Wednesday, August 13, 2025

Keluarga

Kami bertiga menemani Zumi menunggu kendaraan untuk pergi ke sekolah. Dengan berangkat lebih awal, satu sama lain meluangkan waktu untuk bercakap, sebuah momen yang penting untuk memahami satu sama lain. 

Di dalam keluarga, saya berbeda dengan Biyya dan Zumi dalam melihat politik Amerika, misalnya. Dulu si sulung mendukung Joe Biden, sementara Zumi, memilih Donald Trump. Alasan yang terakhir adalah kesukaannya pada McDonald. Apakan tidak, dulu di Kedah, ia suka Happy Meal. 

Saya abstain. Ibunya melihat politik dalam kacamata lebih luas. Ia adalah arena perebutan kekuasan. Tak lebih. Ideologi itu umpan, yang digunakan untuk menjerat ikan, setelah itu dimakan. 
 

Sunday, August 10, 2025

Kepemimpinan Kiai

Ada banyak pola kepemimpinan kiai, di antaranya karismatik, tradisional, dan rasional. Kajian ini hendak mengurai transformasi dari masing-masing.

Apa mungkin pondok jadi semacam Harvard di masa depan? Terbuka pada "kebedaan". Kajian agama menjadi "divinity school" saja, misalnya. Atau, kita menyendiri, mengada sesuai jati diri.

Mengingat pondok kini membuka lembaga pendidikan umum, ia akan bertransformasi menjadi institusi yang terbuka. Tentu, nilai-nilai otentik yang dipertahankan akan turut mewarnai pengaruh dari luar. 

Saturday, August 09, 2025

Pejalan

Beruntunglah, mahasiswa UNUJA telah memulai belajar sejak pukul 6 pagi dengan mengikuti pengajian Syarh al-Hikam. Kita pun senang karena Pak Haji Nurul selalu memastikan mereka berjamaah subuh. Kini, POMAS di bawah Pak Jasri juga menggiatkan kajian kitab berkala, yang diasuh Kiai Zuhri, Kiai Najib, dan Kiai Fayyadl.

Kitab ini menantang nalar kita untuk berpikir. Pejalan atau al-sair adalah kiasan bagi mereka yang hendak menyucikan hatinya. Ini mengingatkan kita pada The Philosophy of Walking oleh Frederic Gros bahwa jalan kaki itu juga cara untuk menemukan ruang batin yang ditutup oleh gelegak lahir. 

 Setidaknya, dengan menghadiri pengajian kitab ini, santri berjalan kaki dari asrama. 

Ingin Beli Trail

Dulu saya KKN di Batur, yang berada di ketinggian. Dengan motor Honda beat, saya bisa menyentuh dusun tempat kami berbakti. Mungkin, dengan trail, saya bisa sampai ke Tanah Merah lebih mudah. Kata kadusnya, mengapa stunting? Akses. Di musim hujan, warga akan menemui kesulitan untuk melalui jalan setapak.

Menariknya, toko di sekitar dusun menjual es krim Walls, dll. Wah, berapa uang jajannya? Kini, kapitalisme merangsek hingga ke pelosok. Anak-anak kini tentu akan meminta uang jajan yang jauh lebih besar. 

Setelah sekian lama tak ke lokasi, saya ingin kembali menengok warga. Dulu, kami membuat pakan ternak dari limbah tanaman lokal. Kala itu, saya berjanji ingin mengunjungi untuk membuat program perpustakaan mini di balai desa agar anak-anak di sela-sela main bola melalui gawai bisa membaca. 

 

Friday, August 08, 2025

Berkah Jum'at

Kami merayakan hari keluarga. Rooster Paiton menyediakan minuman dan makanan. Tempatnya nyaman untuk ngumpul dengan anggota keluarga atau teman. Apa percakapan hari ini? Zumi senang karena ia dan kawan-kawannya menonton film di sekolah. Kakak? Not interesting at all. Apa pun keadaannya kita bisa menciptakan keriangan secara sengaja, yang disebut Paul Dolan dengan Happiness by Design. Hehe

Anda juga bisa minta diputarkan lagu di sini. Saya dan Zumi kadang juga mencukur rambut di bagian depan. Pendek kata, di sekitar warung ada banyak hal yang bisa dilakukan.

Wednesday, August 06, 2025

Makna Lukisan


Kami mempunyai kegiatan diskusi rutin. Kemarin, salah seorang teman menyampaikan tema "Art Therapy: Entering into Your Own Garden". Setelah mengulas disiplin ini secara teoretis, ia memberikan kertas gambar dan pensil warna. 

Lalu, dosen psikologi tersebut meminta kami memejamkan mata, membayangkan taman dan segala isinya. Mengapa pondok itu berwarna hitam? Apa makna bunga matahari dan dua kursi itu? Dua ekor burung perkutut?

