Dengan membaca kembali buku Falsafah Harian ini, saya dapat menimbang saran teman-teman yang telah membahas tulisan, seperti apakah pijakan karya adalah agama atau filsafat?
Kini, jilid kedua telah berjalan. Objeknya sama, yakni apa yang dibayangkan, dijalani, dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman mendonor darah menjadi jeda ritme dari dunia kerja dan produktivitas. Pendonor memang dicatat, tetapi tidak dirayakan di atas panggung. Namun, justru orang inilah yang telah menyelamatkan hidup orang lain.
Dunia pentas memang disorot. Tetapi, efek kamera, kata filsafat kritis, telah menyembunyikan realitas. Panggung itu bisa jadi adalah beranda kita di media sosial.

No comments:
Post a Comment