Wednesday, May 02, 2018

Chow Kit dan EDC [1]

Di hari libur, saya telah merancang untuk menemui Pak Agus Badrul Jamal, pegawai kedutaan Republik Indonesia, untuk menyampaikan hasrat rencana penyelenggaraan kongres Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama. Mengingat beliau menghadiri acara Tabligh Akbar Muhammadiyah di hotel Regency, saya meluncur ke sana dari KL Sentral.

Setelah berbincang sebentar, beliau meneruskan perjalanannya ke tempat lain untuk mengikuti acara pengajian. Saya pun berjumpa dengan Mas Yuri Buchari untuk mendengarkan ceramah umum oleh Pak Suyoto, Bupati Bojonegoro. Ada banyak pesan yang bisa diserap oleh hadirin, di antaranya sejarah peran agama dalam masyarakat, yaitu sebagai anteman (bertengkar) ageman (pakaian) dan ugeman (pandangan hidup).

Usai acara di atas, saya dan Mas Buchari mencari hotel EDC, milik Universitas Utara Malaysia. Kami sempat menunggu lama di depan sebuah toko telepon genggam akibat hujan deras yang mengguyur ibu kota.

Pada waktu sore, dari hotel ini, saya memilih berjalan kaki ke PWTC untuk mengunjungi Pameran Buku Internasional Kuala Lumpur. Alhamdulillah, saya bisa bersilaturahim dengan Pak Raja Ahmad Aminullah yang menulis buku luar biasa tentang peran kaum terpelajar, Minda Tertawan: Intelektual, Rausyanfikr, dan Kuasa dan sempat berfoto bersama. Hal yang menyenangkan dari penginapan ini adalah suraunya yang luas dan bertempat di lantai tertinggi. Dari sini, saya bisa mendengar azan subuh dari masjid terdeka. Selain itu, saya bertemu dengan Nasih, staf satuan pengaman hotel asal Bangladesh, yang juga menunainan salat. 

Tuesday, April 10, 2018

Kisah Buku [3]

Apa yang saya lakukan di sela menunggu promosi doktoral saya? Salah satunya adalah mengikuti pengajian yang dilaksanakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia di masjid kampus. Sebagai pendengar, saya selalu mencatat kata-kata kunci yang disampaikan oleh penceramah agar saya bisa berinteraksi dengan teks secara mendalam.

Saya mencoba menerapkan gaya Izutsu dalam menganalisis teks penceramah dengan menghadirkan kata kunci, yang dicari makna dasar dan relasional, persamaan dan perlawanan kata, medan semantik, pandangan dunia (weltanschauung) Arab dan akhirnya pesan utama yang bisa diturunkan dari sebuah ayat. Pembacaan seperti ini sejatinya membayangkan ketekunan untuk mencatat karena satu kata dalam bahasa Arab membayangkan makna pra Alquran (Syair Arab kuno), masa Nabi dan pasca kitab suci. Mengingat pengajian agama mengandaikan sumber Al-Furqan, maka pembacaan (qira'ah) tidak hanya dibatasi pada seni, tetapi juga analisis tekstual.

Di dalam mengikuti pengajian, setiap individu tentu membawakan dirinya sebagai orang yang memilih dan bertindak sebagai makhluk sosial. Ketika membeli telepon genggam i-mobile, saya membayangkan bahwa pilihan terhadap barang bisa didekati sebagai cara pengguna untuk menyampaikan teks. Barang tidak lagi sebagai fungsi, tetapi berkomunikasi. Ketika memilih produk lokal, ia sejatinya hendak menyampaikan bahwa apapun telepon pintar (belum pintar, karena masih berfungsi untuk mengirim pesan dan menelepon) yang digunakan, di dalamnya ada komponen yang berasal dari banyak tempat dan orang. Kata Friedman, dunia itu rata. 

Tuesday, April 03, 2018

Kisah Buku [2]

Mengapa saya akan membedah buku pemikiran Izutsu di Annuqayah pada etape pertama? Karena di sini saya belajar tafsir untuk pertama kalinya. Ustaz Rais menggunakan Alqur'an terjemahan Departemen Agama sebagai buku teks. Sejak diterbitkan di Malaysia, saya pernah berbincang dengan Kiai Mushthafa terkait bedah karya tersebut beberapa tahun silam.

Selanjutnya, saya belajar tafsir Jalalain sebagai buku ajar di sekolah menengah dari Pak Johan. Pelajaran diselenggarakan di masjid Latee, karena Yayasan sedang membangun kelas baru untuk siswa. Dengan tekun, saya memaknai kata perkata dari surat Al-Kahfi dan mengikuti penjelasan dari sang guru.

Tentu, pengalaman membacakan Alqur'an setelah subuh di rumah Kiai Ahmad Basyir adalah pengalaman spiritual lain yang mendebarkan. Tidak hanya harus berjamaah subuh di belakang ke kanan kiai, saya dan teman-teman lain harus memastikan agar sajadah tidak dipindah sebab tidak digunakan sepanjang menunggu sembahyang. Sekali waktu, pintu gerbang jebol karena santri berebut, tak pelak dibuat aturan giliran berdasarkan urutan baris (shaf) berjamaah. Lalu, apa kaitannya dengan gambar karnaval? Inilah wajah Islam Madura. Alquran memang menjadi kitab utama, tetapi dalam keseharian mereka telah meramu kehidupan dengan kearifan. Tentu, ini memerlukan penulisan buku lain yang saya bayangkan, "Analisis Semiotik terhadap Penghayatan Alqur'an orang Madura: Kajian terhadap Karnaval Madrasah di Ganding".

