di rumah. Ibu guru yang menyelesaikan S1 Pendidikan dalam jurusan Matematika di Australia tersebut meminta ayah atau ibu untuk menemani anaknya membaca buku yang menjadi bahan pelajaran bahasa Inggeris setidak-tidaknya 15 menit, sehingga dalam satu Minggu murid bisa menyelesaikan tugas membuat laporan isi buku, terkait watak, alur dan konflik. Terima kasih UUM IS!

Tentu, saya tertarik dengan Kajian Sosial, yang bagian 1 berjudul Kebudayaan dan Identitas. Di sini, murid diminta untuk mengungkapkan dirinya sebagai individu yang unik dalam hubungannya dengan keluarga dan komunitas. Setelah mengenal dirinya, murid diharapkan bisa mengidentifikasi keanekaragaman struktur sosial tempat mereka hidup, belajar, bekerja dan bermain bersama. Sejauh ini, dalam praktiknya, murid di UUM IS telah melakukannya mengingat murid yang belajar di sini belajar dari pelbagai latar belakang. Akhirnya, perbedaan itu dipahami sebagai kekayaan, bukan kekangan.

Namun demikian, pendidikan Islam penting bagi orang tua murid mengingat anak-anak mereka tidak bisa mengikuti kelas KAFA (Madrasah Diniyah) seperti rekan-rekannya yang belajar di sekolan negeri. Oleh karena itu, mereka menanyakan apa yang akan dilakukan oleh gurunya, Abd Rahman, asal Aljazair, untuk memastikan buah hatinya bisa menjalankan kewajiban agama dengan baik. Ya, sejatinya tujuan pendidikan adalah menjadikan mereka sebagai orang yang berwatak baik.



Monday, August 07, 2017

Konser dan Tahlil

Catatan pendek ini dimuat di koran Pikiran Rakyat. Dengan penamaan wisata, rubrik ini hendak melihat kata sebagai arena untuk mendatangkan kesenangan. Perjalanan ke tempat yang menggembirakan tentu menjadi impian setiap orang.

Demikian pula, bahasa adalah tempat orang yang hendak menemukan keseronokan. Betapapun abstrak, kata adalah wujud dari kenyataan yang hendak digambarkan oleh penikmat yang hendak dicicipi. Ia bisa menyembunyikan dan menampakkan pada waktu bersamaan.

Kata pada akhirnya adalah alat seperti jaring yang hendak menangkap ikan (makna). Kegagalan memahami alat penangkap bisa jadi akan menyebabkan binatang yang dipancing tak sesuai harapan. Kalau hendak mengail ikan di sungai mungkin kita tak perlu jaring, bukan?

Perpustakaan

Khoiruman adalah lulusan Pendidikan Matematika Universitas Nurul Jadid. Ia bisa menghitung persentase tanpa harus memakai kalkulator ketika ...