Tuesday, May 06, 2025

Brosur dan Makna

Saya suka menyimpan brosur di sela halaman buku. Pagi ini, saya menemukan kertas yang bertuliskan kegiatan kampus tempat dulu saya belajar kala membaca.

Apa yang bisa kita pelajari dari selebaran ini? Pemahaman agama, sosial, bahasa, dan budaya dari sebuah komunitas. Pusat Islam menyusun kegiatan berupa jualan, cek kesehatan, pengobatan tradisional, persembahan pencak silat, dll. 

Apakah peristiwa 2008 akan berulang pada 2050? Agama tidak melulu soal ibadah, tetapi juga ekonomi, kebudayaan, dan kepolitikan.

 

Mitoni Terakhir

 

Samar-samar, ini mengingatkan tetangga saya yang menjalani tradisi "pelet kandung" dulu. Sebuah kelapa ditulisi huruf hanacaraka. Sebaldi air kembang disiapkan untuk menyiram tubuh perempuan yg sedang hamil. Selaksa doa dipanjatkan. Perpaduan sempurna ini berasal dari banyak sumber rujukan. 

Apakah tradisi tersebut masih ditemukan di Ganding?  Madura sejatinya salinan dari budaya adiluhung Jawa. Selain itu, ada banyak adat setempat dari Timur Tengah yang raib, seperti  Samman dan Ruddat. Sementara, gambus dan Hadrah masih bertahan. Saya tak tahu sampai kapan.

Kini, kamipun tak menunaikan kebiasaan mitoni. Kami menggelar aqiqahan untuk selamatan. Para orang tua di kampung telah melupakan budaya kuna ini. 

Ketika si ibu rela menghadapi kematiannya dengan iringan tembang megatruh, saya merasakan suasana serupa dgn syiir (syair) "caretana oreng mate" Kiai Amanullah.

Sunday, May 04, 2025

Bosan Catur

Zumi menang tiga kali. Saya menang karena ia bisa teralih dari layar telepon pintar.
Hidup itu bisa dimenangkan oleh siapa saja dengan menggeser tanda. Sementara, dalam demokrasi, pemenang menjadi penguasa, pekalah menjelma oposisi. Kalau pihak yang kalah bergabung dengan yang menang, ia bukan petarung, tetapi penciut.

Namun, akhir-akhirnya ia malas bermain catur. Kalaupun bersedia, penyuka Dinosaurus ini bermain ala kadarnya. Kesungguhan hilang dari arena. Kini, ia memilih mancing dan bersepeda bersama teman-temannya.

 

Saturday, May 03, 2025

Buku dan Fakta

Beberapa hari yang lalu, kami mampir ke Gramedia Matos, Malang. Istri Tetty Noor Aini memfoto rak buku laris. Karya Bu Leila S. Chudoril nangkring di senarai pertama. 

Warga kota dingin ini telah memilih bacaan yang tepat. Laut Bercerita bukan sekadar cerita, tetapi fakta yang ditafsirkan bahwa kekerasan oleh kekuasaan itu sangat tercela. 

Bukti dari kepekaan dari warga Kera Ngalam ini adalah coretan ACAB di banyak sudut kota. Kekerasan atas nama apapun ditolak. Tabik. 

Biyya telah menguliknya berkali-kali hingga sampulnya kucel. ini akan melahirkan makna baru, bukan?

 

Baca Ulang Novel


 Bu Leila S. Chudori, Biyya membaca lagi dan lagi novel "Laut Bercerita". Ia melakukannya  di kedai kopi sambil menunggu sang adik yang bersekolah. 

Saya pun berseloroh, untuk mata pelajaran Biyya cukup mengambil subyek sastra dan melukis biar sekolah menyeronokkan.

Beberapa hari ke belakangan ini, kami bahas jurusan yang anak akan pilih. Ia bilang, IPA dan IPS imbang dalam asesmen. Ada usul?

Kisah Teman dalam Kesaksian

Sebagai santri yang sama-sama belajar Akidah Filsafat, saya dan Rafiuddin memiliki irisan yang sama. Kami berlatar tradisi dan memasuki belantara dengan menggabungkan alam keterbatasan dan kebebasan berpikir. Sejauh apa pun pergi, kami akan kembali, dengan makna yang bernuansa. 

Pada kesaksian Mardian W, saya menemukan kejutan. Saya pun dapat merasakan dunia batinnya kala ia dilukiskan suka lagu dan film Rhoma Irama. Pasti, nomor Malapetaka, meskipun tak disebutkan, menggetarkan jiwanya. Inilah lagu dengan melodi yang hanya sekali diciptakan oleh seorang seniman.

 

Buku dan Cerita

Karena tak bersampul plastik, novel "Laut Bercerita", saya tutupi dengan lembaran McDonald. Dulu, saya suka beli buku pada Mahfudz yang berjualan depan kost karena ia akan membalutinya dgn penyampul sehingga terjaga. 

Seraya mencicil saya coba selesaikan karya Leila S Chudori. Di tepi laut Kuala Muda, saya sering terhenti pada uraian tertentu, misal penggunaan kata. Bebersih adalah ungkapan menarik, yang secara linguistik unik. Tak hanya itu, kisah mahasiswa yg berburu buku berbahaya, spt tulisan Laclau, Ben Anderson, dan Pram menyeret saya pada ingatan. 

Ya, Faridl Ma'ruf dulu pernah memiliki salinan "Bumi Manusia". Kawan baik ini adalah pembaca tulen, yang akan memperlakukan buku  dengan penuh takzim. Lalu, adakah hari ini mahasiswa mendaras buku setelah tak ada kekuatan apapun yang bisa menghalang?

 

Merenung Keseharian

Dengan membaca kembali buku Falsafah Harian ini, saya dapat menimbang saran teman-teman yang telah membahas tulisan, seperti apakah pijakan ...