Thursday, March 22, 2018

Kisah Buku [1]

Buku ini lahir dari dukungan banyak orang. Bukan saja dari ide, tetapi juga sokongan moral dan material. Penulisan ini mengenalkan saya dengan banyak rujukan dan perjalanan. Ketika saya meminta dorongan (endorsement) pada Pak Musa, dengan serta ia menulis dalam hitungan detik. Guru filsafat Islam tersebut selalu memercikkan semangat.

Demikian pula, kesediaan Pak Ichwan memberikan pengantar merupakan sebuah keajaiban. Dosen UIN Sunan Kalijaga ini dulu menolong saya untuk mendapatkan rekomendasi dari Prof Salleh Yaapar untuk mengambil program doktoral di Universitas Sains Malaysia di bawah bimbingan Prof Zailan Moris. Murid Sayyid Hussein Nasr ini mengajarkan saya banyak hal dalam dunia akademik, yang tak melulu soal membaca buku, tetapi juga hubungan kemanusiaan lebih luas. Tak hanya itu, Ibu Zailan juga mengenal Sachiko Murata, murid Izutsu.

Mas Islah, dosen IAIN Surakarta, menyanggupi penulisan dorongan dengan riang. Kampusnya hanya berjarak sepelemparan bus. Saya berusaha untuk silaturahmi ke sana agar saya bisa belajar bagaimana seorang dosen seperti beliau merawat manuskrip lama untuk memberikan makna baru. Ketelatenan lelaki asal Rembang ini memang layak diteladani. 

Sunday, March 18, 2018

Saya, Kato, dan Jepang

Saya menunjukkan buku Hisanori Kato berjudul Islam di Mata orang Jepang kepada yang bersangkutan melalui pesan ringkas WhatsApp. Jauh sebelumnya, unggahan foto Ulil dan Kato di Facebook mendorong saya menulis bahwa saya adalah penggemar Kato.

Hakikatnya, saya suka tradisi intelektual Jepang. Untuk itu, saya senang punya kawan di UUM, Rie Nakamura yang mengajar di Fakultas Hukum. Tentu, pengalaman saya menulis disertasi tentang pemikiran Toshihiko Izutsu menyeret saya pada sejarah negara Matahari Terbit lebih mendalam.

Bacaan saya terhadap novel Takashi Matsuoka berjudul Cloud of Sparrows: An Epic Novel of Japan telah membuat saya terseret pada pusaran negeri Tenno Heika ini jauh lebih mengasyikkan. Selain itu, saya juga merasa nyaman dengan teman-teman lulusan sekolah Jepang, seperti Zainal Abidin Sanusi, Wahyu B Setianto, dan Ahmad Maulana yang masih sedang menyelesaikan program doktor di sana. Hidup Jepun!


Wednesday, March 14, 2018

Rhoma Irama dan Politik

Rhoma berada di tengah. Ia menjadi magnet. FORSA membulatkan tekad untuk mendukung pasangan Khofifah dan Emil. Sebagaimana saya pernah menulis opini di Suara Merdeka (20 Nov 2012) berjudul "Kealpaan Rhoma", pelantun pemilu ini akan terpapar pada kritik kalau tidak hati-hati dalam berkomentar.

Sejatinya, banyak lagu yang berkait nilai-nilai politik yang bisa dibawakan pada kampanye nanti, seperti Pemilu, Hak Asasi, Nafsu Serakah, dan Pembaharuan. Ayah Ridho hanya perlu mengurai ide-ide besarnya dengan merujuk pada karyanya yang luar biasa itu.

Sebagai saran, Rhoma Irama berduet di atas panggung dengan penyanyi muda lain yang masih bisa menaikkan suara agar lagu-lagu yang bernada tinggi itu bisa dinikmati. Tentu, aransemen musik tetap mengekalkan bunyi awal agar saya tak terkial-kial mendengarnya. Maklum, telinga saya seperti terpatri pada corak dan permainan intrumen asal. 

Sunday, March 04, 2018

Kenduri Kahwin

Biyya tampak riang. Ia membayangkan hadiah yang akan didapat ketika beranjak dari memenuhi undangan pesta perkawinan. Beruntung, saya membaca pesan di grup WhatsApp kampus, yang mengingatkan hari kenduri kahwin anak teman di fakultas.

Sesampai di sana, kami duduk tak jauh dari pelaminan. Kemudian, ada sepasang suami isteri yang mengambil tempat. Tak perlu waktu lama, kamipun berbual panjang lebar. Setelah keluar dari tenda, isteri saya bertukar nomor telepon dengan Cikgu Suri, istri Encik Zaini yang tinggal di Kampung Gajah Putih.

Keramaian seperti ini selalu mendatangkan pengalaman untuk melihat gambar kehidupan. Silaturahim adalah cara kita menjalaniny agar lahir sifat rahim, kasih sayang di antara sesama. Sayang, kami tak sempat berfoto bersama dengan pengantin sebab Zumi tak sabar ingin segera pergi ke pasaraya untuk membeli mainan. 

Memberi Jalan Pengetahuan pada Anak-Anak

Pagi ini, saya mendapatkan pesan dari kurir bahwa paket telah diserahkan pada satuan pengaman kampus di pos. Saya pun bersegera untuk mengam...