Akhirnya, setiap individu secara subjektif bisa mengenal dirinya melalui visualisasi dan 5 kata yang ditulis untuk membingkai lukisannya.

 


Dunia Maya

Dalam keseharian, kita nyaris tak pernah lepas dari layar. Dari bangun tidur hingga kembali terlelap, dunia dalam gawai terasa lebih nyata daripada yang ada di sekitar. Media sosial menjadi panggung tempat berbagai narasi, opini, dan emosi berseliweran setiap detik. Namun, di balik pesona itu, kita justru kehilangan sesuatu yang paling mendasar, yakni kejernihan. Lihat, pertengkaran di media sosial terkait ijazah Jokowi justru memperkeruh keadaan. Banyak orang terbelah pada keberpihakan, bukan kebenaran.

Masalah utamanya bukan lagi pada banyaknya informasi, melainkan kesulitan membedakan antara pengetahuan dan kebisingan. Banyak dari kita tampak khusyuk menatap telepon atau komputer, padahal batin kita justru sedang terombang-ambing. Kita berpindah dari satu konten ke konten lain, seolah terus bergerak, tetapi tak benar-benar menuju ke mana-mana. Kita terjebak dalam kemacetan digital, tampak bergairah, tapi kehilangan arah. Kita berada di threadmil, bergerak, tetapi tetap berada di tempat yang sama.

Fenomena di atas pernah dirisaukan oleh Alvin Toffler dalam Future Shock (1970). Ia memperingatkan bahwa keberlimpahan informasi akan membuat manusia modern babak belur. Ketika volume informasi melebihi kapasitas kita untuk memprosesnya, hasilnya bukanlah pemahaman, melainkan kebingungan. Kini, hal itu makin parah karena algoritma media sosial justru menyodorkan konten yang paling menggoda emosi, bukan yang paling hakiki. Click bait adalah jebakan yang mematikan.

Marshall McLuhan juga menekankan bahwa medium turut membentuk isi pesan. Ujaran “The medium is the message” adalah pengingat. Ketika banyak hal kita alami lewat layar, maka cara kita berpikir pun berubah. Interaksi dipersingkat, empati dikompresi menjadi emoji, dan ruang renung dihapus oleh notifikasi secara terus menerus. Pengguna secara tidak sadar  telah menjadikan dirinya sekrup kecil dari mesin, karena ia hakikatnya adalah sebagai sebagian kecil dari teknologi informasi yang buta.

Lebih jauh, teori keterasingan digital yang dikemukakan oleh Sherry Turkle menegaskan bahwa meskipun kita terhubung dengan dunia melalui gawai, banyak individu yang justru mengalami alienasi, baik emosional dan sosial. Dalam bukunya Alone Together (2011), Turkle menyatakan bahwa meskipun kita sering berhubungan dengan orang lain melalui media sosial atau aplikasi komunikasi, interaksi tersebut cenderung artifisial dan basa basi.

Akibatnya, banyak orang merasa kesepian meski dikelilingi oleh ribuan teman virtual. Penggunaan gawai tanpa kontrol justru memperburuk perasaan terisolasi. Kontak fisik yang autentik dan pertemuan tatap muka digantikan oleh tanggapan yang tidak utuh dan nirempatik. Alienasi ini berkembang karena individu merasa terasing dari diri mereka sendiri, terperangkap dalam dunia maya yang menggantikan realitas sosial yang lebih jauh bermakna.

Lalu, bagaimana kita bisa menemukan kembali diri yang hilang di tengah belantara digital? Pertama, kita harus menumbuhkan kesadaran digital. Kita perlu hadir sepenuhnya dalam setiap interaksi dalam jaringan (daring). Kala membuka media sosial, tanyakan pada diri sendiri: “Untuk apa saya berada di sini? Apa yang ingin saya temukan?” Kesadaran semacam ini membuat kita lebih hati-hati dan tidak larut dalam konten-konten yang hanya menghabiskan waktu dan menguras energi.

Kedua, literasi media menjadi keniscayaan. Kita perlu membekali diri dan generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi informasi. Krititisisme ini bukan hanya soal mengidentifikasi hoaks, tetapi juga kemampuan membedakan antara opini dan fakta. Lembaga pendidikan, institusi keagamaan, dan komunitas lokal mesti menjadi garda terdepan dalam membangun kepekaan intelektual ini.

Namun, mengingat tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari ruang digital, kita bisa memanfaatkannya dengan penuh perhitungan. Menatap layar bukanlah kesalahan, selama kita tahu ke mana penglihatan itu membawa kita. Dunia digital tak perlu dihindari, tapi harus diawasi agar tetap menjadi alat, bukan tujuan hidup. Di tengah kebisingan yang berlangsung selama 24 jam, kejernihan tak datang sendiri. Ia perlu diciptakan dengan kemampuan menahan diri, meneguhkan kesadaran, dan keberanian berpikir mandiri.

 

Warung Kopi